Prihatin Lulusan FK Tidak Bisa Nyuntik
SURABAYA – Fakta meningkatnya daya
serap fakultas kedokteran (FK) di kampus-kampus swasta menjadi perhatian Dinas
Kesehatan Jawa Timur. Di satu sisi, hal itu bisa menjadi solusi pemenuhan
kekurangan tenaga kesehatan daerah. Namun, fakta tersebut juga menjadi
tantangan tersendiri karena selama ini tidak sedikit lulusan FK yang
kompetensinya rendah.
Berdasar data
Dinas Kesehatan Jawa Timur, kini ada 13 FK di kampus-kampus yang tersebar di
Jatim. Meski demikian, hali itu belum menjamin tercukupinya kebutuhan tenaga
dokter di setiap wilayah.
Daerah Surplus Dokter
|
KOTA/KAB
|
SPESIALIS
|
UMUM
|
GIGI
|
|
Sidoarjo
|
433
|
460
|
149
|
|
Kota
Blitar
|
65
|
7
|
2
|
|
Kota
Mojokerto
|
15
|
20
|
5
|
|
Kota
Madiun
|
126
|
53
|
4
|
|
Surabaya
|
3.789
|
Cukup
|
129
|
Sumber:
Data Dinas Kesehatan Jawa Timur per Desember 2015
Keterangan:
Jumlah
tersebut merupakan rasio per 1.000 penduduk
Berdasar fakta di lapangan, mayoritas lulusan
FK memilih bertahan di kota besar.
Dampaknya, ada beberapa kota atau kabupaten
yang surplus tenaga dokter. Misalnya, di Surabaya yang surplus 3.789 dokter
gigi. Hal serupa terjadi di Sidoarjo. Surplus dokter spesialis mencapai 433,
460 dokter umum, dan 149 dokter gigi. “Tapi, di daerah lain, ada puskesmas yang
tidak memiliki dokter umum,” tutur Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya
Kesehatan Dinkes Jatim One Widyawati.
Dia menuturkan, kesulitan dinas kesehatan
untuk memeratakan dokter disebabkan proses pengangkatan. Contohnya, yang
ditempatkan di Puskesmas adalah dokter dengan status PNS.
Lulusan FK di Jatim memang banyak. Namun,
dinkes lagi-lagi tidak berwenang untuk langsung mengangkat dokter menjadi PNS.
“Kuota PNS itu ada di Menpan-RB (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi),” jelaas One.
Selain masalah penempatan dokter, Dinkes Jatim
terkendala kompetensi lulusan yang tidak sama. One menuturkan, ada beberapa
lulusan FK yang tidak memiliki kompetensi yang baik untuk merawat pasien. “Di
lapangan ada yang disuruh nyuntik saja
tidak bisa. Malah ada juga yang takut pegang pasien,” paparnya.
Kualitas lulusan 13 FK di Jatim akan diketahui
ketika mengikuti uji kompetensi. Biasanya, ujian itu dilaksanakan dikti.
Sayangnya, banyak lulusan FK dari kampus swasta yang tidak lolos uji kompetensi
tersebut. Padahal, uji kompetensi dokter hanya dilakukan dengan ujian tulis.
Bukan ujian praktik. “Saya juga tidak tahu kenapa bisa demikian,” katanya.
Alat kesehatan biasanya menjadi keluhan dokter
ketika ditempatkan di daerah. Berbeda dengan di kota besar seperti Surabaya
yang memiliki rumah sakit dengan alat kesehatan mumpuni. Untuk masalah
tersebut, Dinkes Jatim hanya bisa membantu masalah keungan. “Caranya, daerah
harus mengirimkan proposal,” ucap One.
Untuk memecahkan persoalan pemerataan dokter
di Jatim, Pemprov Jatim sebenarnya telah memiliki payung hukum. Yakni, Perda
Nomor 7 Tahun 2014 dan Pergub Nomor 74 Tahun 2015 tentang Tenaga Kesehatan.
“Kami akan terus menyosialisasikan peraturan itu kepada FK dan rumah sakit
pendidikan,” tegas One. (lyn/c15/fat)
Sumber: Jawa Pos, 25 Juli 2016
Picture:https://pixabay.com/id/vaksinasi-dokter-jarum-suntik-medis-1215279/

No comments:
Post a Comment