Google search

Custom Search

Translate

Wednesday, 11 April 2018

Parkinson Dikategorikan Penyakit Degeneratif


Parkinson Dikategorikan Penyakit Degeneratif

Fokus Latihan Aktivitas Harian

Tremor, gerak tubuh melambat, dan tubuh membungkuk identik dengan lansia. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa semua itu normal pada warga senior. Padahal, kumpulan gejala tersebut bisa jadi mengarah ke penyakit parkinson (Parkinson’s disease) yang diperingati (11/4).

                PENYAKIT parkinson mulai naik daun pada era 80-an. Petinju Muhammad Ali, yang menyatakan pensiun pada usia 39 tahun, mengalami penurunan kondisi. Ucapannya tidak jelas, kerap menguap meski tengah diwawancara, dan gerakannya melambat. Menurut dr Achmad Fahmi SpBS, tanda-tanda itu biasanya muncul di tahap awal parkinson.
                Fahmi mengungkapkan, kondisi tersebut muncul lantaran parkinson menyerang pusat saraf otak. “Tepatnya di substantia nigra atau bagian otak yang merupakan ‘pabrik’ penghasil dopamin, zat yang berperan besar pada gerakan,” kata Fahmi.
                Dia menyatakan, saat kadar dopamin turun, gangguan kemampuan motorik akan muncul. Baik motorik kasar maupun halus. Penyakit itu paling banyak muncul pada usia 60 tahun atau lebih sehingga dikategorikan penyakit degeneratif. Meski begitu, ada pula yang mengalaminya pada umur akhir 30 tahunan.
                Penandanya, empat kumpulan gejala yang disingkat menjadi TRAP (selengkapnya pada grafis). Jika tiga di antara empat tanda tersebut muncul, pasien disarankan segera periksa ke dokter.
                “Di awal kejadian, dokter biasanya belum memutuskan apakah memang positif parkinson atau penyakit lain,” ucap anggota Congress of Neurological Surgery tersebut. Sebab, TRAP tidak hanya muncul akibat parkinson. Gangguan otak lain seperti pengerutan, penumpukan cairan, maupun stroke punya gejala serupa.
                Fahmi menjelaskan, mendeteksi parkinson bukan hal mudah. Pertama, penyebab pastinya belum diketahui. “Saat kasus Muhammad Ali tren, banyak yang bilang penyebab parkinson adalah trauma atau cedera kepala. Tapi, buktinya, tidak banyak petinju yang kena,” papar alumnus FK Universitas Ailangga Surabaya tersebut. Selain itu, belum ada pemeriksaan laboraturium maupun MRI yang mampu mendiagnosis status parkinson.
                Jika dinyatakan positif parkinson, pasien bakal mendapatkan obat. “Pengobatan ini bertujuan menekan progres penyakit. Bukan 100 persen menyembuhkan,” tegas Fahmi. Kalau pengobatan on-off atau tidak maksimal, barulah dilakukan operasi. Operasi tersebut bertujuan mengembalikan fungsi substansia nigra. “Setelah operasi, pasien disarankan tetap melakukan terapi. Mereka juga tetap wajib minum obat,” tuturnya.
                Selain obat, dr Hasan Wijaya SpKFR menuturkan bahwa pasien harus rajin terapi. Sasaran latihannya adalah melatih sendi agar tidak kaku, bahkan kehilangan fungsi. “Fokusnya latihan gerak sendi, koordinasi, jalan, dan aktivitas sehari-hari,” tegas Hasan.
                Karena berfokus pada aktivitas sehari-hari, spesialis rehabilitasi medik yang berpraktik di RKZ Surabaya itu menjelaskan bahwa terapi bisa dilakukan di rumah. Bantuan keluarga sangat dibutuhkan.
                Alumnus FK Universitas Airlangga Surabaya itu menjelaskan, karena sulit bergerak, tingkat kebersihan pasien menurun. “Aktivitas turun, termasuk untuk makan atau ke kamar mandi. Keluhan utamanya pasti sakit dan sulit gerak, muncul luka karena lama berbaring (decubitus ulcers),” ungkapnya.
                Selain kondisi fisik yang menurun, kondisi psikologis pasien ikut terpengaruh. Menurut Hasan, pasien biasanya mengalami depresi karena kehilangan fungsi sebagai manusia. (fam/c14/nda)


Apa SajaTRAP?
TREMOR
Kondisi tangan gemetar meski dalam kondisi diam dan tidak melakukan aktivitas. Jika parah, tremor bisa mengganggu aktivitas seperti makan, menulis, atau mengancingkan pakaian.
RIGIDITY (KEKAKUAN)
Sendi pasien parkinson biasanya mengalami penurunan, bahkan kehilangan fungsi. Bentuknya beragam. Ada pasien yang sulit mengangkat atau menolehkan kepala hingga berjalan dengan langkah kecil-kecil.
AKENESIA
Perlambatan ditemui di setiap gerakan. Mulai berjalan, menelan, hingga berbicara. Respons pasien ketika diajak berkomunikasi juga turun.
POSTURAL IMBALANCE
Pasien yang kehilangan kontrol terhadap gerakan sering merasa limbung atau seakan-akan jatuh ke belakang. Untuk itu, mereka menghindarinya dengan postur membungkuk (stooped postur). Dampaknya, pasien sering mengalami nyeri punggung.

GEJALA MINOR
·         Air ludah tidak terkontrol meski sedang tidak makan.
·         Gangguan buang air besar, terutama sembelit.
·         Saat bicara, suara makin pelan.
·         Wajah kaku seperti memakai masker.
Sumber: Jawa Pos, 10 April 2017



No comments:

Post a Comment