Google search

Custom Search

Translate

Monday, 29 June 2015

Mengenal Bius

Mengenal Bius, Prosedur “Melawan Nyeri” saat Operasi
Lemahkan Pernapasan hingga Denyut Jantung
          Mengurangi nyeri, membuat mati rasa, hingga membuat pasien “terlelap” adalah tugas dokter spesialis anestesi. Tekniknya cukup rumit, risikonya pun cukup besar. Sebanding dengan peran sertanya untuk kesuksesan tindakan medis.
            ANESTESI atau yang lebih kita kenal dengan istilah pembiusan memang punya peran yang cukup krusial. Dr Elizeus Hanindito dr SpAnKIC KAP menjelaskan, secara general, definisi anestesi adalah tindakan kedokteran yang bertujuan menghilangkan rasa nyeri dan cemas selama tindakan medis lain dilakukan.
            “Baik untuk tujuan pengobatan maupun diagnosis, keduanya butuh anestesi,” tegas dokter RSUD dr Soetomo itu. Pembiusan sewaktu dioperasi adalah contoh anestesi untuk pengobatan.
            Tujuan diagnosis, misalnya pemeriksaan MRI atau CT scan, juga membutuhkan anestesi ketika pasien tidak stabil. “Anak-anak akan meronta dan takut masuk ke mesin ini sehingga butuh ditidurkan. Begitu juga untuk pasien cedera otak yang tidak terkontrol,” ungkap dokter spesialis anestesi pediatric itu. Untuk tujuan pengobatan, anestesi dilakukan pada operasi kecil hingga operasi besar.
            Anestesi memang cukup rumit. Sebab, tindakannya sangat berbeda dengan tindakan kedokteran lainnya. “Dokter anestesi itu melawan kaidah-kaidah fisiologis yang normal,” ungkapnya.
            Ketika bidang kedokteran lain berusaha membuat kerja tubuh membaik, spesialis anestesi malah “menurunkannya”. Pasien yang sadar dibuat tidak sadar dengan derajat yang diatur. Yang bisa bernapas dengan baik malah dibuat tidak bernapas. Denyut jantung pun “dihentikan” oleh dokter anestesi.
            Hanindito mencontohkan, pada operasi paru-paru, tentu dokter bedah paru butuh otot-otot di sekitar area operasi rileks dan tidak ada perlawanan. Otot tersebut dilemahkan sehingga pasien tidak bernapas. “Contoh lain, perbaikan katup jantung. Dokter bedah jantung tidak bisa bekerja maksimal bila jantung berdenyut. Karena itu, dokter anestesilah yang membuatnya berhenti”, ujar dr Hanin, sapaannya.
            Bagaimana caranya? “Ada tekhnik standar yang detail dan terperinci, disesuaikan dengan kondisi pasien serta kebutuhan tindakan,” jawabnya.
            Ada tiga jenis tindakan anestesi, yakni anestesi umum, anestesi regional, dan anestesi local. Ketiganya dapat dikombinasi sesuai dengan kebutuhan. Tekniknya pun berbeda-beda, yakni bisa melalui suntik (injeksi), infus, maupun penghirupan gas anestesi (inhalasi).
            Yang menarik adalah bius untuk anak-anak yang kebanyakan takut disuntik dan memilih menghirup gas. Supaya tidak menyeramkan, gas itu pun memiliki bau khas. “Ada lho, mereka disuruh pilih yang aroma stoberi, melon, atau yang lain. Pendekatan kepada mereka kan berbeda. Jangan sampai menimbulkan trauma psikis,” kata dokter yang juga mengajar di FK Unair tersebut.
            Selain di kamar operasi, dr Agus Setiyana SpAn yang bertugas di RS Mitra keluarga Waru menambahkan, lahan kerja anestesi ada pada situasi gawat darurat, intensive care unit (ICU), dan pelayanan nyeri kronis. “Pada kondisi life threatening (mengancam jiwa,Red), dokter anestesi harus bisa mengamankan jalan napas kurang dari tiga menit,” tegas dokter yang pernah bertugas di Timor Timur itu.
            Anestesi tidak punya istilah anestesi kecil maupun besar seperti halnya operasi. Apa pun bentuk dan jenisnya, anestesi membawa risiko yang sama besar. Komplikasi anestesi bisa pada pasien kasus mana pun. Pasien yang ditidurkan terlalu dalam derajatnya bisa tidak bangun, pasien sadar sebelum operasi selesai, jantung yang dihentikan tidak mau berdetak kembali, atau otot yang dilemahkan sementara jadi kebablasan selamanya. Faktornya bisa berbagai macam dan jarang bisa diprediksi karena bergantung kondisi pasien.
            “Saya percaya, dokter anestesi pasti melakukan serangkaian proses pra-anestesi dan perencanaan yang rumit dan terperinci. Karena itu, penjelasan semasa pra-anestesi wajib diberikan tanpa ada yang ditutup-tutupi kepada pasien dan keluarga,” kata dokter spesialis anestesi bedah jantung tersebut. Begitu besarnya risiko kerja anestesi, jauh sebelum patient safety digaungkan, dokter anestesi sudah menjadikannya sebagai prinsip kerja. (puz/c5/dos)
Dampingi sebelum & Pascaoperasi
            TINDAKAN anestesi pasti berisiko. Dokter pun pasti memilih risiko paling kecil yang bisa ditempuh. Karena itu, sebelum dilakukan anestesi, selalu ada pre-operative visite.Dokter Anna Surgean Veterini SpAn menjelaskan prosedurnya. Yakni, pasien seharusnya memang bertemu dengan dokter anestesinya.
            “Kami memperkenalkan diri dulu, lalu menjelaskan apa saja yang dibutuhkan pasien dan mengapa harus seperti itu. Harus jujur. Ini soft skill sekali. Kami harus menengkan dengan jelas dengan tujuan menenangkannya,” ujar dokter yang bertugas di RS Bedah Surabaya itu.
Mereka yang takut dibantu didoakan. Selain berbicara dengan tim dokter mengenai potensi masalah pasiean hingga penyakit bawaannya, dokter anestesi menggali informasi soal cara hidupnya. “Misalnya, pada orang yang banyak minum alkohol atau  menggunakan narkoba,tubuhnya sudah terbiasa dengan obat sehingga dosisnya disesuaikan,” jelasnya.
Menurut dr Hanindito, seorang atlet yang tubuhnya kuat dengan kekebalan tubuh yang sangat baik pun ditangani secara berbeda dari orang kebanyakan. Pasien yang akan melakukan anestesi harus dalam keadaan rileks. Pada malam sebelumnya, ketika dirawat inap, biasanya diberi penenang dosis rendah agar tidak gelisah dan tidurnya nyenyak.
Mereka juga diwajibkan berpuasa supaya tubuh tidak ada “pekerjaan”. “Minum air putih pun sudah stop sejak tiga jam sebelumnya,” jelas dokter yang menjadi dosen tersebut. Puasa pun dilakukan untuk memblokade semua kemungkinan alergi dan komplikasi.
Pascaoperasi, sebagaimana yang disebutkan dr Agus Setiyana SpAn, dokter anestesi juga bertugas di ruang intensife care unit  (ICU). Ketika efek obat bius habis, beberapa saat setelah sadar, biasanya akan merasa kesakitan.
Penjelasan di awal juga meliputi pemberitahuan mengenai kondisi tersebut. “Pascaoperasi memang ada nyeri akut. Kita informasikan sebelumnya sampai derajat mana rasa sakitnya, harus bisa tahan berapa lama. Dengan penjelasan, rasa pasien akan tenang dan hormon bekerja untuk menaikkan ambang nyeri sehingga sakit yang dirasakan berkurang,” papar dokter yang akrab dipanggil Asa tersebut.
Selanjutnya pasti ada obat-obatan yang diberikan untuk mengatasinya. Selain merawat mereka yang menjalani pemulihan pascaoperasi, dokter anestesi membantu pasien kanker stadium lanjutan. (puz/c15/dos)

Bertemu, lalu Bertanya
BILA Anda atau keluarga Anda menghadapi kondisi harus dianestesi. Anda seharusnya diberi fasilitas untuk bertemu dengannya. Jika tidak, mintalah sekurang-kurangnya satu jam menjelang operasi. Hal itu berpengaruh terhadap psikologis. Lalu, apa saja yang harus Anda ketahui? Bertanyalah hal-hal berikut.
1.      Operasi apa yang akan dilakukan dan itu membutuhkan ansetesi jenis apa?
2.      Anestesi yang dilakuakan bekerja di bagian apa saja dan bagaimana itu terjadi?
3.      Apa saja risikonya?
4.      Seberapa nyeri ketika tidak dianestesi atau efek setelah anestesi habis?
5.      Keluhan apa saja yang biasanya terjadi pascaanestesi?
6.      Gejala apa saja yang menunjukkkan kondisi saya baik. Kapan boleh makan, minum, dan bergerak? 




Sumber : JAWA POS, Kamis,12 Maret 2015