Riset
Mahkotadewa :
Setahap
Menuju
Panasea Mujarab
Mahkotadewa
yang awalnya hanya dikenal oleh kalanagan Keraton Mangkunegaran Solo dan
Yogyakarta, kini menjadi obat mujarab bagi semua orang. Bukan hanya pengalaman
empiris, tapi terbukti secara ilmiah.
INNOCENTIA baru saja menapaki jalan di
luar sekolah ketika mobil berkecepatan tinggi menabraknya, pelajar kelas II SMU
Muhammadiyah, Ciputat, Jakarta Selatan itu berlumur darah dan segera dilarikan
ke rumahsakit. Bulan berikutnya, kondisi tubuh Inno kian memburuk. Sebuah
benjolan tumbuh di kepala belakang.
Setiap kali sakit datang mengimpit, kepala
terasa panas, pusing, dan sakit tak terperi. Kerap darah mengalir deras dari
hidung. Untuk merdam sakit itu Inno acap memasukkan kepala ke mesin pendingin.
Pascatabrakan itu, Inno 5 kali anfal pada Januari, Mei, Juni, Juli, dan Agustus
2005. Untuk memastikan penyakit, ia di CT-Scan. Hasilnya? Inno mengidap kanker
otak stadium III A.
Vonis itu membuat ibunya, Ida
Anastasia takut, cemas, panik, dan stres. Berbagai pengobatan alternatif
dicobanya. Dari kerabat, Ida memperoleh informasi tentang pengobatan herbal
mahkotadewa. Inno yang sempat dibawa ke kamar mayat karena dinilai meninggal
itu akhirnya mengonsumsi rebusan mahkotadewa 3 kali sehari. Toh, pengobatan itu
hampir saja membuatnya putus asa karena benjolan pecah menjadi luka berlubang.
Namun, saat luka mongering, Inno diCT-scan. Hasilnya menunjukkan tidak
ditemukan lagi sel kanker di otak.
Rosalina (31) juga merasakan khasiat
mahkotadewa. Warga Cakung, Jakarta Timur, itu mengalami haid berkepanjangan
hingga 3 bulan. Hasil pemeriksaan dokter Rumah Sakit Saint Mary, Jakarta,
menunjukkan ia mengidap kista ovarium dan mioma. Selama 6 bulan ia mengkonsumsi
2 kapsul mahkotadewa 2 kali sehari. Hasilnya, mioma dan kista ovariumnya
lenyap.
Manusiawi
Innocwntia dan Rosalina hanya bagian
kecil dari responden uji klinis pragmatis (UKP) yang ditempuh PT Mahkotadewa
Indonesia serta pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi. Menurut
direktur utama PT Mahkotadewa Indonesia. Hengki Purnama, uji klinis berlangsung
selama setahun. Ada 1.200 pasien yang terlibat dalam uji itu. Mereka mengidap
kanker payudara (840 pasien), kanker otak (120), dan kanker rahim (240).
Dr Ahkam Subroto, periset Puslitbang
Bioteknologi menuturkan UKP menjadi tren baru di dunia medis dewasa ini.
Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Israel, Kanada, dan
Australia mengadopsi sistem itu. Pertimbangannya, UKP dinilai lebih manusiawi
ketimbang uji klinis konvensional (UKK). Dalam UKP pasien diperlakukan lebih
manusiawi dan komprehensif. Berbeda dengan UKK.
Perkembangan yang dialami oleh pasien
dicatat sehingga, “Arsip pasien bisa segini,” ujar Dr Ahkam Subroto sembari
merenggangkan ibu jari dan telunjuk sejauh 8cm. dengan penanganan terpadu seperti
itu, UKP mahkotadewa memberikan hasil menggembirakan. “Tingkat kesembuhannya
amat tinggi,” ujar Ahkam. Di Indonesia sebagian dokter memang belum mengakui
UKP. Namun, itu bukan masalah. “Yang tidak diakui oleh dokter, belum tentu tak
ilmiah. Sebaliknya yang diakui oleh dokter pun belum tentu ilmiah,” ujar Ahkam.
Antikanker
Banyak riset ilmiah membuktikan
keampuhan mahkotadewa. Prof Dr Akio Mimura, guru besar tamu di Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta, meriset di Tokyo dan membuktikan mahkotadewa antikanker.
Pada uji in vitro, kanker leukemia
terbukti mengalami apoptosis. Artinya Phalaeria
macrocarpa itu mengembalikan sifat kealamiahan sel. Sel akhirnya mati
dengan program bunuh diri. Riset antikanker lain dilakukan Fajar Tito dan rekan
dari Fakuktas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Mereka membuktikan crown of god itu antikanker dengan cara
antiangiogenik. Angiogenesis merupakan peristiwa pertumbuhan pembuluh darah
baru, yang memungkinkan sel kanker mendapatkan pasokan nutrisi dan oksigen, sehingga
dapat terus bertahan hidup.
Uji penghambatan angiogenesis
dilakukan dengan menginduksi sel kanker ke embrio ayam umur 8-9 hari dalam
tujuh kelompok perlakuan. Kelompok I sebagai kontrol, II kontrol bFGF, III kontrol
bFGF + pelarut DMSO 0,8%, IV, V, VI, dan VII sebagai kelompok terakhir diberi
bFGF 30 ng dan ekstrak buah mahkotadewa berdosis masing-masing 10 μg/ml, 40 μg/ml, 80μg/ml, dan 160 μg/ml yang diinjeksi melalui lubang.
Setelah diinkubasi selam 3 hari –
saat itu umur embrio 12 hari – telur dibuka dan isi telur dikeluarkan. Kemudian
membran korio alantois yang melekat pada cangkang diamati secara makroskopik
dan mikroskopik. Jumlah pembuluh darah yang terbentuk dihitung. Hasilnya,
ekstrak buah mahkotadewa memberikan aktivitas antiangiogenetik dengan
presentase penghambatan berturut-turut untuk masing-masing kadar yang dicobakan
adalah 10,44 %, 25,37 %, 39,40 %, dan 58,50 %.
Luas
Di masyarakat, penggunaan mahkotadewa
tak Cuma sebatas pengobat kanker. Secara empiris, masyarakat telah menggunakannya
sebagai panasea mujarab penakluk berbagai penyakit. Saying, cara pemakaian dan
dosis yang tepat masih dalam coba-coba dan tidak terstandar.
Itu sebabnya penelitian tentang
tingkat toksisitas alias ambang batas aman mengkonsumsi mahkotadewa dilakukan.
Risetnya dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen
Kesehatan. Toksisitas akut ekstrak buah mahkotadewa menghasilkan nilai
infus 67,32 mg/20 g bb
(bobot tubuh) mencit; nilai
ekstrak etanol adalah
38,14 mg/20 g bb mencit.
Sedangkan uji terhadap perasan buah
mahkotadewa yang diberikan oral selama 14 hari dengan dosis 1,41 g/kg bb; 3,53
g/kg bb; 8,82 g/kg bb; 22,05 g/kg bb memiliki perbedaan hasil. Semua tikus
mengalami perubahan pada hati berupa hiperemi, pada usus terlihat adanya erosi
epitel villi intestinal, pada organ ginjal terlihat adanya hemoragi. Tandanya,
perasan daging buah mahkotadewa mempengaruhi sistem vaskuler berupa peningkatan
aliran darah dan peningkatan permeabilitas vasa. Namun, kerusakan jaringan itu
bisa disembuhkan dengan penghentian konsumsi.
Uji toksisitas kembali dilakukan dengan
mahkotadewa dilarutkan dalam ekstrak air, ekstrak etanol 30%, dan ekstrak air
tanpa pemanasan. Dosis oralnya 2.500 mg/g bb atau 100 kali dosis yang biasa
dikonsumsi manusia (DK). Hasilnya, tidak mengalami kematian selama 24 jam
pertama hingga 14 hari masa percobaan. Lantaran menurut klasifikasi toksisitas
akut pada hewan
sebesar 200 –2.000 mg/kg
termasuk tingkat yang berbahaya bagi mencit, berarti ekstrak mahkotadewa tidak
berbahaya. Tidak adanya kematian pada dosis 500 kali DK (12.500 mg/kg bb) dan
1.000 kali DK (25.000 mg/kg bb) memperteguh keyakinan mahkotadewa tidak toksik.
Antidiabetes
Penelitian khasiat mahkotadewa sebagai
antidiabetes dilakukan Puslitbang Farmasi dan Obat tradisional. Hasilnya,
ekstrak buah mahkotadewa dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus diabet pada
dosis 110 mg/200 g bb atau setara dengan glikazid 1,4 mg/ 200 g bb. Itu
diperkuat oleh riset Ahmad Muhtadi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjajaran.
Sebanyak 250 mg/kg bb, 500 mg/kg bb, dan
1.000 mg/kg bb ekstrak mahkotadewa diberikan pada tikus percobaan. Sebagai
pembanding, obat diabetes klorpropamid dengan dosis 100mg/kg bb. Hasilnya,
ekstrak etanol buah mahkotadewa dengan dosis1.000mg/kg bb memiliki aktivitas
antidiabetes tertinggi (40,83%), diikuti dosis 500mg/kg bb (37,56%), dan dosis
250mg/kg bb (22,14%).
Berbekal penelitian itu, Lestari Handayani
dan Suhartmiati dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan
Kesehatan, melakukan uji klinis. Sebanyak tujuh belas pasien diabetes mellitus
mengikuti pengobatan selama 4 minggu dan dilakukan observasi klinik berupa
pemeriksaan fisik dan laboraturium seperti kadar glukosa darah, serum keratin,
SGOT, dan SGPT. Hasilnya, konsumsi kapsul ekstrak mahkotadewa tidak manjur
sebagai penurun glukosa darah.
Penjaga hati
Jika mahkotadewa dicampur dengan
herba lain seperti sambiloto Andrographis
paniculata, daun salam Syzygium
polyanthum, dan umbi daun dewa Gynura
segetum, menurunkan kadar gula darah hingga 58,14 mg/dL setelah 3 minggu
konsumsi. Bahkan, ketika ramuan dibarengi dengan obat antidiabetik oral (ADO)
sulfonylurea, selama 2 minggu konsumsi kadar gula darah turun hingga 91,48 ± 72,11 mg/dL. Nilai itu dua kali lebih cepat disbanding
konsumsi sulfobilurea tunggal, yang hanya menurunkan 59 mg/dL. Toh, meski digabung, fungsi hati dan
ginjal tetap aman. Sebab, mahkotadewa juga terbukti memiliki aktivitas
antilever.
Itu dibuktikan oleh Yosephine
Liesworo P dan Luciana Kuswibawati. Mereka meneliti efek hepatoprotektif pada
mencit jantan terinduksi parasetamol. Parasetamol salah satu senyawa model yang
dapat digunakan untuk menggambarkan kerusakan hati bila dosis berlebih.
Sejumlah 35 mencit jantan dibagi menjadi 7 kelompok. Pemberian hingga 250 mg
selama 6 hari berturut-turut dilakukan secara oral sekali sehari.
Pada hari ke-7 semua mencit diambil
darahnya melaui sinus orbitalis mata setelah rentang waktu 24 jam untuk
ditetapkan aktivitas GPT-serumnya. Mencit dikorbankan untuk diambil hatinya
untuk dibuat preparat hispatologis, kemudian diskoring menurut tingkat
kerusakan. Data aktivitas GPT-serum dianalisis secara ststistik. Data persen
efek hepatoprotektif dianalisis guna mencari kisaran HpD50. Hasil penelitian
menunjukkan ekstrak daging buah mahkotadewa dosis 4,938; 3,527; 2,519 dan 1,799
g/kg bb diberikan secara oral mampu menurunkan aktivitas GPT-serum
berturut-turut sebesar 51,80%, 59,62%, 73,66%, dan 83,98% terhadap kontrol
positif parasetamol. Itulah sederet riset ilmiah yang membuktikan keampuhan
mahkotadewa. (Vina Fitriani)
Sumber: Majalah TRUBUS Gold
Edition-II, 2 Desember 2007
picture: www.bio-asli.com