Google search

Custom Search

Translate

Tuesday, 21 March 2017

Stop Pass Out Challenge

Stop Pass Out Challenge

Bisa Rusak Otak dan Mematikan

                SURABAYA- Enah apa yang memicu sehingga aksi bodoh ini begitu cepat menyebar di banyak tempat melalui media sosial. Sekelompok siswa tampak sengaja menekan bagian dada temannya hingga pingsan, bahkan kejang. Melihat si kawan lemas, para siswa itu justru tertawa-tawa senang. Mereka tak sadar bahwa permainan tersebut sangat berbahaya. Bahkan, bukan permainan, sejatinya.
Aksi itu bernama pass out challenge atau skip challenge. Terjemahan sederhananya : tantangan pingsan!
Di Amerika, menurut laporan Oregon Health Authority, pada 2012 aksiitu telah mengakibatkan banyak kematian bagi anak dan remaja.
Sejak 1995 hingga 2007, ada 82 anak berusia 6-19 tahun yang meninggal. Mirisnya, hal tersebut kembali marak di Indonesia.
Aksi itu biasanya dilakukan dengan sukarela. Mereka yang menjadi korban pun tidak mempermasalahkan diperlakukan demikian. Sementara itu, kawan-kawannya yang melihat juga riang menyaksikan korban lemas hingga kejang.
Di Surabaya memang belum ada laporan isiden tersebut. Namun, melihat betapa banyaknya video aksi tersebut yang tersebar di media sosial, bukan tak mungkin sudah ada siswa Kota Pahlawan yang sembunyi-sembunyi melakukan pass out challenge.
Karena itu, sejumlah sekolah pun melakukan antisipasi. Kepala SMPN 21 Chamim Rosyidi Irsyad menyatakan telah memperketat pengawasan siswa dalam lingkup sekolah. Sekolah mengawasi beberpa tempat yang berpotensi dijadikan tempat aksi. Misalnya, kamar mandidan ruang kelas saat jam kosong. “Kami akan tambah guru pada ruang berpotensi tersebut,” jelasnya.
Selain tidak bermanfaat, pass out challenge termasuk kategori perundungan (bullying). Sebab, dalam aksi itu, ada salah satu pihak yang tertekan secara fisik dan membahayakan jiwa.Harus dicegah,” tegasnya.
Langkah antisipasi penyeabran pass out chalenge di kalangan siswa juga telah dilakukan di lingkungan SMPN 3. Kepala SMPN 3 Budi Hartono menyampaikan, melalui apel pagi dan radio sekolah, para guru telah menghimbau para siswa agar tak melakukan aksi berbahaya tersebut.
Selain melalui berbagai himbauan, sekolah telah berkoordinasi dengan guru bimbingan konseling dan guru kelas untuk mengawasi siswa. Langkah tersebut dilakukan sekolah sesuai dengan arahan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya untuk mengawasi siswa di sekolah masing-masing.
Kepala Dispendik Ikhsan membenarkan adanya himbauan kepada kepala sekolah untuk mengawasi siswanya agar tak melakukan pass out challenge tersebut. “Mengingat berbahayanya permainan tersebut terhadap keselamatan siswa, kami harap para guru di sekolah bisa melakukan pengawasan secara maksimal,” tuturnya.
Dokter spesialis saraf RS Unair dr Wardah Rahmatul Islamiyah SpS menggambarkan betapa bahayanya aksi pingsan tersebut. Sebab, ia berkaitan dengan penghentian oksigen ke seluruh tubuh.
Dada yang ditekan kuat membuat darah tidak dapat keluar dari jantung. Padahal, di dalam darah terdapat oksigen yang sangat dibutuhkan organ-organ di dalam tubuh. “Termasuk otak,” jelasnya.
Otak merupakan organ yang harus disuplai oksigen secara pas. Tidak boleh kurang atau berlebih. Jika suplai darah ke otak kurang, beberapa arealnya rusak.
Waktu yang dibutuhkan untuk merusak saraf di otak tidak lama. Pada orang normal atau tidak ada kelainan pembuluh darah, saraf otak bisa rusak hanya dalam waktu 5 menit.
“Pada mereka yang mepunyai kelainan locus minorus atau pembuluh darah yang tidak sempurna secara ukuran maupun ketebalan, tentu waktunya lebih cepat” unkapnya. Artinya, tidak perlu menunggu 5 menit untuk merusak saraf permanen otak.
Sayang, saat suplai oksigen kurang, tidak ada yang tahu bagian mana saraf yang akan rusak. Jika rusak di bagian saraf pusat gerak, korban bisa mengalami gangguan gerak seperti yang dialami pasien stroke.
Pingsan atau tidak sadarkan diri merupakan anda kurangnya suplai darah ke otak. Lama pingsan masing-masing orang pun berbeda. Orang normal mungkin langsung pass out begitu mendapat tekanan sekitar 5 menit. Nah, mereka yang punya kelainan pembluh darah tentu lebih sebentar.
“Yang perlu diwaspadai adalah kerusakan yang permanen,” kata dokter yang juga praktik di RSUD dr Soetomo itu.wardah menerangkan, pingsan berulang tentu akan mengganggu kondisi otak.
Ibu dua anak tersebut mengungkapkan, pass out challenge berkembang sejak 1995 di Amerika. Mulanya, permainan itu marak untuk menggantikan ketergantungan pada mariyuana. “Sensasi  fly saat menggunakan mariyuana digantikan dengan pingsan,” terangnya.
Kenapa permainan tersebut lebih banyak dimainkan remaja? Menurut psikiater National Hospital dr Aimee Nugroho SpKJ, remaja memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar. “Belum lag dorongan dari teman-temannya. Mereka ada pada tahap peer pressure,” jelasnya.
Dorongan dari teman itulah yang membuat remaja tertantang. Karena itu, mereka akan menjalankan tantangan tersebut untuk membuktikan siapa dirinya. “Anak-anak itu masih mencari jati diri” ujarnya.


BETAPA BAHAYANYA
AKSI INI...







Efek Mengerikan
1.        Saat ditekan, otot dada dan jantung tidak diberi kesempatan mengembang. Akibatnya, darah dari dalam jantung tidak bisa keluar.
2.        Kerusakan pada otak. Tidak bisa diprdiksi bagian otak mana yang akan rusak. Jika kerusakan terjadi pada bagian saraf pernapasan, risikonya meninggal.
3.        Mata menjadi merah.
4.        Ketidaksadaran
Tindakan:
Dalam posisi jongkok atau berdiri, korban disuruh bernapas panjang dan menghembuskan lewat mulut.
...................................................................................................................................................
Saat hembusan paling kuat dilakukan, bagian dada korban ditekan kuat dengan telapak tangan.
...................................................................................................................................................
Korban tidak boleh ambil napas. Tekanan dilepas saat korban mulai lemas seperti pingsan.
...................................................................................................................................................
Sumber: Metropolis – Jawa Pos, 11 Maret 2017