Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 6 August 2016

RITME KERJA ORGAN TUBUH

Manajemen Jam Kerja Organ Tubuh
Ritme Berubah karena Pembiasaan
Pagi saat beraktivitas, malam waktunya istirahat. Kebiasaan yang diajarkan sejak kecil itu ternyata sangat terkait dengan pola jam kerja organ tubuh. Menolaknya bisa mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan. Tapi, pegawai yang memiliki sif malam tak perlu terlalu khawatir. Ada solusinya.
                DALAM dunia kedokteran, terdapat konsep ritme circadian. Konsep yang dikenalkan Franz Halberg itu mendefinisikan perubahan kinerja organ-organ tubuh dalam sehari berdasar jam. “Perubahan itu ada ritmenya dan prosesnya memengaruhi metabolisme tubuh,” ujar dr Puri Safitri Hanum SpPD, spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Bedah Surabaya.
                Sistem kerja organ tubuh dibagi menjadi dua bagian besar, yakni  ergothropic dan trophotropic. Umunya, ergothropic terjadi pada siang. Saat itu, organ tubuh cenderung bekerja ekstra. Trophotropic terjadi pada malam saat kinerja organ tubuh cenderung menurun. Karena itu, mayoritas orang beristirahat pada malam.
Mulai pagi hingga siang, tubuh berada dalam fase siap bekerja. Sebagai bekal, sarapan sangat disarankan sebagai penyuplai energi sehari penuh. “Lantas, menjelang siang, ibarat mesin diesel, tubuh mulai panas. Masih bisa dipakai beraktivitas, namun disarankan diselingi istirahat supaya tetap fit,” kata Hanum.
Sementara itu, pada malam, kinerja dan metabolisme sebagian organ mulai menurun. Bekerja keras idealnya tidak dilakukan karena tidak didukung dengan metabolisme yang optimal. “Pada malam organ-organ penetralisasi racun juga mulai bekerja. Hal itu hanya akan berjalan optimal jika kita dalam posisi rileks atau bahkan tidur,” ujar Hanum.
Dengan perubahan kinerja organ tubuh, tentu kegiatan harus disesuaikan. Jika dipaksaskan atau diganti, tubuh rentan terkena berbagai gangguan kesehatan. “Misalnya, begadang. Jika seseorang tetap bangun di waktu yang mengharuskan dia tidur, proses detoksifikasi tidak akan berjalan optimal,” tutur Hanum.
Namun, bagi beberapa orang, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang bisa mengakibatkan terjadinya adaptasi tubuh. Ambil contoh mereka yang memang memiliki ritme bekerja dari malam hingga pagi. “Pekerjaan memang bisa memengaruhi pola kerja organ tubuh. Tapi, tubuh tetap perlu waktu untuk menyesuaikan,” ujar dr Choesnan Effendi AIF AIFO, pakar fisiologi Universitas Hang Tuah Surabaya.
Waktu yang diperlukantubuh untuk menyesuaikan irama circadian normal, rasa kantuk terjadi malam ketika kinerja tubuh mulai menurun dan hormon melatonin meningkat karena gelap. “Maka, mereka yang bekerja malam dan belum terbiasa akan merasakan kantuk saat bekerja,” ujar Choesnan.
Lantas, setelah 24 hingga 48 jam, penyesuaian mulai terjadi bagi para pekerja sif malam. Tubuh akan mulai bisa digunakan untuk beraktivitas layaknya ketika bekerja saat siang. Aktivitas organ tubuh pun akan mengikuti ritme kerja orang yang bersangkutan. Hanya, hal itu harus dilakukan secara teratur. “Misalnya, tiga hari kerja malam, lantas satu hari kerja siang. Itu sangat tidak disarankan karena membuat sistem kerja organ tubuh tidak teratur dan mengakibatkan gangguan pada organ tertentu. Misalnya, organ pencernaan atau sistem saraf,” jelas Choesnan.
Selain keteraturan, para pekerja sif malam harus menggunakan waktu istirahat secara optimal ketika siang. Selayaknya para pekerja siang, tubuh pun perlu diistirahatkan saat tidak bekerja. “Yang pasti, para pekerja sif malam harus memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat agar sistem imun tidak mudah menurun akibat begadang atau beraktivitas di malam hari,” tambah Choesnan. (len/c19/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 2 Agustus 2016
PICTURE: https://pixabay.com/en/men-yoga-classes-gym-instructor-1179452/

No comments:

Post a Comment