Google search

Custom Search

Translate

Thursday, 21 May 2015

Osteoarthritis Bisa Serang Usia Muda


Osteoarthtritis Bisa Serang Usia Muda 

Atur Olahraga & Jaga Berat Badan


   Gangguan Imunitas pada RA

KETIKA ditelusuri ternyata penyebab nyeri sendi bukan faktor kelainan bentuk kaki, obesitas, maupun overused injury, akan dilakukan pengecekan laboratorium untuk memastikan penyebabnya. Bisa jadi, hal itu merupakan gejala  rheumatoid arthritis (RA).
RA merupakan gangguan imunitas tubuh di mana system kekebalan tubuh melawan jaringan yang sehat sehingga mengakibatkan peradangan yang merusak sendi. “Gejala sama-sama nyeri. Tetapi, pada rheumatoid diikuti peradangan pada banyak sendi sekaligus. Biasanya pada sendi-sendi kecil,” ujar dr Andre Pontoh SpOT(K) dari RS Pondok Indah Jakarta.
Gejala RA biasanya muncul ketika pagi atau setelah istirahat panjang. RA tidak dipengaruhi usia sehingga sanggat mungkin terjadi di usia muda. Selain itu, kejadiannya lebih sering ditemukan pada perempuan daripada laki-laki. Berbeda lagi dengan asam urat (gout) yang lebih sering menyerang laki-laki, terutama pada usia 40 atau 50-an.
Yang membedakan lagi pada gout, trigger- nya lebih mudah diidentifikasi. Misalnya, setelah makan makanan tinggi purin pemicu asam urat. Sementara itu, faktor  penyebab RA lebih tidak jelas. “Bisa karena stres atau kelelahan. Ketika imunitas membaik, nyerinya menghilang. Tapi, setalah itu bisa kambuh lagi dan berulang,” papar dr Michael Triangto SpKO.
Pada kondisi yang berat, RA dapat terjadi seumur hidup dan memengaruhi bagian tubuh lainnya selain sendi. Treatment yang dilakukan adalah pemberian obat anti radang, golongan nonsteroidal anti-inflamatory drug (NSAID). Relaksasi serta gerakan-gerakan terapi rendah stres juga bisa dilakukan untuk meredakan sakitnya. (nor/c15/jan)

Keluhan nyeri sendi pada lutut tidak hanya dirasakan para lansia, usia muda pun bisa kena. Penyebabnya, antara lain, olahraga berlebihan serta kelebihan berat badan. Selain itu, masih ada beberapa penyebab lainnya.
LUTUT merupakan bagian tubuh yang selalu digunakan dalam beraktivitas sehari-hari. Untuk berjalan, berlari, melompat, dan berbagai gerakan lainnya. Sendi lutut merupakan sendi yang “beban kerjanya” cukup berat. Yakni, bisa menahan beban hingga 3-4 kali berat tubuh. Gangguan pada sendi lutut pasti mengganggu aktivitas fisik.
Keluhan nyeri pada sendi lutut atau osteoarthritis kerap dialami orang yang berusia lanjut. Namun, kaum muda juga memiliki faktor  risiko mengalaminya lebih dini, jika ditunjang faktor-faktor berikut.
Pertama, kelainan bentuk kaki yang mengakibatkan tekanan pada lutut menjadi lebih besar. Misalnya, pada bentuk kaki flat yang diabaikan sejak kecil. Kedua, pemakaian alas kaki yang tidak tepat. Yang sering terjadi perempuan kerap menggunakan sepatu tidak berdasar kenyamanan, tetapi sekedar mode. Akibatnya, posisi kaki menjadi tidak tepat dan memberikan beban yang lebih besar terhadap sendi lutut.
Ketiga, penggunaan berlebihan (overused). Berdasar tren saat ini, banyaknya ajang lari mulai 5K, 10K, half marathon, marathon, bahkan ultra marathon. Banyak orang mengikuti ajang ini. Yang menjadi problem adalah ketika seseorang memaksakan diri untuk mengikuti lari melebihi kemampuan tubuhnya.
Dokter Michael Triangto SpKO menuturkan, ketika berlari,  ada entakan setiap kali mendaratkan depan ke permukaan tanah. Tekanan itu harus ditahan sendi lutut. “Apabila terjadi terus-menerus dan dalam jangka panjang, berisiko menimbulkan kerusakan pada sendi lutut,” ujarnya.
Olahraga ekstrem yang menekankan pada keberanian dan tantangan seperti parkour,gerakan melompat, dan berputar secara ekstrem berisiko menimbulkan gangguan pada sendi lutut. Perempuan jauh lebih berisiko mengalami nyeri sendi dibandingkan dengan laki-laki. Sebab, laki-laki memiliki struktur tubuh lebih tinggi dan besar serta otot dan tulang yang juga lebih kuat.
“Hal ini yang membuat daya tahan laki-laki lebih kuat dibanding perempuan. Belum lagi factor hormonal,” kata dokter dari @Slim+Health Sports Therapy itu.
Faktor berikutnya adalah obesitas. Berat tubuh berlebih memberikan tekanan yang lebih besar terhadap lutut. Makin berat kerja sendi lutut mengakibatkan repetitive injury. Alhasil, masih muda sudah terkena osteoarthritis karena obesitas.
Bagaimana mencegahnya? Sendi perlu dilatih. Karena itu, sejak usia muda, biasakan berolahraga. “Namun harus diwaspadai, olahraga jangan berlebihan. Harus terprogram, terukur, dilakukan teratur, dan berkesinambungan,” kata dr Michael. Olahraga yang praktis tidak melakukan gerakan eksplosif seperti golf juga bisa mengalami nyeri sendi lutut jika tidak dilakukan dengan tepat.
“Saat posisi drive , apalagi berulang sampai ratusan kali, terjadi tekanan terus-menerus pada sendi lutut,” jelasnya.
Profesi tertentu, antara lain, atlet atletik, renang gaya tertentu (gaya katak karena ada hentakan pada lutut), panjat tebing, sepeda, angkat beban, serta aktivitas lain yang melakukan gerakan repetitif pada lutut memiliki resiko lebih tinggi mengalami osteoarthritis. Bagaimana treatment yang dilakukan? Bergantung faktor penyebabnya.
Dokter Michael menjelaskan, jika penyebabnya kelainan bentuk kaki, dilakukankoreksi lebih dulu. Penggunaan alas kaki disesuaikan dengan kebutuhan. Obesitas diatasi dengan menurunkan berat badan yang bisa dibantu pemberian obat pereda nyeri. Jika karena overused atau repetitive injury, sembuhkan cederanya. Kemudian, bisa mengganti olahraga atau latihan yang dilakukan.
Misalnya, dari lari menjadi jogging atau jogging ke bersepeda. Sebab, ketika bersepeda, sebagian berat tubuh ditahan sadel sepeda sehingga tekanan lutut lebih minimal. Bisa juga berenang. Namun, sekali lagi, jenis olahraga disesuaikan dengan kondisi fisik dan kebutuhan setiap orang. (nor/c15/jan)

Pertolonagan Pertama
Ketika lutut terasa nyeri, segera hentikan aktivitas yang dilakukan, baik lari, jogging, melompat maupun berjalan.
• Cek dengan cara meraba bagian yang nyeri. Jika permukaan jadi lebih hangat daripada permukaan kulit di sekitarnya, berarti ada peradangan. Redakan dengan mengompresnya menggunakan es batu.
• Lalu, bisa dibebat supaya pembengkakan tidak meluas.
• Jika memungkinkan, tinggikan posisi kaki. Misalnya, berbaring dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala.
• Beri waktu satu atau dua hari. Seharusnya, tubuh bisa menyembuhkan sendiri dalam 1-2 hari. Namun, jika nyerinya makin hebat, jangan tunggu lama untuk menemui dokter terdekat. Lebih cepat ditangani pada golden period, recovery makin cepat. (nor/c15/jan)

WATCH OUT
® Olahraga berat yang tidak sesuai dengan kemampuan tubuh.
® Cedera lama, meski sudah dinyatakan sembuh, tetapi bisa muncul lagi menjadi nyeri jika terjadi tekanan di bagian yang sama.
® Penggunaan alas kaki yang tidak tepat.
® Berat  badan berlebih.
SUMBER: #JAWAPOS, Kamis 23 April 2015

No comments:

Post a Comment