Rinitis si Penyebab Bersin dan Meler
DAYA TAHAN TUBUH PENGARUHI DURASI
Pernah bersin-bersin, lalu hidung meler meski tidak sedang flu? Umumnya, kondisi itu disebabkan penyakit rinitis. Ini penjelasannya.
DALAM kedokteran, rinitis merujuk pada
peradangan bagian mukosa di dalam hidung. Secara umum, mukosa berfungsi
memproduksi lendir yang bertugas menjaga kebersihan hidung. Mukosa mempunyai
sistem pertahanan berupa selaput lendir dan bulu getar. “Tapi, keduanya bisa
ditembus zat asing atau mikroorganisme,” ujar dr Budi Sutikno SpTHT-KL (K),
pakar THT dari National Hospital Surabaya.
Ketika
mukosa diinvasi zat asing, terjadilah peradangan. Mukosa jadi lebih banyak
mengeluarkan lendir yang sering disebut ingus. Makanya, pada penderita rinits,
ingus jadi mengalir alias meler. Bukan hanya itu, saraf vidianus yang berfungsi
merangsang bersin pun menjadi lebih sensitif.
Bersin sejatinya merupakan
mekanisme refleks hidung untuk mengeluarkan kotoran atau zat asing dari hidung.
Saraf vidianus yang terganggu membuat sensitivitasnya meningkat. Sedikit
pemicu, bersin pun terjadi. Ketika bersin terjadi berulang dalam waktu singkat
disertai hidung meler, itulah rinitis.
Salah satu
penyebabnya adalah mikroorganisme seperti rhinovirus.
Virus itu memiliki daya gerak yang bisa menembus selaput lendir dan bulu
getar. “Virus cepat menginfeksi mukosa dan mengakibatkan pilek,” jelas dr Irwan
Kristyono SpTHT-KL (K), spesialis THT dari RSUD dr Soetomo Surabaya.
Peradangan di
dalam mukosa terkadang sedemikian parahnya. Sampai-sampai, bagian permukaan
hidung juga terdampak. Hidung membengkak dan berwarna kemerahan merupakan salah
satu contohnya. Selain karena virus, rinitis bisa terjadi akibat faktor alergi.
“Sesuai namanya, rinitis terjadi sebagai bentuk perlawanan tubuh terhadap alergen
yang masuk ke tubuh,” jelas Budi.
Alergen
didefinisikan sebagai protein pemicu alergi. Protein itu bisa masuk
megakibatkan rinitis dengan dua cara, yakni lewat hirupan maupun makanan. “Alergen
yang bisa terhirup, antara lain, kotoran mikroorganisme, kulit atau bulu hewan,
kapuk, serbuk sari, dan debu tungau rumah,” jelas Irwan. Sementara itu, makanan
dengan protein tinggi seperti seafood pun
bisa menjadi penyebab meski jarang terjadi.
Saat alergen
masuk ke hidung, awalnya tubuh akan menoleransi. “Tapi, kalau alergen masuk
lagi, tubuh langsung merespons. Salah satunya meningkatkan sensitivitas mukosa
dan saraf di hidung,” papar Budi.
Zat asing
juga bisa menimbulkan efek serupa seperti alergen. Asap kendaraan, asap rokok,
kapas, atau debu juga bisa berdampak pada mukosa. Tingkat sensitivitas setiap
orang berbeda. Ada yang tidak langsung bersin-bersin. Namun, ada pula yang
lansung bersin hebat meski hanya kemasukan sedikit zat asing.
Rinitis
berikutnya adalah rinitis vasomotor. Penyebabnya adalah ketidakseimbangan
sistem saraf otonom di hidung. Orang yang sering bersin-bersin ketika pagi atau
malam, contohnya. “Karena sarafnya terganggu, suhu dingin akan memicu bersin
dan hidung meler,” tutur Irwan.
Selain cuaca,
suhu dingin bisa berasal dari AC maupun air. Penderita rinitis vasomotor
mempunyai ketidaknyamanan dalam hal sirkulasi udara di hidung. Misalnya, hidung
tersumbat atau buntu. Rasa gatal justru jarang atau tidak ada sama sekali.
Durasi
rinitis alergi dan vasomotor beragam. Ada yang hanya mengalami selama beberapa
menit. Namun, ada pula yang mengalami selama beberapa jam. Semua kembali pada
tingkat sensitivitas dan daya tahan tubuh. Rinitis alergi dan vasomotor
bersifat genetis. Artinya, seseorang memiliki alergi atau ketidakseimbangan
saraf hidung karena faktor keturunan. Penyakit itu tidak menular. Tetapi,
seorang bisa jadi menderita keduanya sekaligus. Yang bisa dilakukan untuk
mencegah adalah hindari penyebab. Tingkatkan daya tahan tubuh supaya tidak
mudah terserang rinitis. “Tapi, jika sudah sangat mengganggu, bawa ke dokter
untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Irwan. (len/c15/ayi)
Sumber:
Jawa Pos, 13 September 2016
picture by: https://pixabay.com/id/alergi-dingin-penyakit-flu-gadis-18656/
