Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 23 May 2015

Malaria

Menelisik Malaria, Perkembangan dan Tantangannya
Seolah Tidak Pernah Habis
          Sembilan tahun berlalu sejak dicetuskannya Hari Malaria Sedunia oleh World Health Organization (WHO). Seperti tidak ada habis-habisnya, penyakit yang satu ini masih menjadi tantangan di seluruh dunia. Meski jumlah penderita sudah jauh menurun, angka kematian tetap dikatakan cukup tinggi.
          RILIS terakhir WHO pada Desember 2014 menyebutkan, 584 ribu kasus kematian tercatat dari 198 juta kasus malaria di seluruh dunia pada 2013. Angka tersebut sudah jauh menurun hingga 47 persen sejak 2000. Di Indonesia, ditemukan 343.527 kasus malaria pada 2013. Jumlah tersebut sudah jauh menurun jika dibandingkan dengan dua dekade lalu.
Sebagai endemi di kawasan tropis, penyakit karena parasit plasmodium yang bersemayam di nyamuk anopheles betina itu memang banyak ditemukan di Indonesia. Genangan air dan lingkungan yang kurang higienis  menjadi habitat empuk tempat bersarangnya nyamuk. Menanggulangi hal itu, pemerintah lewat Kementerian Kesehatan sudah mencanangkan berbagai program eliminasi malaria menuju Indonesia bebas malaria 2030.
“Contohnya, membagikan impregnated bed nets atau kelambu berinsektisida, indoor residual spraying (IRS), serta active malaria surveillance, yakni jemput bola untuk mandatangi langsung daerah endemis dan mengobati malaria,” terang Prof Dr Yoes Prijatna Dachlan dr MSc Sp ParK, direktur riset dan pengembangan Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Universitas Airlangga, Surabaya.
Malaria, ungkap dia, amat rentan menyerang tiga golongan. Yakni, anak-anak, perempuan hamil, serta orang yang tidak berasal dari daerah endemis malaria. Di Indonesia, daerah endemis Malaria berada di kawasan timur yang meliputi Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. “Untuk Pulau Jawa, pada 2015 ini sudah dinyatakan bebas malaria,” ujar pria kelahiran Denpasar, 28 Oktober 1943, tersebut.
Kondisi wilayah sebagai Negara kepulauan juga memberikan tantangan tersendiri dalam pengendalian malaria. Hingga kini, ungkap Yoes, belum ditemukan vaksin yang secara tepat mampu mengatasi kasus-kasus malaria. Pengaruh biografi yang variatif turut menghasilkan antigen malaria yang luar biasa beragam. Kondisi tanah dan habitat tempat tinggal juga menyumbangakan aneka spesies nyamuk yang berbeda di tiap pulau.
“Antigen yang macam-macam itu menjadikan vaksin malaria terus berkembang. Bisa berbeda untuk tiap kasus,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga angkatan 1963 itu.
Hingga saat ini, metode terbaik adalah melakukan terapi artemisinin yang dikombinasikan dengan obat antimalaria. Artemisinin merupakan hasil olahan herbal dari Artemisia anua, tumbuhan asal Tiongkok yang efektif menanggulangi malaria. Penemuan terbaru adalah penggunaan ekstrak kulit batang cempedak sebagai antimalaria.
Perkembangan zaman, ujar Yoes, juga sangat berpengaruh terhadap peningkatan risiko malaria. Transportasi yang makin mudah membuat orang gampang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, termasuk ke daerah endemis malaria.
“Contohnya, para perantau atau orang yang mencari nafkah di daerah endemis. Saat pulang ke kampong halaman, dia tidak menyadari telah membawa parasit plasmodium,” ungkap direktur Tropical Didease Center Unair 1995-2005 tersebut.
Tingkat kekebalan masyarakat di daerah endemis malaria memang lebih tinggi daripada non endemis. Sebab gigitan nyamuk anopheles di kawasan endemis dating secara periodik. (rim/c5/dos)

Waspadai Daerah Endemis

NYAMUK Anopeles, pembawa parasit plasmodium, hanya ditemukan di daerah endemis malaria. Di Indonesia, daerah endemis malaria mencakup Papua, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan pesisir selatan Pulau Jawa. Di Jawa Timur, daerah endemis malaria, antara lain, Blitar, Malang, Selatan, serta Pacitan. Anopheles umumnya ditemukan di daerah dekat hutan, rawa, dan pantai.
Dokter Erwin Astha Triyono SpPD KPTI, konsultan penyakit tropic infeksi, menyatakan siapa pun yang hendak bepergian ke daerah endemis malaria untuk waspada. Berbagai tindakan pencegahan bisa dilakukan untuk menghindari malaria. “Pencegahan itu bisa dilakukan kapan pun atau sebelum pergi ke daerah endemis malaria,” ujar Erwin yang berpraktik di RSUD dr Soetomo tersebut.
Jika ada seseorang yang hendak pergi ke daerah endemis, dari tempat asalnya, dia harus meminta obat pencegah malaria dari dokter. Sesampai di daerah endemis, pencegahan bisa dilakukan dengan menggunakan lotion antinyamuk, konsumsi kina penggunaan kelambu saat tidur. “Atau air conditioner karena nyamuk tidak suka tempat dingin,” tambah Erwin.

Gejala malaria membutuhkan pengamatan yang tepat dan serius. Sebab, jika diperhatikan, gejala malaria hampir sama dengan flu, yakni demam. Jika dokter tidak jeli, si penderita disangka menderita demam biasa. “Padahal, kalau dibiarkan terlalu lama, plasmodium akan menyebar ke otak, hati, dan ginjal. Maka, begitu gejala terlihat, dokter harus tepat dan cepat menanginya,” jelas Erwin. (len/c15/dos)
Curigai Masih Bawa Parasit
PARA penderita yang sudah dinyatakan sembuh dari malaria bisa jadi masih membawa parasit dalam tubuhnya. Dr Yoes menemukan beberapa kasus pembawa parasit plasmodium yang sama sekali tidak terpapar penyakit.
Pemeriksaan standar seperti tetes tebal dan asupan darah memang tidak mendeteksi adanya parasit plasmodium yang bersarang dalam darah. “Baru dinyatakan positif saat dilakukan pemeriksaan molekuler atau rapid diagnostic test (RDT).” Ungkapnya.
Kondisi tersebut bisa terjadi karena adanya batasan tertentu dari parasit yang bisa menimbulkan gejala. Jadi, dalam batas dan kondisi, gejala mungkin tidak muncul. Kondisi itu tentu mengkhawatirkan. Sebab, tindakan penanggulangan biasanya dilakukan di awal. “Bisa jadi plasmodium sedang dalam stadium tropozoit, sedang bertumbuh atau tidur,” ujar dosen parasitologi Universitas Airlannga tersebut.
Malaria tanpa gejala atau yang dikenal dengan malaria asymptomatic pernah ditemukan di beberapa daerah seperti Halmahera dan Trenggalek. Pada penderita tidak ditemui demam tinggi atau gejala lainnya yang menunjukkan perlawanan terhadap mikroba pathogen. Terlihat sehat-sehat saja.
Karena itu,ujar dr Yoes, orang yang pernah menderita malaria tetap dianjurkan memeriksakan diri secara berkala untuk memastikan tes darah benar-benar negatif. Sesuai dengan program eliminasi malaria dari Menteri Kesehatan, 2015 adalah masa pembebasan Jawa, Aceh, dan Kepulauan Riau terhadap kasus malaria.

Eliminasi malaria merujuk pada data seluruh sarana pelayanan kesehatan yang mengonfirmasi kasus malaria dalam level rendah. Eliminasi pada 2020 akan berfokus pada pembebasan Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara itu, pada 2030 eliminasi malaria mengarah pada pembebasan Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. (rim/c15/dos)  
Sumber: Jawa Pos, Selasa 28 April 2015

No comments:

Post a Comment