Parkinson Dikategorikan Penyakit Degeneratif
Fokus Latihan Aktivitas HarianTremor, gerak tubuh melambat, dan tubuh membungkuk identik dengan lansia. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa semua itu normal pada warga senior. Padahal, kumpulan gejala tersebut bisa jadi mengarah ke penyakit parkinson (Parkinson’s disease) yang diperingati (11/4).
PENYAKIT parkinson mulai naik daun pada
era 80-an. Petinju Muhammad Ali, yang menyatakan pensiun pada usia 39 tahun,
mengalami penurunan kondisi. Ucapannya tidak jelas, kerap menguap meski tengah
diwawancara, dan gerakannya melambat. Menurut dr Achmad Fahmi SpBS, tanda-tanda
itu biasanya muncul di tahap awal parkinson.
Fahmi
mengungkapkan, kondisi tersebut muncul lantaran parkinson menyerang pusat saraf
otak. “Tepatnya di substantia nigra atau
bagian otak yang merupakan ‘pabrik’ penghasil dopamin, zat yang berperan besar
pada gerakan,” kata Fahmi.
Dia
menyatakan, saat kadar dopamin turun, gangguan kemampuan motorik akan muncul.
Baik motorik kasar maupun halus. Penyakit itu paling banyak muncul pada usia 60
tahun atau lebih sehingga dikategorikan penyakit degeneratif. Meski begitu, ada
pula yang mengalaminya pada umur akhir 30 tahunan.
Penandanya,
empat kumpulan gejala yang disingkat menjadi TRAP (selengkapnya pada grafis). Jika tiga di antara empat tanda
tersebut muncul, pasien disarankan segera periksa ke dokter.
“Di
awal kejadian, dokter biasanya belum memutuskan apakah memang positif parkinson
atau penyakit lain,” ucap anggota Congress of Neurological Surgery tersebut.
Sebab, TRAP tidak hanya muncul akibat parkinson. Gangguan otak lain seperti
pengerutan, penumpukan cairan, maupun stroke punya gejala serupa.
Fahmi
menjelaskan, mendeteksi parkinson bukan hal mudah. Pertama, penyebab pastinya
belum diketahui. “Saat kasus Muhammad Ali tren, banyak yang bilang penyebab
parkinson adalah trauma atau cedera kepala. Tapi, buktinya, tidak banyak
petinju yang kena,” papar alumnus FK Universitas Ailangga Surabaya tersebut.
Selain itu, belum ada pemeriksaan laboraturium maupun MRI yang mampu
mendiagnosis status parkinson.
Jika
dinyatakan positif parkinson, pasien bakal mendapatkan obat. “Pengobatan ini
bertujuan menekan progres penyakit. Bukan 100 persen menyembuhkan,” tegas
Fahmi. Kalau pengobatan on-off atau
tidak maksimal, barulah dilakukan operasi. Operasi tersebut bertujuan
mengembalikan fungsi substansia nigra. “Setelah
operasi, pasien disarankan tetap melakukan terapi. Mereka juga tetap wajib
minum obat,” tuturnya.
Selain
obat, dr Hasan Wijaya SpKFR menuturkan bahwa pasien harus rajin terapi. Sasaran
latihannya adalah melatih sendi agar tidak kaku, bahkan kehilangan fungsi.
“Fokusnya latihan gerak sendi, koordinasi, jalan, dan aktivitas sehari-hari,”
tegas Hasan.
Karena
berfokus pada aktivitas sehari-hari, spesialis rehabilitasi medik yang
berpraktik di RKZ Surabaya itu menjelaskan bahwa terapi bisa dilakukan di
rumah. Bantuan keluarga sangat dibutuhkan.
Alumnus
FK Universitas Airlangga Surabaya itu menjelaskan, karena sulit bergerak,
tingkat kebersihan pasien menurun. “Aktivitas turun, termasuk untuk makan atau
ke kamar mandi. Keluhan utamanya pasti sakit dan sulit gerak, muncul luka
karena lama berbaring (decubitus ulcers),”
ungkapnya.
Selain
kondisi fisik yang menurun, kondisi psikologis pasien ikut terpengaruh. Menurut
Hasan, pasien biasanya mengalami depresi karena kehilangan fungsi sebagai
manusia. (fam/c14/nda)
Apa SajaTRAP?
TREMOR
Kondisi tangan gemetar meski
dalam kondisi diam dan tidak melakukan aktivitas. Jika parah, tremor bisa
mengganggu aktivitas seperti makan, menulis, atau mengancingkan pakaian.
RIGIDITY (KEKAKUAN)
Sendi pasien parkinson biasanya
mengalami penurunan, bahkan kehilangan fungsi. Bentuknya beragam. Ada pasien
yang sulit mengangkat atau menolehkan kepala hingga berjalan dengan langkah
kecil-kecil.
AKENESIA
Perlambatan ditemui di setiap
gerakan. Mulai berjalan, menelan, hingga berbicara. Respons pasien ketika
diajak berkomunikasi juga turun.
POSTURAL IMBALANCE
Pasien yang kehilangan kontrol
terhadap gerakan sering merasa limbung atau seakan-akan jatuh ke belakang.
Untuk itu, mereka menghindarinya dengan postur membungkuk (stooped postur). Dampaknya, pasien sering mengalami nyeri punggung.
GEJALA MINOR
·
Air ludah tidak terkontrol meski sedang tidak
makan.
·
Gangguan buang air besar, terutama sembelit.
·
Saat bicara, suara makin pelan.
·
Wajah kaku seperti memakai masker.
Sumber: Jawa Pos, 10 April 2017