Google search

Custom Search

Translate

Monday, 29 August 2016

Stroke di Usia Produktif

Serangan Stroke di Usia Produktif
Penanganan Cepat Pulihkan Kondisi

Stroke kini tidak hanya mengincar usia tua. Kelompok usia produktif, berkisar 15-59 tahun, juga berisiko mengalaminya. Penanganan yang cepat dan tepat memberi pasien harapan pulih yang cukup besar.

                POLA hidup serbacepat dan serbainstan menjadi salah satu faktor risiko stroke bagi kaum muda. “Lifestyle sangat berpengaruh. Pola makan nggak baik, kegemukan, kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol, serta kurang berolahraga bisa menjadi pemicu stroke,” ucap dr Yanna Saelan SpS. Selain pola hidup, stroke di usia muda umumnya dipicu penyakit autoimun dan kelainan kongenital (bawaan lahir).
                Sebelum menyrang, stroke biasanya memberikan gejala. Namun, hal itu kerap diremehkan. Baik yang muda maupun usia lanjut, gejalanya sama. “Yang paling umum, kesemutan dan penglihatan kabur di separo bagian tubuh, lalu migrain. Rata-rata menganggap mungkin cuma  nggak enak badan, bisa sembuh sendiri,” papar spesialis yang berpraktik di Siloam Hospitals Surabaya itu.
                Yanna mengungkapkan, bila muncul tanda-tanda tersebut, sebaiknya jangan tunda lagi. Segera ke UGD atau menghubungi dokter. Terutama jika gejala tersebut muncul tiba-tiba saat beraktivitas. “Nggak usah menunggu sampai korban lemas atau kehilangan kesadaran. Soalnya, satu menit tanpa penanganan, ada 1,9 juta sel otak yang mati,” tegasnya.
                Sementara itu, dr Cindy Sadikin SpRad (K) menjelaskan, penanganan serangan stroke dengan cepat tidak cuma memperbesar kesempatan pasien untuk selamat. Dalam kasus stroke akibat pembekuan darah, misalnya, penanganan bisa dilakukan dengan pemberian r-tPA yang berfungsi menghancurkan bekuan.
                “Dalam tiga jam, pemberian r-tPA sudah cukup membantu. Tapi, kalau lebih dari tiga jam atau yang diserang pembuluh darah besar, bakal dibantu keteterisasi,” imbuh spesialis yang pernah menempuh studi di Taiwan tersebut. Bila pasien datang sekitar 8-12 jam setelah serangan, penanganannya bakal lebih ngeri. “Pembekuannya bakal disedot secara mekanis dengan thrombectomy,” ucapnya.
                Bila mendapat penanganan dan melakoni terapi rutin, pasien stroke bisa sembuh dengan kondisi  nyaris sempurna. “Setelah stroke bakal pelo permanen itu cuma mitos. Apalagi kalau terjadinya di usia muda,” kata Cindy yang juga bertugas di Siloam Hospitals Surabaya itu. Sebab di usia muda, neuroplasticity atau kemampuan sel otak beradaptasi dan mengambil alih tugas sel otak yang mati masih baik. Hanya, memang peluang untuk pulih sempurna dipengaruhi bagian saraf yang diserang dan seberapa besar bagian otak yang diserang.
                Setelah terserang stroke, potensi seseorang mengalami serangan lanjutan meningkat hingga 10 kali lipat. Untuk mencegah hal tersebut, Yanna dan Cindy menyarankan pasien mengubah pola hidup. “Istirahat harus cukup , olahraga teratur dan sesuai kondisi, rutin kontrol dan konsumsi obat sesuai dosis,” ucap Yanna. (fam/c7/ayi)

Sumber: Jawa Pos, 23 Agustus 2016
picture : https://pixabay.com/id/anak-laki-laki-duduk-bahagia-anak-746520/

No comments:

Post a Comment