Osteoarthtritis Bisa Serang Usia Muda
Atur Olahraga & Jaga Berat Badan
Gangguan Imunitas pada RA
KETIKA
ditelusuri
ternyata penyebab nyeri sendi bukan faktor kelainan bentuk kaki, obesitas,
maupun overused injury, akan
dilakukan pengecekan laboratorium untuk memastikan penyebabnya. Bisa jadi, hal
itu merupakan gejala rheumatoid arthritis (RA).
RA merupakan gangguan imunitas tubuh di mana system
kekebalan tubuh melawan jaringan yang sehat sehingga mengakibatkan peradangan
yang merusak sendi. “Gejala sama-sama nyeri. Tetapi, pada rheumatoid diikuti
peradangan pada banyak sendi sekaligus. Biasanya pada sendi-sendi kecil,” ujar
dr Andre Pontoh SpOT(K) dari RS Pondok Indah Jakarta.
Gejala RA biasanya muncul ketika pagi atau setelah
istirahat panjang. RA tidak dipengaruhi usia sehingga sanggat mungkin terjadi
di usia muda. Selain itu, kejadiannya lebih sering ditemukan pada perempuan
daripada laki-laki. Berbeda lagi dengan asam urat (gout) yang lebih sering
menyerang laki-laki, terutama pada usia 40 atau 50-an.
Yang membedakan lagi pada gout, trigger- nya lebih mudah diidentifikasi. Misalnya, setelah
makan makanan tinggi purin pemicu asam urat. Sementara itu, faktor penyebab RA lebih tidak jelas. “Bisa karena
stres atau kelelahan. Ketika imunitas membaik, nyerinya menghilang. Tapi,
setalah itu bisa kambuh lagi dan berulang,” papar dr Michael Triangto SpKO.
Pada kondisi yang berat, RA dapat terjadi seumur
hidup dan memengaruhi bagian tubuh lainnya selain sendi. Treatment yang dilakukan adalah pemberian obat anti radang, golongan
nonsteroidal anti-inflamatory drug (NSAID).
Relaksasi serta gerakan-gerakan terapi rendah stres juga bisa dilakukan untuk
meredakan sakitnya. (nor/c15/jan)
Keluhan nyeri sendi pada lutut tidak hanya dirasakan
para lansia, usia muda pun bisa kena. Penyebabnya, antara lain, olahraga
berlebihan serta kelebihan berat badan. Selain itu, masih ada beberapa penyebab
lainnya.
LUTUT
merupakan
bagian tubuh yang selalu digunakan dalam beraktivitas sehari-hari. Untuk
berjalan, berlari, melompat, dan berbagai gerakan lainnya. Sendi lutut
merupakan sendi yang “beban kerjanya” cukup berat. Yakni, bisa menahan beban
hingga 3-4 kali berat tubuh. Gangguan pada sendi lutut pasti mengganggu
aktivitas fisik.
Keluhan nyeri pada sendi lutut atau
osteoarthritis kerap dialami orang yang berusia lanjut. Namun, kaum muda juga
memiliki faktor risiko mengalaminya
lebih dini, jika ditunjang faktor-faktor berikut.
Pertama, kelainan bentuk kaki yang mengakibatkan
tekanan pada lutut menjadi lebih besar. Misalnya, pada bentuk kaki flat yang
diabaikan sejak kecil. Kedua, pemakaian alas kaki yang tidak tepat. Yang sering
terjadi perempuan kerap menggunakan sepatu tidak berdasar kenyamanan, tetapi
sekedar mode. Akibatnya, posisi kaki menjadi tidak tepat dan memberikan beban
yang lebih besar terhadap sendi lutut.
Ketiga, penggunaan berlebihan (overused). Berdasar tren saat ini, banyaknya ajang lari mulai 5K,
10K, half marathon, marathon, bahkan ultra marathon. Banyak orang mengikuti
ajang ini. Yang menjadi problem adalah ketika seseorang memaksakan diri untuk
mengikuti lari melebihi kemampuan tubuhnya.
Dokter Michael Triangto SpKO menuturkan, ketika
berlari, ada entakan setiap kali
mendaratkan depan ke permukaan tanah. Tekanan itu harus ditahan sendi lutut.
“Apabila terjadi terus-menerus dan dalam jangka panjang, berisiko menimbulkan
kerusakan pada sendi lutut,” ujarnya.
Olahraga ekstrem yang menekankan pada keberanian dan
tantangan seperti parkour,gerakan
melompat, dan berputar secara ekstrem berisiko menimbulkan gangguan pada sendi
lutut. Perempuan jauh lebih berisiko mengalami nyeri sendi dibandingkan dengan
laki-laki. Sebab, laki-laki memiliki struktur tubuh lebih tinggi dan besar
serta otot dan tulang yang juga lebih kuat.
“Hal ini yang membuat daya tahan laki-laki lebih
kuat dibanding perempuan. Belum lagi factor hormonal,” kata dokter dari
@Slim+Health Sports Therapy itu.
Faktor berikutnya adalah obesitas. Berat tubuh
berlebih memberikan tekanan yang lebih besar terhadap lutut. Makin berat kerja
sendi lutut mengakibatkan repetitive
injury. Alhasil, masih muda sudah terkena osteoarthritis karena obesitas.
Bagaimana mencegahnya? Sendi perlu dilatih. Karena
itu, sejak usia muda, biasakan berolahraga. “Namun harus diwaspadai, olahraga
jangan berlebihan. Harus terprogram, terukur, dilakukan teratur, dan
berkesinambungan,” kata dr Michael. Olahraga yang praktis tidak melakukan
gerakan eksplosif seperti golf juga bisa mengalami nyeri sendi lutut jika tidak
dilakukan dengan tepat.
“Saat posisi drive
, apalagi berulang sampai ratusan kali, terjadi tekanan terus-menerus pada
sendi lutut,” jelasnya.
Profesi tertentu, antara lain, atlet atletik, renang
gaya tertentu (gaya katak karena ada hentakan pada lutut), panjat tebing,
sepeda, angkat beban, serta aktivitas lain yang melakukan gerakan repetitif
pada lutut memiliki resiko lebih tinggi mengalami osteoarthritis. Bagaimana treatment yang dilakukan? Bergantung
faktor penyebabnya.
Dokter Michael menjelaskan, jika penyebabnya
kelainan bentuk kaki, dilakukankoreksi lebih dulu. Penggunaan alas kaki
disesuaikan dengan kebutuhan. Obesitas diatasi dengan menurunkan berat badan
yang bisa dibantu pemberian obat pereda nyeri. Jika karena overused atau repetitive
injury, sembuhkan cederanya. Kemudian, bisa mengganti olahraga atau latihan
yang dilakukan.
Misalnya, dari lari menjadi jogging atau jogging ke
bersepeda. Sebab, ketika bersepeda, sebagian berat tubuh ditahan sadel sepeda
sehingga tekanan lutut lebih minimal. Bisa juga berenang. Namun, sekali lagi,
jenis olahraga disesuaikan dengan kondisi fisik dan kebutuhan setiap orang. (nor/c15/jan)
Pertolonagan Pertama
• Ketika lutut terasa nyeri, segera hentikan aktivitas yang dilakukan,
baik lari, jogging, melompat maupun berjalan.
• Cek
dengan cara meraba bagian yang nyeri. Jika permukaan jadi lebih hangat daripada
permukaan kulit di sekitarnya, berarti ada peradangan. Redakan dengan
mengompresnya menggunakan es batu.
• Lalu,
bisa dibebat supaya pembengkakan tidak meluas.
• Jika
memungkinkan, tinggikan posisi kaki. Misalnya, berbaring dengan posisi kaki
lebih tinggi dari kepala.
• Beri
waktu satu atau dua hari. Seharusnya, tubuh bisa menyembuhkan sendiri dalam 1-2
hari. Namun, jika nyerinya makin hebat, jangan tunggu lama untuk menemui dokter
terdekat. Lebih cepat ditangani pada golden period, recovery makin
cepat. (nor/c15/jan)
WATCH OUT
® Olahraga berat yang tidak sesuai dengan
kemampuan tubuh.
® Cedera lama, meski sudah dinyatakan sembuh,
tetapi bisa muncul lagi menjadi nyeri jika terjadi tekanan di bagian yang sama.
® Penggunaan alas kaki yang tidak tepat.
® Berat badan berlebih.
SUMBER:
#JAWAPOS, Kamis 23 April 2015
No comments:
Post a Comment