Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 30 January 2016

Bedah Estetika



Daya Tahan Operasi Plastik

Sedot Lemak Gampang Balik

Tampil cantik jauh dari tanda-tanda penuaan menjadi dambaan banyak perempuan. Namun, langkah yang diambil sering instan, yaitu operasi plastik atau bedah estetika. Pertimbangkan keuntungan dan risikonya sebelum memutuskan.
            BILA dulu perempuan cenderung sembunyi-sembunyi menjalani bedah plastik, beberapa tahun terakhir berubah. Mereka lebih terbuka mengungkapkannya. Belum lama ini, pedangdut Nita Thalia membuat kejutan dengan penampilan barunya yang nyaris tidak dikenali.


            Wajah tirus, dagu runcing, dan hidung mancung ala gadis Korea. Nita mengakui bahwa wajahnya berubah drastis karena dirinya menjalani operasi plastik atau bedah estetika.
            Sebenarnya, apa saja yang termasuk bedah estetika? Bedah estetika merupakan bagian dari bedah plastik, “saudara” bedah rekonstruksi. Dokter Sidik Setiamihardja SpB SpBP-RE, pendiri RS Bina Estetika, Jakarta, mengungkapkan, yang termasuk bedah estetika atau kecantikan, antara lain, menumbuhkan rambut, memperbaiki hidung dan dagu, membentuk kelopak mata, menyamarkan kantong mata (kelopak mata bawah), mengencangkan kulit wajah dan leher, liposuction, tummy tuck,  serta memperbaiki payudara.
“Bedah plastik dikerjakan berdasar anatomi. Misalnya, kelopak mata tidak ada lipatan, ingin dibuat. Diterangkan kepada pasien, keadaannya begini, lalu apa yang diinginkan?” papar dokter senior tersebut.
Case  lain, misalnya, pasien ingin memancungkan hidung. Dokter akan menggali alasan serta keinginan pasien dan menjelaskan bahan serta prosedur operasi. Bisa mengggunakan silikon padat atau tulang rawan iga atau tulang rawan telinga. “Artinya, akan ada  dua kali pembedahan,” urainya. Yaitu pembedahan di area donor dan area yang ingin di ubah.
Hasilnya pun akan berbeda. Bila menggunakan silikon padat,hidung akan mancung karena “dipaksa”. Kulit hidung akan terlihat lebih tipis dan “berbayang”. Silikon padat tidak bisa menyatu dengan jaringan tubuh.
Berbeda dengan memakai bahan dari anggota badan yang lama-kelamaan menyatu dan tampak lebih natural. “Silikon padat pun sebaiknya tetap dilapisi tulang rawan bila ingin hasilnya lebih optimal,” ungkapnya.
Lantas berapa lama hasil operasi plastik bertahan? Apakah suatu saat kembali ke bentuk semula atau efeknya “memudar?”. “Bisa saja. Misalnya, face lifting. Hasilnya, kerutan tersamarkan. Si pasien pun happy . Tetapi, kan proses penuaan pun terus berjalan,” kata Sidik. Alhasil 6-7 tahun keriput bermunculan.
Untuk operasi bibir, karena umumnya bibir tidak mengalami pengenduran, durasinya relatif lebih lama. Bisa lebih dari 10 tahun. Terkadang sebelum jangka waktu itu, ada pasien yang kembali datang ke dokter bedah karena ingin mengubah bentuknya. Ya, bentuk wajah yang menjadi acuan pasien kerap berubah. Biasanya mengikuti tren fashion atau sosok idola mereka.
Durasi operasi dagu pun sekitar 10 tahun. Begitu pula pembentukan kelopak mata. Daya tahannya cukup lama, bisa 10-12 tahun. Bisa jadi pada masa itu si pasien merasa kelopak matanya mengecil lagi. “Problemnya bukan di kelopak mata. Namun, kulit wajah yang makin kendur membuat kelopak tampak mengecil,” tuturnya.
Solusinya, treatment yang dikerjakan  berikutnya adalah face lifting, selain mengurangi kerutan, kelopak mata “muncul” kembali. Durasi operasi payudara bisa lebih lama, mencapai 20 tahun. “Asalkan, kulitnya tidak mudah kendur dan tidak ada stretch marks. Kalau ada, biasanya mudah turun,” ucapnya.
Sementara itu, operasi plastik yang daya tahannya cukup singkat adalah liposuction atau sedot lemak. Biasanya, sekitar enam bulan, kadar lemak bisa naik lagi. ”Kalau nggak jaga makan, ya mudah balik,” lanjut ayah lima anak tersebut.
Setelah “masa berlaku” terlewati, umumnya pasien memerlukan perbaikan treatrment lanjutan. Bergantung pola hidup dan pereferensi mereka.


Spesialis bedah plastik RS Bedah Surabaya dr Agus Santoso Budi SpBP-RE menjelaskan, daya tahan operasi plastik sejatinya bergantung pada bahan yang digunakan. Misalnya, operasi hidung. Bila menggunakan tulang rawan septumnasi dalam hidung, tulang rawan telinga, dan tulang rawan iga, hasilnya bisa awet sepanjang hidup pasien.
Untuk bahan silikon padat atau implant, hasil operasi bisa bertahan 10-15 tahun. Bila setelah itu bentuknya terlihat tidak seberapa bagus, ada dua pilihan. “Dokter kembali menggantinya dengan silikon padat yang baru atau mengambilnya dengan risiko hidung kembali ke bentuk semula,” papar Agus. (nor/ina/c5/ayi)

Sumber: Jawa Pos, 13 Nopember 2015

No comments:

Post a Comment