Google search

Custom Search

Translate

Friday, 1 July 2016

Mahkotadewa

Riset Mahkotadewa :
Setahap Menuju
Panasea Mujarab
Mahkotadewa yang awalnya hanya dikenal oleh kalanagan Keraton Mangkunegaran Solo dan Yogyakarta, kini menjadi obat mujarab bagi semua orang. Bukan hanya pengalaman empiris, tapi terbukti secara ilmiah.
            INNOCENTIA baru saja menapaki jalan di luar sekolah ketika mobil berkecepatan tinggi menabraknya, pelajar kelas II SMU Muhammadiyah, Ciputat, Jakarta Selatan itu berlumur darah dan segera dilarikan ke rumahsakit. Bulan berikutnya, kondisi tubuh Inno kian memburuk. Sebuah benjolan tumbuh di kepala belakang.
 Setiap kali sakit datang mengimpit, kepala terasa panas, pusing, dan sakit tak terperi. Kerap darah mengalir deras dari hidung. Untuk merdam sakit itu Inno acap memasukkan kepala ke mesin pendingin. Pascatabrakan itu, Inno 5 kali anfal pada Januari, Mei, Juni, Juli, dan Agustus 2005. Untuk memastikan penyakit, ia di CT-Scan. Hasilnya? Inno mengidap kanker otak stadium III A.
Vonis itu membuat ibunya, Ida Anastasia takut, cemas, panik, dan stres. Berbagai pengobatan alternatif dicobanya. Dari kerabat, Ida memperoleh informasi tentang pengobatan herbal mahkotadewa. Inno yang sempat dibawa ke kamar mayat karena dinilai meninggal itu akhirnya mengonsumsi rebusan mahkotadewa 3 kali sehari. Toh, pengobatan itu hampir saja membuatnya putus asa karena benjolan pecah menjadi luka berlubang. Namun, saat luka mongering, Inno diCT-scan. Hasilnya menunjukkan tidak ditemukan lagi sel kanker di otak.
Rosalina (31) juga merasakan khasiat mahkotadewa. Warga Cakung, Jakarta Timur, itu mengalami haid berkepanjangan hingga 3 bulan. Hasil pemeriksaan dokter Rumah Sakit Saint Mary, Jakarta, menunjukkan ia mengidap kista ovarium dan mioma. Selama 6 bulan ia mengkonsumsi 2 kapsul mahkotadewa 2 kali sehari. Hasilnya, mioma dan kista ovariumnya lenyap.
Manusiawi
Innocwntia dan Rosalina hanya bagian kecil dari responden uji klinis pragmatis (UKP) yang ditempuh PT Mahkotadewa Indonesia serta pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi. Menurut direktur utama PT Mahkotadewa Indonesia. Hengki Purnama, uji klinis berlangsung selama setahun. Ada 1.200 pasien yang terlibat dalam uji itu. Mereka mengidap kanker payudara (840 pasien), kanker otak (120), dan kanker rahim (240).
Dr Ahkam Subroto, periset Puslitbang Bioteknologi menuturkan UKP menjadi tren baru di dunia medis dewasa ini. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Israel, Kanada, dan Australia mengadopsi sistem itu. Pertimbangannya, UKP dinilai lebih manusiawi ketimbang uji klinis konvensional (UKK). Dalam UKP pasien diperlakukan lebih manusiawi dan komprehensif. Berbeda dengan UKK.
Perkembangan yang dialami oleh pasien dicatat sehingga, “Arsip pasien bisa segini,” ujar Dr Ahkam Subroto sembari merenggangkan ibu jari dan telunjuk sejauh 8cm. dengan penanganan terpadu seperti itu, UKP mahkotadewa memberikan hasil menggembirakan. “Tingkat kesembuhannya amat tinggi,” ujar Ahkam. Di Indonesia sebagian dokter memang belum mengakui UKP. Namun, itu bukan masalah. “Yang tidak diakui oleh dokter, belum tentu tak ilmiah. Sebaliknya yang diakui oleh dokter pun belum tentu ilmiah,” ujar Ahkam.
Antikanker  
Banyak riset ilmiah membuktikan keampuhan mahkotadewa. Prof Dr Akio Mimura, guru besar tamu di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, meriset di Tokyo dan membuktikan mahkotadewa antikanker. Pada uji in vitro, kanker leukemia terbukti mengalami apoptosis. Artinya Phalaeria macrocarpa itu mengembalikan sifat kealamiahan sel. Sel akhirnya mati dengan program bunuh diri. Riset antikanker lain dilakukan Fajar Tito dan rekan dari Fakuktas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Mereka membuktikan crown of god itu antikanker dengan cara antiangiogenik. Angiogenesis merupakan peristiwa pertumbuhan pembuluh darah baru, yang memungkinkan sel kanker mendapatkan pasokan nutrisi dan oksigen, sehingga dapat terus bertahan hidup.
Uji penghambatan angiogenesis dilakukan dengan menginduksi sel kanker ke embrio ayam umur 8-9 hari dalam tujuh kelompok perlakuan. Kelompok I sebagai kontrol, II kontrol bFGF, III kontrol bFGF + pelarut DMSO 0,8%, IV, V, VI, dan VII sebagai kelompok terakhir diberi bFGF 30 ng dan ekstrak buah mahkotadewa berdosis masing-masing 10 μg/ml, 40 μg/ml, 80μg/ml, dan 160 μg/ml yang diinjeksi melalui lubang.
Setelah diinkubasi selam 3 hari – saat itu umur embrio 12 hari – telur dibuka dan isi telur dikeluarkan. Kemudian membran korio alantois yang melekat pada cangkang diamati secara makroskopik dan mikroskopik. Jumlah pembuluh darah yang terbentuk dihitung. Hasilnya, ekstrak buah mahkotadewa memberikan aktivitas antiangiogenetik dengan presentase penghambatan berturut-turut untuk masing-masing kadar yang dicobakan adalah 10,44 %, 25,37 %, 39,40 %, dan 58,50 %.
Luas   
Di masyarakat, penggunaan mahkotadewa tak Cuma sebatas pengobat kanker. Secara empiris, masyarakat telah menggunakannya sebagai panasea mujarab penakluk berbagai penyakit. Saying, cara pemakaian dan dosis yang tepat masih dalam coba-coba dan tidak terstandar.
Itu sebabnya penelitian tentang tingkat toksisitas alias ambang batas aman mengkonsumsi mahkotadewa dilakukan. Risetnya dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan. Toksisitas akut ekstrak buah mahkotadewa menghasilkan nilai  infus 67,32 mg/20 g bb (bobot tubuh) mencit; nilai  ekstrak etanol adalah 38,14 mg/20 g bb mencit.
Sedangkan uji terhadap perasan buah mahkotadewa yang diberikan oral selama 14 hari dengan dosis 1,41 g/kg bb; 3,53 g/kg bb; 8,82 g/kg bb; 22,05 g/kg bb memiliki perbedaan hasil. Semua tikus mengalami perubahan pada hati berupa hiperemi, pada usus terlihat adanya erosi epitel villi intestinal, pada organ ginjal terlihat adanya hemoragi. Tandanya, perasan daging buah mahkotadewa mempengaruhi sistem vaskuler berupa peningkatan aliran darah dan peningkatan permeabilitas vasa. Namun, kerusakan jaringan itu bisa disembuhkan dengan penghentian konsumsi.
Uji toksisitas kembali dilakukan dengan mahkotadewa dilarutkan dalam ekstrak air, ekstrak etanol 30%, dan ekstrak air tanpa pemanasan. Dosis oralnya 2.500 mg/g bb atau 100 kali dosis yang biasa dikonsumsi manusia (DK). Hasilnya, tidak mengalami kematian selama 24 jam pertama hingga 14 hari masa percobaan. Lantaran menurut klasifikasi toksisitas akut pada hewan  sebesar 200 –2.000 mg/kg termasuk tingkat yang berbahaya bagi mencit, berarti ekstrak mahkotadewa tidak berbahaya. Tidak adanya kematian pada dosis 500 kali DK (12.500 mg/kg bb) dan 1.000 kali DK (25.000 mg/kg bb) memperteguh keyakinan mahkotadewa tidak toksik.
Antidiabetes
Penelitian khasiat mahkotadewa sebagai antidiabetes dilakukan Puslitbang Farmasi dan Obat tradisional. Hasilnya, ekstrak buah mahkotadewa dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus diabet pada dosis 110 mg/200 g bb atau setara dengan glikazid 1,4 mg/ 200 g bb. Itu diperkuat oleh riset Ahmad Muhtadi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjajaran.
Sebanyak 250 mg/kg bb, 500 mg/kg bb, dan 1.000 mg/kg bb ekstrak mahkotadewa diberikan pada tikus percobaan. Sebagai pembanding, obat diabetes klorpropamid dengan dosis 100mg/kg bb. Hasilnya, ekstrak etanol buah mahkotadewa dengan dosis1.000mg/kg bb memiliki aktivitas antidiabetes tertinggi (40,83%), diikuti dosis 500mg/kg bb (37,56%), dan dosis 250mg/kg bb (22,14%).
Berbekal penelitian itu, Lestari Handayani dan Suhartmiati dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan, melakukan uji klinis. Sebanyak tujuh belas pasien diabetes mellitus mengikuti pengobatan selama 4 minggu dan dilakukan observasi klinik berupa pemeriksaan fisik dan laboraturium seperti kadar glukosa darah, serum keratin, SGOT, dan SGPT. Hasilnya, konsumsi kapsul ekstrak mahkotadewa tidak manjur sebagai penurun glukosa darah.
 Penjaga hati
Jika mahkotadewa dicampur dengan herba lain seperti sambiloto Andrographis paniculata, daun salam Syzygium polyanthum, dan umbi daun dewa Gynura segetum, menurunkan kadar gula darah hingga 58,14 mg/dL setelah 3 minggu konsumsi. Bahkan, ketika ramuan dibarengi dengan obat antidiabetik oral (ADO) sulfonylurea, selama 2 minggu konsumsi kadar gula darah turun hingga 91,48 ± 72,11 mg/dL. Nilai itu dua kali lebih cepat disbanding konsumsi sulfobilurea tunggal, yang hanya menurunkan 59 mg/dL. Toh, meski digabung, fungsi hati dan ginjal tetap aman. Sebab, mahkotadewa juga terbukti memiliki aktivitas antilever.
Itu dibuktikan oleh Yosephine Liesworo P dan Luciana Kuswibawati. Mereka meneliti efek hepatoprotektif pada mencit jantan terinduksi parasetamol. Parasetamol salah satu senyawa model yang dapat digunakan untuk menggambarkan kerusakan hati bila dosis berlebih. Sejumlah 35 mencit jantan dibagi menjadi 7 kelompok. Pemberian hingga 250 mg selama 6 hari berturut-turut dilakukan secara oral sekali sehari.
Pada hari ke-7 semua mencit diambil darahnya melaui sinus orbitalis mata setelah rentang waktu 24 jam untuk ditetapkan aktivitas GPT-serumnya. Mencit dikorbankan untuk diambil hatinya untuk dibuat preparat hispatologis, kemudian diskoring menurut tingkat kerusakan. Data aktivitas GPT-serum dianalisis secara ststistik. Data persen efek hepatoprotektif dianalisis guna mencari kisaran HpD50. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daging buah mahkotadewa dosis 4,938; 3,527; 2,519 dan 1,799 g/kg bb diberikan secara oral mampu menurunkan aktivitas GPT-serum berturut-turut sebesar 51,80%, 59,62%, 73,66%, dan 83,98% terhadap kontrol positif parasetamol. Itulah sederet riset ilmiah yang membuktikan keampuhan mahkotadewa. (Vina Fitriani)

Sumber: Majalah TRUBUS Gold Edition-II, 2 Desember 2007
picture: www.bio-asli.com

No comments:

Post a Comment