Google search

Custom Search

Translate

Sunday, 31 May 2015

Mengenal Ketidaksuburan pada Pria
Genetik hingga Celana Terlalu Ketat
            Untuk menghasilkan keturunan, suami maupun istri mempunyai peran yang sama-sama besar. Yakni, butuh saling menyokong untuk membuat kondisi kesuburan dua pihak sama-sama prima. Sebagai pasangan yang baik, mengenal penyebab, pencegahan, dan pengobatan ketidaksuburan pada pria menjadi hal yang penting.
            JIKA kondisi para istri saja yang prima, itu tidaklah cukup untuk membuat sang jabang bayi tumbuh di rahim. Sel telur membutuhkan sperma untuk menjadi embrio. Agar sperma bisa mendarat sempurna di inti sel telur, dibutuhkan proses yang harus mulus. Mulai dari “pabriknya” yang sehat hingga salurannya yang berfungsi dengan baik.
            Dokter M. Aminudin Aziz SpAnd, androlog dari Ultimo Aesthetic & Dental Care, menjelaskan, secara garis besar, ada empat masalah pada kesuburan pria. Yakni, faktor regulasi (hormonal), produksi (testis), transportasi (saluran, seksual, mortalitas), dan fertilisasi (sperma-oosit). “Ketika lebih dari setahun suami istri yang aktif secara seksual belum membuahkan kehamilan, nah, bukan hanya istri yang harus periksa. Ayo, suami juga periksa. Mungkin ada salah satu dari masalah-masalah itu tadi,” kata androlog asal Surabaya tersebut.
            Pada faktor regulasi, fokusnya adalah masalah hormonal. Dalam pembentukan sperma, dibutuhkan hormon testoteron dan FSH. “Hormon itulah yang memerintah testis sebagai pabriknya sperma untuk produksi. Bila hormonalnya bermasalah, testis bagus tetap tidak produksi karena tidak ada perintah,” jelas androlog yang akrab dipanggil dr Aziz tersebut. Sirkulasi hormon bermasalah bisa disebabkan genetik maupun gaya hidup. Itu yang mengakibatkan sperma sedikit.
            Dokter Henry Wibowo SpAnd MARS menyatakan, salah satu contoh penyebab gangguan sirkulasi hormonal adalah gaya hidup. “Kurang olahraga bisa membuat testoteron kurang optimal bekerja. Tergila-gila dengan bentuk badan atletis yang instan juga bahaya karena bisa saja terjerumus mengonsumsi anabolic steroid,” ujar androlog dari RS Husada Utama Surabaya itu.
            Hormon testoteron bekerja untuk pertumbuhan penis dan testis, termasuk keoptimalan fungsinya. Di samping itu, ia juga membentuk otot dan tulang yang kuat. Ketika pria berolahraga, produksi testoteron optimal. Maka, pria akan terlihat berotot. Pria yang ingin gempal dengan cara instan menambahkan hormone tetoteron buatan ke dalam tubuh.
            Hasilnya, tubuh memeng jadi lebih “berbentuk”. Namun steroid buatan tersebut bukan untuk testis. Efeknya adalah membuat otak memberikan sinyal yang salah pada kelenjar penghasil hormon. “Otak merasa sudah tinggi  testoteron dalam tubuh, tidak perlu produksi lagi. Akhirnya, tidak ada hormon yang memerintah testis bereproduksi, lama-lama dia mengecil,” ucap dr Henry. Di produk-produk suplemen, jelas tidak dicantumkan kandungan steroid buatan.
            Untuk masalah produksi, testis memang harus benar-benar dijaga. Ia tidak boleh kena benturan keras, melintir (torsio), atau meradang. Dokter Aziz menerangkan, dalam testis ada semacam pagar yang membatasi darah dan spermatozoa. Sebab, sperma bisa dianggap benda asing dan diserang dengan antibodi.
Meski begitu, spermatozoa tetap mendapat makan karena ada penghubung yang bernama sel sertoli. “Nah, sel tersebut sebagai pagar dan perawat sperma. Kalau testis kena benturan, pagarnya bisa rusak dan sperma jadi diserang antibodi,” ungkap dokter yang juga dosen di FK Unair itu.
Terlalu sering kepanasan juga tidak bagus. Misalnya, sauna atau mandi air panas terus-menerus dan pekerjaan yang panasnya sampai dirasakan testis. Testis juga harus merasa nyaman, tidak boleh terlalu tersiksa dengan area yang sempit. “Kalau setiap hari pakai celana terlalu ketat, testis jadi nggak fleksibel. Kedua, dalam kesempitan, otomatis suhunya naik, jelas ini membuat sperma nggak bagus atau bahkan mati di dalam,” tutur dr Henry.
Karena itu, pria yang pekerjaannya memasak perlu memakai celemek tebal dan panjang untuk menutupi area tersebut. Panasnya mesin mobil dan jok yang tidak mampu meredam panas hingga sampai ke testis juga berbahaya. (puz/c20/dos)

Terlalu Aktif, Sperma Kurang Matang

FAKTOR lain adalah pada transportasi. Yakni, saluran sperma pada laki-laki, mortalitas, dan hubungan suami-istri. Infeksi pada saluran kencing bisa membuat jalannya sperma keluar tidak mulus. “Penyakit menular seksual biasanya menjadi penyebabnya. Nah, itu kan juga faktor gaya hidup. Salah satu penyebabnya terjadi karena perilaku berganti-ganti pasangan,” ungkap dr Henry Wibowo.
Selanjutnya, saat sperma sudah ditransfer kepada istri, pergerakannya (mobilitas) juga menentukan kesuksesan. “Pergerakannya tidak bagus bisa jadi karena energinya kurang atau bentuknya. Misalnya, ekor yang terlalu panjang, ekor yang terlalu pendek, ekor dua sperma gandeng,” tambah dr Aziz.
Selanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah hubungan suami istri. Berhati-hatilah pria yang semasa mudanya atau hingga kini suka masturbasi. Sebab, perilaku tersebut memengaruhi hasrat. Gangguan ereksi bisa saja terjadi. “Pada pria yang kebiasaannya buru-buru, itu memicu ejakulasi dini selanjutnya.” Kata dr Henry.
Untuk bisa bertemu dengan sel telur yang keberadaannya hanya satu bulan sekali, juga harus rajin usaha. Namun, terlalu rajin justru akan membuat pertemuan sperma dan sel telur sia-sia. Ada proses agar sperma matang, yakni selama dua hari. Sperma yang matang punya energi dan kapasitas yang memadai untuk membuahi. “Jika hubungannya dilakukan setiap hari atau sehari hingga berkali-kali sperma dikeluarkan terus, kapan bisa matang. Sperma yang nggak matang sulit membuahi,” jelas dr Aziz. Karena itu, hubungan seks yang disarankan adalah dua sampai tiga hari sekali. (puz/c22/dos)
SUMBER: JAWA POS, Kamis 30 April 2015 

 Optimalkan Reproduksi
DO
• Konsumsi buah yang berdaging merah seperti buah naga. Kandungan lycopene di dalamnya memperbaiki bentuk dan gerak sperma.
• Konsumsi kecambah, vitamin E-nya membantu jumlah sperma.
• Olahraga teratur.
• Hubungan seksual 2-3 hari sekali.
• Melindungi area reprodukdi dari panas berlebih dengan pelindung.
DON’T
• Pemakaian celana terlalu ketat.
• Merokok dan minum alkohol.
• Stres
• Olahraga  berat terlalu sering menggunakan otot perut bisa menimbulkan varikokel.
• Makan terlalu banyak pare. Berdasar penelitian ilmiah. Ia bisa merusak enzim di permukaan kepala sperma.
• Ekstrak kulit manggis dan daun papaya juga tidak baik.
• Kebiasaan masturbasi dan berhubungan dengan terburu-buru.SUMBER: HASIL WAWANCARA KEDUA NARASUMBER

Saturday, 23 May 2015

Malaria

Menelisik Malaria, Perkembangan dan Tantangannya
Seolah Tidak Pernah Habis
          Sembilan tahun berlalu sejak dicetuskannya Hari Malaria Sedunia oleh World Health Organization (WHO). Seperti tidak ada habis-habisnya, penyakit yang satu ini masih menjadi tantangan di seluruh dunia. Meski jumlah penderita sudah jauh menurun, angka kematian tetap dikatakan cukup tinggi.
          RILIS terakhir WHO pada Desember 2014 menyebutkan, 584 ribu kasus kematian tercatat dari 198 juta kasus malaria di seluruh dunia pada 2013. Angka tersebut sudah jauh menurun hingga 47 persen sejak 2000. Di Indonesia, ditemukan 343.527 kasus malaria pada 2013. Jumlah tersebut sudah jauh menurun jika dibandingkan dengan dua dekade lalu.
Sebagai endemi di kawasan tropis, penyakit karena parasit plasmodium yang bersemayam di nyamuk anopheles betina itu memang banyak ditemukan di Indonesia. Genangan air dan lingkungan yang kurang higienis  menjadi habitat empuk tempat bersarangnya nyamuk. Menanggulangi hal itu, pemerintah lewat Kementerian Kesehatan sudah mencanangkan berbagai program eliminasi malaria menuju Indonesia bebas malaria 2030.
“Contohnya, membagikan impregnated bed nets atau kelambu berinsektisida, indoor residual spraying (IRS), serta active malaria surveillance, yakni jemput bola untuk mandatangi langsung daerah endemis dan mengobati malaria,” terang Prof Dr Yoes Prijatna Dachlan dr MSc Sp ParK, direktur riset dan pengembangan Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Universitas Airlangga, Surabaya.
Malaria, ungkap dia, amat rentan menyerang tiga golongan. Yakni, anak-anak, perempuan hamil, serta orang yang tidak berasal dari daerah endemis malaria. Di Indonesia, daerah endemis Malaria berada di kawasan timur yang meliputi Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. “Untuk Pulau Jawa, pada 2015 ini sudah dinyatakan bebas malaria,” ujar pria kelahiran Denpasar, 28 Oktober 1943, tersebut.
Kondisi wilayah sebagai Negara kepulauan juga memberikan tantangan tersendiri dalam pengendalian malaria. Hingga kini, ungkap Yoes, belum ditemukan vaksin yang secara tepat mampu mengatasi kasus-kasus malaria. Pengaruh biografi yang variatif turut menghasilkan antigen malaria yang luar biasa beragam. Kondisi tanah dan habitat tempat tinggal juga menyumbangakan aneka spesies nyamuk yang berbeda di tiap pulau.
“Antigen yang macam-macam itu menjadikan vaksin malaria terus berkembang. Bisa berbeda untuk tiap kasus,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga angkatan 1963 itu.
Hingga saat ini, metode terbaik adalah melakukan terapi artemisinin yang dikombinasikan dengan obat antimalaria. Artemisinin merupakan hasil olahan herbal dari Artemisia anua, tumbuhan asal Tiongkok yang efektif menanggulangi malaria. Penemuan terbaru adalah penggunaan ekstrak kulit batang cempedak sebagai antimalaria.
Perkembangan zaman, ujar Yoes, juga sangat berpengaruh terhadap peningkatan risiko malaria. Transportasi yang makin mudah membuat orang gampang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, termasuk ke daerah endemis malaria.
“Contohnya, para perantau atau orang yang mencari nafkah di daerah endemis. Saat pulang ke kampong halaman, dia tidak menyadari telah membawa parasit plasmodium,” ungkap direktur Tropical Didease Center Unair 1995-2005 tersebut.
Tingkat kekebalan masyarakat di daerah endemis malaria memang lebih tinggi daripada non endemis. Sebab gigitan nyamuk anopheles di kawasan endemis dating secara periodik. (rim/c5/dos)

Waspadai Daerah Endemis

NYAMUK Anopeles, pembawa parasit plasmodium, hanya ditemukan di daerah endemis malaria. Di Indonesia, daerah endemis malaria mencakup Papua, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan pesisir selatan Pulau Jawa. Di Jawa Timur, daerah endemis malaria, antara lain, Blitar, Malang, Selatan, serta Pacitan. Anopheles umumnya ditemukan di daerah dekat hutan, rawa, dan pantai.
Dokter Erwin Astha Triyono SpPD KPTI, konsultan penyakit tropic infeksi, menyatakan siapa pun yang hendak bepergian ke daerah endemis malaria untuk waspada. Berbagai tindakan pencegahan bisa dilakukan untuk menghindari malaria. “Pencegahan itu bisa dilakukan kapan pun atau sebelum pergi ke daerah endemis malaria,” ujar Erwin yang berpraktik di RSUD dr Soetomo tersebut.
Jika ada seseorang yang hendak pergi ke daerah endemis, dari tempat asalnya, dia harus meminta obat pencegah malaria dari dokter. Sesampai di daerah endemis, pencegahan bisa dilakukan dengan menggunakan lotion antinyamuk, konsumsi kina penggunaan kelambu saat tidur. “Atau air conditioner karena nyamuk tidak suka tempat dingin,” tambah Erwin.

Gejala malaria membutuhkan pengamatan yang tepat dan serius. Sebab, jika diperhatikan, gejala malaria hampir sama dengan flu, yakni demam. Jika dokter tidak jeli, si penderita disangka menderita demam biasa. “Padahal, kalau dibiarkan terlalu lama, plasmodium akan menyebar ke otak, hati, dan ginjal. Maka, begitu gejala terlihat, dokter harus tepat dan cepat menanginya,” jelas Erwin. (len/c15/dos)
Curigai Masih Bawa Parasit
PARA penderita yang sudah dinyatakan sembuh dari malaria bisa jadi masih membawa parasit dalam tubuhnya. Dr Yoes menemukan beberapa kasus pembawa parasit plasmodium yang sama sekali tidak terpapar penyakit.
Pemeriksaan standar seperti tetes tebal dan asupan darah memang tidak mendeteksi adanya parasit plasmodium yang bersarang dalam darah. “Baru dinyatakan positif saat dilakukan pemeriksaan molekuler atau rapid diagnostic test (RDT).” Ungkapnya.
Kondisi tersebut bisa terjadi karena adanya batasan tertentu dari parasit yang bisa menimbulkan gejala. Jadi, dalam batas dan kondisi, gejala mungkin tidak muncul. Kondisi itu tentu mengkhawatirkan. Sebab, tindakan penanggulangan biasanya dilakukan di awal. “Bisa jadi plasmodium sedang dalam stadium tropozoit, sedang bertumbuh atau tidur,” ujar dosen parasitologi Universitas Airlannga tersebut.
Malaria tanpa gejala atau yang dikenal dengan malaria asymptomatic pernah ditemukan di beberapa daerah seperti Halmahera dan Trenggalek. Pada penderita tidak ditemui demam tinggi atau gejala lainnya yang menunjukkan perlawanan terhadap mikroba pathogen. Terlihat sehat-sehat saja.
Karena itu,ujar dr Yoes, orang yang pernah menderita malaria tetap dianjurkan memeriksakan diri secara berkala untuk memastikan tes darah benar-benar negatif. Sesuai dengan program eliminasi malaria dari Menteri Kesehatan, 2015 adalah masa pembebasan Jawa, Aceh, dan Kepulauan Riau terhadap kasus malaria.

Eliminasi malaria merujuk pada data seluruh sarana pelayanan kesehatan yang mengonfirmasi kasus malaria dalam level rendah. Eliminasi pada 2020 akan berfokus pada pembebasan Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara itu, pada 2030 eliminasi malaria mengarah pada pembebasan Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. (rim/c15/dos)  
Sumber: Jawa Pos, Selasa 28 April 2015

Thursday, 21 May 2015

Osteoarthritis Bisa Serang Usia Muda


Osteoarthtritis Bisa Serang Usia Muda 

Atur Olahraga & Jaga Berat Badan


   Gangguan Imunitas pada RA

KETIKA ditelusuri ternyata penyebab nyeri sendi bukan faktor kelainan bentuk kaki, obesitas, maupun overused injury, akan dilakukan pengecekan laboratorium untuk memastikan penyebabnya. Bisa jadi, hal itu merupakan gejala  rheumatoid arthritis (RA).
RA merupakan gangguan imunitas tubuh di mana system kekebalan tubuh melawan jaringan yang sehat sehingga mengakibatkan peradangan yang merusak sendi. “Gejala sama-sama nyeri. Tetapi, pada rheumatoid diikuti peradangan pada banyak sendi sekaligus. Biasanya pada sendi-sendi kecil,” ujar dr Andre Pontoh SpOT(K) dari RS Pondok Indah Jakarta.
Gejala RA biasanya muncul ketika pagi atau setelah istirahat panjang. RA tidak dipengaruhi usia sehingga sanggat mungkin terjadi di usia muda. Selain itu, kejadiannya lebih sering ditemukan pada perempuan daripada laki-laki. Berbeda lagi dengan asam urat (gout) yang lebih sering menyerang laki-laki, terutama pada usia 40 atau 50-an.
Yang membedakan lagi pada gout, trigger- nya lebih mudah diidentifikasi. Misalnya, setelah makan makanan tinggi purin pemicu asam urat. Sementara itu, faktor  penyebab RA lebih tidak jelas. “Bisa karena stres atau kelelahan. Ketika imunitas membaik, nyerinya menghilang. Tapi, setalah itu bisa kambuh lagi dan berulang,” papar dr Michael Triangto SpKO.
Pada kondisi yang berat, RA dapat terjadi seumur hidup dan memengaruhi bagian tubuh lainnya selain sendi. Treatment yang dilakukan adalah pemberian obat anti radang, golongan nonsteroidal anti-inflamatory drug (NSAID). Relaksasi serta gerakan-gerakan terapi rendah stres juga bisa dilakukan untuk meredakan sakitnya. (nor/c15/jan)

Keluhan nyeri sendi pada lutut tidak hanya dirasakan para lansia, usia muda pun bisa kena. Penyebabnya, antara lain, olahraga berlebihan serta kelebihan berat badan. Selain itu, masih ada beberapa penyebab lainnya.
LUTUT merupakan bagian tubuh yang selalu digunakan dalam beraktivitas sehari-hari. Untuk berjalan, berlari, melompat, dan berbagai gerakan lainnya. Sendi lutut merupakan sendi yang “beban kerjanya” cukup berat. Yakni, bisa menahan beban hingga 3-4 kali berat tubuh. Gangguan pada sendi lutut pasti mengganggu aktivitas fisik.
Keluhan nyeri pada sendi lutut atau osteoarthritis kerap dialami orang yang berusia lanjut. Namun, kaum muda juga memiliki faktor  risiko mengalaminya lebih dini, jika ditunjang faktor-faktor berikut.
Pertama, kelainan bentuk kaki yang mengakibatkan tekanan pada lutut menjadi lebih besar. Misalnya, pada bentuk kaki flat yang diabaikan sejak kecil. Kedua, pemakaian alas kaki yang tidak tepat. Yang sering terjadi perempuan kerap menggunakan sepatu tidak berdasar kenyamanan, tetapi sekedar mode. Akibatnya, posisi kaki menjadi tidak tepat dan memberikan beban yang lebih besar terhadap sendi lutut.
Ketiga, penggunaan berlebihan (overused). Berdasar tren saat ini, banyaknya ajang lari mulai 5K, 10K, half marathon, marathon, bahkan ultra marathon. Banyak orang mengikuti ajang ini. Yang menjadi problem adalah ketika seseorang memaksakan diri untuk mengikuti lari melebihi kemampuan tubuhnya.
Dokter Michael Triangto SpKO menuturkan, ketika berlari,  ada entakan setiap kali mendaratkan depan ke permukaan tanah. Tekanan itu harus ditahan sendi lutut. “Apabila terjadi terus-menerus dan dalam jangka panjang, berisiko menimbulkan kerusakan pada sendi lutut,” ujarnya.
Olahraga ekstrem yang menekankan pada keberanian dan tantangan seperti parkour,gerakan melompat, dan berputar secara ekstrem berisiko menimbulkan gangguan pada sendi lutut. Perempuan jauh lebih berisiko mengalami nyeri sendi dibandingkan dengan laki-laki. Sebab, laki-laki memiliki struktur tubuh lebih tinggi dan besar serta otot dan tulang yang juga lebih kuat.
“Hal ini yang membuat daya tahan laki-laki lebih kuat dibanding perempuan. Belum lagi factor hormonal,” kata dokter dari @Slim+Health Sports Therapy itu.
Faktor berikutnya adalah obesitas. Berat tubuh berlebih memberikan tekanan yang lebih besar terhadap lutut. Makin berat kerja sendi lutut mengakibatkan repetitive injury. Alhasil, masih muda sudah terkena osteoarthritis karena obesitas.
Bagaimana mencegahnya? Sendi perlu dilatih. Karena itu, sejak usia muda, biasakan berolahraga. “Namun harus diwaspadai, olahraga jangan berlebihan. Harus terprogram, terukur, dilakukan teratur, dan berkesinambungan,” kata dr Michael. Olahraga yang praktis tidak melakukan gerakan eksplosif seperti golf juga bisa mengalami nyeri sendi lutut jika tidak dilakukan dengan tepat.
“Saat posisi drive , apalagi berulang sampai ratusan kali, terjadi tekanan terus-menerus pada sendi lutut,” jelasnya.
Profesi tertentu, antara lain, atlet atletik, renang gaya tertentu (gaya katak karena ada hentakan pada lutut), panjat tebing, sepeda, angkat beban, serta aktivitas lain yang melakukan gerakan repetitif pada lutut memiliki resiko lebih tinggi mengalami osteoarthritis. Bagaimana treatment yang dilakukan? Bergantung faktor penyebabnya.
Dokter Michael menjelaskan, jika penyebabnya kelainan bentuk kaki, dilakukankoreksi lebih dulu. Penggunaan alas kaki disesuaikan dengan kebutuhan. Obesitas diatasi dengan menurunkan berat badan yang bisa dibantu pemberian obat pereda nyeri. Jika karena overused atau repetitive injury, sembuhkan cederanya. Kemudian, bisa mengganti olahraga atau latihan yang dilakukan.
Misalnya, dari lari menjadi jogging atau jogging ke bersepeda. Sebab, ketika bersepeda, sebagian berat tubuh ditahan sadel sepeda sehingga tekanan lutut lebih minimal. Bisa juga berenang. Namun, sekali lagi, jenis olahraga disesuaikan dengan kondisi fisik dan kebutuhan setiap orang. (nor/c15/jan)

Pertolonagan Pertama
Ketika lutut terasa nyeri, segera hentikan aktivitas yang dilakukan, baik lari, jogging, melompat maupun berjalan.
• Cek dengan cara meraba bagian yang nyeri. Jika permukaan jadi lebih hangat daripada permukaan kulit di sekitarnya, berarti ada peradangan. Redakan dengan mengompresnya menggunakan es batu.
• Lalu, bisa dibebat supaya pembengkakan tidak meluas.
• Jika memungkinkan, tinggikan posisi kaki. Misalnya, berbaring dengan posisi kaki lebih tinggi dari kepala.
• Beri waktu satu atau dua hari. Seharusnya, tubuh bisa menyembuhkan sendiri dalam 1-2 hari. Namun, jika nyerinya makin hebat, jangan tunggu lama untuk menemui dokter terdekat. Lebih cepat ditangani pada golden period, recovery makin cepat. (nor/c15/jan)

WATCH OUT
® Olahraga berat yang tidak sesuai dengan kemampuan tubuh.
® Cedera lama, meski sudah dinyatakan sembuh, tetapi bisa muncul lagi menjadi nyeri jika terjadi tekanan di bagian yang sama.
® Penggunaan alas kaki yang tidak tepat.
® Berat  badan berlebih.
SUMBER: #JAWAPOS, Kamis 23 April 2015

Monday, 18 May 2015

ENDOMETRIOSIS

Mengenal Gejala, Sebab, dan Akibat Endometriosis

NYERI HAID HEBAT, BISA GANGGU FERTILITAS

Setiap dating bulan, seorang perempuan pasti mengalami rasa tidak nyaman hingga nyeri. Jika rasa nyeri begitu hebat dan durasi menstruasi cukup panjang, bisa jadi itu adalah gejala endometriosis. Takut berobat akan membuat kemungkinan ketidaksuburan semakin tinggi.
            NYERI hebat saat menstruasi, bahkan mengakibatkan penderitanya pingsan, tidak bisa dianggap wajar. Apalagi bila durasi menstruasi lebih dari tujuh hari. Bila hal tersebut terjadi, ada kecurigaan ke arah endometriosis. Secara gambling, Prof dr H Suhatno SpOG KOnk (RSUD dr Soetomo) dan dr Hanny Adi Tanzil Sugianto SpOG (RS St Vincentius Surabaya) akan menjelaskannya.
            Secara medis, Hanny menjelaskan, endometriosis adalah adanya jaringan endometrium yang tumbuh dan berada di luar rongga rahim. “Perlu dipahami dulu apa itu endometrium. Itu adalah lapisan terdalam dari rahim, tempat melekatnya sel telur yang sudah dibuahi,” jelasnya.
            Ketika telur tidak dibuahi, endometrium yang menebal saat masa subur tersebut akan luruh. Saat itulah perempuan mengalami menstruasi.
            Pada penderita endometriosis, jaringan endometriumnya tersebar di mana-mana. Bisa menempel di saluran telur, usus, bahkan paru-paru. Beberapa ahli mengungkapkan sejumlah teori untuk menjawab pertanyaan mengapa endometriosis bisa terjadi.
            Pertama, tidak diketahui atau tanpa sebab karena bisa saja dating karena faktor genetis dengan bakat yang diturunkan. “Selanjutnya, regurgitasi dan disfungsi imun,” imbuh Hanny.
            Pada teori regurgutasi, darah menstruasi yang seharusnya keluar melalui vagina naik ke arah saluran telur hingga indung telur (ovarium). Selanjutnya, darah menstruasi tersebut bisa “tumpah” ke rongga abdomen hingga melekat di usus sampai paru-paru.
Pada disfungsi imun, Prof Suhatno menjelaskan, ada zat oksidan yang muncul saat kekebalan tubuh seseorang menurun. “Ada zat-zat oksidan yang memungkinkan endometriosis tumbuh di luar,” ungkapnya.
Dia juga mengingatkan, berhubungan seksual sebelum darah haid benar-benar bersih bisa menjadi penyebab. Pada saat orgasme, rahim mengalami kontraksi sehingga bisa mengakibatkan darah itu terdorong ke arah  saluran indung telur. “Tunggu sampai benar-benar bersih untuk mengurangi risiko ini,” sarannya.
Akibat endometriosis, terjadi banyak perlengketan jaringan, perubahan sistem imun, hambatan pembuahan (ovulasi), dan defek. “Semua itu mengakibatkan nyeri yang hebat dan infertilitas,” ujar Hanny. Semakin lanjut stadiumnya, derajat nyerinya semakin bertambah. Risiko ketidaksuburan pun makin tinggi.
Nyeri karena endometriosis akan mengakibatkan peradangan di jaringan lain yang ditempelinya. “Waktu menstruasi, kalau endometriosisnya di paru-paru, ya akan batuk darah. Kalau lengket di pusar, pusarnya bisa berdarah. Sebab, ia ikut luruh. Sistemnya sama, ikut perintah estrogen,” jelas Suhatno.
Karena itu, nyeri akan sangat luar biasa. Pada stadium lanjut, ketika sudah terjadi komplikasi, nyeri akan sepanjang masa, bukan hanya saat menstruasi.
Sementara itu, infertilitas terjadi karena saluran bertemunya sel telur dan sperma terhambat lantaran banyaknya perlengketan. “Untuk terjadi pembuahan, ibaratnya saluran ini kan harus seperti jalan tol. Nah, karena ada penyakit ini, fungsi dan kualitas oosit dan sperma berkurang karena banyak hambatannya,” jelas Hanny
Saat berhasil terjadi ovulasi pun, perkembangan embrio akan terhambat. Sebab, embrio jadi sering jatuh. Meski begitu, menurut dua dokter spesialis tersebut, penderita endometriosis tidak boleh patah arang untuk sembuh dan memiliki keturunan. Sejumlah treatment harus dijalani sejak dini. (puz/c5/jan)

           TIGA TREATMENT PENCEGAHAN

            PROF Suhatno menjelaskan bahwa penanganan pasien endometriosis difokuskan pada beberapa hal. Yakni, menghilangkan nyeri saat haid dan berhubungan suami istri, meningkatkan terjadinya kehamilan, serta mencegah kekambuhan. “Treatment-nya dengan obat-obatan antinyeri dan hormonal, operasi, serta kombinasi keduanya,” ungkap professor dari FK Unair tersebut.
            Menurut dia, penyakit itu termasuk menjengkelkan karena diderita seumur hidup. Penyakit tersebut juga kambuh-kambuhan sesuai dengan datangnya menstruasi. Treatment bisa diberikan dengan beberapa cara. Untuk pemberian obat-obatan hormonal, pasien akan dikondisikan seperti sedang hamil atau menopause sehingga mereka tidak menstruasi.“Kurang lebih selama enam bulan,” kata Suhatno.
            Selama masa tidak menstruasi itu, rasa nyeri tidak muncul. Lesi-lesi yang terjadi karena peradangan pun tidak semakin parah. “Karena itu, pada perempuan yang belum punya anak, pengobatannya pasti ya disuruh cepat-cepat hamil. Treatment sakitnya akan selaras dengan program kehamilan,” jelas dr Hanny.
            Ini seperti berlomba-lomba dengan penyakit. Saat menstruasi kembali, perjalanan endometriosis pun berlanjut. Dua tahun setelah melahirkan, bisa saja endometriosis itu kambuh dan penderita harus terapi hormon lagi.
            Terapi hormon yang dimaksud bisa diberikan dengan obat-obatan maupun suntikan. “Diantaranya, pil KB. Jangan khawatir tidak menstruasi lama karena bisa dikembalikan lagi,” ungkap Suhatno. Prosedur lain adalah pembedahan untuk membersihkan endometriosis yang menempel dimana-mana maupun menangani kista cokelat.
Apa itu kista cokelat? Suhatno menjelaskan, kista tersebut muncul karena ada penumpukan darah menstruasi di indung telur. Jika endometriosis ditunda untuk diterapi (hamil atau hormonal, Red), kista akan semakin besar sehingga harus dioperasi. Munculnya kista cokelat bahkan bisa mengarah ke komplikasi.
Ketika komplikasi terjadi, pengobatan radikal perlu ditempuh, yakni operasi pengangkatan. “Bagi mereka yang belum mempunyai anak, diusahakan meninggalkan bagian yang masih normal. Namun, jika sudah punya anak dan dirasa cukup, bisa angkat indung telur karena  dialah penghasil estrogen,” ungkap dr Hanny.(puz/c7/jan)

SUMBER: JAWAPOS, Kamis 16 April 2015