Mencari Pengganti
Protein Daging Merah
Kuncinya
Variasi
Makanan
Daging sapi kini jadi perbincangan hangat. Harganya yang meroket membuat para ibu bingung mencari alternatif pengganti. Daging sapi yang notabane daging merah ternyata bukan satu-satunya sumber protein hewani. Banyak substitusi dan trik yang bisa dipakai untuk “menambal” kebutuhan protein harian.
TUBUH manusia memerlukan zat gizi agar
mampu bertahan hidup dan beraktivitas. Nah, ada dua jenis zat gizi yang wajib
dipenuhi setiap individu. Yakni, zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro
meliputi karbohidrat, lemak, dan protein. Menurut dr Sukma Sahadewa MKes, dari
tiga bahan tersebut, protein punya peran cukup penting.
“Protein
merupakan cadangan energi paling utama. Jika kekurangan protein, tubuh rawan
kekurangan energi protein, “ ucap ahli gizi lulusan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tersebut. Jika
kekurangan karbohidrat untuk diolah jadi energi tubuh akan mengambilnya dari lemak
tubuh. Kalau lemak tubuh masih kurang, cadangan protein jadi satu-satunya
tumpuan.
Selain sebagai cadangan energi,
protein berfungsi mendukung pertumbuhan dan perkembangan sel. “Makanya, anak
dan remaja butuh asupan protein baik dalam jumlah cukup biar perkembangannya
maksimal,” jelas Sukma. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ada dua opsi. Yakni,
sumber protein hewani dan nabati.
Banyak yang beranggapan bahwa daging
– terutama daging sapi – merupakan sumber protein terbaik. Ayah dua anak
tersebut menjelaskan, anggapan itu cukup beralasan. Selain protein, daging tergolong
komplet. Ia memiliki kandungan zat besi, selenium, zinc, dan vitamin B
kompleks. Namun, kadar protein hewani dalam daging merah tersebut berada di
urutan ketiga.
“Kadar protein dalam daging masih
kalah dibandingkan dengan udang dan jeroan,” tutur Sukma. Meski demikian,
daging sapi lebih unggul. Sebab, ia tidak menimbulkan alergi. Daging merah
kualitas baik pun memiliki kandungan lemak yang rendah. Ia juga lebih mudah
diolah dengan bergam bumbu.
Namun, dokter yang juga mengantongi
gelar magister hokum tersebut menegaskan, mengandalkan asupan protein hanya
dari daging sapi juga salah. Idealnya, asupan protein hewani dan nabati harus
berimbang. “Kuncinya, variasai makanan. Protein harus tetap ada, tapi dari
sumber lain,” papar Sukma. Langkah mudahnya, ganti lauk yang dimakan setiap
hari.
Selain daging merah, daging unggas
dan ikan bisa jadi pilihan. Demikian juga telur, susu, dan olahannya (dairy Product). Olahan kedelai dan
kacang-kacangan lainnya pun bisa mensubstitusi daging merah. Selain menghindari
kebosanan, variasi asupan protein bertujuan melengkapi kebutuhan zat mikro.
Antara lain, vitamin dan minaeral.
Tetapi, daging merah juga mempunyai
kekurangan yang perlu diketahui. Proses mencerna daging dalam usus butuh waktu
yang cukup lama. “Seluruh enzim dikerahkan untuk memecah daging. Sebab,
kandungan gizi dalam daging bukan protein saja,” ucap Florencia Laksmana.
Nutrionist
lulusan University of British Columbia, Kanada, tersebut menyatakan bahwa
protein diubah jadi asam amino. Nah, asam amino disimpan ke bentuk glikogen
dalam otot. “Agar otot terbentuk baik, perlu aktivitas fisik dan olahraga.
Kalau tidak, hanya akan menumpuk,” paparnya. Florencia menyarankan agar asupan
protein disesuaikan dengan aktivitas fisik. Sementara itu, konsumsi daging juga
wajib dibatasi sesuai dengan kebutuhan. “Daging kan bukan protein saja. Ada lemak dan kolesterol,” lanjut perempuan
kelahiran Surabaya, 30 Desember 1985, itu.
Jika konsumsi berlebih dan tidak
diimbangi pola hidup sehat, dua zat tersebut berisiko mengendap di tubuh.
Selain mengakibatkan kegemukan, penyakit rawan mampir. (fam/c15/jan)
Yang salah tentang protein
·
Protein
hewani lebih cepat diserap tubuh?
Salah. Meski dikonsumsi
dalam jumlah sedikit, protein hewani lebih lama dicerna, penyerapannya juga lebih
lama.
·
Bubuk
protein bisa menggantikan konsumsi daging, ayam, dan olahan kacang-kacangan ?
Salah. Protein dari
sumber alami (bukan sintetis atau buatan manusia) juga dilengkapi zat gizi
mikro lainnya. Selain itu, bubuk protein hanya bisa dikonsumsi dengan anjuran
ahli gizi atau nutrisionist.
·
Protein
bisa membuat otot tampak kekar ?
Salah. Tanpa olahraga dan
aktivitas fisik yang cukup, otot tidak akan terbentuk meski asupan protein
sudah baik.
Apa
saja yang menentukan kebutuhan protein tubuh ?
·
Usia
Anak-anak dan remaja
membutuhkan saupan protein untuk perkembangan sel. Khusus ibu hamil dan
menyusui, asupan ditingkatkan hingga 10-25 persen di atas angka kecukupan gizi
(AKG).
·
Kondisi
kesehatan tubuh
Buat mereka yang sedang
sakit, protein bisa membantu perbaikan sel. Dengan begitu, penyembuhan dan
pemulihan bisa lebih cepat.
·
Jenis
kelamin
Umumnya laki-laki
membutuhkan protein lebih banyak daripada perempuan. Sebab, massa ototnya lebih
besar.
·
Aktivitas
fisik
Orang yang bekerja dengan
tenaga ekstra dan mobilitas tinggi membutuhkan asupan protein lebih banyak.
·
Genetis
Beberapa kondisi kelainan
genetis menuntut tubuh mengonsumsi protein lebih atau kurang dari AKG. Hal
tersebut dipengaruhi penyerapan dan kebutuhan sel yang tidak normal.
Sumber : Jawa Pos, 18 agustus 2015

No comments:
Post a Comment