Google search

Custom Search

Translate

Monday, 1 February 2016

Kecantikan

Bedah Estetika 2

Tak Semua Permintaan Bisa Diluluskan



PROSES operasi plastik memang tidak sederhana. Spesialis bedah plastik RS Bedah Surabaya dr Agus Santoso Budi SpBP-RE menuturkan bahwa yang paling kompleks adalah operasi dagu. Wawancara hingga operasi bisa berlangsung tiga bulan. Belum lagi masa penyembuhannya.  
Yang membuat kompleks, pada dagu adalah dokter harus melakukan pemotongan. “Istilahnya, menggergaji tulang dagu hingga lancip seperti yang diinginkan pasien,” terangnya.



Saking kompleksnya, lanjut dokter yang juga berpraktik di RSUD dr Soetomo tersebut, tidak semua dokter bedah plastik berani melakukannya. Ditambah lagi setelah operasi dagu, struktur wajah akan berubah. Karena itu, Agus biasanya lebih memprioritaskan pasien dengan indikasi medis seperti mandibular overgrowth (dagu terlalu panjang hingga gigi bawah lebih maju daripada gigi atas) atau pasien hiplofasi (dagu menonjol ke dalam).
Selebihnya, memang ada pasien-pasien yang atas dasar estetika ingin melancipkan dagu. Namun, Agus menegaskan bahwa idealnya para dokter bedah plastik tidak serta-merta menerima permintaan pasien. “Kami hanya menerima permintaan yang masuk akal,” tegas Agus.
Artinya, yang tidak masuk akal seperti ingin memancungkan hidung dengan tinggi tidak logis atau yang ketagihan operasi plastik tidak akan dilayani. Menurut Agus, keinginan atau permintaan tersebut tidak layak dipenuhi. Sebab, bukannya membantu, dokter malah menjerumuskan pasien.
Bagaimana dengan metode tanam benang di klinik-klinik kecantikan? Apakah juga bisa dibilang operasi plastik? Agus menyebutkan iya. Konsep bedah plastik terbagi dua, yaitu rekonstruksi dan estetika. Metode tanam benang masuk ke dalam estetika yang bertujuan mengubah wajah atau tubuh lebih baik. “Usaha seperti itu punya maksud mengubah menjadi lebih baik, termasuk bedah plastik,” papar dokter yang juga menjabat Humas Perhimpunan Ahli Bedah Plastik  Indonesia tersebut.
Hanya, bila berniat tanam benang, Agus menyarankan masyarakat selektif. Jangan sampai ikut-ikutan tanam benang, tetapi tidak mendapat hasil efektif. ” Ada benang yang biasa, ada benang yang bergerigi. Semua punya hasil yang berbeda,” jelas dia.


Begitu pun tanam benang yang menggunakan jarum untuk memasukkan benang. Biasanya ada risiko ke depannya pasien tidak boleh terlalu ekspresif karena struktur wajahnya akan terpengaruh.
Namun, jika benang yang ditanam dengan teknik open  atau membuka jaringan tubuh, pasien tidak perlu khawatir lantaran ekspresi wajahnya tidak memengaruhi struktur wajah. “Sebelum  operasi, pasien harus kritis bertanya tentang efektivitas, risiko, serta efek samping jangka pendek dan jangka panjang,” tandas Agus. (ina/c14/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 13 Nopember 2015

No comments:

Post a Comment