Menelisik Malaria, Perkembangan dan
Tantangannya
Seolah
Tidak Pernah Habis
Sembilan tahun berlalu sejak dicetuskannya Hari Malaria
Sedunia oleh World Health Organization (WHO). Seperti tidak ada habis-habisnya,
penyakit yang satu ini masih menjadi tantangan di seluruh dunia. Meski jumlah
penderita sudah jauh menurun, angka kematian tetap dikatakan cukup tinggi.
RILIS
terakhir
WHO pada Desember 2014 menyebutkan, 584 ribu kasus kematian tercatat dari 198
juta kasus malaria di seluruh dunia pada 2013. Angka tersebut sudah jauh
menurun hingga 47 persen sejak 2000. Di Indonesia, ditemukan 343.527 kasus
malaria pada 2013. Jumlah tersebut sudah jauh menurun jika dibandingkan dengan
dua dekade lalu.
Sebagai
endemi di kawasan tropis, penyakit karena parasit plasmodium yang bersemayam di
nyamuk anopheles betina itu memang banyak ditemukan di Indonesia. Genangan air
dan lingkungan yang kurang higienis
menjadi habitat empuk tempat bersarangnya nyamuk. Menanggulangi hal itu,
pemerintah lewat Kementerian Kesehatan sudah mencanangkan berbagai program
eliminasi malaria menuju Indonesia bebas malaria 2030.
“Contohnya,
membagikan impregnated bed nets atau
kelambu berinsektisida, indoor residual
spraying (IRS), serta active malaria
surveillance, yakni jemput bola untuk mandatangi langsung daerah endemis
dan mengobati malaria,” terang Prof Dr Yoes Prijatna Dachlan dr MSc Sp ParK,
direktur riset dan pengembangan Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Universitas
Airlangga, Surabaya.
Malaria,
ungkap dia, amat rentan menyerang tiga golongan. Yakni, anak-anak, perempuan
hamil, serta orang yang tidak berasal dari daerah endemis malaria. Di
Indonesia, daerah endemis Malaria berada di kawasan timur yang meliputi Maluku,
Papua, dan Nusa Tenggara Timur. “Untuk Pulau Jawa, pada 2015 ini sudah
dinyatakan bebas malaria,” ujar pria kelahiran Denpasar, 28 Oktober 1943,
tersebut.
Kondisi
wilayah sebagai Negara kepulauan juga memberikan tantangan tersendiri dalam
pengendalian malaria. Hingga kini, ungkap Yoes, belum ditemukan vaksin yang secara
tepat mampu mengatasi kasus-kasus malaria. Pengaruh biografi yang variatif
turut menghasilkan antigen malaria yang luar biasa beragam. Kondisi tanah dan
habitat tempat tinggal juga menyumbangakan aneka spesies nyamuk yang berbeda di
tiap pulau.
“Antigen
yang macam-macam itu menjadikan vaksin malaria terus berkembang. Bisa berbeda
untuk tiap kasus,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
angkatan 1963 itu.
Hingga
saat ini, metode terbaik adalah melakukan terapi artemisinin yang dikombinasikan
dengan obat antimalaria. Artemisinin merupakan hasil olahan herbal dari Artemisia anua, tumbuhan asal Tiongkok
yang efektif menanggulangi malaria. Penemuan terbaru adalah penggunaan ekstrak
kulit batang cempedak sebagai antimalaria.
Perkembangan
zaman, ujar Yoes, juga sangat berpengaruh terhadap peningkatan risiko malaria.
Transportasi yang makin mudah membuat orang gampang berpindah dari satu tempat
ke tempat yang lain, termasuk ke daerah endemis malaria.
“Contohnya,
para perantau atau orang yang mencari nafkah di daerah endemis. Saat pulang ke
kampong halaman, dia tidak menyadari telah membawa parasit plasmodium,” ungkap
direktur Tropical Didease Center Unair 1995-2005 tersebut.
Tingkat
kekebalan masyarakat di daerah endemis malaria memang lebih tinggi daripada non
endemis. Sebab gigitan nyamuk anopheles di kawasan endemis dating secara
periodik. (rim/c5/dos)
Waspadai Daerah Endemis
NYAMUK Anopeles, pembawa parasit plasmodium, hanya ditemukan di daerah endemis malaria. Di Indonesia, daerah endemis malaria mencakup Papua, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan pesisir selatan Pulau Jawa. Di Jawa Timur, daerah endemis malaria, antara lain, Blitar, Malang, Selatan, serta Pacitan. Anopheles umumnya ditemukan di daerah dekat hutan, rawa, dan pantai.
Dokter
Erwin Astha Triyono SpPD KPTI, konsultan penyakit tropic infeksi, menyatakan
siapa pun yang hendak bepergian ke daerah endemis malaria untuk waspada.
Berbagai tindakan pencegahan bisa dilakukan untuk menghindari malaria.
“Pencegahan itu bisa dilakukan kapan pun atau sebelum pergi ke daerah endemis
malaria,” ujar Erwin yang berpraktik di RSUD dr Soetomo tersebut.
Jika
ada seseorang yang hendak pergi ke daerah endemis, dari tempat asalnya, dia
harus meminta obat pencegah malaria dari dokter. Sesampai di daerah endemis,
pencegahan bisa dilakukan dengan menggunakan lotion antinyamuk, konsumsi kina penggunaan kelambu saat tidur.
“Atau air conditioner karena nyamuk
tidak suka tempat dingin,” tambah Erwin.
Gejala malaria membutuhkan pengamatan yang tepat dan serius. Sebab, jika diperhatikan, gejala malaria hampir sama dengan flu, yakni demam. Jika dokter tidak jeli, si penderita disangka menderita demam biasa. “Padahal, kalau dibiarkan terlalu lama, plasmodium akan menyebar ke otak, hati, dan ginjal. Maka, begitu gejala terlihat, dokter harus tepat dan cepat menanginya,” jelas Erwin. (len/c15/dos)
Curigai
Masih Bawa Parasit
PARA penderita
yang sudah dinyatakan sembuh dari malaria bisa jadi masih membawa parasit dalam
tubuhnya. Dr Yoes menemukan beberapa kasus pembawa parasit plasmodium yang sama
sekali tidak terpapar penyakit.
Pemeriksaan
standar seperti tetes tebal dan asupan darah memang tidak mendeteksi adanya
parasit plasmodium yang bersarang dalam darah. “Baru dinyatakan positif saat
dilakukan pemeriksaan molekuler atau rapid
diagnostic test (RDT).” Ungkapnya.
Kondisi
tersebut bisa terjadi karena adanya batasan tertentu dari parasit yang bisa
menimbulkan gejala. Jadi, dalam batas dan kondisi, gejala mungkin tidak muncul.
Kondisi itu tentu mengkhawatirkan. Sebab, tindakan penanggulangan biasanya
dilakukan di awal. “Bisa jadi plasmodium sedang dalam stadium tropozoit, sedang
bertumbuh atau tidur,” ujar dosen parasitologi Universitas Airlannga tersebut.
Malaria
tanpa gejala atau yang dikenal dengan malaria
asymptomatic pernah ditemukan di beberapa daerah seperti Halmahera dan
Trenggalek. Pada penderita tidak ditemui demam tinggi atau gejala lainnya yang
menunjukkan perlawanan terhadap mikroba pathogen. Terlihat sehat-sehat saja.
Karena
itu,ujar dr Yoes, orang yang pernah menderita malaria tetap dianjurkan memeriksakan
diri secara berkala untuk memastikan tes darah benar-benar negatif. Sesuai
dengan program eliminasi malaria dari Menteri Kesehatan, 2015 adalah masa
pembebasan Jawa, Aceh, dan Kepulauan Riau terhadap kasus malaria.
Eliminasi
malaria merujuk pada data seluruh sarana pelayanan kesehatan yang mengonfirmasi
kasus malaria dalam level rendah. Eliminasi pada 2020 akan berfokus pada
pembebasan Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara itu,
pada 2030 eliminasi malaria mengarah pada pembebasan Papua, Maluku, dan Nusa
Tenggara Timur. (rim/c15/dos)
Sumber: Jawa Pos, Selasa 28 April 2015
No comments:
Post a Comment