Bumil dengan Diagnosis Kanker Serviks
Kompleks
tapi Tetap Ada Solusi
Kanker serviks merupakan momok bagi perempuan. Penyakit tersebut adalah jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan usia lebih dari 18 tahun yang aktif secara seksual. Infeksi virus pada mulut rahim itu dapat berkembang puluhan tahun di dalam tubuh tanpa gejalanya disadari.
KANKER serviks bisa terjadi pada perumpuan hamil. Maksudnya bukan si ibu
itu baru terkena kanker serviks ketika mulai mengandung. Sebab perjalanan virus
ersebut berlangsung lama, 10-15 tahun sebelumnya. “Tapi, mungkin karena
sebelumnya tidak pernah periksa, diagnosis kanker serviks itu baru muncul
ketika si ibu hamil,” ujar dr Ulul Albab SpOG.
Gejala yang harus diwaspadai sebagai kanker serviks atau kanker mulut
rahim pada perempuan hamil maupun tidak sebenarnya sama. Diantaranya, saat
berhubungan intim selalu merasa sakit, bahkan diikuti pendarahan, mengalami
keputihan dalam jumlah banyak, rasa sakit saat buang air kecil, serta
pendarahan spontan.
Itulah gejala yang kadang sering tidak dikenali ibu hamil. Sering
kali pendarahan dianggap sebagai pendarahan normal akibat kehamilan. Padahal,
bisa jadi pendarahan tersebut disebabkan dari infeksi sel kanker. “Kondisinya
makin kompleks pada ibu hamil. Ditambah tidak banyak yang berani melakukan
skrining cervical cancer pada ibu
hamil. Sebab, risiko pendarahan makin tinggi,” katanya.
Dokter yang berpraktik di Jakarta dan Depok itu mengungkapkan, tata
laksana bagi ibu hamil dengan diagnosis kanker serviks harus mempertimbangkan
derajat kanker serta usia kehamilan. Kalau diagnosis muncul pada trisemester
pertama dan derajat (stadium) masih rendah, kehamilan bisa tetap dipertahankan.
Namun, kehamilan harus dipantau secara ketat. Janin ditunggu hingga
usia cukup untuk dilahirkan. Biasanya ketika berat janin sudah mencapai 2 atau
2,5 kilogram. Kemudian, persalinan dilakukan secara operasi. “Pada kondisi
tertentu, dilakukan operasi pengangkatan bayi sekaligus rahim,” ungkapnya.
Sekali lagi, kondisi tersebut sangat spesifik pada setiap pasien, tidak bisa
digeneralisasi.
Dipilihnya proses kelahiran secara operasi bukan lantaran risiko
bayi akan tertular kanker serviks, melainkan risiko pendarahan luar biasa yang
bisa terjadi terhadap sang ibu.
Bicara mengenai kanker serviks secara umum, dr Ulul mengingatkan
pentingnya rutin melakukan pap smear ,”
tutur dia. Terlebih pada kategori high-risk
cervical cancer, yaitu perempuan yang kali pertama berhubungan seks kurang
dari 20 tahun, perempuan yang merokok, berganti-ganti pasangan, serta ada yang
menderita kanker serviks dalam riwayat keluarga. (nor/c14/ayi)
|
SERBA-SERBI
KANKER SERVIKS
|
· Human papilloma virus (HPV) merupakan
penyebab utama terjadinya kanker serviks di seluruh dunia.
|
· Virus ini memiliki tipe yang sangat banyak.
Di Indonesia, tipe 15, 16, dan 18 merupakan tipe high-risk.
|
· Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi
kanker serviks berlangsung dalam waktu sekitar 10-15 tahun.
|
Sumber: Jawa
Pos, 24 Mei 2016
picture:https://pixabay.com/id/muda-yang-cantik-wanita-hamil-1434863/
