Google search

Custom Search

Translate

Tuesday, 31 May 2016

Looking for Protein Replacement Red Meat

Mencari Pengganti Protein Daging Merah
Kuncinya Variasi Makanan

Daging sapi kini jadi perbincangan hangat. Harganya yang meroket membuat para ibu bingung mencari alternatif pengganti. Daging sapi yang notabane daging merah ternyata bukan satu-satunya sumber protein hewani. Banyak substitusi dan trik yang bisa dipakai untuk “menambal” kebutuhan protein harian.

            TUBUH manusia memerlukan zat gizi agar mampu bertahan hidup dan beraktivitas. Nah, ada dua jenis zat gizi yang wajib dipenuhi setiap individu. Yakni, zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro meliputi karbohidrat, lemak, dan protein. Menurut dr Sukma Sahadewa MKes, dari tiga bahan tersebut, protein punya peran cukup penting.
            “Protein merupakan cadangan energi paling utama. Jika kekurangan protein, tubuh rawan kekurangan energi protein, “ ucap ahli gizi lulusan Universitas  Wijaya Kusuma Surabaya tersebut. Jika kekurangan karbohidrat untuk diolah jadi energi tubuh akan mengambilnya dari lemak tubuh. Kalau lemak tubuh masih kurang, cadangan protein jadi satu-satunya tumpuan.
Selain sebagai cadangan energi, protein berfungsi mendukung pertumbuhan dan perkembangan sel. “Makanya, anak dan remaja butuh asupan protein baik dalam jumlah cukup biar perkembangannya maksimal,” jelas Sukma. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ada dua opsi. Yakni, sumber protein hewani dan nabati.
Banyak yang beranggapan bahwa daging – terutama daging sapi – merupakan sumber protein terbaik. Ayah dua anak tersebut menjelaskan, anggapan itu cukup beralasan. Selain protein, daging tergolong komplet. Ia memiliki kandungan zat besi, selenium, zinc, dan vitamin B kompleks. Namun, kadar protein hewani dalam daging merah tersebut berada di urutan ketiga.
“Kadar protein dalam daging masih kalah dibandingkan dengan udang dan jeroan,” tutur Sukma. Meski demikian, daging sapi lebih unggul. Sebab, ia tidak menimbulkan alergi. Daging merah kualitas baik pun memiliki kandungan lemak yang rendah. Ia juga lebih mudah diolah dengan bergam bumbu.
Namun, dokter yang juga mengantongi gelar magister hokum tersebut menegaskan, mengandalkan asupan protein hanya dari daging sapi juga salah. Idealnya, asupan protein hewani dan nabati harus berimbang. “Kuncinya, variasai makanan. Protein harus tetap ada, tapi dari sumber lain,” papar Sukma. Langkah mudahnya, ganti lauk yang dimakan setiap hari.
Selain daging merah, daging unggas dan ikan bisa jadi pilihan. Demikian juga telur, susu, dan olahannya (dairy Product). Olahan kedelai dan kacang-kacangan lainnya pun bisa mensubstitusi daging merah. Selain menghindari kebosanan, variasi asupan protein bertujuan melengkapi kebutuhan zat mikro. Antara lain, vitamin dan minaeral.
Tetapi, daging merah juga mempunyai kekurangan yang perlu diketahui. Proses mencerna daging dalam usus butuh waktu yang cukup lama. “Seluruh enzim dikerahkan untuk memecah daging. Sebab, kandungan gizi dalam daging bukan protein saja,” ucap Florencia Laksmana.
 Nutrionist lulusan University of British Columbia, Kanada, tersebut menyatakan bahwa protein diubah jadi asam amino. Nah, asam amino disimpan ke bentuk glikogen dalam otot. “Agar otot terbentuk baik, perlu aktivitas fisik dan olahraga. Kalau tidak, hanya akan menumpuk,” paparnya. Florencia menyarankan agar asupan protein disesuaikan dengan aktivitas fisik. Sementara itu, konsumsi daging juga wajib dibatasi sesuai dengan kebutuhan. “Daging kan bukan protein saja. Ada lemak dan kolesterol,” lanjut perempuan kelahiran Surabaya, 30 Desember 1985, itu.
Jika konsumsi berlebih dan tidak diimbangi pola hidup sehat, dua zat tersebut berisiko mengendap di tubuh. Selain mengakibatkan kegemukan, penyakit rawan mampir. (fam/c15/jan)

Yang salah tentang protein
·         Protein hewani lebih cepat diserap tubuh?
Salah. Meski dikonsumsi dalam jumlah sedikit, protein hewani lebih lama dicerna, penyerapannya juga lebih lama.
·         Bubuk protein bisa menggantikan konsumsi daging, ayam, dan olahan kacang-kacangan ?
Salah. Protein dari sumber alami (bukan sintetis atau buatan manusia) juga dilengkapi zat gizi mikro lainnya. Selain itu, bubuk protein hanya bisa dikonsumsi dengan anjuran ahli gizi atau nutrisionist.
·         Protein bisa membuat otot tampak kekar ?
Salah. Tanpa olahraga dan aktivitas fisik yang cukup, otot tidak akan terbentuk meski asupan protein sudah baik.

Apa saja yang menentukan kebutuhan protein tubuh ?
·         Usia
Anak-anak dan remaja membutuhkan saupan protein untuk perkembangan sel. Khusus ibu hamil dan menyusui, asupan ditingkatkan hingga 10-25 persen di atas angka kecukupan gizi (AKG).
·         Kondisi kesehatan tubuh
Buat mereka yang sedang sakit, protein bisa membantu perbaikan sel. Dengan begitu, penyembuhan dan pemulihan bisa lebih cepat.
·         Jenis kelamin
Umumnya laki-laki membutuhkan protein lebih banyak daripada perempuan. Sebab, massa ototnya lebih besar.
·         Aktivitas fisik
Orang yang bekerja dengan tenaga ekstra dan mobilitas tinggi membutuhkan asupan protein lebih banyak.
·         Genetis

Beberapa kondisi kelainan genetis menuntut tubuh mengonsumsi protein lebih atau kurang dari AKG. Hal tersebut dipengaruhi penyerapan dan kebutuhan sel yang tidak normal.

Sumber : Jawa Pos, 18 agustus 2015

No comments:

Post a Comment