Leptospirosis
Muncul Lagi
Seorang Warga Meninggal, Tiga Orang
Jalani Perawatan
SURABAYA-
Setelah lima tahun, kasus leptospirosis kembali muncul di Surabaya. Kasus
tersebut terjadi di Dukuh Karangan, Kelurahan Babatan, Kecamatan Wiyung.
Bahkan, penyakit yang disebabkan air kencing tikus yang terinfeksi leptospira
itu telah mengakibatkan salah seorang warga meninggal dunia.
Kini kasus itu mendapat pengawasan
dari Dinas Keshatan (Dinkes) Surabaya dan Jawa Timur.
Salah seorang warga yang diduga
terkena leptospirosis hingga meninggal tersebut bernama Sukatono.
Awalnya Sukatono mengalami demam tinggi.
Badan terasa pegal hingga membuatnya sulit berdiri. Matanya sedikit menguning.
Pihak keluarga langsung membawa Sukatono ke Puskesmas Wiyung. Kemudian, dia
menjalani rawat jalan. “Pak Sukatono selama ini jarang sakit. Jadi, keluarganya
mengira hanya demam dan asam urat tinggi,” kata Sigit Nur Cahyono, ketua RT 10,
RW 03, Kelurahan Babatan, Wiyung.
Pada Sabtu (18/11), Sigit melihat bukan
hanya Sukatono yang sakit. Suparmi, istri Sukatono,juga sakit. Gejalanya pun
sama dengan Sukatono. Panas, mata menguning, dan sulit berjalan. Kemudian,
Sukatono dan Suparmi dirawat di RS Wiyung Sejahtera.
Namun, kondisi Sukatono semakin parah. Dia
meninggal di rumah sakit. Sementara itu, Suparmimasih dirawat di rumah sakit.
Kemudian, dua di antara empat anak Sukatono dan Suparmi juga mengalami demam.
“Saya curiga. Kenapa kok sakit semua,” ujarnya.
Sigit mengatakan, saat memandikan jenazah,
dirinya bertanya langsung kepada petugas kesehatan di Puskesmas Wiyung. Dari
situlah, dia mendapatkan informasi bahwa Sukatono dan Suparmi diduga terkena
Leptospirosis. Penyakit yang disebabkan bakteri Leptospira melalui air kencing
tikus.
Mengetahui hal tersebut, Sigit langsung
menelepon 112 Surabaya. Dia menjelaskan kondisi yang dialami keluarga Sukatono.
Pada Minggu (19/11), tim linmas turun ke lapangan.
Rumah Sukatono dibersihkan. Seluruh
perabotan rumah dibuang untuk menghindari persebaran bakteri leptospira. “Kami
tidak ingin ada korban lagi. Jadi, lebih baik seluruh rumah dibersihkan agar
bebas dari bakteri leptospira,” ujarnya. Sebab, sebagian besar warga juga resah
lantaran penyakit tersebut.
Penyakit yang bisa menyerang ginjal dan
liver dengan cepat itu membuat warga khawatir. Seluruh warga akhirnya secara
swadaya membangun rumah Sukatono dan Suparmi. “Ini semua swadaya. Kami bantu
bersihkan isi rumah,” katanya.
Sigit menuturkan, sejatinya lingkungan
sekitar Dukuh Karangan itu sudah cukup bersih. Kegiatan kebersihan lingkungan
juga rutin dilakukan. Namun, kondisi di dalam rumah pasien jauh berbeda. Selain
kotor, banyak tikus yang ditemukan di dalam rumah sederhana itu. “Banyak tikus
yang kami temukan. Langsung kami bunuh,” ungkapnya.
Hingga kemarin (21/11), petugas linmas
masih membersihkan rumah Sukatono. Seluruh isi rumah sudah dibuang. Tidak ada
perabotan sama sekali. Petugas linmas juga menguruk lantai rumah dengan tanah.
Selain linmas yang terus membersihkan dan
mencari tikus-tikus di dalam rumah korban, petugas Dinkes Jatim dan Surabaya
ikut turun ke lapangan. Mereka memberikan penyuluhan kepada warga sekitar RT
10, RW 03, Kelurahan Babatan. Petugas dari Dinkes Surabaya dan Puskesmas Wiyung
juga membuka posko untuk pemeriksaan kesehatan warga. Mulai tensi hingga
pemeriksaan sampel darah (rapid test).
Kepala Dinkes Surabaya Febria Rachmanita
mengatakan, Suparmi yang kini di rawat di RS Universits Airlangga (RSUA) masih suspect leptospirosis. Termasuk dua
anaknya. “Ibu Suparmi masih dirawat inap. Dua anaknya sudah rawat jalan,”
katanya.
Sampel darah Suparmi sudah diperiksa dan
hasilnya negatif. Namun, hasil rapid test
satu di antara dua anaknya ternyata positif. Tiga sampel darah tersebut
dikirim ke RSU Pusat dr Kariadi, Semarang. “Kami masih menunggu
hasilpemeriksaan laboratorium. Ini masih suspect
leptospirosis,” ujarnya.
Perempuan yang biasa disapa Feni itu
menuturkan, saat musim hujan masyarakat tidak hanya waspada terhadap nyamuk Aedes Aegypti yang mengakibatkan demam
berdarah. Namun, juga harus waspada terhadap tikus. “Tikus yang terkena bakteri
leptospira itu bisa menularkan ke manusia. Dan, itu sangat berbahaya,” katanya.
Umumnya, penyakit leptospirosis muncul di
daerah rawan banjir. Meski begitu, tidak tertutup kemungkinan leptospirosis
juga ditemukan di tempat yang kotor.
Rumah pasien yang diduga terkena
leptospirosis itu ternyata memang sangat kotor. Banyak tikus berkeliaran. “Hari
pertama saat dievakuasi ada 20 tikus. Hari ini (21/11) ditemukan delapan tikus
lagi,” tuturnya.
Delapan tikus yang ditangkap tersebut
diambil oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit
(BBTKLPP). Sampel ginjal dari tikus tersebut langsung dikirim ke RSU dr
Kariadi, Semarang. “Hasilnya baru diketahui 7-10 hari ke depan. Apakah ada
bakteri leptospira atau tidak,” jelasnya.
Pihaknya saat ini telah memberikan
penyuluhan kepada masyarakat sekitar. Khususnya untuk kebersihan lingkungan.
Sebab, tikus sangat suka hidup di tempat kotor. “Daerah ini akan kami pantau
lebih dari 15 hari,” katanya.
Kepala Dinkes Jatim dr Kohar Hari Santoso
mengatakan bahwa syarat untuk terhindar dari penyakit tersebut adalah menjaga
lingkungan. Sanitasi, air, kelembapan udara, hingga jamban harus benar-benar
bersih. Sebab, dampaknya bisa sangat fatal. “Langsung bisa menyerang ginjal dan
liver,” ujarnya.
Kohar menuturkan, pihaknya juga menurunkan
petugas untuk mengawasi lingkungan tersebut selama dua bulan ke depan. Selain
itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada warga untuk menjaga lingkungan
tetap bersih. “Kami terus pantau sampai hasil tesnya keluar,” tegasnya.
Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti
Buana mengungkapkan, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Jika memang hasilnya positif, pihaknya bisa menetapkan kasus tersebut sebagai
kejadian luar biasa (KLB). “Tunggu dulu hasilnya. Sekarang masih suspect. Kalau positif leptospirosis, ya
dikeluarkan KLB,” ucapnya.
Kondisi
Suparmi Membaik
Sementara itu, Jawa Pos juga mendatangi RSUA kemarin (21/11). Suparmi menolak
untuk ditemui Angga, salah seorang anaknya, mengatakan kurang memahami penyakit
yang diderita sang ibu. Yang dia tahu, seminggu lalu ibunya mengeluh pusing.
Ketika dibawa ke puskesmas, dokter
mengatakan bahwa sang ibu memiliki tekanan darah rendah. Setelah diberu obat,
mereka pun kembali ke rumah. Namun, setelah beberapa hari, pusing yang dialami
sang ibu tidak kunjung sembuh. Karena itu, dia dibawa ke Rumah Sakit Wiyung
Sejahtera untuk menjalani rawat inap.
“Masuk 18 November di RS Wiyung Sejahtera. Nafsu
makannya menurun. Dua hari dirawat, tetapi kondisinya tidak membaik ataupun
memburuk,” ujar Kepala Bagian Medis RS Wiyung Sejahtera dr Yunus Hani Dewanta
di tempat berbeda.
Saat berkunjung, petugas dinkes meminta
pihak rumah sakit untuk merujuk Suparmi ke RSUA agar mendapatkan penanganan
lebih lanjut dan kepastian diagnosis pada Senin (20/11), pasien pun dibawa ke
UGD RSUA.
Tiba pukul 17.30 di UGD, tim dokter segera
menanganinya. Saat datang, kesadaran pasien menurun. Hal itu disebabkan
komplikasi di otak yang mengganggu sitem saraf pusat. Dalam istilah medis, hal
itu disebut ensefalopati metabolik. Bola matanya pun tampak kuning kemerahan.
Tekanan darah pasien rendah. Hanya 80/50
mmHg. Ginjal Suparmi juga bermasalah. Sudah empat hari air kencingnya tidak
keluar. Kateter pun dipasang untuk dievaluasi. Hasil laboratorium menunjukkan
adanya gangguan pada hati. Termasuk elektrolit. Terutama natrium dan kalium
yang di bawah jumlah normal. “Kalau sudah ada komplikasi lebih dari dua organ
tubuh, berarti sudah mengalami well
disease. Atau, bisa dibilang leptospirosis yang sudah berat,” ujar Prof Dr
dr Nasronudin SpSDK-PTI FINASIM saat ditemui di RSUA kemarin. Apalagi, juga
ditemukan pseudo hepatorenal syndrome. Yakni,
gangguan fungsi ginjal yang salah satunya disebabkan leptospirosis.
Ketika pasien datang, hal pertama yang
dilakukan pihak RS adalah mengatasi kegawatan. Tujuannya, tentu membuat kondisi
pasien tidak semakin buruk. Tekanan darah segera diatasi. Termasuk dukungan
cairan infus untuk membantu memperbaiki gizinya.
Kemarin pagi kondisi Suparmi semakin baik.
Nafsu makannya juga sudah mulai membaik. “Tekanan darahnya sudah bagus. Tadi
pagi 140/80 mmHg. Air kencingnya juga sudah keluar 50 cc tiap jam,” lanjut
konsultan penyakit tropis tersebut.
Bukan kali pertama RSUA menerima pasien
leptospirosis. Menurut Nasron, setiap bulan ada sekitarnya 3-5 pasien yang
berobat.
Dia pun menekankan, oran-orang yang
bekerja dengan paparan air, seperti petani, tukan kebun, dan pembersih selokan,
untuk lebih berhati-hati. Gunakan alat pengaman seperti sepatu bot dan sarung
tangan setiap bekerja.
Selain itu, mereka harus selalu
membersihkan tangan dan tubuh dengan air sabun setelah kontak dengan air dan
tanah berlumpur. “Bangkai tikus itu juga tidak boleh dibuang sembarangan.
Sebaliknya dikelola secara profesional. Itu termasuk limbah berbahaya dan
beracun,” tegasnya.
Sumber: METROPOLIS – JAWA POS, 22 Nopember
2017
