Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 30 January 2016

Bedah Estetika



Daya Tahan Operasi Plastik

Sedot Lemak Gampang Balik

Tampil cantik jauh dari tanda-tanda penuaan menjadi dambaan banyak perempuan. Namun, langkah yang diambil sering instan, yaitu operasi plastik atau bedah estetika. Pertimbangkan keuntungan dan risikonya sebelum memutuskan.
            BILA dulu perempuan cenderung sembunyi-sembunyi menjalani bedah plastik, beberapa tahun terakhir berubah. Mereka lebih terbuka mengungkapkannya. Belum lama ini, pedangdut Nita Thalia membuat kejutan dengan penampilan barunya yang nyaris tidak dikenali.


            Wajah tirus, dagu runcing, dan hidung mancung ala gadis Korea. Nita mengakui bahwa wajahnya berubah drastis karena dirinya menjalani operasi plastik atau bedah estetika.
            Sebenarnya, apa saja yang termasuk bedah estetika? Bedah estetika merupakan bagian dari bedah plastik, “saudara” bedah rekonstruksi. Dokter Sidik Setiamihardja SpB SpBP-RE, pendiri RS Bina Estetika, Jakarta, mengungkapkan, yang termasuk bedah estetika atau kecantikan, antara lain, menumbuhkan rambut, memperbaiki hidung dan dagu, membentuk kelopak mata, menyamarkan kantong mata (kelopak mata bawah), mengencangkan kulit wajah dan leher, liposuction, tummy tuck,  serta memperbaiki payudara.
“Bedah plastik dikerjakan berdasar anatomi. Misalnya, kelopak mata tidak ada lipatan, ingin dibuat. Diterangkan kepada pasien, keadaannya begini, lalu apa yang diinginkan?” papar dokter senior tersebut.
Case  lain, misalnya, pasien ingin memancungkan hidung. Dokter akan menggali alasan serta keinginan pasien dan menjelaskan bahan serta prosedur operasi. Bisa mengggunakan silikon padat atau tulang rawan iga atau tulang rawan telinga. “Artinya, akan ada  dua kali pembedahan,” urainya. Yaitu pembedahan di area donor dan area yang ingin di ubah.
Hasilnya pun akan berbeda. Bila menggunakan silikon padat,hidung akan mancung karena “dipaksa”. Kulit hidung akan terlihat lebih tipis dan “berbayang”. Silikon padat tidak bisa menyatu dengan jaringan tubuh.
Berbeda dengan memakai bahan dari anggota badan yang lama-kelamaan menyatu dan tampak lebih natural. “Silikon padat pun sebaiknya tetap dilapisi tulang rawan bila ingin hasilnya lebih optimal,” ungkapnya.
Lantas berapa lama hasil operasi plastik bertahan? Apakah suatu saat kembali ke bentuk semula atau efeknya “memudar?”. “Bisa saja. Misalnya, face lifting. Hasilnya, kerutan tersamarkan. Si pasien pun happy . Tetapi, kan proses penuaan pun terus berjalan,” kata Sidik. Alhasil 6-7 tahun keriput bermunculan.
Untuk operasi bibir, karena umumnya bibir tidak mengalami pengenduran, durasinya relatif lebih lama. Bisa lebih dari 10 tahun. Terkadang sebelum jangka waktu itu, ada pasien yang kembali datang ke dokter bedah karena ingin mengubah bentuknya. Ya, bentuk wajah yang menjadi acuan pasien kerap berubah. Biasanya mengikuti tren fashion atau sosok idola mereka.
Durasi operasi dagu pun sekitar 10 tahun. Begitu pula pembentukan kelopak mata. Daya tahannya cukup lama, bisa 10-12 tahun. Bisa jadi pada masa itu si pasien merasa kelopak matanya mengecil lagi. “Problemnya bukan di kelopak mata. Namun, kulit wajah yang makin kendur membuat kelopak tampak mengecil,” tuturnya.
Solusinya, treatment yang dikerjakan  berikutnya adalah face lifting, selain mengurangi kerutan, kelopak mata “muncul” kembali. Durasi operasi payudara bisa lebih lama, mencapai 20 tahun. “Asalkan, kulitnya tidak mudah kendur dan tidak ada stretch marks. Kalau ada, biasanya mudah turun,” ucapnya.
Sementara itu, operasi plastik yang daya tahannya cukup singkat adalah liposuction atau sedot lemak. Biasanya, sekitar enam bulan, kadar lemak bisa naik lagi. ”Kalau nggak jaga makan, ya mudah balik,” lanjut ayah lima anak tersebut.
Setelah “masa berlaku” terlewati, umumnya pasien memerlukan perbaikan treatrment lanjutan. Bergantung pola hidup dan pereferensi mereka.


Spesialis bedah plastik RS Bedah Surabaya dr Agus Santoso Budi SpBP-RE menjelaskan, daya tahan operasi plastik sejatinya bergantung pada bahan yang digunakan. Misalnya, operasi hidung. Bila menggunakan tulang rawan septumnasi dalam hidung, tulang rawan telinga, dan tulang rawan iga, hasilnya bisa awet sepanjang hidup pasien.
Untuk bahan silikon padat atau implant, hasil operasi bisa bertahan 10-15 tahun. Bila setelah itu bentuknya terlihat tidak seberapa bagus, ada dua pilihan. “Dokter kembali menggantinya dengan silikon padat yang baru atau mengambilnya dengan risiko hidung kembali ke bentuk semula,” papar Agus. (nor/ina/c5/ayi)

Sumber: Jawa Pos, 13 Nopember 2015

Friday, 29 January 2016

DAUN KATUK

Daun Katuk Tingkatkan Kecerdasan


            SURABAYA- Daun katuk (Sauropus androgynus) selama ini dipercaya bermanfaat untuk melancarkan produksi air susu ibu. Ternyata daun katuk juga terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan sel-sel otak. Hasil penelitian Nurul Kamariyah membuktikan hal itu.
            Dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) itu mengatakan, berdasar penelitiannya, konsumsi ekstrak daun katuk mampu meningkatkan pertumbuhan sel-sel saraf neuroglia di otak. Dengan kata lain, ekstrak daun katuk terbukti meningkatkan kecerdasan.


            Memang, penelitian tersebut baru diujicobakan pada tikus laboraturium. Tahap penelitian belum sampai pada pengujian ke manusia. Meski demikian, tikus memiliki kelengkapan organ dan kebutuhan nutrisi serta biokimia yang cukup dekat atau hampir sama dengan manusia.
            Dalam penelitian, Nurul membagi tiga kelompok perlakuan. Di setiap kelompok, ada enam tikus. Kelompok pertama, tikus-tikus diberi ekstrak daun katuk dengan dosis 24 mg per hari. Kelompok kedua diberi dosis 48 mg dan kelompok ketiga diberi dosis 78 mg per hari. “Satu tikus kontrol yang tidak diberi ekstrak,” tuturnya.
            Perkembangan tikus dipantau sejak kehamilan, melahirkan, hingga hari ke-11 pasca melahirkan. Kondisi darah dan hormon induk tikus pun dipantau. Pada hari ke-12, sel saraf neuroglia anak tikus diperiksa. Hasilnya, setiap kelompok perlakuan menunjukkan pertumbuhan sel otak yang berbeda. Pada tikus kontrol yang tidak mendapat asupan daun katuk, jaringan sel otaknya berjumlah 29 sel.
            Jumlah sel meningkat seiring dengan dosis ekstrak daun katuk yang diberikan. Pada kelompok pertama, diberikan dosis 24 mg, kata Nurul, jumlah sel otak meningkat  menjadi 31 sel. Sedangkan pada kelompok kedua dengan dosis 48 mg, jumlah sel otaknya menjadi 38 sel. “Yang kelompok ketiga dengan dosis 78 mg meningkat jadi 50 sel,” jelasnya.
            Berdasar hasil penelitian itu, ekstrak daun katuk bagus dikonsumsi bayi. Terutama pada masa golden period pertumbuhan otak di usia 0-5 tahun. Untuk menjadi sebuah produk konsumsi, imbuh dia, harus dilakukan penelitian lanjutan dan uji laboraturium. “Sudah ada yang memproduksi ekstrak daun katuk. Tapi, penelitian ini dilakukan untuk melihat daun  katuk tidak hanya memperlancar produksi ASI, tapi juga bagus untuk sel-sel otak,” jelasnya.
            Saat ini hasil penelitian S-2 itu diproses untuk mendapatkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Jika tidak ada aral melintang, pihaknya juga akan mengembangkan penelitian tersebut. “Ke depan, dilihat pengaruhnya ke kecerdasan apa,” tutur alumnus magister kesehatan Universitas Airlangga tersebut. (puj/c7/noe)

Sumber: Jawa Pos, 8 Januari 2016

Thursday, 28 January 2016

Insulin Pintar untuk Diabetes



         PARA ilmuwan di Inggris berharap agar “insulin pintar” yang tengah diuji coba dapat segera merevolusi cara pengelolaan penyakit diabetes. Alih-alih melakukan tes darah berulang dan memberikan suntikan sepanjang hari untuk mengecek kadar gula dalam darah, dosis tunggal insulin pintar akan terus beredar dalam tubuh dan mengaktifkannya jika diperlukan.
           Selama ini penderita diabetes tipe 1 tidak dapat membuat atau menggunakan insulin alami dari tubuhnya sendiri. Mereka bergantung pada suntikan insulin untuk tetap baik-baik saja. Tanpa suntikan insulin, gula darah mereka akan sangat tinggi.


Tetapi faktanya, menyuntikkan insulin juga bisa membuat kadar gula darah terlalu rendah. Para penderita diabetes tipe 1 pun harus secara teratur memeriksa kadar glukosa darah untuk memastikan bahwa mereka di zona yang tepat.
Nah, Dr Danny Chou dari Massachusets Institute of Technology telah melakukan ujicoba “insulin pintar” yang dikembangkan bersama timnya di sebuah laboratorium. Insulin tersebut dirancang untuk secara otomatis aktif saat gula darah terlalu tinggi dan mati lagi ketika kembali normal. (BBC/ndi/c15/dos)

Sumber: Jawa Pos, 12 Februari 2015

Wednesday, 27 January 2016

MEDICINE

OBAT
Oleh: dr. H Rasyid M Tauhid al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF
Ada sejumlah obat yang dibilang mahal, sementara yang lain dijual “murah”. Kok bisa demikian? Untuk “adil” kita perlu tahu mengapa menjadi demikian. Untuk sementara kita perlu tahu bahwa membuat obat tidaklah murah.


Upaya pengobatan
            Mungkin di awal-awal dulu orang yang sakit demikian pasrahnya atau tidak tahu harus berbuat apa, lalu diam saja menunggu nasib. Kemudian orang berusaha “berobat” dengan meminta tolong kepada orang yang dianggapnya lebih tahu, lebih pengalaman, misalnya ke dukun. Sesuai dengan pengalamannya “penolong” ini ada yang memijit-mijit, memberikan minuman disertai mantra atau do’a, demgam ataupun tanpa memberikan ramu-ramuan untuk diminum, dioleskan, diasapkan, ataupun lainnya lagi. Setelah orang lebih tahu tentang penyakit dan penyebabnya, maka berkembanglah upaya mencari kesembuhan itu dengan jamu, obat, alat, ataupun tindakan. Semua itu bukan tanpa masalah karena nyatanya si “penolong” itu ada yang berilmu, tetapi ada pula yang hanya pandai berpura-pura lalu memberikan pertolongan yang salahataupun bahkan mungkin mematikan.
Tahap pencarian Obat
            Ketika orang tertarik atau terdorong mencari obat untuk suatu penyakit. Awal-awal perlu diketahui dulu  perihal penyakit ini. Banyak ahli yang terkait yang harus dilibatkan. Dokter mencari apanya yang sakit, apa mula penyebabnya, apa pokok penyebabnya, apa yang terjadi pada tubuh penderita, bagaimana prosesnya sampai terjadinya sakit itu. Ahli kesehatan masyarakat mempelajari sejauh mana penyebarannya dan seberapa cepatnya, untuk membari pertimbangan perlu atau tidaknya dicarikan obatnya. Ahli mikrobiologi menelusuri apa macam penyebab penyakit, kuman ataukah bukan; kalau kuman, yang macam apa (virus, bakteri, parasit, kuman dan sebagainya). Jika kuman sebagai penyebabnya, apakah sudah ada obat yang dapat mengatasi kuman itu ataukah harus dicarikan obat lebih banyak ahli lagi, termasuk ahli kimia, ahli statistik. Ahli kimia mempelajari struktur kimia obat-obat yang ada dan khasiatnya. Ahli statistik ini juga ikut menentukan apakah layak meloloskan obat yang “menyembuhkan” 100 (seratus) orang penggunanya tetapi gagal menolong 1000 (seribu) penderita lain yang sama-sama menggunakannya.
            Setelah disimpulkan perlunya obat baru, maka dicarilah obat “baru” itu dari menelusuri catatan sifat-sifat obat yang ada, kalau-kalau ada yang kerjanya mirip dengan kerja obat yang diharapkan. Misalnya obat kangker dicari dari obat-obat yang dikenal mengganggu, menghambat pertumbuhan, ataupun mematikan sel muda lalu mengubah takaran obatnya, mengubah “sedikit” struktur kimianya sehingga sifat atau cara kerjanya berubah. Catatan pengobatan tradisional (“kuno”, jamu) dapat juga ditelusuri untuk mencari bahan-bahan yang mungkin berkhasiat. Curare (obat untuk pereda kejang otot penderita tetanus ataupun pada operasi, melumpuhkan) diperoleh dari kajian atas ramuan “racun” yang dioleskan pada ujung panah untuk berburu binatang buas, untuk melumpuhkannya. Pil Kina ditelusuri dari kesembuhan banyak penderita demam jika diberi minum air dari suatu kolam, yang ternyata banyak merendam pohon kina yang tumbang didalamnya. Setelah dikaji diketahuilah bahan aktifnya, kemudian kina dibuat secara sintesis di pabrik kimia.


            “Obat baru” tidak boleh langsung digunakan pada orang yang sakit; harus dicobakan dulu pada hewan coba dan dievaluasi dengan benar secara paripurna. Ini dilakukan misalnya untuk mengetahui apakah obat itu memang berkhasiat ataukah tidak, adakah efek sampingnya, sejauh mana kemungkinan beracun, termasuk pada takaran berapa obat ini “dapat” mematikan (Lethal Dose). Pada dasarnya obat adalah “racun” yang jika diberikan berlebih dapat mematikan, jika diberikan kurang akan menjadi tidak ada khasiatnya.
            Jika suatu “obat” sudah diyakini ada khasiatnya dan dianggap cukup aman, maka barulah “dicobakan” pada manusia. Untuk ini ada tahap-tahap pengujian yang harus dilalui.
            Tahap pertama adalah mencobakan pada 20-80 orang sukarelawan yang sehat untuk melihat apakah obat itu memunculkan gejala keracunan, ringan ataupun berat, meskipun pada hewan dianggap aman. Pengujian ini perlu pengamatan yang dilakukan selama satu tahunan. Jika disimpulkan bahwa obat aman, maka obat diterapkan pada relawan yang memang menderita penyakit yang obatnya dicarikan itu; untuk ini diambil 100-300 orang penderita dan diamati selama dua tahun, dengan member takaran (dosis) yang bervariasi dengan harapan dapat diketahui dosis mana yang paling tepat (baca: menyembuhkan) untuk pengobatan.
            Untuk lebih teliti lagi dalam mengamati kalau-kalau ada efek sampingnya, tahap berikutnya obat diterapkan pada 1000-3000 relawan yang memang menderita sakit yang dimaksud; mereka ini harus yang dapat dipantau oleh rumah sakit ataupun klinik yang diamanahi; pengamatan dilakukan selama sekitar tiga tahun.
            Semua pengamatan dan hasilnya didokumentasikan secara sempurna untuk digunakan sebagai dasar untuk nantinya menyatakan bahwa obat itu boleh ataukah tidakdigunakan untuk umum. Untuk memperoleh izin ini pejabat pemerintah yang bersangkutan perlu waktu sekitar enam bulan karena harus “membaca” sekitar 100.000 halaman laporannya. Kadang-kadang untuk ini perlu waktu 30 bulan, misalnya karena ada fase yang harus dicermati lagi dengan keharusan pendapatan ulang.
            Jika sudah lolos dari tahap ini maka obat dapat dipasarkan dengan kelengkapannya, yaitu pedoman atau petunjuk untuk para dokter (meliputi misalnya susunan kimianya, cara kerja, cara pakai, kewaspadaan efek samping, kewaspadaan jika menggunakannya bersama dengan obat lain) maupun petunjuk untuk pasien (meliputi misalnya kegunaan obat, aturan pakai, efek samping). Petunjuk ini yang paling sederhana berupa keterangan pada bungkus obat, atau lembar sisipan yang ada dalam kotak obat; yang lebih lengkap lagi berupa buku tentang obat itu. Tahap ini dimaksudkan untuk memantau apakah ada efek samping yang muncul karena pemakaian jangka panjang, ataupun efek samping yang baru muncul jauh di kemudian hari, di samping jaminan kesembuhannya.
Sampai di sini bukan berarti urusan sudah selesai; obat harus dipantau berkepanjangan dengan kewajiban perusahaan produsen obat untuk menyampaikan laporannya secara berkala terkait dengan proses kendali mutu baku produksi obat yang baik, kalau-kalau muncul efek samping ataupun efek lanjut jauh setelah orang memekainya. Dalam kaitan dengan ini “korban” dapat saja menuntut ganti rugi kepada produsen jika diyakini bahwa yang dideritanya adalah kesalahan produsen, misalnya yang kurang memberi informasi tentang obat yang dijualnya; tuntutan serupa dapat juga dilakukan ke dokter ataupun rumah sakit yaitu jika ada dugaan malpraktek.
Biaya menemukan Obat baru
Dari uraian di atas dapat diperkirakan bahwa untuk munculnya obat baru diperlukan waktu lama; rata-rata perlu waktu sekitar 12 tahun. Lamanya ini tergantung pada permasalahan yang terkait dan “nasib”; ada yang untuk menghasilkan suatu obat perlu waktu pendek ada pula yang perlu waktu jauh lebih panjang (baca: gagal, tak berhasil). Kegagalan itu dapat karena proses kajian sudah harus dihentikan di awal-awal oleh sudah tampaknya tanda-tanda “membahayakan” (clinical hold), semisal jika manfaatnya sangat diragukan, ada efek samping yang sangat membahayakan, keamanan yang diragukan. Kadang-kadang pencarian obat harus berhenti karena kehabisan biaya, terputusnya pembiayaan karena sponsor tak ada lagi.
Seperti yang dapat dibayangkan bahwa sudah banyaknya pihak yang harus dilibatkan ketika obat dicobakan pada manusia; cukup jelas bahwa itu semua memerlukan banyak biaya. Di Amerika Serikat untuk dihasilkannya satu obat dapat menghabiskan dana modal sekitar US$ 359 juta (sekitar 4,5 milyar rupiah); modal itu harus dapat “ditarik kembali” (ditambah keuntungannya!) dari hasil penjualan obat nantinya. Padahal dari 5000 usulan kajian obat yang “disiapkan” itu mungkin hanya 5 saja yang berhasil tuntas, yang akhirnya boleh diproduksi untuk digunakan umum. Oleh karena itu saja dapat kita pahami bahwa kemudian obat ada yang yang terpaksa dijual dengan harga yang “sangat” mahal, yang tak tertebus lagi jika tidak dibayari oleh asuransi.
Tantangan biaya yang besar itu (baca juga:keuntungan yang dapat ditarik) maka pada setiap tahap keberhasilan selalu dimintakan hak paten (HKI). Adapun obat-obat murah adalah obat yang dapat “bebas” diproduksi oleh penemunya dilepaskan hak patennya dengan berbagai macam alasannya; obat inilah yang menjadi murah harganya.


Penutup
Tahap-tahap “pengujian” untuk obat itu juga berlaku untuk alat, sarana, dan cara yang digunakan untuk pengobatan. Semua tahapan itu pada dasarnya adalah untuk melindungi penderita; menjaga agar obat, alat, maupun cara pengobatan yang digunakan penderita benar-benar bermanfaat. Walaupun pada dasarnya tahap-tahapnya sama, tata cara memunculkan obat baru diberbagai Negara dapat saja berbeda. Di Negara maju, institusi yang menangani hal ini (misalnya FDA di Amerika Serikat) cukup kuat, bekerja sama dengan sejumlah laboraturium besar. Perannya sangat menentukan karena terkait dengan pengobatan ini hokum ditegakkan dengan ketat. Di Indonesia pengawasan atas obat, cara dan alat kesehatan masih jauh dari melindungi masyarakat pemakai.
Semoga uraian di atas bermanfaat.
Sumber: MPA no 351/ Shafar-Rabi’ul Awal/ 1436 H/ Desember 2015


            

Tuesday, 26 January 2016

EVENING ANXIETY. Apakah itu?



Menyiasati Gangguan Evening Anxiety

 ADA beberapa orang yang memiliki gangguan mental berupa kecemasan saat malam alias evening anxiety. “Orang –orang tersebut tidak mampu mengolah mental dan pikiran sehingga mengalami resah berkepanjangan,” ujar Katharina Star PhD, pakar kesehatan mental dan panic disorder.
Hal itu tentu harus diantisipasi. Sebab, resah atau cemas berkepanjangan akan menguras tenaga serta memperparah stres.
Karena itu, sepulang kerja, coba sugesti diri untuk melupakan sejenak permasalahan sepanjang hari tersebut. Metode self-talk bisa sangat berguna. Katakan kepada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, masalah bisa diselesaikan besok. “Tidak perlu membawa semua beban pikiran dari kantor ke rumah,” kata Star.

Alternatif lain, coba metode relaksasi. Dengarkan lagu yang disukai, tonton saluran televisi favorit, atau lakukan aktivitas yang menyenangkan. Hal-hal yang disukai bisa mengalihkan pikiran untuk semalam sebelum kembali berkutat dengan aktivitas esok hari. “Camkan dalam pikiran bahwa masalah besok bukan untuk hari ini,” ujar Star.
Olahraga juga bisa menjadi pilihan yang tepat. Karena kondisi tubuh sudah lelah, coba pilih olahraga yang ringan tetapi fun. Senam aerobic yang diiringi music favorit, berenang atau jalan santai, hingga yoga adalah beberapa pilihan tepat.
Yang tak kalah penting adalah mengubah mindset. Orang yang gelisah hingga malam cenderung berpikir bahwa semua, termasuk masalah pada masa depan, harus diselesaikan sekarang. Tentu saja itu tidak baik. Jangan memaksakan untuk menyelesaikan masalah masa depan pada masa kini. Gunakan masa kini untuk  bersyukur.
“Sepulang kerja, coba biasakan waktu bersama orang-orang terdekat dan berpikir bahwa kita sedang bahagia,” ungkap Star. (AboutHealth/len/c5/jan)

Sumber: Jawa Pos, 1 Januari 2016

Monday, 25 January 2016

FOR KIDS: Sedia Payung Sebelum Hujan

Bersiap Menghadapi Pergantian Musim

Sedia Payung Sebelum Hujan

Indonesia sudah memasuki musim hujan pada Desember. Akhirnya, setelah berpanas-panas di musim kemarau, kita harus bersiap kalau hujan turun. Apa yang harus kita persiapkan ya, teman-teman?
                TIK tik tik bunyi hujan di atas genting. Tahu kan lirik lagu itu? Lagu ciptaan mendiang Ibu Soed itu menggambarkan suasana ketika hujan. Bayangkan, jalan di luar rumah, lapangan di sekolah, dan taman bermain tempat kalian bersenang-senang basah oleh air hujan. Belum lagi banyak genangan air. Ketika hujan, biasanya aka nada petir dengan suara keras.
            Waduh, bisa-bisa kita basah karena kehujanan. Supaya nggak  kebasahan, kita perlu mempersiapkan peralatan khusus. Pertama, jangan lupa bawa payung. Seperti kata pepatah,  sedia payung sebelum hujan, lebih baik membawa payung saat musim hujan. Sebab, bisa jadi hujan turun tiba-tiba. Awalnya cerah, tiba-tiba mendung dan hujan deras.
            Payungnya jangan yang punya orang dewasa ya. Sekarang banyak kok  payung khusus untuk anak kecil. Warna serta gambarnya pun lucu dan beragam. Ada superheroes, princess, atau tokoh kartun yang imut. Payung kalian tambah menarik deh.
Kita juga harus mempersiapkan jas hujan. Benda itu akan memberikan perlindungan menyeluruh terhadap tubuh kita. Mulai kepala sampai lutut, semua bisa terlindungi dari hujan, perhatikan bahannya ya. Pilihlah bahan yang kedap air supaya badan kalian tidak basah ketika kehujanan.
Sama seperti payung, sekarang ada jas hujan untuk anak-anak. Ada yang berbentuk mantel (terusan). Ada pula yang terdiri atas atasan dan bawahan. Warna dan gambarnya pun bermacam-macam. Jas hujan juga bisa dilipat dan dibawa dengan menggunakan tas khusus. Praktis dan tidak merepotkan.
Nah, kalau mau lebih aman, kalian juga bisa pakai sepatu bot saat hujan. Sepatu ini terbuat dari karet yang bisa melindungi bagian kaki kalian.  Jadi, tidak perlu khawatir kaki basah.
Hmm, kalau lagi hujan, kita nggak  bisa main diluar deh. Jangan sedih dulu, teman. Walaupun tidak bisa main di luar, kita tetap bisa lho bersenang-senang. Tapi, tetap di dalam rumah. Coba kalian lihat di dalam. Coba kalian lihat di dalam rumah kalian. Pasti ada suatu hal yang asyik buat dilakukan.
Misalnya, kalian bisa menonton film, entah di televisi atau DVD. Nontonnya bersama orang tua, kakak, atau adik. Tapi, hati-hati ya. Kalau ada dinding atau atap yang bocor di dekat televisi, lebih baik kalian tidak menyalakan televisi dulu. Sebab, sangat berbahaya kalau air bertemu dengan listrik. Bisa terjadi korsleting dan kebakaran.
Nah, biasanya nih, mama-mama kita sering membuat penganan dan minuman hangat yang lezat kalau hujan. Ada gorengan, sup, the, susu, dan roti. Coba deh, kalian menyantap sajian hangat di tengah cuaca dingin. Hmmmm… sedap! Daripada main hujan-hujanan di luar, kan  lebih enak menyantap sajian hangat buatan mama. (len/c19/jan)

Tetap Jaga Daya Tahan Tubuh

                HAYOO, siapa saja yang suka hujan-hujanan? Memang asyik kalau bermain air. Tapi, hujan-hujanan itu nggak bagus lho buat kesehatan. Soalnya, air hujan belum tentu bersih. Bisa jadi ada kuman yang bikin kalian sakit.
Menurut dokter Arief W. Rosli dari RSIA Kendangsari Surabaya, hujan-hujanan bisa membuat kita terkena berbagai penyakit. “Penyakitnya mulai diaresampai flu atau demam,” kata dokter Arief. Kalau kita sakit, tentu kegiatan sehari-hari akan terganggu.
Yuk, kita pelajari lebih lanjut kenapa air hujan bisa mngakibatkan penyakit-penyakit tersebut. Air hujan yang belum tentu bersih bisa tertelan oleh kita. Selanjutnya, kuman di air tersebut bakal mengakibatkan penyakit saat masuk ke tubuh. Diare pun terjadi. Yang salah satunya ditandai dengan sakit perut. Aduhh.
Cuaca yang dingin saat hujan juga bisa menurunkan daya tahan tubuh kita. Akhirnya, kita bisa terkena demam dan flu. Bersin-bersin, badan panas, sakit kepala, dan batuk pilek pun kita alami.

Dokter Arief juga bilang, kalau musim hujan, penyakit demam berdarah sangat sering terjadi. “Genangan air akibat hujan bisa menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, pembawa penyakit demam berdarah,” jelasnya. Kalau daya tahan tubuh kita lemah, kita juga bisa kena penyakit tersebut lho.  Karena itu kita harus menjaga daya tahan tubuh kita supaya badan tetap fit dan sehat. (len/c22/jan)

Yuk Dipraktikkan!

Musim hujan bisa menyebabkan penyakit, maka jaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Makan makanan bergizi dan istirahat cukup. Kalau kalian sedang di luar, lebih baik cari tempat berteduh jika hujan turun. Untuk mencegah demam berdarah, yuk kita bersih-bersih. Singkirkan barang bekas yang bisa jadi tempat nyamuk berkembang biak. Supaya tetap nyaman di cuaca dingin musim hujan, sediakan baju hangat jika hendak bepergian. Jangan buang sampah sembarangan untuk mencegah terjadinya banjir.
Sumber: Jawa Pos, 3 Desember 2015

Golden Period 3 Hours for Stroke

Jaga agar Tidak Muncul Lagi



                YANG lebih penting lagi, manajemen stroke harus komprehensif dan paripurna. Karena stroke sering merupakan komplikasi dari penyakit-penyakit dasar lainnya, penanganannya melibatkan tim dokter yang di antaranya spesialis bedah saraf, spesialis penyakit dalam, dan rehab medik sejak awal.
                Tujuannya, pasien lebih cepat sembuh serta meminimalkan risiko kecacatan. Pasca tindakan (baik operasi maupun nonoperasi), masih ada terapi-terapi lain. Setelah kondisi kritis tertangani, yaitu penyumbatan sudah lewat atau perdarahan sudah tertangani, pasien harus dijaga betul agar serangan stroke tidak muncul lagi. Sebab, faktor risiko terjadinya stoke ulangan 10 kali lipat lebih tinggi.
                Akan lebih bagus bila dilakukan skrining stroke sebelum serangan itu datang. Pemeriksaan awal melalui uji laboraturium, MRI, dan magnetic restonance angiography (MRA) untuk melihat pembuluh darah di kepala.
                Sebab, ada kondisi kelainan struktur pembuluh darah sejak lahir. Lalu, kondisi aneurisma atau menipisnya dinding pembuluh darah karena kotoran yang menempel (plak) pada dinding pembuluh darah terlepas sehingga dinding sel tipis, menggelembung, dan akhirnya pecah. Hal itulah yang kerap memicu terjadinya stroke di usia muda.
                Menjaga pola makan yang seimbang (eat well), berolahraga teratur (move more), mengurangi faktor predisposisi stroke, tidak merokok, mengatur jam tidur, dan istirahat yang tepat dapat menghindarkan kita dari anacaman stroke. (nor/c19/dos)
Sumber: Jawa Pos


Data riset kesehatan dasar (riskesdas) menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi stroke dari 8,3 per 1.000 pada riskesdas 2007 menjadi 12, 1 per 1.000 pada riskesdas 2013.
Risiko stroke ulangan 10 kali lebih tinggi pada seseorang yang pernah mengalami serangan stroke.
Berisiko Tinggi:   - pola makan dan hidup tidak seimbang
- hiperkolesterol
- Hipertensi
- Diabetes
- Perokok
Pencegahan  STROKE
-          Hidup seimbang. Atur pola makan dan olahraga.
-          Olahraga tidak hanya membuat tubuh bugar, tetapi juga memperbaiki metabolisme tubuh serta mengatur siklus hormon. Apalagi bila dilakukan rutin. Siklus hormon yang bagus termasuk berkaitan dengan pemecahan kolesterol, kapan saat menyimpan HDL serta LDL.
-          Tidak merokok. Atur jam kerja agar tidak melebihi kapasitas tubuh serta jam tidur yang tepat.
INGAT INI! FAST untuk mengenali serangan stroke yang munculnya mendadak.
1.      Face drooping. Apakah salah satu sisi wajah drooping (terkulai)? Minta orang tersebut untuk tersenyum. Bila terlihat kekakuan hingga tidak bisa tersenyum simetris, mungkin itu tanda-tanda stroke.
2.      Arm weakness. Tangan tiba-tiba lemah hingga tidak bisa digerakkan atau terjatuh.
3.      Speech difficulty. Kesulitan mengeja atau menirukan ucapan dengan tepat.
4.      Time. Segera bawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas penanganan stroke dengan golden period (tiga jam)


Saturday, 23 January 2016

Response Time Minimalkan Risiko Kecacatan Karena Stroke

Golden Period 3 Jam



Stroke merupakan kondisi darurat medis karena sifatnya mendadak dengan risiko kecacatan hingga kematian. Untuk meminimalkan risiko tersebut, response time menjadi faktor terpenting, stroke kini juga banyak menyerang usia muda karena lifestyle yang tidak baik.

DULU, stroke seolah dianggap sebagai penyakit orang tua. Orang baru aware  yang terhadap ancaman stroke ketika berusia lanjut. Namun, faktanya banyak orang masih berusia produktif yang terserang stroke. Bagaimana bisa?
Dokter Gigih Pramono SpBS menerangkan, stroke merupakan gangguan pembuluh darah otak yang sifatnya mendadak. Kondisi itu hampir selalu merupakan komplikasi dari penyakit dasar. Apa saja? Bisa hipertensi, hiperkolesterol, diabetes, dan lainnya. Dulu, orang baru aware terhadap stroke di usia tua. Sebab, seiring dengan pertumbuhan umur, elastisitas pembuluh darah semakin berkurang sehingga lebih mudah terjadi serangan pembuluh darah.

“Namun, perlu diingat bahwa stroke merupakan penyakit metabolisme yang sangat erat kaitannya dengan gaya hidup. Karena gaya hidup yang berubah, makanan, kurang berolahraga, usia muda pun rawan serangan stroke,” paparnya dalam gathering Brain & Spine Community di Jakarta (30/5).
Bahayanya lagi, karena yang diserang adalah otak yang merupakan pusat motorik dan sensorik tubuh, stroke diiringi dengan risiko sulit menggerakkan anggota tubuh, sulit berbicara, hingga kelumpuhan.
Ada dua jenis stroke, yaitu stroke iskemik akibat penyumbatan serta hemoragik karena pendarahan. Stroke karena penyumbatan mengakibatkan asupan darah ke otak terhenti. Kondisi tersebut merupakan masa kritis. Begitu terjadi sumbatan, penderita harus mendapat pertolongan cepat. “Golden period –nya tiga jam untuk melakukan intervensi yang tujuannya membuka sumbatan. Semakin cepat response time, risiko kematian atau kecacatan bisa dihindari,” ucap dr Gigih.
Hanya, orang sering tidak aware  gejala stroke sehingga tidak segera ditangani. Gejalanya selalu datang tiba-tiba. Wajah, lengan, atau kaki (biasanya di salah satu sisi tubuh) mendadak mati rasa. Penglihatan mendadak menghilang pada satu atau dua mata. Mendadak sakit kepala hebat tanpa tahu sebabnya, sulit berbicara, dan kehilangan keseimbangan. Itu semua harus diwaspadai. Secepatnya penderita menuju rumah sakit yang memiliki fasilitas perawatan stroke, yaitu CT scan dan MRI untuk diagnosis, dokter ahli saraf, serta bedah saraf.
“Lewat dari periode tiga jam, terlalu berbahaya untuk dilakukan tindakan. Bagian otak yang tidak mendapat asupan darah itu menjadi rusak. Bila dipaksakan dibobol, berisiko perdarahan,” urai anggota tim dokter Comprehensive Brain & Spine Center tersebut.
Bila masih dalam masa golden period, sebelum tiga jam, masih dimungkinkan untuk dilakukan embolitik, yaitu menghancurkan sumbatan itu mengakibatkan pembengkakan di otak hingga menekan otak, diambil tindakan dekompresi untuk memberikan ruang pada otak.
Stroke karena perdarahan dipicu pecahnya pembuluh darah otak. Secara klinis, gejalanya lebih berat daripada stoke akibat penyumbatan. Serangan tiba-tiba yang diikuti dengan penurunan kesadaran. Prinsipnya, penderita segera dibawa ke rumah sakit untuk didiagnonis dengan CT scan atau MRI. Tujuannya, mengetahui letak perdarahan.
Kapan harus diambil tindakan operasi? Dokter akan memutuskan berdasar diagnosis, diantaranya dilihat dari volume perdarahan serta letak perdarahan. Yaitu, saat volume perdarahan mencapai 25 cc. “Bila lokasinya di daerah yang sangat krusial seperti kantong cairan otak, meski volume perdarahan tidak mencapai 25 cc, dilakukan tindakan operasi karena bisa mengakibatkan saluran cairan otak buntu,” jelas ayah dua anak tersebut.
Response time dan diagnosis merupakan hal terpenting untuk menentukan tindakan yang harus diambil demi menyelamatkan pasien pada masa kritis stroke, menghindari ancaman kematian, dan risiko kecacatan. (nor/c19/dos)

Sumber: Jawa Pos

Friday, 22 January 2016

Konsumsi Ikan Cegah Depresi

Konsumsi Ikan Cegah Depresi


            SEBUAH penelitian terbaru menunjukkan, konsumsi ikan mampu mengurangi risiko depresi. Riset yang dilakukan Medical College of Qingdao University, Shandong, Tiongkok, tersebut mengungkapkan, kandungan asam lemak dan Omega-3 dalam ikan mampu memengaruhi struktur membran otak dan produksi hormon.

            Studi yang diterbitkan dalam journal of Epidemiology & Community Health tersebut mengklaim, risiko depresi berkurang hingga 16 persen pada perempuan. Pada pria, kemungkinan munculnya gangguan emosi turun hingga 20 persen. Selain itu, kandungan nutrisi pada ikan mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh.
            “Kandungan n-3 PUFA pada ikan mampu memengaruhi aktivitas dopamin dan serotonin. Keduanya mampu mencegah timbulnya depresi,” ungkap Profesor Dongfeng Zhang, kepala peneliti Medical College of Qingdao University, Shandong. Meski demikian, belum ada penelitian lebih lanjut mengenal ketertarikan langsung antara konsumsi ikan dan perubahan mood.

            Dia menjelaskan masih butuh penelitian lebih lanjut tentang jenis dan porsi ikan untuk menangkal risiko. Apalagi, menurut survei terkini WHO, 350 juta penduduk dunia rentan terkena gangguan kejiwaan pada 2020. “Butuh penelitian lebih spesifik yang meng- cover sampel dari berbagai  latar belakang,” kata Zhang dikutip dari Daily Mail.
            Penelitian yang dilakuakan Zhang merupakan studi kolaborasi. Penemuannya berdasar pada 16 artikel yang melibatkan 150.278 partisipan. Mayoritas respondennya merupakan penduduk Eropa. (fam/c23/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 15 September 2015  



Tuesday, 19 January 2016

Tangkal Lemak Jahat 2



Deteksi dengan Rutin Check-Up


JENIS LEMAK JAHAT :
Visceral fat. Yakni, sel lemak yang menumpuk di dalam perut. Sering juga disebut lemak perut. Lemak itu bisa memicu diabetes, fatty liver,hipertensi, stroke, dan serangan jantung.
Kolesterol dalam darah. Yang disebut jahat adalah low-density lipoprotein (LDL) karena mudah melekat di dinding pembuluh darah.
Nilai Optimal
LDL                              = di bawah 100
Trigliserida                  =kurang dari 150
HDL                             = minimal 40
Kolesterol Total           = kurang dari 200

SERING kali tidak ada gejala yang dirasakan meski jumlah kolesterol jahat dalam tubuh tergolong tinggi. Alhasil, kondisi tersebut kerap diabaikan. Padahal, itulah alarm sebelum penyakit-penyakit berbahaya muncul. Bagaimana mendeteksinya? “Early warning-nya, medical check-up,” ujar dr Samuel Oetoro.
Lakukan cek medis minimal sekali setahun. Termasuk cek kolesterol dalam darah. Ada empat komponen di dalamnya. Kolesterol HDL, LDL, trigliserida, dan kolesterol total.


            Kadar high-density lipoprotein (HDL) menunjukkan seberapa besar kolesterol baik dalam darah. HDL berperan membawa kolesterol dalam darah menuju hati untuk diproses sehingga menghindari terjadinya penumpukan kolesterol pada saluran darah. Sebaliknya, low-density lipoprotein (LDL) merupakan kolesterol jahat dalam darah. Bila jumlahnya berlebih,kolesterol akan menumpuk pada dinding pembuluh darah.
            Trigliserida adalah lemak darah yang jumlahnya harus dijaga agar tidak berlebih. Ketika jumlahnya berlebih, risiko penyakit jantung dan diabetes akan meningkat. Total kolesterol menunjukkan jumlah HDL, LDL, dan trigliserida.
            Jika berdasar hasil tes kesehatan tersebut LDL tinggi, begitu pula trigliserida dan kolesterol total, lakukan terapi dengan menekan 5S seperti yang dipaparkan dr Samuel Oetoro. “Satu bulan taati benar-benar. Atau, bila perlu dua bulan, lalu lakukan pemeriksaan lab kembali,” tuturnya.
            Bila hasilnya turun, berarti faktor pola hidup menjadi penyebab tingginya kadar lemak jahat dalam tubuh. Namun, kalau hasilnya belum turun juga, bisa jadi penyebabnya adalah faktor genetis. Atau juga bisa disebabkan fungsi hati dalam mensintesis kolesterol cepat. Sebaliknya, degadrasinya lambat. Pada kondisi seperti itu, dokter akan memberikan obat. “Kolesterol juga diperlukan tubuh dalam dalam membentuk hormon. Tapi, jumlahnya harus dijaga agar tidak berlebih,” tandas dr Samuel. (nor/c14/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 22 September 2015