Mengenal Ketidaksuburan pada Pria
Genetik hingga Celana Terlalu Ketat
Untuk menghasilkan keturunan, suami
maupun istri mempunyai peran yang sama-sama besar. Yakni, butuh saling
menyokong untuk membuat kondisi kesuburan dua pihak sama-sama prima. Sebagai pasangan
yang baik, mengenal penyebab, pencegahan, dan pengobatan ketidaksuburan pada
pria menjadi hal yang penting.
JIKA
kondisi para istri saja yang prima, itu tidaklah cukup untuk membuat sang
jabang bayi tumbuh di rahim. Sel telur membutuhkan sperma untuk menjadi embrio.
Agar sperma bisa mendarat sempurna di inti sel telur, dibutuhkan proses yang
harus mulus. Mulai dari “pabriknya” yang sehat hingga salurannya yang berfungsi
dengan baik.
Dokter M. Aminudin Aziz SpAnd,
androlog dari Ultimo Aesthetic & Dental Care, menjelaskan, secara garis
besar, ada empat masalah pada kesuburan pria. Yakni, faktor regulasi
(hormonal), produksi (testis), transportasi (saluran, seksual, mortalitas), dan
fertilisasi (sperma-oosit). “Ketika lebih dari setahun suami istri yang aktif
secara seksual belum membuahkan kehamilan, nah, bukan hanya istri yang harus
periksa. Ayo, suami juga periksa. Mungkin ada salah satu dari masalah-masalah
itu tadi,” kata androlog asal Surabaya tersebut.
Pada faktor regulasi, fokusnya
adalah masalah hormonal. Dalam pembentukan sperma, dibutuhkan hormon testoteron
dan FSH. “Hormon itulah yang memerintah testis sebagai pabriknya sperma untuk
produksi. Bila hormonalnya bermasalah, testis bagus tetap tidak produksi karena
tidak ada perintah,” jelas androlog yang akrab dipanggil dr Aziz tersebut.
Sirkulasi hormon bermasalah bisa disebabkan genetik maupun gaya hidup. Itu yang
mengakibatkan sperma sedikit.
Dokter Henry Wibowo SpAnd MARS
menyatakan, salah satu contoh penyebab gangguan sirkulasi hormonal adalah gaya
hidup. “Kurang olahraga bisa membuat testoteron kurang optimal bekerja.
Tergila-gila dengan bentuk badan atletis yang instan juga bahaya karena bisa
saja terjerumus mengonsumsi anabolic
steroid,” ujar androlog dari RS Husada Utama Surabaya itu.
Hormon testoteron bekerja untuk
pertumbuhan penis dan testis, termasuk keoptimalan fungsinya. Di samping itu,
ia juga membentuk otot dan tulang yang kuat. Ketika pria berolahraga, produksi
testoteron optimal. Maka, pria akan terlihat berotot. Pria yang ingin gempal
dengan cara instan menambahkan hormone tetoteron buatan ke dalam tubuh.
Hasilnya, tubuh memeng jadi lebih
“berbentuk”. Namun steroid buatan tersebut bukan untuk testis. Efeknya adalah
membuat otak memberikan sinyal yang salah pada kelenjar penghasil hormon. “Otak
merasa sudah tinggi testoteron dalam
tubuh, tidak perlu produksi lagi. Akhirnya, tidak ada hormon yang memerintah
testis bereproduksi, lama-lama dia mengecil,” ucap dr Henry. Di produk-produk
suplemen, jelas tidak dicantumkan kandungan steroid buatan.
Untuk masalah produksi, testis
memang harus benar-benar dijaga. Ia tidak boleh kena benturan keras, melintir (torsio), atau meradang. Dokter Aziz
menerangkan, dalam testis ada semacam pagar yang membatasi darah dan
spermatozoa. Sebab, sperma bisa dianggap benda asing dan diserang dengan
antibodi.
Meski
begitu, spermatozoa tetap mendapat makan karena ada penghubung yang bernama sel
sertoli. “Nah, sel tersebut sebagai pagar dan perawat sperma. Kalau testis kena
benturan, pagarnya bisa rusak dan sperma jadi diserang antibodi,” ungkap dokter
yang juga dosen di FK Unair itu.
Terlalu
sering kepanasan juga tidak bagus. Misalnya, sauna atau mandi air panas
terus-menerus dan pekerjaan yang panasnya sampai dirasakan testis. Testis juga
harus merasa nyaman, tidak boleh terlalu tersiksa dengan area yang sempit.
“Kalau setiap hari pakai celana terlalu ketat, testis jadi nggak fleksibel. Kedua, dalam kesempitan, otomatis suhunya naik,
jelas ini membuat sperma nggak bagus
atau bahkan mati di dalam,” tutur dr Henry.
Karena
itu, pria yang pekerjaannya memasak perlu memakai celemek tebal dan panjang
untuk menutupi area tersebut. Panasnya mesin mobil dan jok yang tidak mampu
meredam panas hingga sampai ke testis juga berbahaya. (puz/c20/dos)
Terlalu
Aktif, Sperma Kurang Matang
FAKTOR
lain
adalah pada transportasi. Yakni, saluran sperma pada laki-laki, mortalitas, dan
hubungan suami-istri. Infeksi pada saluran kencing bisa membuat jalannya sperma
keluar tidak mulus. “Penyakit menular seksual biasanya menjadi penyebabnya.
Nah, itu kan juga faktor gaya hidup.
Salah satu penyebabnya terjadi karena perilaku berganti-ganti pasangan,” ungkap
dr Henry Wibowo.
Selanjutnya, saat sperma sudah
ditransfer kepada istri, pergerakannya (mobilitas) juga menentukan kesuksesan.
“Pergerakannya tidak bagus bisa jadi karena energinya kurang atau bentuknya.
Misalnya, ekor yang terlalu panjang, ekor yang terlalu pendek, ekor dua sperma
gandeng,” tambah dr Aziz.
Selanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah
hubungan suami istri. Berhati-hatilah pria yang semasa mudanya atau hingga kini
suka masturbasi. Sebab, perilaku tersebut memengaruhi hasrat. Gangguan ereksi
bisa saja terjadi. “Pada pria yang kebiasaannya buru-buru, itu memicu ejakulasi
dini selanjutnya.” Kata dr Henry.
Untuk bisa bertemu dengan sel telur yang
keberadaannya hanya satu bulan sekali, juga harus rajin usaha. Namun, terlalu
rajin justru akan membuat pertemuan sperma dan sel telur sia-sia. Ada proses
agar sperma matang, yakni selama dua hari. Sperma yang matang punya energi dan
kapasitas yang memadai untuk membuahi. “Jika hubungannya dilakukan setiap hari
atau sehari hingga berkali-kali sperma dikeluarkan terus, kapan bisa matang.
Sperma yang nggak matang sulit
membuahi,” jelas dr Aziz. Karena itu, hubungan seks yang disarankan adalah dua
sampai tiga hari sekali. (puz/c22/dos)
SUMBER: JAWA POS, Kamis 30 April 2015
Optimalkan Reproduksi
DO
• Konsumsi buah yang berdaging merah seperti buah naga. Kandungan lycopene di dalamnya memperbaiki bentuk dan gerak sperma.
• Konsumsi kecambah, vitamin E-nya membantu jumlah sperma.
• Olahraga teratur.
• Hubungan seksual 2-3 hari sekali.
• Melindungi area reprodukdi dari panas berlebih dengan pelindung.
DON’T
• Pemakaian celana terlalu ketat.
• Merokok dan minum alkohol.
• Stres
• Olahraga berat terlalu sering menggunakan otot perut bisa menimbulkan varikokel.
• Makan terlalu banyak pare. Berdasar penelitian ilmiah. Ia bisa merusak enzim di permukaan kepala sperma.
• Ekstrak kulit manggis dan daun papaya juga tidak baik.
• Kebiasaan masturbasi dan berhubungan dengan terburu-buru.SUMBER: HASIL WAWANCARA KEDUA NARASUMBER
No comments:
Post a Comment