Manajemen Jam Kerja
Organ Tubuh
Ritme
Berubah karena Pembiasaan
Pagi saat beraktivitas, malam waktunya istirahat.
Kebiasaan yang diajarkan sejak kecil itu ternyata sangat terkait dengan pola
jam kerja organ tubuh. Menolaknya bisa mengakibatkan menurunnya kondisi
kesehatan. Tapi, pegawai yang memiliki sif malam tak perlu terlalu khawatir.
Ada solusinya.
DALAM dunia kedokteran, terdapat konsep
ritme circadian. Konsep yang
dikenalkan Franz Halberg itu mendefinisikan perubahan kinerja organ-organ tubuh
dalam sehari berdasar jam. “Perubahan itu ada ritmenya dan prosesnya
memengaruhi metabolisme tubuh,” ujar dr Puri Safitri Hanum SpPD, spesialis
penyakit dalam dari Rumah Sakit Bedah Surabaya.
Sistem
kerja organ tubuh dibagi menjadi dua bagian besar, yakni ergothropic
dan trophotropic. Umunya, ergothropic terjadi pada siang. Saat
itu, organ tubuh cenderung bekerja ekstra. Trophotropic
terjadi pada malam saat kinerja organ tubuh cenderung menurun. Karena itu,
mayoritas orang beristirahat pada malam.
Mulai pagi hingga
siang, tubuh berada dalam fase siap bekerja. Sebagai bekal, sarapan sangat
disarankan sebagai penyuplai energi sehari penuh. “Lantas, menjelang siang,
ibarat mesin diesel, tubuh mulai panas. Masih bisa dipakai beraktivitas, namun
disarankan diselingi istirahat supaya tetap fit,” kata Hanum.
Sementara itu,
pada malam, kinerja dan metabolisme sebagian organ mulai menurun. Bekerja keras
idealnya tidak dilakukan karena tidak didukung dengan metabolisme yang optimal.
“Pada malam organ-organ penetralisasi racun juga mulai bekerja. Hal itu hanya
akan berjalan optimal jika kita dalam posisi rileks atau bahkan tidur,” ujar
Hanum.
Dengan
perubahan kinerja organ tubuh, tentu kegiatan harus disesuaikan. Jika
dipaksaskan atau diganti, tubuh rentan terkena berbagai gangguan kesehatan.
“Misalnya, begadang. Jika seseorang tetap bangun di waktu yang mengharuskan dia
tidur, proses detoksifikasi tidak akan berjalan optimal,” tutur Hanum.
Namun, bagi
beberapa orang, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang bisa mengakibatkan
terjadinya adaptasi tubuh. Ambil contoh mereka yang memang memiliki ritme
bekerja dari malam hingga pagi. “Pekerjaan memang bisa memengaruhi pola kerja
organ tubuh. Tapi, tubuh tetap perlu waktu untuk menyesuaikan,” ujar dr
Choesnan Effendi AIF AIFO, pakar fisiologi Universitas Hang Tuah Surabaya.
Waktu yang
diperlukantubuh untuk menyesuaikan irama circadian
normal, rasa kantuk terjadi malam ketika kinerja tubuh mulai menurun dan
hormon melatonin meningkat karena gelap. “Maka, mereka yang bekerja malam dan
belum terbiasa akan merasakan kantuk saat bekerja,” ujar Choesnan.
Lantas,
setelah 24 hingga 48 jam, penyesuaian mulai terjadi bagi para pekerja sif
malam. Tubuh akan mulai bisa digunakan untuk beraktivitas layaknya ketika
bekerja saat siang. Aktivitas organ tubuh pun akan mengikuti ritme kerja orang
yang bersangkutan. Hanya, hal itu harus dilakukan secara teratur. “Misalnya,
tiga hari kerja malam, lantas satu hari kerja siang. Itu sangat tidak
disarankan karena membuat sistem kerja organ tubuh tidak teratur dan
mengakibatkan gangguan pada organ tertentu. Misalnya, organ pencernaan atau
sistem saraf,” jelas Choesnan.
Selain
keteraturan, para pekerja sif malam harus menggunakan waktu istirahat secara
optimal ketika siang. Selayaknya para pekerja siang, tubuh pun perlu
diistirahatkan saat tidak bekerja. “Yang pasti, para pekerja sif malam harus
memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat agar sistem imun tidak mudah menurun
akibat begadang atau beraktivitas di malam hari,” tambah Choesnan. (len/c19/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 2 Agustus 2016PICTURE: https://pixabay.com/en/men-yoga-classes-gym-instructor-1179452/

No comments:
Post a Comment