Google search

Custom Search

Translate

Monday, 18 May 2015

ENDOMETRIOSIS

Mengenal Gejala, Sebab, dan Akibat Endometriosis

NYERI HAID HEBAT, BISA GANGGU FERTILITAS

Setiap dating bulan, seorang perempuan pasti mengalami rasa tidak nyaman hingga nyeri. Jika rasa nyeri begitu hebat dan durasi menstruasi cukup panjang, bisa jadi itu adalah gejala endometriosis. Takut berobat akan membuat kemungkinan ketidaksuburan semakin tinggi.
            NYERI hebat saat menstruasi, bahkan mengakibatkan penderitanya pingsan, tidak bisa dianggap wajar. Apalagi bila durasi menstruasi lebih dari tujuh hari. Bila hal tersebut terjadi, ada kecurigaan ke arah endometriosis. Secara gambling, Prof dr H Suhatno SpOG KOnk (RSUD dr Soetomo) dan dr Hanny Adi Tanzil Sugianto SpOG (RS St Vincentius Surabaya) akan menjelaskannya.
            Secara medis, Hanny menjelaskan, endometriosis adalah adanya jaringan endometrium yang tumbuh dan berada di luar rongga rahim. “Perlu dipahami dulu apa itu endometrium. Itu adalah lapisan terdalam dari rahim, tempat melekatnya sel telur yang sudah dibuahi,” jelasnya.
            Ketika telur tidak dibuahi, endometrium yang menebal saat masa subur tersebut akan luruh. Saat itulah perempuan mengalami menstruasi.
            Pada penderita endometriosis, jaringan endometriumnya tersebar di mana-mana. Bisa menempel di saluran telur, usus, bahkan paru-paru. Beberapa ahli mengungkapkan sejumlah teori untuk menjawab pertanyaan mengapa endometriosis bisa terjadi.
            Pertama, tidak diketahui atau tanpa sebab karena bisa saja dating karena faktor genetis dengan bakat yang diturunkan. “Selanjutnya, regurgitasi dan disfungsi imun,” imbuh Hanny.
            Pada teori regurgutasi, darah menstruasi yang seharusnya keluar melalui vagina naik ke arah saluran telur hingga indung telur (ovarium). Selanjutnya, darah menstruasi tersebut bisa “tumpah” ke rongga abdomen hingga melekat di usus sampai paru-paru.
Pada disfungsi imun, Prof Suhatno menjelaskan, ada zat oksidan yang muncul saat kekebalan tubuh seseorang menurun. “Ada zat-zat oksidan yang memungkinkan endometriosis tumbuh di luar,” ungkapnya.
Dia juga mengingatkan, berhubungan seksual sebelum darah haid benar-benar bersih bisa menjadi penyebab. Pada saat orgasme, rahim mengalami kontraksi sehingga bisa mengakibatkan darah itu terdorong ke arah  saluran indung telur. “Tunggu sampai benar-benar bersih untuk mengurangi risiko ini,” sarannya.
Akibat endometriosis, terjadi banyak perlengketan jaringan, perubahan sistem imun, hambatan pembuahan (ovulasi), dan defek. “Semua itu mengakibatkan nyeri yang hebat dan infertilitas,” ujar Hanny. Semakin lanjut stadiumnya, derajat nyerinya semakin bertambah. Risiko ketidaksuburan pun makin tinggi.
Nyeri karena endometriosis akan mengakibatkan peradangan di jaringan lain yang ditempelinya. “Waktu menstruasi, kalau endometriosisnya di paru-paru, ya akan batuk darah. Kalau lengket di pusar, pusarnya bisa berdarah. Sebab, ia ikut luruh. Sistemnya sama, ikut perintah estrogen,” jelas Suhatno.
Karena itu, nyeri akan sangat luar biasa. Pada stadium lanjut, ketika sudah terjadi komplikasi, nyeri akan sepanjang masa, bukan hanya saat menstruasi.
Sementara itu, infertilitas terjadi karena saluran bertemunya sel telur dan sperma terhambat lantaran banyaknya perlengketan. “Untuk terjadi pembuahan, ibaratnya saluran ini kan harus seperti jalan tol. Nah, karena ada penyakit ini, fungsi dan kualitas oosit dan sperma berkurang karena banyak hambatannya,” jelas Hanny
Saat berhasil terjadi ovulasi pun, perkembangan embrio akan terhambat. Sebab, embrio jadi sering jatuh. Meski begitu, menurut dua dokter spesialis tersebut, penderita endometriosis tidak boleh patah arang untuk sembuh dan memiliki keturunan. Sejumlah treatment harus dijalani sejak dini. (puz/c5/jan)

           TIGA TREATMENT PENCEGAHAN

            PROF Suhatno menjelaskan bahwa penanganan pasien endometriosis difokuskan pada beberapa hal. Yakni, menghilangkan nyeri saat haid dan berhubungan suami istri, meningkatkan terjadinya kehamilan, serta mencegah kekambuhan. “Treatment-nya dengan obat-obatan antinyeri dan hormonal, operasi, serta kombinasi keduanya,” ungkap professor dari FK Unair tersebut.
            Menurut dia, penyakit itu termasuk menjengkelkan karena diderita seumur hidup. Penyakit tersebut juga kambuh-kambuhan sesuai dengan datangnya menstruasi. Treatment bisa diberikan dengan beberapa cara. Untuk pemberian obat-obatan hormonal, pasien akan dikondisikan seperti sedang hamil atau menopause sehingga mereka tidak menstruasi.“Kurang lebih selama enam bulan,” kata Suhatno.
            Selama masa tidak menstruasi itu, rasa nyeri tidak muncul. Lesi-lesi yang terjadi karena peradangan pun tidak semakin parah. “Karena itu, pada perempuan yang belum punya anak, pengobatannya pasti ya disuruh cepat-cepat hamil. Treatment sakitnya akan selaras dengan program kehamilan,” jelas dr Hanny.
            Ini seperti berlomba-lomba dengan penyakit. Saat menstruasi kembali, perjalanan endometriosis pun berlanjut. Dua tahun setelah melahirkan, bisa saja endometriosis itu kambuh dan penderita harus terapi hormon lagi.
            Terapi hormon yang dimaksud bisa diberikan dengan obat-obatan maupun suntikan. “Diantaranya, pil KB. Jangan khawatir tidak menstruasi lama karena bisa dikembalikan lagi,” ungkap Suhatno. Prosedur lain adalah pembedahan untuk membersihkan endometriosis yang menempel dimana-mana maupun menangani kista cokelat.
Apa itu kista cokelat? Suhatno menjelaskan, kista tersebut muncul karena ada penumpukan darah menstruasi di indung telur. Jika endometriosis ditunda untuk diterapi (hamil atau hormonal, Red), kista akan semakin besar sehingga harus dioperasi. Munculnya kista cokelat bahkan bisa mengarah ke komplikasi.
Ketika komplikasi terjadi, pengobatan radikal perlu ditempuh, yakni operasi pengangkatan. “Bagi mereka yang belum mempunyai anak, diusahakan meninggalkan bagian yang masih normal. Namun, jika sudah punya anak dan dirasa cukup, bisa angkat indung telur karena  dialah penghasil estrogen,” ungkap dr Hanny.(puz/c7/jan)

SUMBER: JAWAPOS, Kamis 16 April 2015

No comments:

Post a Comment