Google search

Custom Search

Translate

Tuesday, 31 May 2016

Looking for Protein Replacement Red Meat

Mencari Pengganti Protein Daging Merah
Kuncinya Variasi Makanan

Daging sapi kini jadi perbincangan hangat. Harganya yang meroket membuat para ibu bingung mencari alternatif pengganti. Daging sapi yang notabane daging merah ternyata bukan satu-satunya sumber protein hewani. Banyak substitusi dan trik yang bisa dipakai untuk “menambal” kebutuhan protein harian.

            TUBUH manusia memerlukan zat gizi agar mampu bertahan hidup dan beraktivitas. Nah, ada dua jenis zat gizi yang wajib dipenuhi setiap individu. Yakni, zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro meliputi karbohidrat, lemak, dan protein. Menurut dr Sukma Sahadewa MKes, dari tiga bahan tersebut, protein punya peran cukup penting.
            “Protein merupakan cadangan energi paling utama. Jika kekurangan protein, tubuh rawan kekurangan energi protein, “ ucap ahli gizi lulusan Universitas  Wijaya Kusuma Surabaya tersebut. Jika kekurangan karbohidrat untuk diolah jadi energi tubuh akan mengambilnya dari lemak tubuh. Kalau lemak tubuh masih kurang, cadangan protein jadi satu-satunya tumpuan.
Selain sebagai cadangan energi, protein berfungsi mendukung pertumbuhan dan perkembangan sel. “Makanya, anak dan remaja butuh asupan protein baik dalam jumlah cukup biar perkembangannya maksimal,” jelas Sukma. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ada dua opsi. Yakni, sumber protein hewani dan nabati.
Banyak yang beranggapan bahwa daging – terutama daging sapi – merupakan sumber protein terbaik. Ayah dua anak tersebut menjelaskan, anggapan itu cukup beralasan. Selain protein, daging tergolong komplet. Ia memiliki kandungan zat besi, selenium, zinc, dan vitamin B kompleks. Namun, kadar protein hewani dalam daging merah tersebut berada di urutan ketiga.
“Kadar protein dalam daging masih kalah dibandingkan dengan udang dan jeroan,” tutur Sukma. Meski demikian, daging sapi lebih unggul. Sebab, ia tidak menimbulkan alergi. Daging merah kualitas baik pun memiliki kandungan lemak yang rendah. Ia juga lebih mudah diolah dengan bergam bumbu.
Namun, dokter yang juga mengantongi gelar magister hokum tersebut menegaskan, mengandalkan asupan protein hanya dari daging sapi juga salah. Idealnya, asupan protein hewani dan nabati harus berimbang. “Kuncinya, variasai makanan. Protein harus tetap ada, tapi dari sumber lain,” papar Sukma. Langkah mudahnya, ganti lauk yang dimakan setiap hari.
Selain daging merah, daging unggas dan ikan bisa jadi pilihan. Demikian juga telur, susu, dan olahannya (dairy Product). Olahan kedelai dan kacang-kacangan lainnya pun bisa mensubstitusi daging merah. Selain menghindari kebosanan, variasi asupan protein bertujuan melengkapi kebutuhan zat mikro. Antara lain, vitamin dan minaeral.
Tetapi, daging merah juga mempunyai kekurangan yang perlu diketahui. Proses mencerna daging dalam usus butuh waktu yang cukup lama. “Seluruh enzim dikerahkan untuk memecah daging. Sebab, kandungan gizi dalam daging bukan protein saja,” ucap Florencia Laksmana.
 Nutrionist lulusan University of British Columbia, Kanada, tersebut menyatakan bahwa protein diubah jadi asam amino. Nah, asam amino disimpan ke bentuk glikogen dalam otot. “Agar otot terbentuk baik, perlu aktivitas fisik dan olahraga. Kalau tidak, hanya akan menumpuk,” paparnya. Florencia menyarankan agar asupan protein disesuaikan dengan aktivitas fisik. Sementara itu, konsumsi daging juga wajib dibatasi sesuai dengan kebutuhan. “Daging kan bukan protein saja. Ada lemak dan kolesterol,” lanjut perempuan kelahiran Surabaya, 30 Desember 1985, itu.
Jika konsumsi berlebih dan tidak diimbangi pola hidup sehat, dua zat tersebut berisiko mengendap di tubuh. Selain mengakibatkan kegemukan, penyakit rawan mampir. (fam/c15/jan)

Yang salah tentang protein
·         Protein hewani lebih cepat diserap tubuh?
Salah. Meski dikonsumsi dalam jumlah sedikit, protein hewani lebih lama dicerna, penyerapannya juga lebih lama.
·         Bubuk protein bisa menggantikan konsumsi daging, ayam, dan olahan kacang-kacangan ?
Salah. Protein dari sumber alami (bukan sintetis atau buatan manusia) juga dilengkapi zat gizi mikro lainnya. Selain itu, bubuk protein hanya bisa dikonsumsi dengan anjuran ahli gizi atau nutrisionist.
·         Protein bisa membuat otot tampak kekar ?
Salah. Tanpa olahraga dan aktivitas fisik yang cukup, otot tidak akan terbentuk meski asupan protein sudah baik.

Apa saja yang menentukan kebutuhan protein tubuh ?
·         Usia
Anak-anak dan remaja membutuhkan saupan protein untuk perkembangan sel. Khusus ibu hamil dan menyusui, asupan ditingkatkan hingga 10-25 persen di atas angka kecukupan gizi (AKG).
·         Kondisi kesehatan tubuh
Buat mereka yang sedang sakit, protein bisa membantu perbaikan sel. Dengan begitu, penyembuhan dan pemulihan bisa lebih cepat.
·         Jenis kelamin
Umumnya laki-laki membutuhkan protein lebih banyak daripada perempuan. Sebab, massa ototnya lebih besar.
·         Aktivitas fisik
Orang yang bekerja dengan tenaga ekstra dan mobilitas tinggi membutuhkan asupan protein lebih banyak.
·         Genetis

Beberapa kondisi kelainan genetis menuntut tubuh mengonsumsi protein lebih atau kurang dari AKG. Hal tersebut dipengaruhi penyerapan dan kebutuhan sel yang tidak normal.

Sumber : Jawa Pos, 18 agustus 2015

Monday, 16 May 2016

Contact Lens

Salah Sedikit Bisa Fatal
            LENSA kontak memang merupakan alternative bagi para pengguna kacamata. Berbeda dengan kacamata yang kadang merepotkan, lensa kontak lebih tidak mengganggu. Anda tidak selalu merasa terganjal dengan kacamata. Tapi hati-hati, penggunaan atau perawatan lensa kontak yang salah bisa berakibat fatal.
            Para spesialis di Moorfields Eye Hospital, Inggris, menemukan adanya peningkatan terjadinya infeksi pada pengguna lensa kontak. Mereka lalu meminta para pengguna untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan dan merawat lensa kontak.
            Bakteri, kotoran, dan jamur akan sangat mudah hinggap di lensa kontak yang kotor. Itu akan membuat mata si pengguna terkena iritasi yang ditandai dengan rasa sakit atau gatal, mata merah, bahkan infeksi.
            Para ahli lalu memberikan berbagai saran. Yang pertama adalah menghindari pemakaian lensa kontak saat tidur. Penggunaan lensa kontak yang terlalu lama akan berakibat buruk pada kornea mata. Kornea yang terlalu lama bersentuhan dengan lensa kontak akan lebih rentan terhadap infeksi.
            Selain penggunaan, kebersihan lensa kontak harus dijaga. Lensa kontak hanya boleh dibersihkan dengan menggunakan larutan khusus lensa kontak. Air dari keran atau sumber lain mengandung mikroorganisme yang tidak baik untuk lensa kontak. Tempat penyimpanan lensa kontak juga harus rutin dibersihkan dengan menggunakan sikat berbulu lembut dan larutan lenas kontak. Jangan sesekali menyimpan lensa kontak di tempat lain.
Yang berikutnya adalah cara pemakaian. Pastikan agar lensa kontak yang digunakan tidak rusak atau terbalik. Gunakan pula lensa kontak yang berbeda untuk mata kiri dan kanan. (BBC/len/c10/dos)

Sumber: Jawa Pos, 20 Mei 2015 
gambar:https://pixabay.com/id/lensa-kontak-mata-lensa-biru-gadis-548158/

Saturday, 14 May 2016

The Down of spirit Affects Concentration

Semangat Anjlok Pengaruhi Konsentrasi
Bersama: Nalini M.A. ( Consultant Psychiatrist on Women’s Mental Health)

            Salam, Dokter. Saya adalah Roro, saya mahasiswi berusia 22 tahun. Sejak setahun terakhir, saya kurang fokus dan sulit berkonsentrasi. Apalagi dalam prestasi akademik. Hasilnya, nilai saya banyak yang anjlok. Saya juga kehilangan semangat untuk ngapa-ngapain, termasuk masuk kuliah. Maunya tidur terus sepanjang hari. Padahal, kalau malam sulit tidur.
            Kenapa ya, Dok, saya ini? Rasanya sudah niat berangkat kuliah. Tapi, begitu esoknya harus berangkat, saya diserang rasa malas dan kurang semangat. Kalau saya paksakan, pikiran saya seperti mobil mogok  sampai  di ruang kuliah. Kondisi tersebut jelas berbeda dengan saya yang dulu. Saya dulu begitu energetic, aktif, penuh semangat, dan punya cita-cita seabrek, namun sekarang kok melempem. Apa yang harus saya lakukan, Dok? Terima kasih.
Roro - Jogja
JAWABAN :
            Anda tidak sendirian kok. Saat ini banyak orang yang mengeluh seperti itu, kendati agak sulit menyamaratakan kenapa bisa begitu. Apalagi, Anda terbatas bercerita mengenai latar belakang kehidupan dan apa yang terjadi selama setahun terakhir ini atau sebelumnya. Tapi okelah, yang penting selalu masih ada lilin yang bisa dinyalakan di tengah kegelapan.
            Semangat belajar juga lagi slowdown (asal tidak shutdown saja…). Repot juga ya. Padahal, Anda masih berkuliah. Banyak hal yang harus Anda telusuri akar masalahnya. Apakah ada di dalam diri sendiri atau faktor lingkungan atau eksternal? Semoga Anda masih cukup kuat menyalakan mesin semangat yang sedang ngadat tersebut.
Rasanya, faktor kemampuan intelegensimu tidak begitu masalah. Mengingat , kamu sebelumnya begitu aktif dan cukup berprestasi. Bagaimana kondisi di lingkuganmu? Bagaimana minat dan bakatmu terhadap jurusan yang kamu ambil, bagaimana kondisi kesehatanmu, bagaiman kondisi kejiwaanmu, apakah ada yang menganggu konsentrasimu, adakah hal yang membuat kamu kecewa berat, serta masih banyak hal yang harus dieksplorasi kenapa semangatmu untuk menyelesaikan kuliah dengan bagus kok melorot setahun terakhir ini. Mungkin, Anda membutuhkan seseorang yang bisa mengerti  dan mau mendengarkan dengan empatik.
Namun, mengingat Anda juga kehilangan keceriaan, mudah tersinggung, dan mulai kehilanagan kesenagan juga terhadap hal-hal yang dulu Anda sukai (misalnya, ngumpul dengan teman-teman dekat), saya khawatir Anda lagi didera depresi. “Nyanyian Sunyi” yang kerap menghajar semangat, mood, dan konsentrasi kita. Tidak bisa lagi menikmati kesenangan pada aktivitas yang biasanya dialami. Kalau akar maslahnya depresi, tentu butuh penanganan lebih profesional . tidak sekedar nasihat, dorongan, atau penyemangat belaka.
Tampaknya, gejala depresi yang menonjol pada Anda muncul dalam bentuk gangguan pada fungsi kognitif: mengganggu fungsi kehidupan akademik atau pekerjaan , fungsi sosial, dan fungsi kehidupan dalam keluarga atau pribadi.
Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut bisa membuat Anda tidak berdaya dan putus asa. Cobalah maminta bantuan seorang ahli sambil berusaha terus mengerjakan hobi, berolahraga, mencari sahabat terpercaya untuk cerita-cerita, dan tentunya berdoa.
Sumber : Jawa Pos, 29 Oktober 2015



Thursday, 12 May 2016

Fries and Effect on Body

Gorengan dan Dampaknya bagi tubuh
Waspadai
Minyak & Pembungkus

Kriuk… Hmm, gorengan memang nikmat disantap. Rasa gurih dan kerenyahannya selalu memanjakan lidah. Tahukah Anda bahwa si garing nan enak itu punya manfaat sekaligus efek buruk bagi tubuh?

                GORENGAN merupakan makanan yang membuat banyak orang ketagihan sekaligus waswas. Rasanya yang enak selalu mengoda siapapun. Namun, gorengan selalu menjadi makanan yang “dituduh” tidak sehat. Bagi mereka yang menjalani program diet sehat, menu makanan yang digoreng selalu dibuang dari daftar makanan.
                Made Krisna Dewi SGz, staf pengajar di Akademi Gizi Surabaya, menjelaskan bahwa gorengan tidak selalu berbahaya bagi tubuh. Dalam gorengan, terdapat kandungan kolesterol dan lemak. Sejatinya, dua zat itu dibutuhkan tubuh. Lemak berguna untuk pembentukan energi dalam tubuh, sedangkan kolesterol berguna untuk pertumbuhan jaringan otak. “Tidak benar jika kita benarpbenar anti pada gorengan,” ujar Made.
Masalah muncul jika gorengan dikonsumsi berlebihan. Idealnya, jumlah minyak yang masuk ke tubuh tidak boleh lebih dari 6 sendok the. Satu buah gorengan jenis apa pun memiliki daya serap minyak rata-rata 1 sendok the. Dengan kata lain, jumlah gorengan yang dikonsumsi tidak boleh lebih dari 6 buah dalam sehari.
Jika gorengan dikonsumsi berlebihan, tentu masalah kesehatan akan muncul. Yang paling sering dikenal adalah kolesterol tinggi. Kadar kolesterol yang tinggi akan menyumbat pembuluh darah dan menghambat aliran darah ke otak. Tersumbatnya pembuluh darah akan mengakibatkan pikun, darah tinggi, dan akhirnya stroke.
Bukan hanya pada makanan atau gorengan, kualitas minyak yang digunakan untuk menggoreng juga berpengaruh pada kesehatan. Orang sering menggunakan minyak goring berkali-kali demi menghemat minyak. Minyak yang demikian kerap disebut minyak jelantah. Padahal, minyak jelantah mengandung zat-zat yang bersifat racun bagi tubuh.
Karbon monoksida merupakan salah satu zat beracun yang bisa diikat minyak. Bayangkan jika minyak yang mengandung zat beracun tersebut digunakan untuk menggoreng. Sudah pasti apa pun yang digoreng dalam minyak itu mengandung racun. Jika sampai termakan, zat-zat racun tersebut akan bercokol di organ-organ dalam tubuh. Itulah yang menjadi cikal bakal timbulnya kanker.
Selain minyak, pembungkus gorengan patut diwaspadai. Biasanya, para pedagang gorengan akan menggunakan pembungkus berupa Koran atau plastik. Keduanya merupakan bahan yang berbahaya.
Minyak pada gorengan, yang zat lemaknya sudah terlepas, akan mengikat zat lain dari Koran atau plastik. Dari Koran, minyak akan mengikat zat karbon yang berasal dari tinta Koran. Untuk plastik, minyak akan mengikat zat dari bahan vinil pada plastik. Karbon dan vinil yang masuk ke tubuh juga akan meningkatkan potensi terkena kanker. (ien/c6/dos)


Lebih Aman Bikin Sendiri
GORENGAN sehat itu bukan hal yang mustahil. Yang paling mudah adalah menggoreng sendiri di rumah. Gorengan yang dibuat di rumah akan lebih terjamin soal kebersihannya.
Made menyarankan penggunaan minyak yang berwarna kuning bening, bukan kecoklatan. Ketika digunakan untuk menggoreng, minyak hanya bisa digunakan paling banyak tiga kali. Jika lebih dari tiga kali atau warnanya sudah tidak bening, minyak harus diganti. Minyak goreng sebaiknya dipanaskan secara bertahap, tidak serta-merta dipanaskan dengan api besar.
Dia juga menyarankan agar minyak yang digunakan untuk menggoreng adalah minyak kelapa atau kelapa sawit. “Minyak-minyak seperti zaitun, minyak beras, sunflower,  atau minyak kedelai lebih cocok untuk menumis atau dressing salad,” ujar Made.
Selain tidak cocok untuk menggoreng, zat lemak tak jenuh pada minyak selain minyak kelapa atau kelapa sawit rentan terlepas. Minyak dengan lemak tak jenuh bila dipanaskan akan cepat bereaksi dengan zat-zat lain di udara. Itu akan membuat minyak lebih mudah mengikat zat-zat yang bersifat anti gizi.
Sebenarnya, sayuran yang digoreng seperti asparagus goring tepung, keripik bayam, atau ote-ote tidak lantas menjadi gorengan yang sehat. “Sayuran pun kalau digoreng terlalu lama akan kehilangan zat gizi dan menyerap kolesterol dari minyak,” jelas made. (len/c23/dos)
Sumber: Jawa Pos, 26 Mei 2015
Say No to
·         Minyak yang sudah berbau.
·         Minyak berwarna gelap (Hitam, Cokelat, atau Kuning gelap)
·         Minyak goreng curah. Minyak curah biasanya berasal dari minyak bekas yang dimurnikan lagi. Lebih aman jika membeli minyak goreng dalam kemasan.

Fries Around the World…
·         Di Taiwan, gorengan yang dijual berupa deep-fried fish atau chicken. Potongan fillet ikan atau ayam digoreng dengan minyak dan ditaburi bumbu-bumbu beraneka rasa.
·         Di Spanyol, churros  merupakan jenis gorengan yang menjadi favorit warga. Paduan rasa gurih dari adonan yang digoreng semakin nikmat jika dimakan bersama pasta cokelat.
·         Jepang terkenal dengan ebi furai-nya. Udang dikupas dan dipaluri dengan tepung roti. Udang lalu dimasak dengan metode deep-frying.
·         Amerika Serikat menjadi Negara asal oreo goreng. Biscuit popular itu dibaluri dengan tepung dan digoreng. Rasanya merupakan perpaduan gurih dari adonan serta manis dari biscuit dan krim oreo.
·         Inggris memiliki menu dengan gorengan popular, yakni fish and chips. Fillet ikan yang dibaluri tepung digoreng dan disajikan bersama French fries.

Mix and Match Menu Gorengan…
Berikut ini adalah makanan yang bisa disantap untuk pendamping menu serbagoreng.
·         Makanan dengan kandungan minyak yang sedikit, seperti tumisan atau sup sayuran.
·         Sayuran mentah atau yang direbus.
·         Jus buah atau buah utuh.
·         Sambal mentah (tidak diberi minyak atau digoreng).
·         Makanan yang tidak bersantan.

 Picture by Dokumen Pribadi

Tuesday, 10 May 2016

Prostate Cancer Drug for Pedophilia

Obat Kanker Prostat untuk Pedofilia
                STOCKHOLM- Pedofilia menempatkan banyak anak sebagai korban. Karena diyakini kejahatan itu berantai, yakni korban pada akhirnya menjadi pelaku, Institut Karolinska di Stockholm, Swedia, ingin mencari cara untuk memutus lingkaran setan tersebut. Mereka ingin bertindak proaktif. Yakni, menemukan pengibatan untuk menekan gangguan kejiwaan yang membuat penderitanya tertarik secara seksual terhadap anak-anak.
“Tidak seorang pun meninginkan hal ini,” ujar Anders, salah seorang relawan. Selama ini, dia memiliki fantasi seksual dengan anak-anak. Walau berusaha tidak memikirkannya, fantasi itu muncul begitu saja. Meski begitu, hingga saat ini dia bisa menahan diri dan belum pernah melakukan pelecehan terhadap anak-anak. Anders tahu bahwa keinginannya tersebut tidak normal. Karena itu, dia berusaha mencari pertolongan dengan menjadi relawan dalam penelitian tersebut.
Menurut Crhristoffer Rahm, selama ini studi klinis terhadap para pedofil sangat jarang dilakukan karena sulitnya mengumpulkan data. Sebab, melakukan penelitian di mana subyek yang diteliti memiliki risiko menyakiti pihak ketiga butuh kerjasama khusus dengan para pakar hokum dan kesejahteraan anak. Selain itu, 85 persen kasus pelecehan seksual pada anak tidak pernah dilaporkan. Karena itu, mereka mencari relawan yang belum melakukan kejahatan.
Relawan-relawan tersebut datang karena mencari bantuan. Ada yang memang mendatangi fasilitas kesehatan milik perguruan tinggi. Sebagian lagi merupakan tindak lanjut dari telepon yang masuk ke hotline milik lembaga sosial yang peduli terhadap pedofilia.
Para peneliti membagi 60 relawan menjadi dua bagian. Satu kelompok diberi asupan obat kanker prostat akut bernama Degarelix. Kelompok lainnya diberi placebo alias pil kosong. Ternyata, setelah tiga hari, kadar testoteron orang yang diberi Degarelix minimal hingga tak terdeteksi. Efek itu berlangsung selama tiga bulan. Selama ini, testoteron terlibat dalam faktor risiko penting untuk melakukan pelecehan seksual terhadap anak. Testoteron membuat gairah seksual meningkat serta kurangnya kontrol diri dan empati yang rendah.
Bukan hanya itu, relawan juga akan di-scan MRI saat melihat computer yang menampilkan gambar-gambar perempuan berbagai usia. Hal tersebut dilakukan untuk melihat perbedaan reaksi di area otak masing-masing relawan. Ada tiga bagian di otak yang bereaksi. Nah, bagian-bagian itulah yang akan diintervensi dengan obat-obatan.
Anders tidak tahu apakah dirinya diberi obat yang sesungguhnya atau hanya placebo. Dia dan para relawan lainnya baru akan mengetahuinya pada 2-3 tahun mendatang ketika penelitian itu berakhir. Namun, dia mengaku hasrat seksualnya jauh menurun sejak mengikuti penelitian tersebut. (AFP/sha/c23/any)

Sumber: Jawa Pos, 9 Mei 2016 

Monday, 9 May 2016

GROUP THERAPY WITH HEALTHY BLOOD

SEHAT DENGAN TERAPI GOLONGAN DARAH
Garis tangan dipercaya berhubungan dengan nasib seseorang. Sedangkan kesehatan, penyakit, ketahanan hidup, vitalitas fisik, dan kekuatan emosional, misteri dalam golongan darah manusia.
                Bertahun-tahun James D’Adamo dan Peter D’Adamo, keduanya dokter naturopatik Amerika Serikat, meneliti hubungan antara golongan darah dan konsumsi makanan yang tepat. Jika salah konsumsi makanan, tubuh secara tak langsung bakal menolak. Hasil akhir penolakannya itu adalah penyakit. Artinya salah makan mengundang kematian.
                “Intinya jika darah sebagai sumber utama penyalur makanan pada tubuh, kemungkinan besar darah juga dapat mengidentifikasi perbedaan makanan,” kata Lukas Tersono Adi, herbalis Tangerang, Provinsi Banten. Artinya, mensinergikan makanan dengan golongan darah menjadi salah satu cara membentengi diri dari penyakit.

                Golongan darah manusia terbentuk lantaran kegiatan hidup. “O” golongan darah tertua di dunia, pertama kali ditemukan di Afrika. Huruf “O” berasal dari kata old yang berarti tua. Golongan darah A muncul seiring perubahan peradaban masyarakat agraris. Huruf “A” singkatan agararian. Golongan darah B muncul saat manusia pindah ke belahan bumi utara yang lebih dingin. Sedangkan golongan darah AB merupakan adaptasi modern, perpaduan sifat golongan darah A dan B.
Bersambung

Saturday, 7 May 2016

Change Road Speed Burn Many Calories

Ubah Kecepatan Jalan Bakar Banyak Kalori
   ADA cara yang lebih mudah untuk membakar kalori dalam tubuh. Yaitu, mengubah kebiasaan berjalan. Menurut Profesor Manoj Srinivasan, ahli dari Ohio State University, mengubah-ubah kecepatan berjalan bisa membakar lebih banyak kalori. Selama ini, orang-orang cenderung berjalan dengan kecepatan yang sama.
“Padahal, jalan dengan kecepatan yang berbeda itu bisa membakar 20 kalori lebih banyak,” ucapnya.
Sebisa-bisanya seseorang mengubah kecepatan atau gaya berjalan senatural-naturalnya. Misalnya, berjalan menikung, sengaja berhenti, lalu berjalan lagi. Bahkan, dalam penelitian Manoj, berhenti dengan sengaja ketika berjalan membutuhkan energi yang besar. Artinya, hal itu juga akan mengurangi kadar kalori dalam jumlah besar.
Cara lain, berjalan dengan menggunakan tas backpack. “berilah beban pada badan Anda saat berjalan. Itu juga cara efektif mengurangi kalori,” terangnya. Bisa juga memberikan beban di sepatu untuk mempercepat pengurangan kalori.
Jadi, cara tepat untuk mengurangi kalori, berjalanlah dengan beban di tas atau sepatu Anda. Lalu, berjalanlah dengan kecepatan yang tidak beraturan. Berhenti setiap beberapa menit sekali dan ulangi terus seperti itu. Meski terkesan aneh, hal tersebut jangan diremehakan karena bakal menguras lebih banyak energi. (DailyMail/ina/c5/jan)

Sumber: Jawa Pos, 16 Oktober 2015
gambar:https://pixabay.com/id/berjalan-kaki-orang-orang-sepatu-690734/ 

Monday, 2 May 2016

Happy

Bahagia, Resep Umur Panjang

            PENELITIAN terbaru yang dilakukan selama 30 tahun oleh ilmuwan University of  North Carolina membuahkan temuan baru. Seseorang yang bahagia akan hidup lebih lama daripada mereka yang menyebut hidupnya tidak terlalu bahagia.
            Terlepas dari pendapatan, kesehatan, dan status pernikahan, mereka yang menyebut dirinya tidak terlalu bahagia akan lebih cepat meninggal dunia. Para ilmuwan tersebut mengambil sampel 30 ribu orang dewasa. Metodenya, memberikan pertanyaan kepada mereka.
            Pertanyaan yang diberikan adalah bagaimana Anda menjalani hari-hari, apakah sangat bahagia, bahagia, atau tidak terlalu bahagia? Para peneliti kemudian mengakses data kematian untuk melihat hubungan antara jawaban yang diberikan 30 tahun lalu dan fakta yang ada sekarang.
            Ternyata, seseorang yang menjawab bahagia dengan hidupnya mempunyai usia lebih lama. Menurut dia, hal itu terkait dengan kemampuan seseorang dalam mengelola stres. Begitu pun tentang koneksi yang kuat dengan teman-temannya.
            Jurnal Social Science & Medicine dari Amerika Serikat juga menyebutkan, pendapatan yang lebih tinggi, lingkungan bebas kejahatan, dan peningkatan program kesehatan masyarakat tidak selalu memengaruhi kebahagiaan suatu kelompok masyarakat.
            Jadi, mereka menganjurkan pemerintah sebaiknya tidak hanya membuat program yang fokus dengan peningkatan ekonomi. Tapi juga mempercantik tata kota, program pengelolaan stres, memperkuat ikatan komunitas, pertemanan, hingga pasangan. (DailyMail/ina/c23/jan)

Sumber: Jawa Pos, 16 Oktober 2015