Google search

Custom Search

Translate

Thursday, 13 October 2016

Rinitis

Rinitis si Penyebab Bersin dan Meler

DAYA TAHAN TUBUH PENGARUHI DURASI

Pernah bersin-bersin, lalu hidung meler meski tidak sedang flu? Umumnya, kondisi itu disebabkan penyakit rinitis. Ini penjelasannya.


                DALAM kedokteran, rinitis merujuk pada peradangan bagian mukosa di dalam hidung. Secara umum, mukosa berfungsi memproduksi lendir yang bertugas menjaga kebersihan hidung. Mukosa mempunyai sistem pertahanan berupa selaput lendir dan bulu getar. “Tapi, keduanya bisa ditembus zat asing atau mikroorganisme,” ujar dr Budi Sutikno SpTHT-KL (K), pakar THT dari National Hospital Surabaya.
                Ketika mukosa diinvasi zat asing, terjadilah peradangan. Mukosa jadi lebih banyak mengeluarkan lendir yang sering disebut ingus. Makanya, pada penderita rinits, ingus jadi mengalir alias meler. Bukan hanya itu, saraf vidianus yang berfungsi merangsang bersin pun menjadi lebih sensitif.
                Bersin sejatinya merupakan mekanisme refleks hidung untuk mengeluarkan kotoran atau zat asing dari hidung. Saraf vidianus yang terganggu membuat sensitivitasnya meningkat. Sedikit pemicu, bersin pun terjadi. Ketika bersin terjadi berulang dalam waktu singkat disertai hidung meler, itulah rinitis.
Salah satu penyebabnya adalah mikroorganisme seperti rhinovirus. Virus itu memiliki daya gerak yang bisa menembus selaput lendir dan bulu getar. “Virus cepat menginfeksi mukosa dan mengakibatkan pilek,” jelas dr Irwan Kristyono SpTHT-KL (K), spesialis THT dari RSUD dr Soetomo Surabaya.
Peradangan di dalam mukosa terkadang sedemikian parahnya. Sampai-sampai, bagian permukaan hidung juga terdampak. Hidung membengkak dan berwarna kemerahan merupakan salah satu contohnya. Selain karena virus, rinitis bisa terjadi akibat faktor alergi. “Sesuai namanya, rinitis terjadi sebagai bentuk perlawanan tubuh terhadap alergen yang masuk ke tubuh,” jelas Budi.
Alergen didefinisikan sebagai protein pemicu alergi. Protein itu bisa masuk megakibatkan rinitis dengan dua cara, yakni lewat hirupan maupun makanan. “Alergen yang bisa terhirup, antara lain, kotoran mikroorganisme, kulit atau bulu hewan, kapuk, serbuk sari, dan debu tungau rumah,” jelas Irwan. Sementara itu, makanan dengan protein tinggi seperti seafood pun bisa menjadi penyebab meski jarang terjadi.
Saat alergen masuk ke hidung, awalnya tubuh akan menoleransi. “Tapi, kalau alergen masuk lagi, tubuh langsung merespons. Salah satunya meningkatkan sensitivitas mukosa dan saraf di hidung,” papar Budi.
Zat asing juga bisa menimbulkan efek serupa seperti alergen. Asap kendaraan, asap rokok, kapas, atau debu juga bisa berdampak pada mukosa. Tingkat sensitivitas setiap orang berbeda. Ada yang tidak langsung bersin-bersin. Namun, ada pula yang lansung bersin hebat meski hanya kemasukan sedikit zat asing.
Rinitis berikutnya adalah rinitis vasomotor. Penyebabnya adalah ketidakseimbangan sistem saraf otonom di hidung. Orang yang sering bersin-bersin ketika pagi atau malam, contohnya. “Karena sarafnya terganggu, suhu dingin akan memicu bersin dan hidung meler,” tutur Irwan.
Selain cuaca, suhu dingin bisa berasal dari AC maupun air. Penderita rinitis vasomotor mempunyai ketidaknyamanan dalam hal sirkulasi udara di hidung. Misalnya, hidung tersumbat atau buntu. Rasa gatal justru jarang atau tidak ada sama sekali.
Durasi rinitis alergi dan vasomotor beragam. Ada yang hanya mengalami selama beberapa menit. Namun, ada pula yang mengalami selama beberapa jam. Semua kembali pada tingkat sensitivitas dan daya tahan tubuh. Rinitis alergi dan vasomotor bersifat genetis. Artinya, seseorang memiliki alergi atau ketidakseimbangan saraf hidung karena faktor keturunan. Penyakit itu tidak menular. Tetapi, seorang bisa jadi menderita keduanya sekaligus. Yang bisa dilakukan untuk mencegah adalah hindari penyebab. Tingkatkan daya tahan tubuh supaya tidak mudah terserang rinitis. “Tapi, jika sudah sangat mengganggu, bawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Irwan. (len/c15/ayi)

Sumber: Jawa Pos, 13 September 2016
picture by: https://pixabay.com/id/alergi-dingin-penyakit-flu-gadis-18656/