Mengenal Gejala, Sebab, dan Akibat
Endometriosis
NYERI HAID HEBAT, BISA GANGGU FERTILITAS
Setiap
dating bulan, seorang perempuan pasti mengalami rasa tidak nyaman hingga nyeri.
Jika rasa nyeri begitu hebat dan durasi menstruasi cukup panjang, bisa jadi itu
adalah gejala endometriosis. Takut berobat akan membuat kemungkinan
ketidaksuburan semakin tinggi.
NYERI hebat
saat menstruasi, bahkan mengakibatkan penderitanya pingsan, tidak bisa dianggap
wajar. Apalagi bila durasi menstruasi lebih dari tujuh hari. Bila hal tersebut
terjadi, ada kecurigaan ke arah endometriosis. Secara gambling, Prof dr H
Suhatno SpOG KOnk (RSUD dr Soetomo) dan dr Hanny Adi Tanzil Sugianto SpOG (RS
St Vincentius Surabaya) akan menjelaskannya.
Secara medis, Hanny menjelaskan, endometriosis adalah
adanya jaringan endometrium yang tumbuh dan berada di luar rongga rahim. “Perlu
dipahami dulu apa itu endometrium. Itu adalah lapisan terdalam dari rahim,
tempat melekatnya sel telur yang sudah dibuahi,” jelasnya.
Ketika telur
tidak dibuahi, endometrium yang menebal saat masa subur tersebut akan luruh.
Saat itulah perempuan mengalami menstruasi.
Pada penderita endometriosis, jaringan endometriumnya
tersebar di mana-mana. Bisa menempel di saluran telur, usus, bahkan paru-paru.
Beberapa ahli mengungkapkan sejumlah teori untuk menjawab pertanyaan mengapa
endometriosis bisa terjadi.
Pertama, tidak diketahui atau tanpa sebab karena bisa
saja dating karena faktor genetis dengan bakat yang diturunkan. “Selanjutnya,
regurgitasi dan disfungsi imun,” imbuh Hanny.
Pada teori regurgutasi, darah menstruasi yang seharusnya
keluar melalui vagina naik ke arah saluran telur hingga indung telur (ovarium).
Selanjutnya, darah menstruasi tersebut bisa “tumpah” ke rongga abdomen hingga
melekat di usus sampai paru-paru.
Pada
disfungsi imun, Prof Suhatno menjelaskan, ada zat oksidan yang muncul saat
kekebalan tubuh seseorang menurun. “Ada zat-zat oksidan yang memungkinkan
endometriosis tumbuh di luar,” ungkapnya.
Dia
juga mengingatkan, berhubungan seksual sebelum darah haid benar-benar bersih
bisa menjadi penyebab. Pada saat orgasme, rahim mengalami kontraksi sehingga
bisa mengakibatkan darah itu terdorong ke arah
saluran indung telur. “Tunggu sampai benar-benar bersih untuk mengurangi
risiko ini,” sarannya.
Akibat
endometriosis, terjadi banyak perlengketan jaringan, perubahan sistem imun, hambatan
pembuahan (ovulasi), dan defek. “Semua itu mengakibatkan nyeri yang hebat dan
infertilitas,” ujar Hanny. Semakin lanjut stadiumnya, derajat nyerinya semakin
bertambah. Risiko ketidaksuburan pun makin tinggi.
Nyeri
karena endometriosis akan mengakibatkan peradangan di jaringan lain yang
ditempelinya. “Waktu menstruasi, kalau endometriosisnya di paru-paru, ya akan
batuk darah. Kalau lengket di pusar, pusarnya bisa berdarah. Sebab, ia ikut
luruh. Sistemnya sama, ikut perintah estrogen,” jelas Suhatno.
Karena
itu, nyeri akan sangat luar biasa. Pada stadium lanjut, ketika sudah terjadi
komplikasi, nyeri akan sepanjang masa, bukan hanya saat menstruasi.
Sementara
itu, infertilitas terjadi karena saluran bertemunya sel telur dan sperma
terhambat lantaran banyaknya perlengketan. “Untuk terjadi pembuahan, ibaratnya
saluran ini kan harus seperti jalan
tol. Nah, karena ada penyakit ini, fungsi dan kualitas oosit dan sperma
berkurang karena banyak hambatannya,” jelas Hanny
Saat
berhasil terjadi ovulasi pun, perkembangan embrio akan terhambat. Sebab, embrio
jadi sering jatuh. Meski begitu, menurut dua dokter spesialis tersebut,
penderita endometriosis tidak boleh patah arang untuk sembuh dan memiliki
keturunan. Sejumlah treatment harus
dijalani sejak dini. (puz/c5/jan)
TIGA TREATMENT PENCEGAHAN
PROF Suhatno
menjelaskan bahwa penanganan pasien endometriosis difokuskan pada beberapa hal.
Yakni, menghilangkan nyeri saat haid dan berhubungan suami istri, meningkatkan
terjadinya kehamilan, serta mencegah kekambuhan. “Treatment-nya dengan obat-obatan antinyeri dan hormonal, operasi,
serta kombinasi keduanya,” ungkap professor dari FK Unair tersebut.
Menurut dia, penyakit itu termasuk menjengkelkan karena
diderita seumur hidup. Penyakit tersebut juga kambuh-kambuhan sesuai dengan
datangnya menstruasi. Treatment bisa diberikan dengan beberapa cara. Untuk pemberian obat-obatan hormonal,
pasien akan dikondisikan seperti sedang hamil atau menopause sehingga mereka
tidak menstruasi.“Kurang lebih selama enam bulan,” kata Suhatno.
Selama masa tidak menstruasi itu, rasa nyeri tidak
muncul. Lesi-lesi yang terjadi karena peradangan pun tidak semakin parah.
“Karena itu, pada perempuan yang belum punya anak, pengobatannya pasti ya
disuruh cepat-cepat hamil. Treatment sakitnya
akan selaras dengan program kehamilan,” jelas dr Hanny.
Ini seperti berlomba-lomba dengan penyakit. Saat
menstruasi kembali, perjalanan endometriosis pun berlanjut. Dua tahun setelah
melahirkan, bisa saja endometriosis itu kambuh dan penderita harus terapi
hormon lagi.
Terapi hormon yang dimaksud bisa diberikan dengan
obat-obatan maupun suntikan. “Diantaranya, pil KB. Jangan khawatir tidak
menstruasi lama karena bisa dikembalikan lagi,” ungkap Suhatno. Prosedur lain
adalah pembedahan untuk membersihkan endometriosis yang menempel dimana-mana
maupun menangani kista cokelat.
Apa
itu kista cokelat? Suhatno menjelaskan, kista tersebut muncul karena ada
penumpukan darah menstruasi di indung telur. Jika endometriosis ditunda untuk
diterapi (hamil atau hormonal, Red), kista akan semakin besar sehingga harus
dioperasi. Munculnya kista cokelat bahkan bisa mengarah ke komplikasi.
Ketika
komplikasi terjadi, pengobatan radikal perlu ditempuh, yakni operasi
pengangkatan. “Bagi mereka yang belum mempunyai anak, diusahakan meninggalkan
bagian yang masih normal. Namun, jika sudah punya anak dan dirasa cukup, bisa
angkat indung telur karena dialah
penghasil estrogen,” ungkap dr Hanny.(puz/c7/jan)
SUMBER:
JAWAPOS, Kamis 16 April 2015
No comments:
Post a Comment