Google search

Custom Search

Translate

Tuesday, 4 April 2017

The impact of contraceptive use

Dampak KB pada Siklus Haid

Kandungan Hormon Beri Pengaruh
Bermacam keluhan terkait datang bulan kerap mengiringi para perempuan yang menggunakan metode KB (Keluarga Berencana). Ada yang menstruasinya jadi sedikit. Ada pula justru bertambah, baik volume maupun durasinya. Mengapa bisa begitu?
                SECARA garis besar, alat KB dibagi dua, yakni hormonal dan nonhormonal. KB hormonal berupa pil, spiral (IUD), suntik, atau susuk. KB nonhormonal bisa berupa spiral tembaga. KB hormonal mengandung estrogen dan progestin. “Apa pun bentuknya, KB hormonal pasti memengaruhi sistem kerja hormon tubuh perempuan,” ujar dr Henky Mohammad SpOG, dokter kandungan dari Rumah Sakit Bedah Surabaya.
            Penggunaan metode KB hormonal bisa memberikan berbagai dampak pada siklus menstruasi. Salah satunya menekan jumlah darah yang keluar. Tetap lancar, namun volumenya berkurang. Tapi, terkadang juga ada yang siklusnya menjadi terganggu, tidak mendapat haid sama sekali, atau malah sebaliknya, darah yang keluar terlampau banyak. “Biasanya, kondisi itu terjadi pada awal penggunaan. Ada penyesuaian hormon dalam tubuh,” ujar Henky.
            Ketika pertama menggunakan KB hormonal, tubuh biasanya membutuhkan waktu untuk adaptasi. Akibatnya, hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh tidak seimbang. Imbasnya, siklus tidak lancar atau malah tidak haid sama sekali. Durasi dan periode mendapat haid juga jadi tidak menentu. “Proses ini biasanya terjadi pada tiga hingga empat bulan pertama KB,” tambah Henky.
            Selain itu, kandungan estrogen pada obat atau alat KB memberi efek penebalan dinding rahim. “Dinding rahim semakin tebal jika kadar estrogen bertambah tinggi akibat KB hormonal,” ujar dr Harry K Gondo SpOG(K), konsultan obgyn dari Siloam Hospitals Surabaya.
            Saat tidak dibuahi, dinding rahim yang terbuat dari pembuluh darah itu luruh dan terjadilah menstruasi. Lantaran dinding rahim menebal, ketika proses peluruhan terjadi, darah yang keluar lebih banyak daripada sebelum ber-KB.
Banyaknya darah menstruasi juga terjadi saat menggunakan KB jenis koyo atau patch. Koyo dipasang di dekat perut atau lengan bawah dan akan menghasilkan hormon estrogen serta mencegah kehamilan. “Sama seperti kandungan estrogen pada KB pil, dinding rahim juga semakin tebal karena koyo ini sehingga saat menstruasi, darah semakin banyak,” ujar Harry.
Jika estrogen pada alat KB membuat darah menstruasi semakin banyak, lain halnya dengan kandungan hormon progestin. Hormon itu biasanya ditemukan pada pil KB progestin only, susuk KB, atau KB suntik. Hormon progestin menekan jumlah estrogen sehingga pembentukan dinding rahim tidak terlalu tebal, bahkan cenderung tipis.
Maka, saat menstruasi, perempuan yang menggunakan alat KB dengan lebih banyak hormon progestin hanya mengeluarkan sedikit darah. Pada awal pemakaian, seseorang bahkan bisa jadi tidak mendapat menstruasi karena berkurangnya kadar hormon estrogen. “Biasanya, hal ini terjadi pada 2-3 bulan pertama. Setelah itu, menstruasi akan kembali terjadi walaupun jumlah darahnya sedikit,” tambah Harry.
Pada KB suntik, kandungan hormon progestin membuat kinerja estrogen dalam tubuh tidak maksimal. Akhirnya, dinding rahim tidak terbentuk sehingga menstruasi bisa saja terhenti. “Durasi terganggunya siklus menstruasi umumnya bergantung pada jenis suntikan. Yakni, sebulan atau tiga bulan,” tambah Harry.
Demikian pula KB susuk. Susuk KB yang serupa jarum kecil itu akan melepaskan hormon progesterin ketika ditanam di lengan. Hormon estrogen pun ditekan sehingga pembentukan dinding rahim tidak optimal. “Di awal pemakaian, siklus menstruasi umumnya tidak teratur karena tubuh sedang menyesuaikan,” jelas Harry.
Sementara itu, KB spiral yang mengandung levonogestrel bisa memberi dampak pada proses menstruasi. Kandungan levonogestrel memiliki dampak yang sama dengan hormon dengan hormon progestin. Yakni, dinding rahim tidak mengalami penebalan sehingga darah yang keluar saat menstruasi tidak banyak.
Sumber: Jawa Pos, 13 Desember 2016
Waspadai Penyebab Lain
KB hormonal memang memberikan dampak pada siklus menstruasi. Namun, ketika gangguan datang bulan itu terjadi terus-menerus, segera konsultasikan ke dokter. Ada sejumlah hal lain yang juga bisa memicu gangguan tersebut. “Misalnya, pada KB spiral tembaga. Peletakan yang kurang tepat di rahim menyebabkan pendarahan yang banyak dan durasinya semakin lama,” ujar Henky.
Hal itu terjadi karena spiral semakin menekan dinding rahim yang terdiri atas pembuluh darah. Akhirnya, saat dinding rahim meluruh ketika masa haid, darah yang keluar semakin banyak. “Kadang juga ada sedikit rasa nyeri,” tambah Henky.
Adanya miom di dalam rahim juga memengaruhi menstruasi. Miom membuat rahim melebar sehingga dindingnya tertekan. Ketika seorang perempuan menggunakan KB dengan kandungan estrogen, dinding rahim yang tertekan oleh miom semakin menebal dan mengandung lebih banyak darah. Itulah yang membuat perempuan dengan miom mengeluarkan banyak darah saat menstruasi.
Perempuan dengan diagnosis obesitas juga lebih sering mengeluarkan banyak darah saat menggunakan KB dengan kandungan estrogen. Sebab, sebelumnya mereka memiliki kandungan estrogen yang banyak. “Salah satu bahan pembentuk estrogen itu adalah kolesterol, yang banyak ditemukan pada mereka yang overweight,” ujar Harry.
Tambahan kandungan estrogen dari KB akan membuat dinding rahim semakin tebal dan darah semakin banyak saat haid.
Meski demikian, respons hormonal antara satu orang dan yang lain berbeda. Pada beberapa orang yang mengonsumsi pil KB estrogen, jumlah dan silkus haidnya tetap bisa normal. Tapi, tidak sedikit pula yang menstruasinya mandek. “Hal itu wajar karena mekanisme hormonal tiap orang berbeda,” jelas Harry.
Pada awal masa penggunaan KB, siklus menstruasi memang terganggu. Meski hal itu wajar, berkonsultasi dengan pakar tetap dibutuhkan. Tujuannya, mengantisipasi terjadinya komplikasi atau mengetahui evektifitas KB.
Sumber: Jawa Pos, 13 Desember 2016

Panduan KB
        


    Sebelum menggunakan
Konsultasikan pilihan KB kepada dokter kandungan atau tenaga medis yang berkompeten.
Lakukan pemeriksaan menyeluruh. Mulai rahim, alergi hormon, hingga kesehatan tubuh secara umum (berat badan, tekanan darah, atau riwayat penyakit reproduksi).
Periksa apakah siklus haid sudah lancar.
.....................................................................................................................................................
Saat menggunakan
Untuk pil KB dan KB suntik, lakukan secara teratur dan rutin. Minum pil sesuai dengan petunjuk pada jam yang sama tiap hari. Untuk suntik, ikuti jadwal yang sudah ditentukan tenaga medis yang memberikan suntik, yakni sekali dalam sebulan atau sekali dalam tiga bulan.
Pastikan spiral atau susuk terpasang dengan benar jika menggunakannya sehingga tubuh tidak nyeri atau mengalami komplikasi lain.
Pil KB dan suntik KB akan lebih baik digunakan kali pertama pada hari pertama mendapat menstruasi. Tujuannya, pemberian KB mengikuti siklus alami tubuh.
.....................................................................................................................................................
Segera ganti metode jika
Tubuh mengalami gangguan seperti menstruasi yang tak kunjung teratur selama lebih dari 6 bulan.
Bagian tubuh dengan alat KB seperti rahim yang diberi spiral atau lengan yang ditanami susuk terasa tidak nyaman atau sakit.
Komplikasi lain seperti jerawat atau mual.
.....................................................................................................................................................
Sumber: Jawa Pos, 13 Desember 2016