Google search

Custom Search

Translate

Monday, 29 August 2016

Stroke di Usia Produktif

Serangan Stroke di Usia Produktif
Penanganan Cepat Pulihkan Kondisi

Stroke kini tidak hanya mengincar usia tua. Kelompok usia produktif, berkisar 15-59 tahun, juga berisiko mengalaminya. Penanganan yang cepat dan tepat memberi pasien harapan pulih yang cukup besar.

                POLA hidup serbacepat dan serbainstan menjadi salah satu faktor risiko stroke bagi kaum muda. “Lifestyle sangat berpengaruh. Pola makan nggak baik, kegemukan, kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol, serta kurang berolahraga bisa menjadi pemicu stroke,” ucap dr Yanna Saelan SpS. Selain pola hidup, stroke di usia muda umumnya dipicu penyakit autoimun dan kelainan kongenital (bawaan lahir).
                Sebelum menyrang, stroke biasanya memberikan gejala. Namun, hal itu kerap diremehkan. Baik yang muda maupun usia lanjut, gejalanya sama. “Yang paling umum, kesemutan dan penglihatan kabur di separo bagian tubuh, lalu migrain. Rata-rata menganggap mungkin cuma  nggak enak badan, bisa sembuh sendiri,” papar spesialis yang berpraktik di Siloam Hospitals Surabaya itu.
                Yanna mengungkapkan, bila muncul tanda-tanda tersebut, sebaiknya jangan tunda lagi. Segera ke UGD atau menghubungi dokter. Terutama jika gejala tersebut muncul tiba-tiba saat beraktivitas. “Nggak usah menunggu sampai korban lemas atau kehilangan kesadaran. Soalnya, satu menit tanpa penanganan, ada 1,9 juta sel otak yang mati,” tegasnya.
                Sementara itu, dr Cindy Sadikin SpRad (K) menjelaskan, penanganan serangan stroke dengan cepat tidak cuma memperbesar kesempatan pasien untuk selamat. Dalam kasus stroke akibat pembekuan darah, misalnya, penanganan bisa dilakukan dengan pemberian r-tPA yang berfungsi menghancurkan bekuan.
                “Dalam tiga jam, pemberian r-tPA sudah cukup membantu. Tapi, kalau lebih dari tiga jam atau yang diserang pembuluh darah besar, bakal dibantu keteterisasi,” imbuh spesialis yang pernah menempuh studi di Taiwan tersebut. Bila pasien datang sekitar 8-12 jam setelah serangan, penanganannya bakal lebih ngeri. “Pembekuannya bakal disedot secara mekanis dengan thrombectomy,” ucapnya.
                Bila mendapat penanganan dan melakoni terapi rutin, pasien stroke bisa sembuh dengan kondisi  nyaris sempurna. “Setelah stroke bakal pelo permanen itu cuma mitos. Apalagi kalau terjadinya di usia muda,” kata Cindy yang juga bertugas di Siloam Hospitals Surabaya itu. Sebab di usia muda, neuroplasticity atau kemampuan sel otak beradaptasi dan mengambil alih tugas sel otak yang mati masih baik. Hanya, memang peluang untuk pulih sempurna dipengaruhi bagian saraf yang diserang dan seberapa besar bagian otak yang diserang.
                Setelah terserang stroke, potensi seseorang mengalami serangan lanjutan meningkat hingga 10 kali lipat. Untuk mencegah hal tersebut, Yanna dan Cindy menyarankan pasien mengubah pola hidup. “Istirahat harus cukup , olahraga teratur dan sesuai kondisi, rutin kontrol dan konsumsi obat sesuai dosis,” ucap Yanna. (fam/c7/ayi)

Sumber: Jawa Pos, 23 Agustus 2016
picture : https://pixabay.com/id/anak-laki-laki-duduk-bahagia-anak-746520/

Tuesday, 23 August 2016

DANGER yelling CHILD AND MOTHER TO BE MORE PATIENT

BAHAYA MENERIAKI ANAK DAN CARA MENJADI IBU YANG LEBIH SABAR

Jika Anda meneriaki anak Anda, lalu menyesal setelahnya, ini saran buat Anda.

Saya, suami dan dua anak kami sedang menikmati liburan santai di Hawaii. Kami sedang berkendara di mobil melalui jalan berliku (dan berbahaya) dan menuju Hana. Saat kami sedang melihat betapa indahnya tebing dan pantai, peristiwa itu tiba-tiba terjadi; tanpa alasan jelas, anak laki-laki kami yang berusia 5 tahun melempar botol air ke arah suami.
Botol itu mengenai kaca dan membuat suara keras. Hanya keajaiban yang membuat kami tidak menabrak sesuatu — meski kami sempat kehilangan kendali. Saya dan suami sontak memarahi, berteriak dan mengancam.
"Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak tahu kalau itu amat berbahaya? Kita sedang menikmati liburan, dan kamu melempar botol air tanpa alasan?" Lagi dan lagi kami memarahinya — melebihi apa yang sepantasnya diterima anak TK.
Air mata mulai mengalir di pipi anak saya. Bibirnya gemetar, dan ia mulai menangis. Kami pun menenangkan diri dan melanjutkan perjalanan, dan saya mencoba melupakan semua kejadian tersebut.
Beberapa minggu kemudian, saya memutar ulang video liburan kami di Hawaii. Ternyata insiden pelemparan botol air itu tidak sengaja terekam kamera (yang saya lupa matikan). Tanpa gambar, saya bisa mendengarkan diri saya sendiri sedang meneriaki anak kami dan mempermalukannya.
Saya mencoba menahan air mata. Bagaimana saya bisa berlaku seperti itu di depan anak saya sendiri, anak saya? Saya mungkin rekaman suara di kamera video, tapi tidak akan pernah bisa menghapus kejadian tersebut dari ingatan.
Suka atau tidak, sebagian orang tua mengamuk di depan anak kesayangan mereka. Kadang kemarahan itu ditujukan pada anak, kadang juga tidak. Tapi itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Untungnya, ada cara sederhana yang bisa diambil untuk memperbaiki keadaan:
Harga dari sebuah kemarahan
Pertama, ingatlah mengamuk di depan anak bukan cara tepat menjadi orang tua. Hal itu bisa menyebabkan gangguan pada kejiwaan mereka, ujar ahli psikologi Matthew McKay, Ph.D, profesor dari Wright University di Berkeley, California, dan penulis “When Anger Hurt Your Kids”.
"Studi yang ada menunjukkan bahwa orangtua yang menunjukkan kemarahan di depan anaknya akan membuat anak tersebut menjadi kurang empatik, kata McKay.
Anak tersebut akan menjadi agresif dan mudah depresi dibandingkan anak yang berasal dari keluarga yang tenang, dan memiliki performa yang kurang baik di sekolah. Kemarahan dapat mengurangi kemampuan anak untuk beradaptasi dengan dunia, ujar McKay.
Semakin muda usia anak tersebut, maka semakin besar dampaknya. "Ketika anak masih kecil, Anda adalah dunianya," ujar psikolog Robert Puff, Ph.D, penulis “Anger Work: How to Express Your Anger and Still Be Kind”. "Ketika Anda marah, dunia mereka terguncang. Saat mereka tumbuh dewasa. mereka punya teman, dan orang lain dalam hidup mereka, dan hal itu akan mengurangi efeknya."
Satu lagi yang harus diperhatikan: Kemarahan tanpa kata-kata pada umumnya tidak akan membuat efek sebesar kemarahan biasa, ujar McKay.
Anak itu sebenarnya bisa belajar pelajaran penting dari melihat Anda marah sampai menenangkan diri. "Hal itu akan menunjukan pada anak bahwa kita semua bisa marah, tapi yang terpenting adalah memperbaiki keadaan sesudahnya," ujar McKay. Ini adalah langkah untuk melakukannya.
Ketika Anda meneriaki anak
Ketika Jennifer dari Huntington Beach, California, pergi ke Disneyland dengan tiga anaknya, dia tidak sadar "tempat paling bahagia di Bumi" akan menjadi salah satu lokasi momen paling buruknya sebagai orangtua. "Waktu itu hari sangat panas dan ramai" ujar Jennifer. "Dua anak saya menderita penyakit paru-paru dan bisa menggunakan kartu khusus untuk menghindari antrean. Tapi anak saya yang berusia 13 tahun menghilangkan kartunya. Tiba-tiba saya meneriakinya, setelah itu anak saya mulai menangis. Semua orang yang ada di sekitar melihat saya dengan jijik. Saya terus meminta maaf. Air mata saya juga mulai mengalir karena telah melukainya."
Studi University of New Hampshire menemukan, 90 persen orangtua mengakui pernah memarahi anaknya pada usia 2-12 tahun, dalam periode satu tahun (10 persen lagi pasti malaikat atau punya ingatan yang buruk).
Untuk menghindari meneriaki anak, kami berikan beberapa tips: Saat Anda marah bayangkan anak Anda sebagai bayi, ujar Dr. Sandra P Thomas, profesor dari University of Tennessee, Knoxville, dan penulis dari “Use Your Anger: A Woman's Guide to Empowerment”.
"Anak yang lebih tua dan remaja memang tidak selucu bayi, dan kadang mereka menyebalkan," ujarnya. "Ketika Anda marah, ingatlah mereka sebagai bayi, hal itu akan membantu Anda."
"Jika Anda bisa, istirahatlah sebentar, dan pergilah ke ruang sebelah meski hanya satu atau dua menit" ujar Laura J. Petracek, Ph.D., penulis “The Anger Workbook for Women”.
Jika Anda terlanjur marah, hal yang paling penting adalah memperbaikinya. Jangan tergoda untuk menyalahkan anak Anda karena memicu amarah. "Katakan, aku sangat kecewa pada kecerobohanmu, tapi aku seharusnya tidak berteriak seperti itu, aku minta maaf." ujar Thomas. Berjanjilah Anda tidak akan melakukannya lagi, hibur anak Anda seperlunya.
Ketika Anda bertengkar dengan pasangan
Angie dari Seattle mengatakan hidupnya penuh tekanan sejak suaminya kehilangan pekerjaan dan mereka sering bertengkar di depan anak mereka yang berumur tiga tahun, Lexi.
"Semalam saya memarahi suami karena tidak membersihkan rumah," ujarnya. "Lexi datang dan menarik baju saya sambil berkata, 'Ayah jangan dimarahi', mata Lexi terlihat sangat ketakutan. Kami akhirnya berhenti bertengkar dan mencoba meyakinkannya, bahwa ayah dan ibunya masih saling mencintai, tapi saya tidak tahu apakah Lexi percaya."
Anak bisa sangat terpukul jika melihat orang tuanya bertengkar, ujar Charles Spielberger, Ph.D., psikolog yang mempunyai spesialisasi dalam studi kemarahan di University of South Florida. Sangat penting untuk segera memperbaiki keadaan.
Tidak usah menjelaskan keadaan dengan membacakan daftar cucian yang tidak dikerjakan pasangan Anda, hal itu hanya akan membuat anak stres. "Lebih baik katakan seperti ini: 'Saya sangat marah dengan ayahmu tadi, kami telah membicarakannya dan sedang memperbaikinya, orang tinggal bersama kadang bisa marah, maaf telah berteriak, kami masih saling menyayangi.'"
Jika bisa, katakan apa yang akan Anda lakukan lain kali, ujar Jerry Deffenbacher, Ph.D., profesor psikologi di Colorado State University, yang mempelajari masalah kemarahan. Hal itu akan membuat anak belajar dari pengalaman, contohnya: "Saya marah pada ayahmu karena menghanguskan roti, tapi saya minta maaf, harusnya saya tidak berteriak seperti itu. Lain kali kami akan menggunakan timer di dapur saat menyalakan oven."
Jangan berkomentar terlalu banyak. Menjelaskan terlalu banyak akan membuat anak Anda seperti terapis atau mediator. Jangan melibatkan anak terlalu jauh.
Ketika bertengkar dengan orang asing
Saat Fiona dari Detroit memasang sabuk pengaman untuk anaknya setelah kembali dari toko roti, seorang pengemudi yang lebih tua darinya berhenti di dekatnya dan membunyikan klakson. "Dia berteriak, tutup pintumu!" tanpa memberi peringatan kalau saya menutupi jalannya. Saya langsung berteriak "Apa tidak bisa lihat kalau saya sedang meletakkan bayi di kursi? Dasar $%*#@?!'”
“Anak kembar saya yang duduk di kursi belakang sangat terkejut, dan aku merasa sangat bersalah pada anak saya."
Insting Anda pasti ingin meminta maaf, tapi jangan. Semua orang bisa marah, Anda tidak boleh minta maaf karena kemarahan. (Hal ini penting jika Anda punya anak perempuan — anak perempuan pada usia muda memendam perasaannya).
Lebih baik terangkan apa yang membuat Anda marah. Ujar McKay: "Katakan, 'orang itu melukai perasaan saya dan saya sangat marah.'" Kemudian, mintalah maaf karena cara Anda meluapkan kemarahan. "Pastikan anak tahu makian — atau apa pun yang Anda lakukan itu salah" ujar Thomas.
Mengatasi amarah Anda
Untuk tetap bersabar, ikutilah beberapa aturan dasar berikut:
-Tanyakan pertanyaan yang tepat ketika anak membuat susah dan memicu kemarahan Anda, ikuti saran McKay: Daripada berpikir, mengapa dia melakukan ini pada saya? Fokus pada anak; mungkin ada alasannya. Apa dia lapar, bosan, lelah, atau ingin diperhatikan? Coba penuhi keinginannya dan jangan terbawa emosi.
-Catat kemarahan Anda saat Anda terbawa emosi. "Lihat polanya — jam saat Anda paling marah? Situasinya? ujar Deffenbacher. "Setelah Anda menemukan inti penyebab kemarahan Anda, minta pendapat mengatasinya." Anda bahkan bisa melibatkan anak Anda, katakan: "Saya sangat kesal jika kamu tidak mengerjakan tugasmu, bagaimana supaya membuat situasi ini lebih baik? Dengan membiarkan anak memberi pendapat, Anda mendorong mereka menjadi bagian dari solusi.
-Kurangi pertengkaran rumah tangga, "Pada saat yang tenang, Anda dan pasangan harus setuju untuk mengatasi argumen secara berbeda, ujar Deffenbacher. "Jangan bertengkar di depan anak. Buat kode ketika Anda sangat marah, dan biarkan sinyal itu menjadi tanda kalau Anda ingin membahasnya nanti secara pribadi ketika suasana sudah tenang."
-Katakan emosi Anda dengan jelas, ketika anak atau orang asing membuat Anda marah, katakan "Wow, orang itu memotong jalanku — tidak sopan! Mungkin dia ada keadaan darurat atau tidak melihatku. Apa pun itu dia tidak akan merusak hariku.” ujar Deffenbacher. Dengan melakukan itu, Anda memberi contoh bagaimana mengatasi rasa frustasi sehari-hari. Dan bagaimana mengontrol emosi, sebelum Anda dikontrol emosi.


Monday, 22 August 2016

Jaga Paru-paru Saat Haji

Imunitas Mesti Bagus
Jaga Paru-Paru saat Haji
SURABAYA – Musim haji tiba. Ibadah yang merupakan rukun Islam kelima itu tidak hanya membutuhkan kesiapan rohani. Tapi juga fisik yang fit. Gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) kerap menjadi langganan jamaah. Penyakit itu semakin menjadi masalah jika penderita sebelumnya terkena gangguan paru-paru.
Ada tiga jenis penyakit paru-paru yang paling banyak diderita orang Indonesia. Yakni, paru-paru obstruktif kronis (PPOK), asma, dan bronkitis. Sebagian calon jamaah haji (CJH) memang sudah tahu bahwa dirinya menderita penyakit itu. “Namun, ada juga yang baru tahu ketika yang bersangkutan menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai syarat sebelum berangkat,” kata dr Arief Bakhtiar SpP, spesialis paru-paru  RSUD dr Soetomo Surabaya.
Pada penderita PPOK, paru-paru mengalami perubahan struktur menjadi lebih longgar. Aliran napas atau airway dan kinerja paru-paru terganggu. Napas cenderung pendek, mudah sesak, dan mudah lelah. “PPOK terjadi, salah satunya, karena kebiasaan merokok yang terus-menerus hingga akhirnya paru-paru terdampak,” jelas dr Bambang Susilo Simon SpP FCCP, spesialis paru-paru dari Siloam Hospitals Surabaya.
Pada penderita asma, penyakit umumnya bawaan (kongenital) atau dipicu alergi mikroorganisme maupun zat asing (debu atau asap). “Berbeda dengan PPOK, asma bisa muncul sewaktu-waktu. Termasuk saat ada infeksi seperti ISPA,” tutur Arief.
Pada penderita asma, saluran napas mengalami penyempitan karena pembengkakan dan dipenuhi riak. Pertukaran oksigen dan karbon dioksida terganggu. Sementara itu, pada penderita bronkitis, yang bermasalah adalah bronkus. Karena iritasi atau infeksi, bagian bronkus menjadi penuh dengan mukosa atau riak.
Tiga penyakit paru itu bisa kambuh jika penderita mengalami ISPA yang sering menyerang jamaah haji. Tiga penyakit paru-paru itu juga bersifat akut sehingga eksaserbasi atau kambuhnya bisa tiba-tiba. Pada sejumlah kasus ekstrem, penderita ditemukan meninggal dunia karena henti napas. “Solusi utama untuk mencegah kambuhnya penyakit paru-paru  adalah meningkatkan imunitas tubuh. Salah satunya dengan membekali diri dengan imunisasi flu sebelum berangkat,” terang Bambang. (len/c11/ayi)

Sumber : Jawa Pos, 16 Agustus 2016 
Picture :https://pixabay.com/id/mekkah-haji-orang-orang-grup-orang-66985/ 

Friday, 19 August 2016

Bagan Ritme Kerja Organ Tubuh

RITME KERJA ORGAN TUBUH
Irama circadian sering juga disebut sebagai body clock  atau jam kerja tubuh. Berikut jam kerja organ tubuh yang lazim atau terjadi pada orang yang beraktivitas siang dan beristirahat ketika malam. Pada mereka yang memiliki pola hidup sebaliknya, organ tubuh akan menyesuaikan setelah 24 hingga 48 jam.
WAKTU
RITME KERJA ORGAN TUBUH
05.00 – 07.00
Proses detoksifikasi berakhir pada bagian usus besar sehingga menyebabkan kita ingin buang air besar (BAB). BAB atau berkemih pada jam-jam ini merupakan efek dari pembuangan racun.
07.00 – 09.00
Disarankan sarapan dengan gizi seimbang. Gizi yang terkandung terserap sempurna oleh sistem pencernaan untuk disuplai ke tubuh. Untuk hasil lebih optimal, minum air putih atau jus buah segar yang bukan jus kemasan sangat mambantu.
09.00 – 11.00
Tubuh dan pikiran sudah panas dan mencapai kondisi ideal untuk beraktivitas. Zat-zat gizi yang diperoleh saat sarapan mulai menunjukkan efek berkat kinerja limpa yang mengalirkannya ke tubuh. Jarang ada yang mengantuk , kecuali memang sedang kurang tidur atau mengalami gangguan pada limpa.
11.00 – 14.00
Hormon stres dan kinerja jantung meningkat. Jeda istirahat dibutuhkan untuk memberi kesempatan tubuh dan pikiran menyegarkan diri serta menenangkan jantung. Makan siang di luar bisa menyegarkan pikiran, menambah tenaga, sekaligus membiarkan tubuh terkena sinar matahari yang bisa memperkuat sistem imun.
14.00 – 15.00
Melakukan banyak hal sekaligus atau multitasking paling cocok dilakukan pada siang hari. Sebab, kemampuan otak untuk melakukan koordinasi berada pada titik tertinggi. Di sisi lain, proses mencerna makanan belum selesai sehingga kemampuan fisik agak berkurang. Jika perut terasa begah atau kembung, artinya pola makan Anda tidak tepat. Bisa jadi jumlah makanan kurang atau berlebih.
15.00 – 17.00
Denyut jantung paling stabil dan tekanan darah paling stabil sehingga cocok untuk melakukan aktivitas fisik, misalnya berolahraga. Pada jam-jam ini, jika merasa sangat lelah, artinya ginjal Anda sedang bermasalah.
17.00 – 20.00
Terjadi proses membuang racun. Fungsi hati dan ginjal dalam memproses dan membuang racun sisa metabolisme terjadi secara optimal pada sore hari sehingga perlu didukung dengan minum air putih.
20.00 – 21.00
Metabolisme dan pergerakan usus berkurang. Karena aktivitas fisik berkurang, pembakaran energi tidak banyak terjadi saat malam. Jika makan di malam hari, cadangan energi yang disimpan dalam bentuk lemak juga akan semakin bnanyak.
21.00 – 23.00
Terjadi pembuangan racun di sistem antibodi. Sistem peredaran darah pun sedang berada dalam masa perbaikan. Tubuh harus rileks. Bersantailah dengan mendengarkan musik atau melakukan hobi, misalnya membaca atau menonton TV. Produksi hormon melatonin (penyebab kantuk) juga mulai meningkat karena malam semakin larut dan gelap.
23.00 – 01.00
Pada jam ini terjadi detoksifikasi di bagian hati yang mengaharuskan kita untuk tidur pulas agar proses tersebut tidak terganggu. Begadang akan menganggu detoksifikasi sehingga penyakit liver rawan terjadi.

Sumber: Jawa Pos, 2 Agustus 2016

Saturday, 6 August 2016

RITME KERJA ORGAN TUBUH

Manajemen Jam Kerja Organ Tubuh
Ritme Berubah karena Pembiasaan
Pagi saat beraktivitas, malam waktunya istirahat. Kebiasaan yang diajarkan sejak kecil itu ternyata sangat terkait dengan pola jam kerja organ tubuh. Menolaknya bisa mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan. Tapi, pegawai yang memiliki sif malam tak perlu terlalu khawatir. Ada solusinya.
                DALAM dunia kedokteran, terdapat konsep ritme circadian. Konsep yang dikenalkan Franz Halberg itu mendefinisikan perubahan kinerja organ-organ tubuh dalam sehari berdasar jam. “Perubahan itu ada ritmenya dan prosesnya memengaruhi metabolisme tubuh,” ujar dr Puri Safitri Hanum SpPD, spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Bedah Surabaya.
                Sistem kerja organ tubuh dibagi menjadi dua bagian besar, yakni  ergothropic dan trophotropic. Umunya, ergothropic terjadi pada siang. Saat itu, organ tubuh cenderung bekerja ekstra. Trophotropic terjadi pada malam saat kinerja organ tubuh cenderung menurun. Karena itu, mayoritas orang beristirahat pada malam.
Mulai pagi hingga siang, tubuh berada dalam fase siap bekerja. Sebagai bekal, sarapan sangat disarankan sebagai penyuplai energi sehari penuh. “Lantas, menjelang siang, ibarat mesin diesel, tubuh mulai panas. Masih bisa dipakai beraktivitas, namun disarankan diselingi istirahat supaya tetap fit,” kata Hanum.
Sementara itu, pada malam, kinerja dan metabolisme sebagian organ mulai menurun. Bekerja keras idealnya tidak dilakukan karena tidak didukung dengan metabolisme yang optimal. “Pada malam organ-organ penetralisasi racun juga mulai bekerja. Hal itu hanya akan berjalan optimal jika kita dalam posisi rileks atau bahkan tidur,” ujar Hanum.
Dengan perubahan kinerja organ tubuh, tentu kegiatan harus disesuaikan. Jika dipaksaskan atau diganti, tubuh rentan terkena berbagai gangguan kesehatan. “Misalnya, begadang. Jika seseorang tetap bangun di waktu yang mengharuskan dia tidur, proses detoksifikasi tidak akan berjalan optimal,” tutur Hanum.
Namun, bagi beberapa orang, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang bisa mengakibatkan terjadinya adaptasi tubuh. Ambil contoh mereka yang memang memiliki ritme bekerja dari malam hingga pagi. “Pekerjaan memang bisa memengaruhi pola kerja organ tubuh. Tapi, tubuh tetap perlu waktu untuk menyesuaikan,” ujar dr Choesnan Effendi AIF AIFO, pakar fisiologi Universitas Hang Tuah Surabaya.
Waktu yang diperlukantubuh untuk menyesuaikan irama circadian normal, rasa kantuk terjadi malam ketika kinerja tubuh mulai menurun dan hormon melatonin meningkat karena gelap. “Maka, mereka yang bekerja malam dan belum terbiasa akan merasakan kantuk saat bekerja,” ujar Choesnan.
Lantas, setelah 24 hingga 48 jam, penyesuaian mulai terjadi bagi para pekerja sif malam. Tubuh akan mulai bisa digunakan untuk beraktivitas layaknya ketika bekerja saat siang. Aktivitas organ tubuh pun akan mengikuti ritme kerja orang yang bersangkutan. Hanya, hal itu harus dilakukan secara teratur. “Misalnya, tiga hari kerja malam, lantas satu hari kerja siang. Itu sangat tidak disarankan karena membuat sistem kerja organ tubuh tidak teratur dan mengakibatkan gangguan pada organ tertentu. Misalnya, organ pencernaan atau sistem saraf,” jelas Choesnan.
Selain keteraturan, para pekerja sif malam harus menggunakan waktu istirahat secara optimal ketika siang. Selayaknya para pekerja siang, tubuh pun perlu diistirahatkan saat tidak bekerja. “Yang pasti, para pekerja sif malam harus memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat agar sistem imun tidak mudah menurun akibat begadang atau beraktivitas di malam hari,” tambah Choesnan. (len/c19/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 2 Agustus 2016
PICTURE: https://pixabay.com/en/men-yoga-classes-gym-instructor-1179452/