Dampak
KB pada Siklus Haid
Kandungan Hormon Beri Pengaruh
Bermacam keluhan terkait datang
bulan kerap mengiringi para perempuan yang menggunakan metode KB (Keluarga
Berencana). Ada yang menstruasinya jadi sedikit. Ada pula justru bertambah,
baik volume maupun durasinya. Mengapa bisa begitu?
SECARA garis besar,
alat KB dibagi dua, yakni hormonal dan nonhormonal. KB hormonal berupa pil,
spiral (IUD), suntik, atau susuk. KB nonhormonal bisa berupa spiral tembaga. KB
hormonal mengandung estrogen dan progestin. “Apa pun bentuknya, KB hormonal
pasti memengaruhi sistem kerja hormon tubuh perempuan,” ujar dr Henky Mohammad
SpOG, dokter kandungan dari Rumah Sakit Bedah Surabaya.
Penggunaan
metode KB hormonal bisa memberikan berbagai dampak pada siklus menstruasi.
Salah satunya menekan jumlah darah yang keluar. Tetap lancar, namun volumenya
berkurang. Tapi, terkadang juga ada yang siklusnya menjadi terganggu, tidak
mendapat haid sama sekali, atau malah sebaliknya, darah yang keluar terlampau
banyak. “Biasanya, kondisi itu terjadi pada awal penggunaan. Ada penyesuaian
hormon dalam tubuh,” ujar Henky.
Ketika
pertama menggunakan KB hormonal, tubuh biasanya membutuhkan waktu untuk
adaptasi. Akibatnya, hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh tidak
seimbang. Imbasnya, siklus tidak lancar atau malah tidak haid sama sekali.
Durasi dan periode mendapat haid juga jadi tidak menentu. “Proses ini biasanya
terjadi pada tiga hingga empat bulan pertama KB,” tambah Henky.
Selain
itu, kandungan estrogen pada obat atau alat KB memberi efek penebalan dinding
rahim. “Dinding rahim semakin tebal jika kadar estrogen bertambah tinggi akibat
KB hormonal,” ujar dr Harry K Gondo SpOG(K), konsultan obgyn dari Siloam Hospitals Surabaya.
Saat
tidak dibuahi, dinding rahim yang terbuat dari pembuluh darah itu luruh dan
terjadilah menstruasi. Lantaran dinding rahim menebal, ketika proses peluruhan
terjadi, darah yang keluar lebih banyak daripada sebelum ber-KB.
Banyaknya
darah menstruasi juga terjadi saat menggunakan KB jenis koyo atau patch. Koyo dipasang di dekat perut atau
lengan bawah dan akan menghasilkan hormon estrogen serta mencegah kehamilan.
“Sama seperti kandungan estrogen pada KB pil, dinding rahim juga semakin tebal
karena koyo ini sehingga saat menstruasi, darah semakin banyak,” ujar Harry.
Jika
estrogen pada alat KB membuat darah menstruasi semakin banyak, lain halnya
dengan kandungan hormon progestin. Hormon itu biasanya ditemukan pada pil KB progestin only, susuk KB, atau KB
suntik. Hormon progestin menekan jumlah estrogen sehingga pembentukan dinding
rahim tidak terlalu tebal, bahkan cenderung tipis.
Maka, saat
menstruasi, perempuan yang menggunakan alat KB dengan lebih banyak hormon
progestin hanya mengeluarkan sedikit darah. Pada awal pemakaian, seseorang
bahkan bisa jadi tidak mendapat menstruasi karena berkurangnya kadar hormon
estrogen. “Biasanya, hal ini terjadi pada 2-3 bulan pertama. Setelah itu,
menstruasi akan kembali terjadi walaupun jumlah darahnya sedikit,” tambah
Harry.
Pada KB
suntik, kandungan hormon progestin membuat kinerja estrogen dalam tubuh tidak
maksimal. Akhirnya, dinding rahim tidak terbentuk sehingga menstruasi bisa saja
terhenti. “Durasi terganggunya siklus menstruasi umumnya bergantung pada jenis
suntikan. Yakni, sebulan atau tiga bulan,” tambah Harry.
Demikian
pula KB susuk. Susuk KB yang serupa jarum kecil itu akan melepaskan hormon
progesterin ketika ditanam di lengan. Hormon estrogen pun ditekan sehingga
pembentukan dinding rahim tidak optimal. “Di awal pemakaian, siklus menstruasi
umumnya tidak teratur karena tubuh sedang menyesuaikan,” jelas Harry.
Sementara
itu, KB spiral yang mengandung levonogestrel
bisa memberi dampak pada proses menstruasi. Kandungan levonogestrel memiliki dampak yang sama dengan hormon dengan hormon
progestin. Yakni, dinding rahim tidak mengalami penebalan sehingga darah yang
keluar saat menstruasi tidak banyak.
Sumber: Jawa
Pos, 13 Desember 2016
Waspadai
Penyebab Lain
KB hormonal memang memberikan dampak
pada siklus menstruasi. Namun, ketika gangguan datang bulan itu terjadi terus-menerus,
segera konsultasikan ke dokter. Ada sejumlah hal lain yang juga bisa memicu
gangguan tersebut. “Misalnya, pada KB spiral tembaga. Peletakan yang kurang
tepat di rahim menyebabkan pendarahan yang banyak dan durasinya semakin lama,”
ujar Henky.
Hal itu terjadi
karena spiral semakin menekan dinding rahim yang terdiri atas pembuluh darah.
Akhirnya, saat dinding rahim meluruh ketika masa haid, darah yang keluar
semakin banyak. “Kadang juga ada sedikit rasa nyeri,” tambah Henky.
Adanya miom di
dalam rahim juga memengaruhi menstruasi. Miom membuat rahim melebar sehingga
dindingnya tertekan. Ketika seorang perempuan menggunakan KB dengan kandungan
estrogen, dinding rahim yang tertekan oleh miom semakin menebal dan mengandung
lebih banyak darah. Itulah yang membuat perempuan dengan miom mengeluarkan
banyak darah saat menstruasi.
Perempuan dengan
diagnosis obesitas juga lebih sering mengeluarkan banyak darah saat menggunakan
KB dengan kandungan estrogen. Sebab, sebelumnya mereka memiliki kandungan
estrogen yang banyak. “Salah satu bahan pembentuk estrogen itu adalah
kolesterol, yang banyak ditemukan pada mereka yang overweight,” ujar Harry.
Tambahan
kandungan estrogen dari KB akan membuat dinding rahim semakin tebal dan darah
semakin banyak saat haid.
Meski demikian,
respons hormonal antara satu orang dan yang lain berbeda. Pada beberapa orang
yang mengonsumsi pil KB estrogen, jumlah dan silkus haidnya tetap bisa normal.
Tapi, tidak sedikit pula yang menstruasinya mandek. “Hal itu wajar karena
mekanisme hormonal tiap orang berbeda,” jelas Harry.
Pada awal masa
penggunaan KB, siklus menstruasi memang terganggu. Meski hal itu wajar,
berkonsultasi dengan pakar tetap dibutuhkan. Tujuannya, mengantisipasi
terjadinya komplikasi atau mengetahui evektifitas KB.
Sumber: Jawa
Pos, 13 Desember 2016
Sebelum menggunakan
Konsultasikan pilihan KB kepada dokter
kandungan atau tenaga medis yang berkompeten.
Lakukan pemeriksaan menyeluruh. Mulai rahim,
alergi hormon, hingga kesehatan tubuh secara umum (berat badan, tekanan darah,
atau riwayat penyakit reproduksi).
Periksa apakah siklus haid sudah lancar.
.....................................................................................................................................................
Saat menggunakan
Untuk pil KB dan KB suntik, lakukan secara
teratur dan rutin. Minum pil sesuai dengan petunjuk pada jam yang sama tiap
hari. Untuk suntik, ikuti jadwal yang sudah ditentukan tenaga medis yang
memberikan suntik, yakni sekali dalam sebulan atau sekali dalam tiga bulan.
Pastikan spiral atau susuk terpasang dengan
benar jika menggunakannya sehingga tubuh tidak nyeri atau mengalami komplikasi
lain.
Pil KB dan suntik KB akan lebih baik digunakan
kali pertama pada hari pertama mendapat menstruasi. Tujuannya, pemberian KB
mengikuti siklus alami tubuh.
.....................................................................................................................................................
Segera ganti
metode jika
Tubuh mengalami gangguan seperti menstruasi
yang tak kunjung teratur selama lebih dari 6 bulan.
Bagian tubuh dengan alat KB seperti rahim yang
diberi spiral atau lengan yang ditanami susuk terasa tidak nyaman atau sakit.
Komplikasi lain seperti jerawat atau mual.
.....................................................................................................................................................
Sumber: Jawa
Pos, 13 Desember 2016