Google search

Custom Search

Translate

Thursday, 8 December 2016

Pregnant

Bumil dengan Diagnosis Kanker Serviks
Kompleks tapi Tetap Ada Solusi

Kanker serviks merupakan momok bagi perempuan. Penyakit tersebut adalah jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan usia lebih dari 18 tahun yang aktif secara seksual. Infeksi virus pada mulut rahim itu dapat berkembang puluhan tahun di dalam tubuh tanpa gejalanya disadari.

               

KANKER serviks bisa terjadi pada perumpuan hamil. Maksudnya bukan si ibu itu baru terkena kanker serviks ketika mulai mengandung. Sebab perjalanan virus ersebut berlangsung lama, 10-15 tahun sebelumnya. “Tapi, mungkin karena sebelumnya tidak pernah periksa, diagnosis kanker serviks itu baru muncul ketika si ibu hamil,” ujar dr Ulul Albab SpOG.
Gejala yang harus diwaspadai sebagai kanker serviks atau kanker mulut rahim pada perempuan hamil maupun tidak sebenarnya sama. Diantaranya, saat berhubungan intim selalu merasa sakit, bahkan diikuti pendarahan, mengalami keputihan dalam jumlah banyak, rasa sakit saat buang air kecil, serta pendarahan spontan.
Itulah gejala yang kadang sering tidak dikenali ibu hamil. Sering kali pendarahan dianggap sebagai pendarahan normal akibat kehamilan. Padahal, bisa jadi pendarahan tersebut disebabkan dari infeksi sel kanker. “Kondisinya makin kompleks pada ibu hamil. Ditambah tidak banyak yang berani melakukan skrining cervical cancer pada ibu hamil. Sebab, risiko pendarahan makin tinggi,” katanya.
Dokter yang berpraktik di Jakarta dan Depok itu mengungkapkan, tata laksana bagi ibu hamil dengan diagnosis kanker serviks harus mempertimbangkan derajat kanker serta usia kehamilan. Kalau diagnosis muncul pada trisemester pertama dan derajat (stadium) masih rendah, kehamilan bisa tetap dipertahankan.
Namun, kehamilan harus dipantau secara ketat. Janin ditunggu hingga usia cukup untuk dilahirkan. Biasanya ketika berat janin sudah mencapai 2 atau 2,5 kilogram. Kemudian, persalinan dilakukan secara operasi. “Pada kondisi tertentu, dilakukan operasi pengangkatan bayi sekaligus rahim,” ungkapnya. Sekali lagi, kondisi tersebut sangat spesifik pada setiap pasien, tidak bisa digeneralisasi.
Dipilihnya proses kelahiran secara operasi bukan lantaran risiko bayi akan tertular kanker serviks, melainkan risiko pendarahan luar biasa yang bisa terjadi terhadap sang ibu.
Bicara mengenai kanker serviks secara umum, dr Ulul mengingatkan pentingnya rutin melakukan pap smear ,” tutur dia. Terlebih pada kategori high-risk cervical cancer, yaitu perempuan yang kali pertama berhubungan seks kurang dari 20 tahun, perempuan yang merokok, berganti-ganti pasangan, serta ada yang menderita kanker serviks dalam riwayat keluarga. (nor/c14/ayi)
SERBA-SERBI
KANKER SERVIKS
·  Human papilloma virus (HPV) merupakan penyebab utama terjadinya kanker serviks di seluruh dunia.
·  Virus ini memiliki tipe yang sangat banyak. Di Indonesia, tipe 15, 16, dan 18 merupakan tipe high-risk.
·  Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks berlangsung dalam waktu sekitar 10-15 tahun.


Sumber: Jawa Pos, 24 Mei 2016
picture:https://pixabay.com/id/muda-yang-cantik-wanita-hamil-1434863/ 

Thursday, 13 October 2016

Rinitis

Rinitis si Penyebab Bersin dan Meler

DAYA TAHAN TUBUH PENGARUHI DURASI

Pernah bersin-bersin, lalu hidung meler meski tidak sedang flu? Umumnya, kondisi itu disebabkan penyakit rinitis. Ini penjelasannya.


                DALAM kedokteran, rinitis merujuk pada peradangan bagian mukosa di dalam hidung. Secara umum, mukosa berfungsi memproduksi lendir yang bertugas menjaga kebersihan hidung. Mukosa mempunyai sistem pertahanan berupa selaput lendir dan bulu getar. “Tapi, keduanya bisa ditembus zat asing atau mikroorganisme,” ujar dr Budi Sutikno SpTHT-KL (K), pakar THT dari National Hospital Surabaya.
                Ketika mukosa diinvasi zat asing, terjadilah peradangan. Mukosa jadi lebih banyak mengeluarkan lendir yang sering disebut ingus. Makanya, pada penderita rinits, ingus jadi mengalir alias meler. Bukan hanya itu, saraf vidianus yang berfungsi merangsang bersin pun menjadi lebih sensitif.
                Bersin sejatinya merupakan mekanisme refleks hidung untuk mengeluarkan kotoran atau zat asing dari hidung. Saraf vidianus yang terganggu membuat sensitivitasnya meningkat. Sedikit pemicu, bersin pun terjadi. Ketika bersin terjadi berulang dalam waktu singkat disertai hidung meler, itulah rinitis.
Salah satu penyebabnya adalah mikroorganisme seperti rhinovirus. Virus itu memiliki daya gerak yang bisa menembus selaput lendir dan bulu getar. “Virus cepat menginfeksi mukosa dan mengakibatkan pilek,” jelas dr Irwan Kristyono SpTHT-KL (K), spesialis THT dari RSUD dr Soetomo Surabaya.
Peradangan di dalam mukosa terkadang sedemikian parahnya. Sampai-sampai, bagian permukaan hidung juga terdampak. Hidung membengkak dan berwarna kemerahan merupakan salah satu contohnya. Selain karena virus, rinitis bisa terjadi akibat faktor alergi. “Sesuai namanya, rinitis terjadi sebagai bentuk perlawanan tubuh terhadap alergen yang masuk ke tubuh,” jelas Budi.
Alergen didefinisikan sebagai protein pemicu alergi. Protein itu bisa masuk megakibatkan rinitis dengan dua cara, yakni lewat hirupan maupun makanan. “Alergen yang bisa terhirup, antara lain, kotoran mikroorganisme, kulit atau bulu hewan, kapuk, serbuk sari, dan debu tungau rumah,” jelas Irwan. Sementara itu, makanan dengan protein tinggi seperti seafood pun bisa menjadi penyebab meski jarang terjadi.
Saat alergen masuk ke hidung, awalnya tubuh akan menoleransi. “Tapi, kalau alergen masuk lagi, tubuh langsung merespons. Salah satunya meningkatkan sensitivitas mukosa dan saraf di hidung,” papar Budi.
Zat asing juga bisa menimbulkan efek serupa seperti alergen. Asap kendaraan, asap rokok, kapas, atau debu juga bisa berdampak pada mukosa. Tingkat sensitivitas setiap orang berbeda. Ada yang tidak langsung bersin-bersin. Namun, ada pula yang lansung bersin hebat meski hanya kemasukan sedikit zat asing.
Rinitis berikutnya adalah rinitis vasomotor. Penyebabnya adalah ketidakseimbangan sistem saraf otonom di hidung. Orang yang sering bersin-bersin ketika pagi atau malam, contohnya. “Karena sarafnya terganggu, suhu dingin akan memicu bersin dan hidung meler,” tutur Irwan.
Selain cuaca, suhu dingin bisa berasal dari AC maupun air. Penderita rinitis vasomotor mempunyai ketidaknyamanan dalam hal sirkulasi udara di hidung. Misalnya, hidung tersumbat atau buntu. Rasa gatal justru jarang atau tidak ada sama sekali.
Durasi rinitis alergi dan vasomotor beragam. Ada yang hanya mengalami selama beberapa menit. Namun, ada pula yang mengalami selama beberapa jam. Semua kembali pada tingkat sensitivitas dan daya tahan tubuh. Rinitis alergi dan vasomotor bersifat genetis. Artinya, seseorang memiliki alergi atau ketidakseimbangan saraf hidung karena faktor keturunan. Penyakit itu tidak menular. Tetapi, seorang bisa jadi menderita keduanya sekaligus. Yang bisa dilakukan untuk mencegah adalah hindari penyebab. Tingkatkan daya tahan tubuh supaya tidak mudah terserang rinitis. “Tapi, jika sudah sangat mengganggu, bawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Irwan. (len/c15/ayi)

Sumber: Jawa Pos, 13 September 2016
picture by: https://pixabay.com/id/alergi-dingin-penyakit-flu-gadis-18656/

Monday, 29 August 2016

Stroke di Usia Produktif

Serangan Stroke di Usia Produktif
Penanganan Cepat Pulihkan Kondisi

Stroke kini tidak hanya mengincar usia tua. Kelompok usia produktif, berkisar 15-59 tahun, juga berisiko mengalaminya. Penanganan yang cepat dan tepat memberi pasien harapan pulih yang cukup besar.

                POLA hidup serbacepat dan serbainstan menjadi salah satu faktor risiko stroke bagi kaum muda. “Lifestyle sangat berpengaruh. Pola makan nggak baik, kegemukan, kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol, serta kurang berolahraga bisa menjadi pemicu stroke,” ucap dr Yanna Saelan SpS. Selain pola hidup, stroke di usia muda umumnya dipicu penyakit autoimun dan kelainan kongenital (bawaan lahir).
                Sebelum menyrang, stroke biasanya memberikan gejala. Namun, hal itu kerap diremehkan. Baik yang muda maupun usia lanjut, gejalanya sama. “Yang paling umum, kesemutan dan penglihatan kabur di separo bagian tubuh, lalu migrain. Rata-rata menganggap mungkin cuma  nggak enak badan, bisa sembuh sendiri,” papar spesialis yang berpraktik di Siloam Hospitals Surabaya itu.
                Yanna mengungkapkan, bila muncul tanda-tanda tersebut, sebaiknya jangan tunda lagi. Segera ke UGD atau menghubungi dokter. Terutama jika gejala tersebut muncul tiba-tiba saat beraktivitas. “Nggak usah menunggu sampai korban lemas atau kehilangan kesadaran. Soalnya, satu menit tanpa penanganan, ada 1,9 juta sel otak yang mati,” tegasnya.
                Sementara itu, dr Cindy Sadikin SpRad (K) menjelaskan, penanganan serangan stroke dengan cepat tidak cuma memperbesar kesempatan pasien untuk selamat. Dalam kasus stroke akibat pembekuan darah, misalnya, penanganan bisa dilakukan dengan pemberian r-tPA yang berfungsi menghancurkan bekuan.
                “Dalam tiga jam, pemberian r-tPA sudah cukup membantu. Tapi, kalau lebih dari tiga jam atau yang diserang pembuluh darah besar, bakal dibantu keteterisasi,” imbuh spesialis yang pernah menempuh studi di Taiwan tersebut. Bila pasien datang sekitar 8-12 jam setelah serangan, penanganannya bakal lebih ngeri. “Pembekuannya bakal disedot secara mekanis dengan thrombectomy,” ucapnya.
                Bila mendapat penanganan dan melakoni terapi rutin, pasien stroke bisa sembuh dengan kondisi  nyaris sempurna. “Setelah stroke bakal pelo permanen itu cuma mitos. Apalagi kalau terjadinya di usia muda,” kata Cindy yang juga bertugas di Siloam Hospitals Surabaya itu. Sebab di usia muda, neuroplasticity atau kemampuan sel otak beradaptasi dan mengambil alih tugas sel otak yang mati masih baik. Hanya, memang peluang untuk pulih sempurna dipengaruhi bagian saraf yang diserang dan seberapa besar bagian otak yang diserang.
                Setelah terserang stroke, potensi seseorang mengalami serangan lanjutan meningkat hingga 10 kali lipat. Untuk mencegah hal tersebut, Yanna dan Cindy menyarankan pasien mengubah pola hidup. “Istirahat harus cukup , olahraga teratur dan sesuai kondisi, rutin kontrol dan konsumsi obat sesuai dosis,” ucap Yanna. (fam/c7/ayi)

Sumber: Jawa Pos, 23 Agustus 2016
picture : https://pixabay.com/id/anak-laki-laki-duduk-bahagia-anak-746520/

Tuesday, 23 August 2016

DANGER yelling CHILD AND MOTHER TO BE MORE PATIENT

BAHAYA MENERIAKI ANAK DAN CARA MENJADI IBU YANG LEBIH SABAR

Jika Anda meneriaki anak Anda, lalu menyesal setelahnya, ini saran buat Anda.

Saya, suami dan dua anak kami sedang menikmati liburan santai di Hawaii. Kami sedang berkendara di mobil melalui jalan berliku (dan berbahaya) dan menuju Hana. Saat kami sedang melihat betapa indahnya tebing dan pantai, peristiwa itu tiba-tiba terjadi; tanpa alasan jelas, anak laki-laki kami yang berusia 5 tahun melempar botol air ke arah suami.
Botol itu mengenai kaca dan membuat suara keras. Hanya keajaiban yang membuat kami tidak menabrak sesuatu — meski kami sempat kehilangan kendali. Saya dan suami sontak memarahi, berteriak dan mengancam.
"Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak tahu kalau itu amat berbahaya? Kita sedang menikmati liburan, dan kamu melempar botol air tanpa alasan?" Lagi dan lagi kami memarahinya — melebihi apa yang sepantasnya diterima anak TK.
Air mata mulai mengalir di pipi anak saya. Bibirnya gemetar, dan ia mulai menangis. Kami pun menenangkan diri dan melanjutkan perjalanan, dan saya mencoba melupakan semua kejadian tersebut.
Beberapa minggu kemudian, saya memutar ulang video liburan kami di Hawaii. Ternyata insiden pelemparan botol air itu tidak sengaja terekam kamera (yang saya lupa matikan). Tanpa gambar, saya bisa mendengarkan diri saya sendiri sedang meneriaki anak kami dan mempermalukannya.
Saya mencoba menahan air mata. Bagaimana saya bisa berlaku seperti itu di depan anak saya sendiri, anak saya? Saya mungkin rekaman suara di kamera video, tapi tidak akan pernah bisa menghapus kejadian tersebut dari ingatan.
Suka atau tidak, sebagian orang tua mengamuk di depan anak kesayangan mereka. Kadang kemarahan itu ditujukan pada anak, kadang juga tidak. Tapi itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Untungnya, ada cara sederhana yang bisa diambil untuk memperbaiki keadaan:
Harga dari sebuah kemarahan
Pertama, ingatlah mengamuk di depan anak bukan cara tepat menjadi orang tua. Hal itu bisa menyebabkan gangguan pada kejiwaan mereka, ujar ahli psikologi Matthew McKay, Ph.D, profesor dari Wright University di Berkeley, California, dan penulis “When Anger Hurt Your Kids”.
"Studi yang ada menunjukkan bahwa orangtua yang menunjukkan kemarahan di depan anaknya akan membuat anak tersebut menjadi kurang empatik, kata McKay.
Anak tersebut akan menjadi agresif dan mudah depresi dibandingkan anak yang berasal dari keluarga yang tenang, dan memiliki performa yang kurang baik di sekolah. Kemarahan dapat mengurangi kemampuan anak untuk beradaptasi dengan dunia, ujar McKay.
Semakin muda usia anak tersebut, maka semakin besar dampaknya. "Ketika anak masih kecil, Anda adalah dunianya," ujar psikolog Robert Puff, Ph.D, penulis “Anger Work: How to Express Your Anger and Still Be Kind”. "Ketika Anda marah, dunia mereka terguncang. Saat mereka tumbuh dewasa. mereka punya teman, dan orang lain dalam hidup mereka, dan hal itu akan mengurangi efeknya."
Satu lagi yang harus diperhatikan: Kemarahan tanpa kata-kata pada umumnya tidak akan membuat efek sebesar kemarahan biasa, ujar McKay.
Anak itu sebenarnya bisa belajar pelajaran penting dari melihat Anda marah sampai menenangkan diri. "Hal itu akan menunjukan pada anak bahwa kita semua bisa marah, tapi yang terpenting adalah memperbaiki keadaan sesudahnya," ujar McKay. Ini adalah langkah untuk melakukannya.
Ketika Anda meneriaki anak
Ketika Jennifer dari Huntington Beach, California, pergi ke Disneyland dengan tiga anaknya, dia tidak sadar "tempat paling bahagia di Bumi" akan menjadi salah satu lokasi momen paling buruknya sebagai orangtua. "Waktu itu hari sangat panas dan ramai" ujar Jennifer. "Dua anak saya menderita penyakit paru-paru dan bisa menggunakan kartu khusus untuk menghindari antrean. Tapi anak saya yang berusia 13 tahun menghilangkan kartunya. Tiba-tiba saya meneriakinya, setelah itu anak saya mulai menangis. Semua orang yang ada di sekitar melihat saya dengan jijik. Saya terus meminta maaf. Air mata saya juga mulai mengalir karena telah melukainya."
Studi University of New Hampshire menemukan, 90 persen orangtua mengakui pernah memarahi anaknya pada usia 2-12 tahun, dalam periode satu tahun (10 persen lagi pasti malaikat atau punya ingatan yang buruk).
Untuk menghindari meneriaki anak, kami berikan beberapa tips: Saat Anda marah bayangkan anak Anda sebagai bayi, ujar Dr. Sandra P Thomas, profesor dari University of Tennessee, Knoxville, dan penulis dari “Use Your Anger: A Woman's Guide to Empowerment”.
"Anak yang lebih tua dan remaja memang tidak selucu bayi, dan kadang mereka menyebalkan," ujarnya. "Ketika Anda marah, ingatlah mereka sebagai bayi, hal itu akan membantu Anda."
"Jika Anda bisa, istirahatlah sebentar, dan pergilah ke ruang sebelah meski hanya satu atau dua menit" ujar Laura J. Petracek, Ph.D., penulis “The Anger Workbook for Women”.
Jika Anda terlanjur marah, hal yang paling penting adalah memperbaikinya. Jangan tergoda untuk menyalahkan anak Anda karena memicu amarah. "Katakan, aku sangat kecewa pada kecerobohanmu, tapi aku seharusnya tidak berteriak seperti itu, aku minta maaf." ujar Thomas. Berjanjilah Anda tidak akan melakukannya lagi, hibur anak Anda seperlunya.
Ketika Anda bertengkar dengan pasangan
Angie dari Seattle mengatakan hidupnya penuh tekanan sejak suaminya kehilangan pekerjaan dan mereka sering bertengkar di depan anak mereka yang berumur tiga tahun, Lexi.
"Semalam saya memarahi suami karena tidak membersihkan rumah," ujarnya. "Lexi datang dan menarik baju saya sambil berkata, 'Ayah jangan dimarahi', mata Lexi terlihat sangat ketakutan. Kami akhirnya berhenti bertengkar dan mencoba meyakinkannya, bahwa ayah dan ibunya masih saling mencintai, tapi saya tidak tahu apakah Lexi percaya."
Anak bisa sangat terpukul jika melihat orang tuanya bertengkar, ujar Charles Spielberger, Ph.D., psikolog yang mempunyai spesialisasi dalam studi kemarahan di University of South Florida. Sangat penting untuk segera memperbaiki keadaan.
Tidak usah menjelaskan keadaan dengan membacakan daftar cucian yang tidak dikerjakan pasangan Anda, hal itu hanya akan membuat anak stres. "Lebih baik katakan seperti ini: 'Saya sangat marah dengan ayahmu tadi, kami telah membicarakannya dan sedang memperbaikinya, orang tinggal bersama kadang bisa marah, maaf telah berteriak, kami masih saling menyayangi.'"
Jika bisa, katakan apa yang akan Anda lakukan lain kali, ujar Jerry Deffenbacher, Ph.D., profesor psikologi di Colorado State University, yang mempelajari masalah kemarahan. Hal itu akan membuat anak belajar dari pengalaman, contohnya: "Saya marah pada ayahmu karena menghanguskan roti, tapi saya minta maaf, harusnya saya tidak berteriak seperti itu. Lain kali kami akan menggunakan timer di dapur saat menyalakan oven."
Jangan berkomentar terlalu banyak. Menjelaskan terlalu banyak akan membuat anak Anda seperti terapis atau mediator. Jangan melibatkan anak terlalu jauh.
Ketika bertengkar dengan orang asing
Saat Fiona dari Detroit memasang sabuk pengaman untuk anaknya setelah kembali dari toko roti, seorang pengemudi yang lebih tua darinya berhenti di dekatnya dan membunyikan klakson. "Dia berteriak, tutup pintumu!" tanpa memberi peringatan kalau saya menutupi jalannya. Saya langsung berteriak "Apa tidak bisa lihat kalau saya sedang meletakkan bayi di kursi? Dasar $%*#@?!'”
“Anak kembar saya yang duduk di kursi belakang sangat terkejut, dan aku merasa sangat bersalah pada anak saya."
Insting Anda pasti ingin meminta maaf, tapi jangan. Semua orang bisa marah, Anda tidak boleh minta maaf karena kemarahan. (Hal ini penting jika Anda punya anak perempuan — anak perempuan pada usia muda memendam perasaannya).
Lebih baik terangkan apa yang membuat Anda marah. Ujar McKay: "Katakan, 'orang itu melukai perasaan saya dan saya sangat marah.'" Kemudian, mintalah maaf karena cara Anda meluapkan kemarahan. "Pastikan anak tahu makian — atau apa pun yang Anda lakukan itu salah" ujar Thomas.
Mengatasi amarah Anda
Untuk tetap bersabar, ikutilah beberapa aturan dasar berikut:
-Tanyakan pertanyaan yang tepat ketika anak membuat susah dan memicu kemarahan Anda, ikuti saran McKay: Daripada berpikir, mengapa dia melakukan ini pada saya? Fokus pada anak; mungkin ada alasannya. Apa dia lapar, bosan, lelah, atau ingin diperhatikan? Coba penuhi keinginannya dan jangan terbawa emosi.
-Catat kemarahan Anda saat Anda terbawa emosi. "Lihat polanya — jam saat Anda paling marah? Situasinya? ujar Deffenbacher. "Setelah Anda menemukan inti penyebab kemarahan Anda, minta pendapat mengatasinya." Anda bahkan bisa melibatkan anak Anda, katakan: "Saya sangat kesal jika kamu tidak mengerjakan tugasmu, bagaimana supaya membuat situasi ini lebih baik? Dengan membiarkan anak memberi pendapat, Anda mendorong mereka menjadi bagian dari solusi.
-Kurangi pertengkaran rumah tangga, "Pada saat yang tenang, Anda dan pasangan harus setuju untuk mengatasi argumen secara berbeda, ujar Deffenbacher. "Jangan bertengkar di depan anak. Buat kode ketika Anda sangat marah, dan biarkan sinyal itu menjadi tanda kalau Anda ingin membahasnya nanti secara pribadi ketika suasana sudah tenang."
-Katakan emosi Anda dengan jelas, ketika anak atau orang asing membuat Anda marah, katakan "Wow, orang itu memotong jalanku — tidak sopan! Mungkin dia ada keadaan darurat atau tidak melihatku. Apa pun itu dia tidak akan merusak hariku.” ujar Deffenbacher. Dengan melakukan itu, Anda memberi contoh bagaimana mengatasi rasa frustasi sehari-hari. Dan bagaimana mengontrol emosi, sebelum Anda dikontrol emosi.


Monday, 22 August 2016

Jaga Paru-paru Saat Haji

Imunitas Mesti Bagus
Jaga Paru-Paru saat Haji
SURABAYA – Musim haji tiba. Ibadah yang merupakan rukun Islam kelima itu tidak hanya membutuhkan kesiapan rohani. Tapi juga fisik yang fit. Gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) kerap menjadi langganan jamaah. Penyakit itu semakin menjadi masalah jika penderita sebelumnya terkena gangguan paru-paru.
Ada tiga jenis penyakit paru-paru yang paling banyak diderita orang Indonesia. Yakni, paru-paru obstruktif kronis (PPOK), asma, dan bronkitis. Sebagian calon jamaah haji (CJH) memang sudah tahu bahwa dirinya menderita penyakit itu. “Namun, ada juga yang baru tahu ketika yang bersangkutan menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai syarat sebelum berangkat,” kata dr Arief Bakhtiar SpP, spesialis paru-paru  RSUD dr Soetomo Surabaya.
Pada penderita PPOK, paru-paru mengalami perubahan struktur menjadi lebih longgar. Aliran napas atau airway dan kinerja paru-paru terganggu. Napas cenderung pendek, mudah sesak, dan mudah lelah. “PPOK terjadi, salah satunya, karena kebiasaan merokok yang terus-menerus hingga akhirnya paru-paru terdampak,” jelas dr Bambang Susilo Simon SpP FCCP, spesialis paru-paru dari Siloam Hospitals Surabaya.
Pada penderita asma, penyakit umumnya bawaan (kongenital) atau dipicu alergi mikroorganisme maupun zat asing (debu atau asap). “Berbeda dengan PPOK, asma bisa muncul sewaktu-waktu. Termasuk saat ada infeksi seperti ISPA,” tutur Arief.
Pada penderita asma, saluran napas mengalami penyempitan karena pembengkakan dan dipenuhi riak. Pertukaran oksigen dan karbon dioksida terganggu. Sementara itu, pada penderita bronkitis, yang bermasalah adalah bronkus. Karena iritasi atau infeksi, bagian bronkus menjadi penuh dengan mukosa atau riak.
Tiga penyakit paru itu bisa kambuh jika penderita mengalami ISPA yang sering menyerang jamaah haji. Tiga penyakit paru-paru itu juga bersifat akut sehingga eksaserbasi atau kambuhnya bisa tiba-tiba. Pada sejumlah kasus ekstrem, penderita ditemukan meninggal dunia karena henti napas. “Solusi utama untuk mencegah kambuhnya penyakit paru-paru  adalah meningkatkan imunitas tubuh. Salah satunya dengan membekali diri dengan imunisasi flu sebelum berangkat,” terang Bambang. (len/c11/ayi)

Sumber : Jawa Pos, 16 Agustus 2016 
Picture :https://pixabay.com/id/mekkah-haji-orang-orang-grup-orang-66985/ 

Friday, 19 August 2016

Bagan Ritme Kerja Organ Tubuh

RITME KERJA ORGAN TUBUH
Irama circadian sering juga disebut sebagai body clock  atau jam kerja tubuh. Berikut jam kerja organ tubuh yang lazim atau terjadi pada orang yang beraktivitas siang dan beristirahat ketika malam. Pada mereka yang memiliki pola hidup sebaliknya, organ tubuh akan menyesuaikan setelah 24 hingga 48 jam.
WAKTU
RITME KERJA ORGAN TUBUH
05.00 – 07.00
Proses detoksifikasi berakhir pada bagian usus besar sehingga menyebabkan kita ingin buang air besar (BAB). BAB atau berkemih pada jam-jam ini merupakan efek dari pembuangan racun.
07.00 – 09.00
Disarankan sarapan dengan gizi seimbang. Gizi yang terkandung terserap sempurna oleh sistem pencernaan untuk disuplai ke tubuh. Untuk hasil lebih optimal, minum air putih atau jus buah segar yang bukan jus kemasan sangat mambantu.
09.00 – 11.00
Tubuh dan pikiran sudah panas dan mencapai kondisi ideal untuk beraktivitas. Zat-zat gizi yang diperoleh saat sarapan mulai menunjukkan efek berkat kinerja limpa yang mengalirkannya ke tubuh. Jarang ada yang mengantuk , kecuali memang sedang kurang tidur atau mengalami gangguan pada limpa.
11.00 – 14.00
Hormon stres dan kinerja jantung meningkat. Jeda istirahat dibutuhkan untuk memberi kesempatan tubuh dan pikiran menyegarkan diri serta menenangkan jantung. Makan siang di luar bisa menyegarkan pikiran, menambah tenaga, sekaligus membiarkan tubuh terkena sinar matahari yang bisa memperkuat sistem imun.
14.00 – 15.00
Melakukan banyak hal sekaligus atau multitasking paling cocok dilakukan pada siang hari. Sebab, kemampuan otak untuk melakukan koordinasi berada pada titik tertinggi. Di sisi lain, proses mencerna makanan belum selesai sehingga kemampuan fisik agak berkurang. Jika perut terasa begah atau kembung, artinya pola makan Anda tidak tepat. Bisa jadi jumlah makanan kurang atau berlebih.
15.00 – 17.00
Denyut jantung paling stabil dan tekanan darah paling stabil sehingga cocok untuk melakukan aktivitas fisik, misalnya berolahraga. Pada jam-jam ini, jika merasa sangat lelah, artinya ginjal Anda sedang bermasalah.
17.00 – 20.00
Terjadi proses membuang racun. Fungsi hati dan ginjal dalam memproses dan membuang racun sisa metabolisme terjadi secara optimal pada sore hari sehingga perlu didukung dengan minum air putih.
20.00 – 21.00
Metabolisme dan pergerakan usus berkurang. Karena aktivitas fisik berkurang, pembakaran energi tidak banyak terjadi saat malam. Jika makan di malam hari, cadangan energi yang disimpan dalam bentuk lemak juga akan semakin bnanyak.
21.00 – 23.00
Terjadi pembuangan racun di sistem antibodi. Sistem peredaran darah pun sedang berada dalam masa perbaikan. Tubuh harus rileks. Bersantailah dengan mendengarkan musik atau melakukan hobi, misalnya membaca atau menonton TV. Produksi hormon melatonin (penyebab kantuk) juga mulai meningkat karena malam semakin larut dan gelap.
23.00 – 01.00
Pada jam ini terjadi detoksifikasi di bagian hati yang mengaharuskan kita untuk tidur pulas agar proses tersebut tidak terganggu. Begadang akan menganggu detoksifikasi sehingga penyakit liver rawan terjadi.

Sumber: Jawa Pos, 2 Agustus 2016

Saturday, 6 August 2016

RITME KERJA ORGAN TUBUH

Manajemen Jam Kerja Organ Tubuh
Ritme Berubah karena Pembiasaan
Pagi saat beraktivitas, malam waktunya istirahat. Kebiasaan yang diajarkan sejak kecil itu ternyata sangat terkait dengan pola jam kerja organ tubuh. Menolaknya bisa mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan. Tapi, pegawai yang memiliki sif malam tak perlu terlalu khawatir. Ada solusinya.
                DALAM dunia kedokteran, terdapat konsep ritme circadian. Konsep yang dikenalkan Franz Halberg itu mendefinisikan perubahan kinerja organ-organ tubuh dalam sehari berdasar jam. “Perubahan itu ada ritmenya dan prosesnya memengaruhi metabolisme tubuh,” ujar dr Puri Safitri Hanum SpPD, spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Bedah Surabaya.
                Sistem kerja organ tubuh dibagi menjadi dua bagian besar, yakni  ergothropic dan trophotropic. Umunya, ergothropic terjadi pada siang. Saat itu, organ tubuh cenderung bekerja ekstra. Trophotropic terjadi pada malam saat kinerja organ tubuh cenderung menurun. Karena itu, mayoritas orang beristirahat pada malam.
Mulai pagi hingga siang, tubuh berada dalam fase siap bekerja. Sebagai bekal, sarapan sangat disarankan sebagai penyuplai energi sehari penuh. “Lantas, menjelang siang, ibarat mesin diesel, tubuh mulai panas. Masih bisa dipakai beraktivitas, namun disarankan diselingi istirahat supaya tetap fit,” kata Hanum.
Sementara itu, pada malam, kinerja dan metabolisme sebagian organ mulai menurun. Bekerja keras idealnya tidak dilakukan karena tidak didukung dengan metabolisme yang optimal. “Pada malam organ-organ penetralisasi racun juga mulai bekerja. Hal itu hanya akan berjalan optimal jika kita dalam posisi rileks atau bahkan tidur,” ujar Hanum.
Dengan perubahan kinerja organ tubuh, tentu kegiatan harus disesuaikan. Jika dipaksaskan atau diganti, tubuh rentan terkena berbagai gangguan kesehatan. “Misalnya, begadang. Jika seseorang tetap bangun di waktu yang mengharuskan dia tidur, proses detoksifikasi tidak akan berjalan optimal,” tutur Hanum.
Namun, bagi beberapa orang, kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang bisa mengakibatkan terjadinya adaptasi tubuh. Ambil contoh mereka yang memang memiliki ritme bekerja dari malam hingga pagi. “Pekerjaan memang bisa memengaruhi pola kerja organ tubuh. Tapi, tubuh tetap perlu waktu untuk menyesuaikan,” ujar dr Choesnan Effendi AIF AIFO, pakar fisiologi Universitas Hang Tuah Surabaya.
Waktu yang diperlukantubuh untuk menyesuaikan irama circadian normal, rasa kantuk terjadi malam ketika kinerja tubuh mulai menurun dan hormon melatonin meningkat karena gelap. “Maka, mereka yang bekerja malam dan belum terbiasa akan merasakan kantuk saat bekerja,” ujar Choesnan.
Lantas, setelah 24 hingga 48 jam, penyesuaian mulai terjadi bagi para pekerja sif malam. Tubuh akan mulai bisa digunakan untuk beraktivitas layaknya ketika bekerja saat siang. Aktivitas organ tubuh pun akan mengikuti ritme kerja orang yang bersangkutan. Hanya, hal itu harus dilakukan secara teratur. “Misalnya, tiga hari kerja malam, lantas satu hari kerja siang. Itu sangat tidak disarankan karena membuat sistem kerja organ tubuh tidak teratur dan mengakibatkan gangguan pada organ tertentu. Misalnya, organ pencernaan atau sistem saraf,” jelas Choesnan.
Selain keteraturan, para pekerja sif malam harus menggunakan waktu istirahat secara optimal ketika siang. Selayaknya para pekerja siang, tubuh pun perlu diistirahatkan saat tidak bekerja. “Yang pasti, para pekerja sif malam harus memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat agar sistem imun tidak mudah menurun akibat begadang atau beraktivitas di malam hari,” tambah Choesnan. (len/c19/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 2 Agustus 2016
PICTURE: https://pixabay.com/en/men-yoga-classes-gym-instructor-1179452/

Friday, 29 July 2016

Prihatin

Prihatin Lulusan FK Tidak Bisa Nyuntik

                SURABAYA – Fakta meningkatnya daya serap fakultas kedokteran (FK) di kampus-kampus swasta menjadi perhatian Dinas Kesehatan Jawa Timur. Di satu sisi, hal itu bisa menjadi solusi pemenuhan kekurangan tenaga kesehatan daerah. Namun, fakta tersebut juga menjadi tantangan tersendiri karena selama ini tidak sedikit lulusan FK yang kompetensinya rendah.
Berdasar data Dinas Kesehatan Jawa Timur, kini ada 13 FK di kampus-kampus yang tersebar di Jatim. Meski demikian, hali itu belum menjamin tercukupinya kebutuhan tenaga dokter di setiap wilayah.
Daerah Surplus Dokter
KOTA/KAB
SPESIALIS
UMUM
GIGI
Sidoarjo
433
460
149
Kota Blitar
65
7
2
Kota Mojokerto
15
20
5
Kota Madiun
126
53
4
Surabaya
3.789
Cukup
129
Sumber: Data Dinas Kesehatan Jawa Timur per Desember 2015
Keterangan:
Jumlah tersebut merupakan rasio per 1.000 penduduk

Berdasar fakta di lapangan, mayoritas lulusan FK memilih bertahan di kota besar.
Dampaknya, ada beberapa kota atau kabupaten yang surplus tenaga dokter. Misalnya, di Surabaya yang surplus 3.789 dokter gigi. Hal serupa terjadi di Sidoarjo. Surplus dokter spesialis mencapai 433, 460 dokter umum, dan 149 dokter gigi. “Tapi, di daerah lain, ada puskesmas yang tidak memiliki dokter umum,” tutur Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Jatim One Widyawati.
Dia menuturkan, kesulitan dinas kesehatan untuk memeratakan dokter disebabkan proses pengangkatan. Contohnya, yang ditempatkan di Puskesmas adalah dokter dengan status PNS.
Lulusan FK di Jatim memang banyak. Namun, dinkes lagi-lagi tidak berwenang untuk langsung mengangkat dokter menjadi PNS. “Kuota PNS itu ada di Menpan-RB (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi),” jelaas One.
Selain masalah penempatan dokter, Dinkes Jatim terkendala kompetensi lulusan yang tidak sama. One menuturkan, ada beberapa lulusan FK yang tidak memiliki kompetensi yang baik untuk merawat pasien. “Di lapangan ada yang disuruh nyuntik saja tidak bisa. Malah ada juga yang takut pegang pasien,” paparnya.
Kualitas lulusan 13 FK di Jatim akan diketahui ketika mengikuti uji kompetensi. Biasanya, ujian itu dilaksanakan dikti. Sayangnya, banyak lulusan FK dari kampus swasta yang tidak lolos uji kompetensi tersebut. Padahal, uji kompetensi dokter hanya dilakukan dengan ujian tulis. Bukan ujian praktik. “Saya juga tidak tahu kenapa bisa demikian,” katanya.
Alat kesehatan biasanya menjadi keluhan dokter ketika ditempatkan di daerah. Berbeda dengan di kota besar seperti Surabaya yang memiliki rumah sakit dengan alat kesehatan mumpuni. Untuk masalah tersebut, Dinkes Jatim hanya bisa membantu masalah keungan. “Caranya, daerah harus mengirimkan proposal,” ucap One.
Untuk memecahkan persoalan pemerataan dokter di Jatim, Pemprov Jatim sebenarnya telah memiliki payung hukum. Yakni, Perda Nomor 7 Tahun 2014 dan Pergub Nomor 74 Tahun 2015 tentang Tenaga Kesehatan. “Kami akan terus menyosialisasikan peraturan itu kepada FK dan rumah sakit pendidikan,” tegas One. (lyn/c15/fat)
Sumber: Jawa Pos, 25 Juli 2016
Picture:https://pixabay.com/id/vaksinasi-dokter-jarum-suntik-medis-1215279/ 


Monday, 25 July 2016

Swim

Bermacam Manfaat Ajak Anak Berenang

Rangsang Motorik sampai Nafsu Makan

Melihat bayi berenang memang mengasyikkan. Responsnya terhadap air membuat wajahnya mengeluarkan beragam ekspresi. Para bunda tidak boleh ragu mengenalkan air kepada anak sejak mereka bayi. Dengan cara yang tepat, segudang manfaat akan didapat.
                SPESIALIS anak Siloam Hospitals Surabaya dr Dian Pratamastuti SpA menyatakan, berenang mempunyai banyak manfaat anak-anak. “Tapi, itu bisa didapat bila orang tua memberikan tahapannya dengan tepat,” ulas Dian.
                Tahapan yang dimaksud lebih berkaitan dengan waktu. Menurut Dian, bayi sudah bisa diberi stimulus lewat air pada usia 3 bulan ke atas. Pada usia itu, tulang lehernya sudah tegak. Stimulus lewat air bisa diberikan dengan cara membiarkan bayi  berenang dengan menggunakan neck ring. “Pilihlah yang tidak bergerigi sehingga tidak melukai kulit bayi,” kata Dian.
Mengajak bayi berenang bisa merangsang saraf motorik dan sensorik pada bayi. Dian menyebutkan, itulah yang dinamakan tahap pengenalan air sejak dini pada si kecil. Tapi, yang harus diingat adalah soal kolam.
Menurut American Association of Pediatric, seorang bayi baru diperbolehkan berenang di kolam renang umum pada usia 6 bulan ke atas. Sebelum 6 bulan, daya tahan tubuh bayi belum terbentuk sempurna. “Tapi kalau saya menyarankan, lebih baik dibawa ke kolam renang umum saat anak berusia 1 tahun,” ujarnya.
Semua itu, menurut doktor bidang neurologi anak di RSUD dr Soetomo-FK Unair tersebut, dilakukan demi kesehatan bayi. Selain karena imun bayi belum sempurna, kolam renang umum berisiko tinggi untuk bayi. Dalam kolam renang umum, kandungan kaporit dan airnya tidak aman. “Bayi belum tahu bahwa dia tidak boleh meminum airnya. Padahal, minum air kolam bahaya untuk bayi,” imbuhnya.
Waktu paling bagus untuk berenang adalah satu jam setelah makan. Saat itu bayi berada dalam posisi nyaman, belum mengantuk dan bisa diajak bercanda. Jangan pernah membiarkan bayi berenang saat kondisinya lapar karena nanti bayi bisa meminum air kolam.
Bila orang tua punya bujet, memang lebih baik membeli peralatan berenang sendiri. Misalnya, kolam kecil dari plastic yang bisa dilipat serta neck ring yang lingkarannya pas untuk leher bayi. Bila mempunyai peralatannnya, bayi bisa berenang setiap hari, malah bagus sebagai stimulus motorik dan sensorik si bayi,” ucapnya.
Saat berenang, suhu air yang baik 32-34 derajat Celcius. Suhu tersebut sama dengan suhu tubuh bayi. Berapa lama boleh dibiarkan dalam air? Sekitar 20-30 menit. Bila sudah terlihat kedinginan, kulitnya mengeriput, bayi ahrus segera diangkat dari air.
Setelah usia bayi lebih dari 1 tahun, orang tua bisa mengajaknya berenang di kolam renang umum. Pada usia itu, fungsi berenang sudah berbeda. Bila sebelum 1 tahun lebih pada merangsang motorik dan sensorik, pada tahap ini lebih pada personal sosial. “Pada usia 1 tahun keatas, bayi sudah bisa bicara dan berdiri, mendekati  sempurna,” imbuh alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) tersebut.
Menurut Dian, banyak banyak balita berusia 2 tahun yang sudah bisa berenang. Walau hanya dengan gaya meluncur, mereka sadah paham teknik dasar. Sebenarnya yang lebih penting bukan supaya anak tersebut jago berenang.
Namun, bagaimana proses belajar gerakan-gerakan renang. Dia harus ditema orang dewasa. Memang lebih baik orang tuanya yang mengajari berenang. Hal tersebut melibatkan kerja sama, membangun relasi yang lebih erat antara orang tua dan anak.
Dengan belajar gerakan renang, energi mereka akan terkuras sehingga bisa meningkatkan nafsu makan dan membuat tidurnya lebih nyenyak. Dian mengungkapkan, banyak orang dewasa yang tidak bisa berenang, bahkan takut untuk memulai belajar renang.
Hal itu bisa disebabkan salah stimulus sejak kecil. Jadi, pengenalan sejak bayi berusia bulanan sangat baik untuk tumbuh kembang anak ke depannya. “Saat tumbuh besar, anak tidak akan fobia terhadap air,” ucapnya. (ina/c23/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 29 Oktober 2015
Picture:https://pixabay.com/id/berenang-air-anak-kolam-renang-811197/  

Perlu diperhatikan
Sebelum Berenang
* Kenakan baju renang yang layak.
* Lakukan pemanasan. Bisa dalam bentuk meregangkan tangan maupun kaki anak.
* Basahi tubuh anak dengan air yang bersuhu sama dengan suhu air kolam.
Saat Berenang
* Awasi agar anak tidak tersedak atau terminum air kolam.
* Latih anak agar aktif menggerakkan tangan dan kaki.
* Hentikan berenang bila anak tidak nyaman, misalnya mulai rewel atau menangis.
Sebelum Berenang
      * Mandikan dengan bersih agar kaporit benar-benar hilang.
          * Olesi minyak penghangat ke tubuh anak.
          * Kenakan pakaian bersih.

Orang Dewasa Wajib Mendampingi
            SECARA umum, berenang bagi bayi atau batita memiliki sejumlah manfaat. Aktivitas fisik sejak dini membantu fisik anak untuk makin kuat dan berkembang. “Yang paling terlatih adalah sistem gerak dan otot,” ujar Dr Choesnan Effendi AIF AIFO, pakar fisiologi olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
            Kekuatan otot dan gerak berkaitan dengan sistem motorik. Makin sering anak diajak berenang, gerak tubuh akan aktif. Pada jangka panjang, anak bakal mempunyai pengendalian dan kemampuan motorik yang baik. Perkembangan tulang dan otot akan makin optimal. Pertumbuhan anak pun bisa maksimal.
            Manfaat kesehatan lainnya terkait dengan paru-paru dan jantung. Mengingat berenang adalah olahraga kardiovaskular, dua organ tubuh itu dapat terlatih dengan baik. “Sistem kardiosirkulasi pada tubuh anak bakal meningkat,” kata Choesnan. Kardiosirkulasi meliputi peredaran darah dan sirkulasi udara pada pernapasan.
            Daya tahan tubuh anak bisa makin meningkat. Sebab, berenang mampu meningkatkan pembentukan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit pada tubuh anak. Peningkatan sel, terlebih sel darah putih, akan mempercepat pembentukan antibody. Karena itu, tubuh anak kian kebal terhadap penyakit.
            Latihan berenang bagi bayi atau batita harus dilakukan bertahap. Pertama, bayi atau batita harus dikenalkan pada air lebih dulu. Caranya, bermain di kolam dangkal. Lebih bagus lagi kalau airnya hangat. Pengenalan air itu bertujuan menumbuhkan keberanian pada anak sebelum masuk ke kolam yang lebih dalam.
            Setelah anak terbiasa dengan air, latihan dapat dilakukan di kolam yang lebih dalam dengan pendampingan orang dewasa. Agar lebih aman, penggunaan pelampung atau neck ring disarankan. Sebagai gerakan awal, ajak bayi atau batita menggerakkan kaki dan tangan ketika berada di air.
            Selain untuk pencegahan tenggelam, pendampingan orang dewasa wajib ada supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. “Tersedak atau terminum air kolam bisa berdampak pada gangguan pernapasan dan pencernaan anak-anak,” jelas Choesnan. (len/c14/ayi)
TAHAPAN BERENANG
USIA 3 – 12 BULAN
USIA 1 TAHUN KE ATAS
MANFAAT
Stimulus saraf motorik dan sensorik
MANFAAT
Membangun relasi social, meningkatkan nafsu makan, membuat tidur lebih nyenyak, dan melatih otot
TIDAK BOLEH
Mengajak berenang di kolam renang umum. Berenang saat bayi mengantuk, lapar, rewel, dan sakit.
TIDAK BOLEH
Berenang saat kondisi tidak fit.
BOLEH
Setiap hari berenang selama sekitar 20 menit dengan suhu air 32 – 34 derajat Celcius.
BOLEH
Berenang di kolam renang umum dengan pengawasan orang tua.

Sumber: Jawa Pos, 29 Oktober 2015