Superbug, Resistan 26 Antibiotik, Makan
Korban Pertama
MIAMI -
Superbug alias kuman atau bakteri ampuh yang tidak tahan
terhadap antibiotik menewaskan seorang perempuan AS. Korban superbug yang
namanya tidak disebutkan itu berusia 70 tahun dan kali pertama terinfeksi di
India. Sebelum pulang ke AS pada Agustus lalu, dia menetap bertahun-tahun di
India.
Perempuan
tersebut meninggal pada awal September lalu. Ketika itu, pihak berwenang tidak
langsung memublikasikan penyebab kematiannya. Tapi, pemerintah menugasi para
pakar kesehatan untuk menginvestigasi kasus langka tersebut, lalu
menyebarluaskan kepada media pada akhir pekan.
“Penting
bagi kita semua untuk memperhatikan kasus tersebut. Infeksi langka yang
berdampak fatal seperti itu bisa terjadi kapan saja. Memang, masih langka, tapi
sangat mungki terjadi,” kata Direktur Epidemiologi dan Fasilitas Kesehatan di
Badan Kesehatan Distrik Washoe Country Randall Todd. Dia menyatakan, kasus
tersebut merupakan yang pertama di AS.
“Kami
pernah menangani kasus bakteri yang resistan terhadap obat seperti itu. Tapi,
baru kali ini kami mendapat bakteri yang resistan terhadap semua jenis
antibiotik di rumah sakit,” paparnya. Bakeri yang menggerogoti kesehatan
perempuan Nevada itu resistan terhadap 26 jenis antibiotik di seantero AS.
Akibatnya, infeksi yang diderita kian parah hingga menimbulkan sepsis.
Dalam
waktu kurang dari sebulan, bakteri carbapenem-resistant
Enterobacteriaceae (CRE) yang belakangan diketahui berjenis Klebsiella pneumoniae itu membuat
infeksi di tubuh pasien kian parah. Todd menjelaskan, bakteri tersebut tidak
bisa dilumpuhkan dengan antibiotik apa pun. Baik 14 antibiotik di rumah sakit
atau 12 antibiotik lain yang dikirim dari seluruh AS.
Badan
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS alias Centers for Disease Control and
Prevention (CDC) menyebut India sebagai negara dengan jumlah bakteri resistan
lebih banyak ketimbang AS. Diduga, perempuan itu terinfeksi bakteri saat
menjalani perawatan pertama beberapa tahun lalu. Saat itu dia mengalami patah tulang
paha kanan dan terpaksa menginap di rumah sakit beberapa hari.
Tak
lama setelah menjalani perawatan patah tulang, dia kembali ke rumah sakit
karena muncul infeksi di tulang paha dan pinggang. Dua tahun
setelah itu, dia keluar masuk
rumah sakit India untuk merawat infeksi. “Saat kembali ke Nevada, infeksi sudah
parah. Kami langsung mengisolasinya dan menugasi staf khusus untuk merawat.
Kami harus memastikan tak ada yang tertular,” ujar jubir rumah sakit di Reno.
David
Weiss dari Emory Antibiotic Resistance Center di Kota Atalanta, Negara bagian
Georgia, menuturkan bahwa kematian perempuan Nevada tersebut menjadi pukulan
bagi para pakar kesehatan. Meskipun sudah lama berhadapan dengan superbug,
hingga sekarang, AS belum mampu mencegahnya. “Itu adalah masalah global. Anda
bisa terinfeksi di negara lain dan baru mendapatkan perawatan setelah pulang,”
pungkasnya.
Tim
Johnson, pakar resisten antibiotik di University of Minnesota menyebut supebug
sebagai pembunuh diam-diam. “Superbug tidak seperti Salmonella. Anda akan
langsung merasa sakit begitu mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Tapi,
Superbug tidak demikian. Anda bisa merasa tetap sehat meski sudah terinfeksi,”
paparnya. Bahkan, rasa sehat itu bisa bertahan untuk jangka waktu yang lama.
Di
Benua Amerika, sekitar 2 juta orang terinfeksi bakteri yang resisten terhadap
antibiotik tiap tahunnya. Dari kasus tersebut, sekitar 23.000 di antaranya
berakhir dengan kematian. Tidak hanya di Amerika, superbug juga menjadi masalah
di Eropa. Para pakar kesehatan di Benua Biru itu memprediksi infeksi superbug
yang berjumlah 7.000 di seluruh dunia pada 2014 lalu bisa menjadi 10 juta pada
2050 nanti.
November
2015 lalu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) meluncurkan kampanye global untuk
memerangi penggunaan antibiotika secara sembarangan di seluruh dunia. Selain
penyuluhan, WHO juga mendanai riset superbug di bebrapa negara. “Sayangnya,
pemerintah di beberapa negara bahkan tidak mengatur penggunaan antibiotika atau
mengedukasi masyarakatnya tentang hal tersebut,” papar James Johnson, pakar
penyakit menular University of Minnesota. (BBC/huffingtonpost/foxnews/hep/c16/any)
Sumber: Jawa Pos, 15 Januari 2017
Gambar: http://blogs.jpmsonline.com/wp-content/uploads/2016/06/mrsa-superbug-infection-rates-slashed-by-half-20140120.jpg

No comments:
Post a Comment