Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 25 February 2017

DEPRESI PASCA PERSALINAN PADA AYAH



DEPRESI PASCA PERSALINAN PADA AYAH

Istilah postpartum depression atau depresi pasca persalinan lazimnya merujuk pada ibu. Namun, kondisi itu ternyata juga bisa dialami para ayah lho.

FAKTANYA
Jama Psychiatry, jurnal bulanan kesehatan yang dipublikasikan American Medical Association mengungkap sebuah hasil penelitian yang baru. Riset yang diterbitkan Rabu (15/2) tersebut dilakukan pada 3.532 laki-laki di Selandia Baru. Riset dilangsungkan selama pasangan responden itu hamil hingga melahirkan. Hasilnya, 2,3 persen mengalami peningkatan gejala depresi pada trisemester ketiga kehamilan sang pasangan dan angkanya naik jadi 4,3 persen ketika bayi mereka berusia 9 bulan.

LEBIH RENDAH KETIMBANG IBU
Presentase tersebut memang lebih rendah dibandingkan angka kejadian postpartum depression pada ibu. Yaitu, 8 persen pada studi yang dilakukan di Selandia Baru tersebut. Di AS angkanya sekitar 11-20 persen. Jumlah itu tidak jauh berbeda dengan kejadian depresi pada populasi secara umum.

PENYEBAB
Pada perempuan, postpartum depression salah satunya dipengaruhi hormon. Terjadi perubahan kimiawi dan biologis selama kehamilan dan proses persalinan. Dr Gail Saltz MD, penulis The Power of Different dan editor kontributor Health, menuturkan bahwa penyebabnya memang bukan hormon pada kasus ayah.
Namun, kesehatan secara mental lebih berpengaruh. “Momen bahagia kelahiran anak bisa saja menghasilkan ketenangan pada siapa saja yang terlibat, termasuk ayah,” ujarnya. Perasaan akan munculnya tanggung jawab baru serta perubahan pada dinamika hubungan suami istri menjadi faktor yang bisa mengakibatkan depresi. Terlebih, setelah punya bayi, ayah bisa kurang tidur. “Hal ini bisa meningkatkan stimulus stres yang sudah dimiliki dalam kehidupan pria,” lanjutnya.

KENALI GEJALA
Waspadai bila mengalami beberapa hal berikut, perubahan mood yang begitu cepat, dari bahagia tiba-tiba sedih; hilangnya nafsu makan; sulit tidur; merasa; kelelahan berlebih; berkurangnya semangat atau ketertarikan pada aktivitas yang biasanya sangat disukai; serta mudah marah.

LANGKAH PENCEGAHAN
Di AS, American College of Obstetrics and Gynecology merekomendasikan calon ibu untuk melakukan skrining setidaknya sekali dalam periode kehamilan untuk melihat potensi munculnya postpartum depression. Sementara untuk ayah belum ada. Saltz menuturkan pentingnya mengenali gejala yang muncul pada diri dan pasangan. “Terkadang kita lebih bisa melihat apa yang terjadi pada pasangan kita ketika dia sendiri tidak menyadarinya,” ungkapnya.

SUPPORT SYSTEM
Pada masa-masa penting ini, menyambut kehadiran bayi, ibu dan ayah baru memerlukan support system dari lingkungan terdekat. Jadi, ketika salah satu atau bahkan keduanya mengalami postpartum depression, situasi bisa segara ditangani.
Pengertian dan dukungan membantu meminimalkan kondisi depresi. Segera hubungi dokter ahli jika gejala depresi tidak mereda dalam dua minggu. Apalagi bila sampai berpikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi Anda. (nor/c15/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 21 Pebruari 2017





Saturday, 4 February 2017

Nutrition

Agar Nutrisi Sayur Tak Banyak Hilang

      SAYURAN merupakan salah satu sumber nutrisi yang mudah didapat. Selain harganya terjangkau, juga bisa ditanam di kebun sendiri. Lebih dari itu, sayuran adalah sumber nutrisi yang sangat penting bagi tubuh.
Sebab, sayuran mengandung banyak nutrisi penting. Bahkan, beberapa sayuran dapat berkhasiat sebagai obat, bumbu, dan rempah-rempah masakan.
Sayangnya, nutrisi dalam sayuran mudah rusak. Baik itu oleh cara memasak yang kurang benar, maupun cara membersihkan atau menyimpan yang kurang tepat.
Sebenarnya, sayuran sangat baik dikonsumsi dalam keadaan segar, tanpa dimasak. Karena kandungan vitamin dan enzimnya akan tetap utuh. Namun, itu hanya berlaku pada sayuran jenis tertentu. Terutama yang digunakan untuk lalapan. Sementara sayuran lain umumnya harus diolah dulu. Tujuannya, untuk membunuh bakteri atau agar lebih mudah dicerna.

Untuk sayuran yang harus dimasak, lebih baik menggunakan api kecil saat memasak, agar gizinya tidak mudah hilang. Salah satu indikatornya adalah melihat warna sayur. Untuk sayuran hijau misalnya, sayur tidak boleh sampai berubah warna.
Sementara cara memasaknya, beragam. Bisa dipanggang, dikukus, direbus, dan digoreng atau ditumis. (dari berbagai sumber/hn)

Sumber: Jawa Pos, 15 Oktober 2016