Raynaud’s Disease yang Masih Eksis
Wapadai Gejala, Jauhi Penyebabnya
Perubahan warna kulit
bertahap pada jari-jari tangan dan kaki sering terjadi di tempat-tempat dingin.
Namun, dr Yan Efrata Sembiring SpB(K)TKV menyatakan bahwa sebulan sekali
dirinya mendapati pasien penyakit tersebut di tempat praktiknya, RSUD dr
Soetomo, Surabaya.
NAMA
penyakit itu adalah Raynaud’s disease atau penyakit Raynaud. Memang penelitiaan
dan publikasi untuk Raynaud itu sering dilakukan di negara-negara empat musim.
Sebab, biasanya gejalanya kerap muncul pada musim dingin.
Menurut dr Robertus Dhany
Prasetyanto SpBTKV, di Indonesia belum ada data yang menyatakan jumlah pasien
Raynaud primer. “Berdasar pengalaman, untuk Raynaud sekunder, beberapa kali
saya dapatkan di Surabaya,” ujarnya.
Dalam laporan semester II dari
Kementerian Kesehatan pada 2012 tentang penyakit tidak menular, dikatakan,
Raynaud merupakan salah satu penyakit tidak menular cukup banyak ditemukan pada
2010.
Penyakit Raynaud merupakan keadaan
yang biasa terjadi. Yaitu, ketika jari tangan dan atau kaki tiba-tiba dingin.
Biasanya disertai juga dengan rasa nyeri, bengkak, dan perubahan warna pada
ujung jari dari biru menjadi hitam.
“Penyakit
Raynaud adalah penyempitan pada pembuluh-pembuluh kecil pada ujung-ujung
tubuh,” terang Dhany yang berpraktik di RS Katolik St Vincentius a Paulo (RKZ)
tersebut. Ujung-ujung tubuh itu, antara lain, ujung jari tangan dan kaki,
telinga, dan hidung yang biasa dialiri pembuluh darah kapiler. Penyempitan
tersebut mengakibatkan suplai darah ke ujung-ujung tubuh menjadi terganggu.
Itulah yang mengakibatkan ujung-ujung tubuh tersebut menjadi pucat dan
kebiruan.
Penyakit
Raynaud dibagi menjadi dua jenis, primer dan sekunder. Menurut dr Yan Efrata
Sembiring, Raynaud primer disebabkan gaya hidup dan iklim dingin. Kebiasaan
merokok, mengonsumsi kafein dan alkohol, serta sering mengalami stres juga
dapat memicu kemunculan penyakit pembuluh darah tersebut. Begitu juga jika
orang bekerja dengan mesin-mesin yang menyebabkan getaran (vibrasi).
Banyak
dikatakan, perempuan lebih sering menderita penyakit tersebut. Tetapi, hingga
sekarang tidak diketahui penyebabnya. Dugaan dokter Yan yang juga salah satu
seorang pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, keadaan itu terjadi
karena perempuan lebih rentan stres daripada laki-laki. Juga, pengaruh hormone.
Perbandingan
perempuan dan laki-laki yang terkena penyakit itu adalah 4:1. “Biasanya
menyerang kelompok usia lebih muda antara 15-30 tahun,” tambah dokter Dhany.
Usia yang muda itu, menurut dia, sangat erat berhubungan dengan gaya hidup
seperti merokok.
Gejalanya
dapat bervariasi, dari menit hingga jam. Dalam hal Raynaud primer, jika
penyebab dihilangkan, gejala akan mereda. Operasi amputasi dapat saja dilakukan
untuk membuang ujung jari tangan atau kaki yang telah menghitam. Artinya,
jaringannya sudah mati. “Pembedahan bertujuan membuat pembuluh darah yang
menyempit menjadi membuka kembali dengan lebih lebar sehingga keluhan
menghilang,” papar Yan. (ndi/c10/dos)
Yang Sekunder karena Penyakit Bawaan
JIKA Raynaud primer muncul akibat dari
gaya hidup, lain halnya Raynaud sekunder. Menurut dr Koemalawati Widjaja SpS,
Raynaud sekunder muncul karena adanya penyakit autoimun bawaan. Lupus misalnya.
“Penderita lupus itu tak bisa merasakan denyut arterinya. Pembuluh darahnya
kaku dan mengalami penyempitan,” jelasnya.
Selain
itu, Raynaud sekunder bisa disebabkan penyakit pembuluh darah arteri seperti
aterosklerosis yang menyertai penyakit kulit seperti scleroderma dan pemakaian
obat-obatan yang dapat menyempitkan pembuluh darah arteri. Amfetamin, misalnya,
atau beberapa obat untuk migrain.
Dokter Koemala yang berpraktik di RS
Husada Utama, Surabaya, pun menyarankan pasien agar tidak langsung minum
sembarang obat saat merasakan keluhan. “Istirahat dulu, baru kemudian
menghubungi dokter,” katanya.
Raynaud sekunder dapat diobati
dengan mengobati penyakit primernya. Kondisi tersebut berbeda dengan penanganan
Raynaud primer yang harus menghindari pemicunya.
Ada
kelompok obat-obatan untuk Raynaud yang juga bisa digunakan sebagai obat
tekanan darah tinggi. Sebab, tekanan darah tinggi juga bisa dipicu stres.
Pembuluh darah akan menjadi kaku dan menyempit sehingga menghambat peredaran
darah ke arteri akhir di ujung-ujung jari tangan dan kaki.
Dokter
berambut pendek tersebut menyebutkan, obat-obatan tadi tidak akan mengeleminasi
Raynaud secara menyeluruh, namun hanya menurunkan frekuensi dan kegawatan
serangan. Dia juga menekankan agar kebiasaan merokok pada Raynaud primer harus
benar-benar dihentikan. Sebab, merokok bisa menyebabkan kejang urat pada
pembuluh darah. (ndi/c15/dos)
Sumber Jawa pos