Google search

Custom Search

Translate

Wednesday, 11 April 2018

Parkinson Dikategorikan Penyakit Degeneratif


Parkinson Dikategorikan Penyakit Degeneratif

Fokus Latihan Aktivitas Harian

Tremor, gerak tubuh melambat, dan tubuh membungkuk identik dengan lansia. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa semua itu normal pada warga senior. Padahal, kumpulan gejala tersebut bisa jadi mengarah ke penyakit parkinson (Parkinson’s disease) yang diperingati (11/4).

                PENYAKIT parkinson mulai naik daun pada era 80-an. Petinju Muhammad Ali, yang menyatakan pensiun pada usia 39 tahun, mengalami penurunan kondisi. Ucapannya tidak jelas, kerap menguap meski tengah diwawancara, dan gerakannya melambat. Menurut dr Achmad Fahmi SpBS, tanda-tanda itu biasanya muncul di tahap awal parkinson.
                Fahmi mengungkapkan, kondisi tersebut muncul lantaran parkinson menyerang pusat saraf otak. “Tepatnya di substantia nigra atau bagian otak yang merupakan ‘pabrik’ penghasil dopamin, zat yang berperan besar pada gerakan,” kata Fahmi.
                Dia menyatakan, saat kadar dopamin turun, gangguan kemampuan motorik akan muncul. Baik motorik kasar maupun halus. Penyakit itu paling banyak muncul pada usia 60 tahun atau lebih sehingga dikategorikan penyakit degeneratif. Meski begitu, ada pula yang mengalaminya pada umur akhir 30 tahunan.
                Penandanya, empat kumpulan gejala yang disingkat menjadi TRAP (selengkapnya pada grafis). Jika tiga di antara empat tanda tersebut muncul, pasien disarankan segera periksa ke dokter.
                “Di awal kejadian, dokter biasanya belum memutuskan apakah memang positif parkinson atau penyakit lain,” ucap anggota Congress of Neurological Surgery tersebut. Sebab, TRAP tidak hanya muncul akibat parkinson. Gangguan otak lain seperti pengerutan, penumpukan cairan, maupun stroke punya gejala serupa.
                Fahmi menjelaskan, mendeteksi parkinson bukan hal mudah. Pertama, penyebab pastinya belum diketahui. “Saat kasus Muhammad Ali tren, banyak yang bilang penyebab parkinson adalah trauma atau cedera kepala. Tapi, buktinya, tidak banyak petinju yang kena,” papar alumnus FK Universitas Ailangga Surabaya tersebut. Selain itu, belum ada pemeriksaan laboraturium maupun MRI yang mampu mendiagnosis status parkinson.
                Jika dinyatakan positif parkinson, pasien bakal mendapatkan obat. “Pengobatan ini bertujuan menekan progres penyakit. Bukan 100 persen menyembuhkan,” tegas Fahmi. Kalau pengobatan on-off atau tidak maksimal, barulah dilakukan operasi. Operasi tersebut bertujuan mengembalikan fungsi substansia nigra. “Setelah operasi, pasien disarankan tetap melakukan terapi. Mereka juga tetap wajib minum obat,” tuturnya.
                Selain obat, dr Hasan Wijaya SpKFR menuturkan bahwa pasien harus rajin terapi. Sasaran latihannya adalah melatih sendi agar tidak kaku, bahkan kehilangan fungsi. “Fokusnya latihan gerak sendi, koordinasi, jalan, dan aktivitas sehari-hari,” tegas Hasan.
                Karena berfokus pada aktivitas sehari-hari, spesialis rehabilitasi medik yang berpraktik di RKZ Surabaya itu menjelaskan bahwa terapi bisa dilakukan di rumah. Bantuan keluarga sangat dibutuhkan.
                Alumnus FK Universitas Airlangga Surabaya itu menjelaskan, karena sulit bergerak, tingkat kebersihan pasien menurun. “Aktivitas turun, termasuk untuk makan atau ke kamar mandi. Keluhan utamanya pasti sakit dan sulit gerak, muncul luka karena lama berbaring (decubitus ulcers),” ungkapnya.
                Selain kondisi fisik yang menurun, kondisi psikologis pasien ikut terpengaruh. Menurut Hasan, pasien biasanya mengalami depresi karena kehilangan fungsi sebagai manusia. (fam/c14/nda)


Apa SajaTRAP?
TREMOR
Kondisi tangan gemetar meski dalam kondisi diam dan tidak melakukan aktivitas. Jika parah, tremor bisa mengganggu aktivitas seperti makan, menulis, atau mengancingkan pakaian.
RIGIDITY (KEKAKUAN)
Sendi pasien parkinson biasanya mengalami penurunan, bahkan kehilangan fungsi. Bentuknya beragam. Ada pasien yang sulit mengangkat atau menolehkan kepala hingga berjalan dengan langkah kecil-kecil.
AKENESIA
Perlambatan ditemui di setiap gerakan. Mulai berjalan, menelan, hingga berbicara. Respons pasien ketika diajak berkomunikasi juga turun.
POSTURAL IMBALANCE
Pasien yang kehilangan kontrol terhadap gerakan sering merasa limbung atau seakan-akan jatuh ke belakang. Untuk itu, mereka menghindarinya dengan postur membungkuk (stooped postur). Dampaknya, pasien sering mengalami nyeri punggung.

GEJALA MINOR
·         Air ludah tidak terkontrol meski sedang tidak makan.
·         Gangguan buang air besar, terutama sembelit.
·         Saat bicara, suara makin pelan.
·         Wajah kaku seperti memakai masker.
Sumber: Jawa Pos, 10 April 2017



Wednesday, 4 April 2018

Wacana Label Peringatan Kanker pada Kopi


Wacana Label Peringatan Kanker pada Kopi
               
                LOS ANGELES- Di California, AS, kemasan kopi mungkin saja bakal dilengkapi dengan peringatan tentang potensi pemicu kanker. Tunggu... Sebenarnya buruk kondisinya? Latar belakangnya, Dewan Pendidikan dan Penelitian tentang toxics mengajukan tuntutan di California pada 2010. Tujuannya, memberikan peringatan kepada konsumen kopi mengenai acrylamide.
                Acrylamide merupakan zat sampingan yang dihasilkan pada pemanggangan biji kopi. Namun, apakah kita harus menghindari kopi sama sekali? Sanggupkah? American Cancer Society (ACS) menjelaskan, acrylamide terbentuk saat makanan tertentu dimasak dengan cara tertentu. Menggoreng, memanggang, serta roasting pada suhu tinggi dapat menimbulkan reaksi antara gula dan asam amino dalam produk kentang, biji-bijian, dan kopi. Perpaduan itulah yang kemudian menghasilkan zat kimia.
Masalahnya, kita tidak benar-benar tahu seberapa buruk dampak mengkonsumsi acrylamide dalam makanan atau minuman. “Yang sudah diketahui, berdasr studi pada hewan, ada peningkatan risiko kanker karena konsumsi acrylamide dalam kadar tinggi,” terang J. Leonard Lichtenfeld MD, kepala deputi kesehatan ACS.
Meski begitu, belum ada bukti positif bahwa acrylamide berpotensi memicu kanker pada manusia. Sejauh ini, acrylamide diketahui terdapat dalam kopi. Namun, kopi tidak diketahui sebagai penyebab kanker. “Karena itu, risiko acrylamide pada kopi minimal, jika memang ada,” kata Lichtenfeld. (cnn/c18/nor)
Sumber: Jawa Pos, 3 April 2018

Tuesday, 13 March 2018

Leptospirosis


Leptospirosis Muncul Lagi
Seorang Warga Meninggal, Tiga Orang Jalani Perawatan
            SURABAYA- Setelah lima tahun, kasus leptospirosis kembali muncul di Surabaya. Kasus tersebut terjadi di Dukuh Karangan, Kelurahan Babatan, Kecamatan Wiyung. Bahkan, penyakit yang disebabkan air kencing tikus yang terinfeksi leptospira itu telah mengakibatkan salah seorang warga meninggal dunia.
            Kini kasus itu mendapat pengawasan dari Dinas Keshatan (Dinkes) Surabaya dan Jawa Timur.
            Salah seorang warga yang diduga terkena leptospirosis hingga meninggal tersebut bernama Sukatono.
            Pria 49 tahun itu meninggal setelah seminggu sakit.
Awalnya Sukatono mengalami demam tinggi. Badan terasa pegal hingga membuatnya sulit berdiri. Matanya sedikit menguning. Pihak keluarga langsung membawa Sukatono ke Puskesmas Wiyung. Kemudian, dia menjalani rawat jalan. “Pak Sukatono selama ini jarang sakit. Jadi, keluarganya mengira hanya demam dan asam urat tinggi,” kata Sigit Nur Cahyono, ketua RT 10, RW 03, Kelurahan Babatan, Wiyung.
Pada Sabtu (18/11), Sigit melihat bukan hanya Sukatono yang sakit. Suparmi, istri Sukatono,juga sakit. Gejalanya pun sama dengan Sukatono. Panas, mata menguning, dan sulit berjalan. Kemudian, Sukatono dan Suparmi dirawat di RS Wiyung Sejahtera.
Namun, kondisi Sukatono semakin parah. Dia meninggal di rumah sakit. Sementara itu, Suparmimasih dirawat di rumah sakit. Kemudian, dua di antara empat anak Sukatono dan Suparmi juga mengalami demam. “Saya curiga. Kenapa kok sakit semua,” ujarnya.
Sigit mengatakan, saat memandikan jenazah, dirinya bertanya langsung kepada petugas kesehatan di Puskesmas Wiyung. Dari situlah, dia mendapatkan informasi bahwa Sukatono dan Suparmi diduga terkena Leptospirosis. Penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira melalui air kencing tikus.
Mengetahui hal tersebut, Sigit langsung menelepon 112 Surabaya. Dia menjelaskan kondisi yang dialami keluarga Sukatono. Pada Minggu (19/11), tim linmas turun ke lapangan.
Rumah Sukatono dibersihkan. Seluruh perabotan rumah dibuang untuk menghindari persebaran bakteri leptospira. “Kami tidak ingin ada korban lagi. Jadi, lebih baik seluruh rumah dibersihkan agar bebas dari bakteri leptospira,” ujarnya. Sebab, sebagian besar warga juga resah lantaran penyakit tersebut.
Penyakit yang bisa menyerang ginjal dan liver dengan cepat itu membuat warga khawatir. Seluruh warga akhirnya secara swadaya membangun rumah Sukatono dan Suparmi. “Ini semua swadaya. Kami bantu bersihkan isi rumah,” katanya.
Sigit menuturkan, sejatinya lingkungan sekitar Dukuh Karangan itu sudah cukup bersih. Kegiatan kebersihan lingkungan juga rutin dilakukan. Namun, kondisi di dalam rumah pasien jauh berbeda. Selain kotor, banyak tikus yang ditemukan di dalam rumah sederhana itu. “Banyak tikus yang kami temukan. Langsung kami bunuh,” ungkapnya.
Hingga kemarin (21/11), petugas linmas masih membersihkan rumah Sukatono. Seluruh isi rumah sudah dibuang. Tidak ada perabotan sama sekali. Petugas linmas juga menguruk lantai rumah dengan tanah.
Selain linmas yang terus membersihkan dan mencari tikus-tikus di dalam rumah korban, petugas Dinkes Jatim dan Surabaya ikut turun ke lapangan. Mereka memberikan penyuluhan kepada warga sekitar RT 10, RW 03, Kelurahan Babatan. Petugas dari Dinkes Surabaya dan Puskesmas Wiyung juga membuka posko untuk pemeriksaan kesehatan warga. Mulai tensi hingga pemeriksaan sampel darah (rapid test).
Kepala Dinkes Surabaya Febria Rachmanita mengatakan, Suparmi yang kini di rawat di RS Universits Airlangga (RSUA) masih suspect leptospirosis. Termasuk dua anaknya. “Ibu Suparmi masih dirawat inap. Dua anaknya sudah rawat jalan,” katanya.
Sampel darah Suparmi sudah diperiksa dan hasilnya negatif. Namun, hasil rapid test satu di antara dua anaknya ternyata positif. Tiga sampel darah tersebut dikirim ke RSU Pusat dr Kariadi, Semarang. “Kami masih menunggu hasilpemeriksaan laboratorium. Ini masih suspect leptospirosis,” ujarnya.
Perempuan yang biasa disapa Feni itu menuturkan, saat musim hujan masyarakat tidak hanya waspada terhadap nyamuk Aedes Aegypti yang mengakibatkan demam berdarah. Namun, juga harus waspada terhadap tikus. “Tikus yang terkena bakteri leptospira itu bisa menularkan ke manusia. Dan, itu sangat berbahaya,” katanya.
Umumnya, penyakit leptospirosis muncul di daerah rawan banjir. Meski begitu, tidak tertutup kemungkinan leptospirosis juga ditemukan di tempat yang kotor.
Rumah pasien yang diduga terkena leptospirosis itu ternyata memang sangat kotor. Banyak tikus berkeliaran. “Hari pertama saat dievakuasi ada 20 tikus. Hari ini (21/11) ditemukan delapan tikus lagi,” tuturnya.
Delapan tikus yang ditangkap tersebut diambil oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP). Sampel ginjal dari tikus tersebut langsung dikirim ke RSU dr Kariadi, Semarang. “Hasilnya baru diketahui 7-10 hari ke depan. Apakah ada bakteri leptospira atau tidak,” jelasnya.
Pihaknya saat ini telah memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar. Khususnya untuk kebersihan lingkungan. Sebab, tikus sangat suka hidup di tempat kotor. “Daerah ini akan kami pantau lebih dari 15 hari,” katanya.
Kepala Dinkes Jatim dr Kohar Hari Santoso mengatakan bahwa syarat untuk terhindar dari penyakit tersebut adalah menjaga lingkungan. Sanitasi, air, kelembapan udara, hingga jamban harus benar-benar bersih. Sebab, dampaknya bisa sangat fatal. “Langsung bisa menyerang ginjal dan liver,” ujarnya.
Kohar menuturkan, pihaknya juga menurunkan petugas untuk mengawasi lingkungan tersebut selama dua bulan ke depan. Selain itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada warga untuk menjaga lingkungan tetap bersih. “Kami terus pantau sampai hasil tesnya keluar,” tegasnya.
Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana mengungkapkan, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Jika memang hasilnya positif, pihaknya bisa menetapkan kasus tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB). “Tunggu dulu hasilnya. Sekarang masih suspect. Kalau positif leptospirosis, ya dikeluarkan KLB,” ucapnya.
Kondisi Suparmi Membaik
Sementara itu, Jawa Pos juga mendatangi RSUA kemarin (21/11). Suparmi menolak untuk ditemui Angga, salah seorang anaknya, mengatakan kurang memahami penyakit yang diderita sang ibu. Yang dia tahu, seminggu lalu ibunya mengeluh pusing.
Ketika dibawa ke puskesmas, dokter mengatakan bahwa sang ibu memiliki tekanan darah rendah. Setelah diberu obat, mereka pun kembali ke rumah. Namun, setelah beberapa hari, pusing yang dialami sang ibu tidak kunjung sembuh. Karena itu, dia dibawa ke Rumah Sakit Wiyung Sejahtera untuk menjalani rawat inap.
“Masuk  18 November di RS Wiyung Sejahtera. Nafsu makannya menurun. Dua hari dirawat, tetapi kondisinya tidak membaik ataupun memburuk,” ujar Kepala Bagian Medis RS Wiyung Sejahtera dr Yunus Hani Dewanta di tempat berbeda.
Saat berkunjung, petugas dinkes meminta pihak rumah sakit untuk merujuk Suparmi ke RSUA agar mendapatkan penanganan lebih lanjut dan kepastian diagnosis pada Senin (20/11), pasien pun dibawa ke UGD RSUA.
Tiba pukul 17.30 di UGD, tim dokter segera menanganinya. Saat datang, kesadaran pasien menurun. Hal itu disebabkan komplikasi di otak yang mengganggu sitem saraf pusat. Dalam istilah medis, hal itu disebut ensefalopati metabolik. Bola matanya pun tampak kuning kemerahan.
Tekanan darah pasien rendah. Hanya 80/50 mmHg. Ginjal Suparmi juga bermasalah. Sudah empat hari air kencingnya tidak keluar. Kateter pun dipasang untuk dievaluasi. Hasil laboratorium menunjukkan adanya gangguan pada hati. Termasuk elektrolit. Terutama natrium dan kalium yang di bawah jumlah normal. “Kalau sudah ada komplikasi lebih dari dua organ tubuh, berarti sudah mengalami well disease. Atau, bisa dibilang leptospirosis yang sudah berat,” ujar Prof Dr dr Nasronudin SpSDK-PTI FINASIM saat ditemui di RSUA kemarin. Apalagi, juga ditemukan pseudo hepatorenal syndrome. Yakni, gangguan fungsi ginjal yang salah satunya disebabkan leptospirosis.
Ketika pasien datang, hal pertama yang dilakukan pihak RS adalah mengatasi kegawatan. Tujuannya, tentu membuat kondisi pasien tidak semakin buruk. Tekanan darah segera diatasi. Termasuk dukungan cairan infus untuk membantu memperbaiki gizinya.
Kemarin pagi kondisi Suparmi semakin baik. Nafsu makannya juga sudah mulai membaik. “Tekanan darahnya sudah bagus. Tadi pagi 140/80 mmHg. Air kencingnya juga sudah keluar 50 cc tiap jam,” lanjut konsultan penyakit tropis tersebut.
Bukan kali pertama RSUA menerima pasien leptospirosis. Menurut Nasron, setiap bulan ada sekitarnya 3-5 pasien yang berobat.
Dia pun menekankan, oran-orang yang bekerja dengan paparan air, seperti petani, tukan kebun, dan pembersih selokan, untuk lebih berhati-hati. Gunakan alat pengaman seperti sepatu bot dan sarung tangan setiap bekerja.
Selain itu, mereka harus selalu membersihkan tangan dan tubuh dengan air sabun setelah kontak dengan air dan tanah berlumpur. “Bangkai tikus itu juga tidak boleh dibuang sembarangan. Sebaliknya dikelola secara profesional. Itu termasuk limbah berbahaya dan beracun,” tegasnya.
Sumber: METROPOLIS – JAWA POS, 22 Nopember 2017

Wednesday, 25 October 2017

CUACA PANAS

Tip Jaga Kondisi di Cuaca Panas

                
           
BELAKANGAN ini hawa di Kota Surabaya dan sekitar terasa panas. Bahkan, dalam beberapa hari, suhu bisa mencapai 36 derajat Celcius. Menurut dr Irene Stephanie Surjadibrata SpSD, dokter spesialis internis Siloam Hospitals Surabaya, angka tersebut masih aman bagi tubuh. “Dikatakanekstrem kalau sudah 40 derajat Celcius,” katanya.
                Cuaca panas menimbulkan perubahan pada kondisi tubuh. Banyaknya keringat yang keluar bisa membuat tubuh kekurangan cairan atau dehidrasi. Di antara gejalanya adalah pusing, berkeringat, kulit yang menjadi kering dan merah, serta denyut jantung cepat, dan napas menjadi dangkal.
                Panas juga bisa mengganggu kinerja sel dalam tubuh. Alhasil, daya tahan tubuh melemah. Dengan demikian, tubuh rentan terkena penyakit. Terutama penyakit yang disebabkan virus. “Misalnya, infeksi saluran cerna, infeksi saluran pernapasan, diare, dan flu yang komplikasinya ke bronkitis,” jelas Irene.
                Cuaca panas juga membuat udara lembap. Kondisi itu mengakibatkan penyakit asma mudah kambuh. Begitu pula alergi. Misalnya, rinitis alergi atau radang selaput hidung dan dermatitis atau peradangan kulit. Salah satu tanda dermatitis adalah gatal-gatal pada kulit. “Kalau sebelumnya punya riwayat itu, dermatitis akan mudah kambuh,” kata Irene.
Orang yang memiliki riwayat sakit paru-paru, jantung, ginjal, obesitas, hipertensi, dan diabetes diharapkan lebih berhati-hati karena memiliki risiko yang lebih tinggi. Selain itu, anak-anak dan lanjut usia karena daya tahan tubuhnya tidak seoptimal orang dewasa sehat. “Baik memiliki riwayat penyakit atau tidak, sebaiknya perhatikan kondisi kesehatan,” ujar Irene. (adn/c7/ayi)
Apa yang harus dilakukan?
·      Minimalkan aktivitas di luar ruangan. Usahakan melakukan aktivitas di dalam ruangan yang suhu dan kelembapan udaranya tetap stabil. Termasuk ketika berolahraga.
·      Konsumsi cairan minimal 2 liter per hari. Jika terpaksa beraktivitas outdoor , tingkatkan asupan cairan. Biasanya tambah sekitar 500 cc per hari. Boleh minum air mineral atau minuman yang mengandung elektrolit. Tinggal diselang-seling saja sesuai kebutuhan.
·      Untuk meningkatkan daya tahan tubuh, jangan lupa mengonsumsi jus buah dan vitamin.
·      Konsumsi makanan berkuah untuk menambah asupan cairan. Kurangi makanan yang terlalu asin. Sebab, garam mengandung natrium yang menyerap cairan dalam tubuh.
·      Jaga pakaian tetap kering supaya memperkecil risiko dermatitis atau alergi pada kulit. Ganti pakaian kalau sudah terkena keringat. Termasuk pakaian dalam. Taburkan bedak yang menyerap keringat supaya kulit tetap kering.

Sumber: FOR HER Jawa Pos, 17 Oktober 2017

Tuesday, 10 October 2017

PARENTING

Wongtuwa Stres Merbawani Marang Anak

Duwe anak pancen nyenengake. Nanging, ati-ati nyedhaki anak nalikane kita lagi nandhang stres. Sebabe, bayi apadene anak-anak bisa nangkep sinyal negatif iki lan merbawani marang kesehatane si bocah.

                BELLA durung ganep setaun omah-omah wis kanugrahan momongan lanang. Nanging, keri-keri iki dheweke nembe nyadhari bab kang narik marang anake. Nalikan Bella nandhang stres, bayine melu-melu rewel. Contone nalika dheweke lagi kesusu-susu ndulang anake ing tengahing iwut tumandang gawe. Bayi umur wolung sasi kuwi uga malah angel diatur.
                “Dheweke malah dadi kerep nlepeh panganane lan angel glegeken. Banjur nalika dakdulang maneh, dheweke malah nesu ora gelem” kandhane Bella kang uga wanita karir kasebut. Ora mung Bella kang ngalami bab iki, menawa wae kita kabeh uga nate ngalami bab iki.
                Kamangka, bayi isih keciliken anggone bisa mangerteni omongan kita. Nanging, nyatane dheweke landhep pangrasane marang emosi lan mood-e wong tuwane. Dadi, aja gumun yen wongtuwa lagi stres, banjur mengaruhi marang bayine.
                Bab iki dikandhakake dening Andrew Garner MD, sawijining dokter anak saka Fakultas Kedokteran Case Western Reseve University. “Nalika wongtuwa lagi bingung, anak-anake uga bisa katut stres,” kandhane Andrew kang uga minangka anggota Perhimpunan Dokter Anak Nasional iki. Bab kasebut manut Andrew, adhedhasar panaliten kang wis ditindakake, becik marang manungsa apadene kewan. Bayi lan anak-anak mujudake titah sing paling landhep pangrasane.
Yen bayi nemen strese lan urpe geger wae, mula pungkasane bakal marang konsekuensi jangka panjang. “Dadi mangkane, nalika wongtuwone keli ing pamikire dhewe, mula kawigatene marang bayi utawa anak dadi kurang. Bab  iki ndadekake bayi dadi kasisih lan wedi,” kandhane Andrew.
Anak-anak uga sinau saka apa kang dideleng utawa kang sinebut ‘tindakan imitasi’. Yen dheweke weruh wongtuwane stres, anak iku uga bakal niru. Andrew aweh eguh pratikel marang wongtuwa supaya ngontrol strese. Carane, klawan narik napas sing landhung klawan itungan 10. Yen wongtuwa ora kasil ngontrol stres, bisa wae anak dadi seneng mbengok, nyonto lageyane urip ora sehat, lan wegah srawung.
“Kabeh iki bisa dumadi marang saben umur,” kandhane Sandra Weiss PhD DNScRNFAAN. Pnaliten kang ditindakake Sandra nemokake yen ibu nuduhake tandha-tandha stres, anak-anak sing umur rong taun upamane, uga bakal nuduhake tandha-tandha kang padha.
Malah, kedadeyan stres iki bisa ngowahi perkembangan uteke si anak. “tubrukan kang suwe marang hormon stres bisa mengaruhi marang uteg lan fungsi tinamtu,” tandhese.
Sandra njlentrehake rerangkene conto. Sebut wae “racun” stres iki bisa ngganggu sirkuit ing utek lan mengaruhi perkembangane. Dhuwure tingkat hormon stres bisa menet respon imunitase badan. Badan uga dadi gampang kaserang penyakit.
Kira-kira kita mikir merga saben dinane kita entekake klawan deadline ing kantor, lan mulih ing kahanan stres, kita mitayakake kesehatan mental sang bayi. Kamangka, dudu iku masalahe. Bayi kanthi pinter bisa ngrasakake wongtuwane apa nandhang stres kayadene bayine Bella.
Bayi utawa anak-anak ngalami owah-owahan ketege jantung lan derajat hormon. Nanging, yen wong tuwane utawa wong sing ngrumat aweh kenyamanan marang dheweke, dheweke bakal sinau ngontrol stres sing namani. Lan iki mujudake kemampuan urip kang wigati.
Sing wigati saiki yaiku supaya wongtuwa bisa ngatur tingkat strese. “Dadi, bayi kita ora kena pengaruhe sres kasebut. Klawan mangkono, kahanane ora perlu tambah kaco maneh,” kandhane Sandra. Ya sing genah, yen bayi ora ketaman stres, dheweke bakal tanggap marang kita. Mangane dheweke bakal luwih akeh, uga turune bakal angler alias wis ora rewelan.
Sumber: Panjebar Semangat, #8 25 Pebruari 2017


Thursday, 28 September 2017

Jantung

Angin Duduk Tergolong Sakit Jantung
Wajib Periksa
meski Nyeri Reda
Pernah mendengar istilah angin duduk? Kondisi ini biasanya ditandai dengan nyeri dada, tubuh berkeringat dingin, serta sesak. Untuk menyembuhkan, biasanya cukup kerokan atau minum minuman hangat. Apakah itu penanganan yang tepat?
            DALAM dunia medis, tidak ada istilah angin duduk, “Kalau ada pasien yang mengeluhkan nyeri dada dan seperti masuk angin,kami asumsikan sebagai serangan jantung,” ucap dr Wenni Erwindia SpJP FIHA. Spesialis jantung Siloam Hospitals Surabaya itu menjelaskan, berbeda dengan masuk angin, serangan jantung punya gejala yang spesifik.
            Angin duduk secara medis dikenal sebagai Angina pectoris. Gejalanya berupa nyeri di dada kiri yang menjalar ke tubuh bagian atas lainnya.”Ada juga yang sampai disertai mual dan muntah. Kalau dibuat aktivitas seperti olahraga, nyerinya makin parah,” jelasnya.
            Wenni memaparkan, gangguan itu dipicu penyempitan pembuluh darah di jantung. Anggota Indonesian Women Cardiologist (IwoC) tersebut melanjutkan, jika muncul serangan itu, pasien sebaiknya segera dilarikan ke rumah sakit. “Makin cepat ditangani, makin baik. Sebab, jika terlambat, otot jantung yang rusak makin banyak. Yang rusak itu tidak bisa diperbaiki,” lanjutnya.
            Dia menerangkan, keterlambatan berisiko besar. Mulai gangguan irama jantung, gagal jantung, hingga kematian. Meski begitu, ada pula yang bisa bertahan tanpa merasa mengalami efek lanjutan begitu keluhan berakhir. Kendati demkian, kondisi tersebut tak bisa diremehkan. “Sebab, tanpa disadari, ternyata jantung membengkak atau fungsinya terganggu. Akhirnya, muncul keterbatasan beraktivitas,” terang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya tersebut.
            Karena itu, Wenni menekankan, mereka yang mengalami serangan jantung wajib memeriksakan diri ke dokter meski sudah tidak memiliki keluhan. Menurut dia, banyak orang yang masih salah kaprah. Tanpa tahu apa sakitnya, kebanyakan memilih memberikan minuman hangat atau kerokan. Memang, tindakan itu bisa membuat penderita merasa lebih nyaman. Namun, hal tersebut tidak menyelesaikan masalah utama yang jadi pemicu serangan jantung. Tanpa penanganan awal yang baik, serangan jantung lanjutannya berakibat lebih fatal.
            Terjadinya angin duduk tidak bisa diprediksi, bahkan kepada pasien yang punya riwayat penyakit jantung koroner sekali pun. “Pasien yang hasil checkup paginya normal, saat sore bisa jadi kena serangan. Tapi, hal itu bisa dicegah,” ujar dokter kelahiran Surabaya, 2 September 1972, tersebut.
            Wenni mengungkapkan, kuncinya adalah menjaga pola hidup sehat. “Ini wajib buat mereka yang didiagnosis penyakit jantung koroner maupun tidak,” tuturnya. Untuk menjaga kesehatan jantung, tidak ada pantangan mengonsumsi makanan tertentu. “Tidak ada diet atau nggak boleh ini itu. Yang terpenting, tidak berlebihan,” imbuhnya.
            Pola hidup sehat dan cukup tidur bisa mengurangi risiko stres yang merupakan salah satu pemicu serangan jantung. “Yang paling penting, wajib olahraga rutin. Setidaknya, olahraga ringan 30 menit per hari sudah cukup,” katanya. Dia menambahkan, aktivitas fisik yang disarankan adalah jalan kaki dan joging. Untuk pasien yang didiagnosis dengan penyakit jantung, dia menyarankan olahraga yang ringan dan tidak bersifat kompetitif.
Langkah Pertama
                Jika orang terdekat atau kita sendiri terkena serangan jantung yang biasa disebut angin duduk, apa yang sebaiknya dilakukan?
·         Mengontak panggilan darurat.
·         Menghentikan aktivitas.
·         Jika merupakan penderita penyakit jantung koroner, segera minum obat.
Kenali Gejalanya
·         Nyeri di dada sebelah kiri yang menjalar ke seluruh dada, punggung, bahu, lengan, hingga rahang sebelah kiri.
·         Badan terasa dingin disertai dengan keringat dingin.
·         Sesak napas.
·         Nyeri makin terasa sakit saat beraktivitas.
·         Kembung, mual, dan muntah.
MITOS & FAKTA

Bisa disembuhkan dengan kerokan
Salah. Tindakan itu memang membuat tubuh lebih enak, tetapi tidak mengatasi sumber utama serangan jantung. Yakni, sumbatan di pembuluh darah jantung.
Hanya terjadi di usia 40 tahun ke atas
Salah. Mungkin pendapat itu pas jika diucapkan dua dekade lalu. Sebab, kini usia 30 tahun juga rentan mengalami serangan jantung. Penyebab utamanya pola hidup tidak sehat.
Jika nyeri hilang, tidak perlu ke rumah sakit
Salah. Pasien tetap butuh melakukan checkup untuk mengetahui apakah ada bagian otot jantung yang terdampak. Kerusakan itu bisa menurangi fungsi jantung.
Tidak boleh olahraga
Salah. Olahraga justru penting untuk menjaga knerja jantung. Yang disarankan adalah olahraga ringan rutin lima kali seminggu. Sebaiknya hindari gym, terutama yang berhubungan dengan beban. Jika ingin nge-gym, konsultasikan dengan dokter.
SUMBER: Jawa Pos FOR HER, Selasa 26 Sepember 2017






Tuesday, 4 April 2017

The impact of contraceptive use

Dampak KB pada Siklus Haid

Kandungan Hormon Beri Pengaruh
Bermacam keluhan terkait datang bulan kerap mengiringi para perempuan yang menggunakan metode KB (Keluarga Berencana). Ada yang menstruasinya jadi sedikit. Ada pula justru bertambah, baik volume maupun durasinya. Mengapa bisa begitu?
                SECARA garis besar, alat KB dibagi dua, yakni hormonal dan nonhormonal. KB hormonal berupa pil, spiral (IUD), suntik, atau susuk. KB nonhormonal bisa berupa spiral tembaga. KB hormonal mengandung estrogen dan progestin. “Apa pun bentuknya, KB hormonal pasti memengaruhi sistem kerja hormon tubuh perempuan,” ujar dr Henky Mohammad SpOG, dokter kandungan dari Rumah Sakit Bedah Surabaya.
            Penggunaan metode KB hormonal bisa memberikan berbagai dampak pada siklus menstruasi. Salah satunya menekan jumlah darah yang keluar. Tetap lancar, namun volumenya berkurang. Tapi, terkadang juga ada yang siklusnya menjadi terganggu, tidak mendapat haid sama sekali, atau malah sebaliknya, darah yang keluar terlampau banyak. “Biasanya, kondisi itu terjadi pada awal penggunaan. Ada penyesuaian hormon dalam tubuh,” ujar Henky.
            Ketika pertama menggunakan KB hormonal, tubuh biasanya membutuhkan waktu untuk adaptasi. Akibatnya, hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh tidak seimbang. Imbasnya, siklus tidak lancar atau malah tidak haid sama sekali. Durasi dan periode mendapat haid juga jadi tidak menentu. “Proses ini biasanya terjadi pada tiga hingga empat bulan pertama KB,” tambah Henky.
            Selain itu, kandungan estrogen pada obat atau alat KB memberi efek penebalan dinding rahim. “Dinding rahim semakin tebal jika kadar estrogen bertambah tinggi akibat KB hormonal,” ujar dr Harry K Gondo SpOG(K), konsultan obgyn dari Siloam Hospitals Surabaya.
            Saat tidak dibuahi, dinding rahim yang terbuat dari pembuluh darah itu luruh dan terjadilah menstruasi. Lantaran dinding rahim menebal, ketika proses peluruhan terjadi, darah yang keluar lebih banyak daripada sebelum ber-KB.
Banyaknya darah menstruasi juga terjadi saat menggunakan KB jenis koyo atau patch. Koyo dipasang di dekat perut atau lengan bawah dan akan menghasilkan hormon estrogen serta mencegah kehamilan. “Sama seperti kandungan estrogen pada KB pil, dinding rahim juga semakin tebal karena koyo ini sehingga saat menstruasi, darah semakin banyak,” ujar Harry.
Jika estrogen pada alat KB membuat darah menstruasi semakin banyak, lain halnya dengan kandungan hormon progestin. Hormon itu biasanya ditemukan pada pil KB progestin only, susuk KB, atau KB suntik. Hormon progestin menekan jumlah estrogen sehingga pembentukan dinding rahim tidak terlalu tebal, bahkan cenderung tipis.
Maka, saat menstruasi, perempuan yang menggunakan alat KB dengan lebih banyak hormon progestin hanya mengeluarkan sedikit darah. Pada awal pemakaian, seseorang bahkan bisa jadi tidak mendapat menstruasi karena berkurangnya kadar hormon estrogen. “Biasanya, hal ini terjadi pada 2-3 bulan pertama. Setelah itu, menstruasi akan kembali terjadi walaupun jumlah darahnya sedikit,” tambah Harry.
Pada KB suntik, kandungan hormon progestin membuat kinerja estrogen dalam tubuh tidak maksimal. Akhirnya, dinding rahim tidak terbentuk sehingga menstruasi bisa saja terhenti. “Durasi terganggunya siklus menstruasi umumnya bergantung pada jenis suntikan. Yakni, sebulan atau tiga bulan,” tambah Harry.
Demikian pula KB susuk. Susuk KB yang serupa jarum kecil itu akan melepaskan hormon progesterin ketika ditanam di lengan. Hormon estrogen pun ditekan sehingga pembentukan dinding rahim tidak optimal. “Di awal pemakaian, siklus menstruasi umumnya tidak teratur karena tubuh sedang menyesuaikan,” jelas Harry.
Sementara itu, KB spiral yang mengandung levonogestrel bisa memberi dampak pada proses menstruasi. Kandungan levonogestrel memiliki dampak yang sama dengan hormon dengan hormon progestin. Yakni, dinding rahim tidak mengalami penebalan sehingga darah yang keluar saat menstruasi tidak banyak.
Sumber: Jawa Pos, 13 Desember 2016
Waspadai Penyebab Lain
KB hormonal memang memberikan dampak pada siklus menstruasi. Namun, ketika gangguan datang bulan itu terjadi terus-menerus, segera konsultasikan ke dokter. Ada sejumlah hal lain yang juga bisa memicu gangguan tersebut. “Misalnya, pada KB spiral tembaga. Peletakan yang kurang tepat di rahim menyebabkan pendarahan yang banyak dan durasinya semakin lama,” ujar Henky.
Hal itu terjadi karena spiral semakin menekan dinding rahim yang terdiri atas pembuluh darah. Akhirnya, saat dinding rahim meluruh ketika masa haid, darah yang keluar semakin banyak. “Kadang juga ada sedikit rasa nyeri,” tambah Henky.
Adanya miom di dalam rahim juga memengaruhi menstruasi. Miom membuat rahim melebar sehingga dindingnya tertekan. Ketika seorang perempuan menggunakan KB dengan kandungan estrogen, dinding rahim yang tertekan oleh miom semakin menebal dan mengandung lebih banyak darah. Itulah yang membuat perempuan dengan miom mengeluarkan banyak darah saat menstruasi.
Perempuan dengan diagnosis obesitas juga lebih sering mengeluarkan banyak darah saat menggunakan KB dengan kandungan estrogen. Sebab, sebelumnya mereka memiliki kandungan estrogen yang banyak. “Salah satu bahan pembentuk estrogen itu adalah kolesterol, yang banyak ditemukan pada mereka yang overweight,” ujar Harry.
Tambahan kandungan estrogen dari KB akan membuat dinding rahim semakin tebal dan darah semakin banyak saat haid.
Meski demikian, respons hormonal antara satu orang dan yang lain berbeda. Pada beberapa orang yang mengonsumsi pil KB estrogen, jumlah dan silkus haidnya tetap bisa normal. Tapi, tidak sedikit pula yang menstruasinya mandek. “Hal itu wajar karena mekanisme hormonal tiap orang berbeda,” jelas Harry.
Pada awal masa penggunaan KB, siklus menstruasi memang terganggu. Meski hal itu wajar, berkonsultasi dengan pakar tetap dibutuhkan. Tujuannya, mengantisipasi terjadinya komplikasi atau mengetahui evektifitas KB.
Sumber: Jawa Pos, 13 Desember 2016

Panduan KB
        


    Sebelum menggunakan
Konsultasikan pilihan KB kepada dokter kandungan atau tenaga medis yang berkompeten.
Lakukan pemeriksaan menyeluruh. Mulai rahim, alergi hormon, hingga kesehatan tubuh secara umum (berat badan, tekanan darah, atau riwayat penyakit reproduksi).
Periksa apakah siklus haid sudah lancar.
.....................................................................................................................................................
Saat menggunakan
Untuk pil KB dan KB suntik, lakukan secara teratur dan rutin. Minum pil sesuai dengan petunjuk pada jam yang sama tiap hari. Untuk suntik, ikuti jadwal yang sudah ditentukan tenaga medis yang memberikan suntik, yakni sekali dalam sebulan atau sekali dalam tiga bulan.
Pastikan spiral atau susuk terpasang dengan benar jika menggunakannya sehingga tubuh tidak nyeri atau mengalami komplikasi lain.
Pil KB dan suntik KB akan lebih baik digunakan kali pertama pada hari pertama mendapat menstruasi. Tujuannya, pemberian KB mengikuti siklus alami tubuh.
.....................................................................................................................................................
Segera ganti metode jika
Tubuh mengalami gangguan seperti menstruasi yang tak kunjung teratur selama lebih dari 6 bulan.
Bagian tubuh dengan alat KB seperti rahim yang diberi spiral atau lengan yang ditanami susuk terasa tidak nyaman atau sakit.
Komplikasi lain seperti jerawat atau mual.
.....................................................................................................................................................
Sumber: Jawa Pos, 13 Desember 2016