Google search

Custom Search

Translate

Thursday, 8 December 2016

Pregnant

Bumil dengan Diagnosis Kanker Serviks
Kompleks tapi Tetap Ada Solusi

Kanker serviks merupakan momok bagi perempuan. Penyakit tersebut adalah jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan usia lebih dari 18 tahun yang aktif secara seksual. Infeksi virus pada mulut rahim itu dapat berkembang puluhan tahun di dalam tubuh tanpa gejalanya disadari.

               

KANKER serviks bisa terjadi pada perumpuan hamil. Maksudnya bukan si ibu itu baru terkena kanker serviks ketika mulai mengandung. Sebab perjalanan virus ersebut berlangsung lama, 10-15 tahun sebelumnya. “Tapi, mungkin karena sebelumnya tidak pernah periksa, diagnosis kanker serviks itu baru muncul ketika si ibu hamil,” ujar dr Ulul Albab SpOG.
Gejala yang harus diwaspadai sebagai kanker serviks atau kanker mulut rahim pada perempuan hamil maupun tidak sebenarnya sama. Diantaranya, saat berhubungan intim selalu merasa sakit, bahkan diikuti pendarahan, mengalami keputihan dalam jumlah banyak, rasa sakit saat buang air kecil, serta pendarahan spontan.
Itulah gejala yang kadang sering tidak dikenali ibu hamil. Sering kali pendarahan dianggap sebagai pendarahan normal akibat kehamilan. Padahal, bisa jadi pendarahan tersebut disebabkan dari infeksi sel kanker. “Kondisinya makin kompleks pada ibu hamil. Ditambah tidak banyak yang berani melakukan skrining cervical cancer pada ibu hamil. Sebab, risiko pendarahan makin tinggi,” katanya.
Dokter yang berpraktik di Jakarta dan Depok itu mengungkapkan, tata laksana bagi ibu hamil dengan diagnosis kanker serviks harus mempertimbangkan derajat kanker serta usia kehamilan. Kalau diagnosis muncul pada trisemester pertama dan derajat (stadium) masih rendah, kehamilan bisa tetap dipertahankan.
Namun, kehamilan harus dipantau secara ketat. Janin ditunggu hingga usia cukup untuk dilahirkan. Biasanya ketika berat janin sudah mencapai 2 atau 2,5 kilogram. Kemudian, persalinan dilakukan secara operasi. “Pada kondisi tertentu, dilakukan operasi pengangkatan bayi sekaligus rahim,” ungkapnya. Sekali lagi, kondisi tersebut sangat spesifik pada setiap pasien, tidak bisa digeneralisasi.
Dipilihnya proses kelahiran secara operasi bukan lantaran risiko bayi akan tertular kanker serviks, melainkan risiko pendarahan luar biasa yang bisa terjadi terhadap sang ibu.
Bicara mengenai kanker serviks secara umum, dr Ulul mengingatkan pentingnya rutin melakukan pap smear ,” tutur dia. Terlebih pada kategori high-risk cervical cancer, yaitu perempuan yang kali pertama berhubungan seks kurang dari 20 tahun, perempuan yang merokok, berganti-ganti pasangan, serta ada yang menderita kanker serviks dalam riwayat keluarga. (nor/c14/ayi)
SERBA-SERBI
KANKER SERVIKS
·  Human papilloma virus (HPV) merupakan penyebab utama terjadinya kanker serviks di seluruh dunia.
·  Virus ini memiliki tipe yang sangat banyak. Di Indonesia, tipe 15, 16, dan 18 merupakan tipe high-risk.
·  Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks berlangsung dalam waktu sekitar 10-15 tahun.


Sumber: Jawa Pos, 24 Mei 2016
picture:https://pixabay.com/id/muda-yang-cantik-wanita-hamil-1434863/