Google search

Custom Search

Translate

Tuesday, 24 January 2017

Super Bug

Superbug, Resistan 26 Antibiotik, Makan Korban Pertama
MIAMI -  Superbug alias kuman atau bakteri ampuh yang tidak tahan terhadap antibiotik menewaskan seorang perempuan AS. Korban superbug yang namanya tidak disebutkan itu berusia 70 tahun dan kali pertama terinfeksi di India. Sebelum pulang ke AS pada Agustus lalu, dia menetap bertahun-tahun di India.
Perempuan tersebut meninggal pada awal September lalu. Ketika itu, pihak berwenang tidak langsung memublikasikan penyebab kematiannya. Tapi, pemerintah menugasi para pakar kesehatan untuk menginvestigasi kasus langka tersebut, lalu menyebarluaskan kepada media pada akhir pekan.
“Penting bagi kita semua untuk memperhatikan kasus tersebut. Infeksi langka yang berdampak fatal seperti itu bisa terjadi kapan saja. Memang, masih langka, tapi sangat mungki terjadi,” kata Direktur Epidemiologi dan Fasilitas Kesehatan di Badan Kesehatan Distrik Washoe Country Randall Todd. Dia menyatakan, kasus tersebut merupakan yang pertama di AS.

“Kami pernah menangani kasus bakteri yang resistan terhadap obat seperti itu. Tapi, baru kali ini kami mendapat bakteri yang resistan terhadap semua jenis antibiotik di rumah sakit,” paparnya. Bakeri yang menggerogoti kesehatan perempuan Nevada itu resistan terhadap 26 jenis antibiotik di seantero AS. Akibatnya, infeksi yang diderita kian parah hingga menimbulkan sepsis.
Dalam waktu kurang dari sebulan, bakteri carbapenem-resistant Enterobacteriaceae (CRE) yang belakangan diketahui berjenis Klebsiella pneumoniae itu membuat infeksi di tubuh pasien kian parah. Todd menjelaskan, bakteri tersebut tidak bisa dilumpuhkan dengan antibiotik apa pun. Baik 14 antibiotik di rumah sakit atau 12 antibiotik lain yang dikirim dari seluruh AS.
Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS alias Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut India sebagai negara dengan jumlah bakteri resistan lebih banyak ketimbang AS. Diduga, perempuan itu terinfeksi bakteri saat menjalani perawatan pertama beberapa tahun lalu. Saat itu dia mengalami patah tulang paha kanan dan terpaksa menginap di rumah sakit beberapa hari.
Tak lama setelah menjalani perawatan patah tulang, dia kembali ke rumah sakit karena muncul infeksi di tulang paha dan pinggang. Dua tahun setelah itu, dia keluar masuk rumah sakit India untuk merawat infeksi. “Saat kembali ke Nevada, infeksi sudah parah. Kami langsung mengisolasinya dan menugasi staf khusus untuk merawat. Kami harus memastikan tak ada yang tertular,” ujar jubir rumah sakit di Reno.
David Weiss dari Emory Antibiotic Resistance Center di Kota Atalanta, Negara bagian Georgia, menuturkan bahwa kematian perempuan Nevada tersebut menjadi pukulan bagi para pakar kesehatan. Meskipun sudah lama berhadapan dengan superbug, hingga sekarang, AS belum mampu mencegahnya. “Itu adalah masalah global. Anda bisa terinfeksi di negara lain dan baru mendapatkan perawatan setelah pulang,” pungkasnya.
Tim Johnson, pakar resisten antibiotik di University of Minnesota menyebut supebug sebagai pembunuh diam-diam. “Superbug tidak seperti Salmonella. Anda akan langsung merasa sakit begitu mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Tapi, Superbug tidak demikian. Anda bisa merasa tetap sehat meski sudah terinfeksi,” paparnya. Bahkan, rasa sehat itu bisa bertahan untuk jangka waktu yang lama.
Di Benua Amerika, sekitar 2 juta orang terinfeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik tiap tahunnya. Dari kasus tersebut, sekitar 23.000 di antaranya berakhir dengan kematian. Tidak hanya di Amerika, superbug juga menjadi masalah di Eropa. Para pakar kesehatan di Benua Biru itu memprediksi infeksi superbug yang berjumlah 7.000 di seluruh dunia pada 2014 lalu bisa menjadi 10 juta pada 2050 nanti.
November 2015 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan kampanye global untuk memerangi penggunaan antibiotika secara sembarangan di seluruh dunia. Selain penyuluhan, WHO juga mendanai riset superbug di bebrapa negara. “Sayangnya, pemerintah di beberapa negara bahkan tidak mengatur penggunaan antibiotika atau mengedukasi masyarakatnya tentang hal tersebut,” papar James Johnson, pakar penyakit menular University of Minnesota. (BBC/huffingtonpost/foxnews/hep/c16/any)
Sumber: Jawa Pos, 15 Januari 2017
Gambar: http://blogs.jpmsonline.com/wp-content/uploads/2016/06/mrsa-superbug-infection-rates-slashed-by-half-20140120.jpg


No comments:

Post a Comment