DEPRESI PASCA PERSALINAN PADA AYAH
Istilah postpartum depression atau depresi pasca persalinan lazimnya
merujuk pada ibu. Namun, kondisi itu ternyata juga bisa dialami para ayah lho.
|
FAKTANYA
|
Jama
Psychiatry, jurnal bulanan kesehatan yang dipublikasikan American Medical
Association mengungkap sebuah hasil penelitian yang baru. Riset yang
diterbitkan Rabu (15/2) tersebut dilakukan pada 3.532 laki-laki di Selandia
Baru. Riset dilangsungkan selama pasangan responden itu hamil hingga
melahirkan. Hasilnya, 2,3 persen mengalami peningkatan gejala depresi pada
trisemester ketiga kehamilan sang pasangan dan angkanya naik jadi 4,3 persen
ketika bayi mereka berusia 9 bulan.
|
LEBIH RENDAH KETIMBANG IBU
|
Presentase tersebut memang lebih rendah
dibandingkan angka kejadian postpartum
depression pada ibu. Yaitu, 8 persen pada studi yang dilakukan di Selandia
Baru tersebut. Di AS angkanya sekitar 11-20 persen. Jumlah itu tidak jauh
berbeda dengan kejadian depresi pada populasi secara umum.
|
PENYEBAB
|
Pada perempuan, postpartum depression salah satunya dipengaruhi hormon. Terjadi
perubahan kimiawi dan biologis selama kehamilan dan proses persalinan. Dr Gail
Saltz MD, penulis The Power of Different dan
editor kontributor Health, menuturkan
bahwa penyebabnya memang bukan hormon pada kasus ayah.
Namun, kesehatan secara mental lebih
berpengaruh. “Momen bahagia kelahiran anak bisa saja menghasilkan ketenangan
pada siapa saja yang terlibat, termasuk ayah,” ujarnya. Perasaan akan munculnya
tanggung jawab baru serta perubahan pada dinamika hubungan suami istri menjadi
faktor yang bisa mengakibatkan depresi. Terlebih, setelah punya bayi, ayah bisa
kurang tidur. “Hal ini bisa meningkatkan stimulus stres yang sudah dimiliki dalam
kehidupan pria,” lanjutnya.
|
KENALI GEJALA
|
Waspadai bila mengalami beberapa hal
berikut, perubahan mood yang begitu
cepat, dari bahagia tiba-tiba sedih; hilangnya nafsu makan; sulit tidur;
merasa; kelelahan berlebih; berkurangnya semangat atau ketertarikan pada
aktivitas yang biasanya sangat disukai; serta mudah marah.
|
LANGKAH PENCEGAHAN
|
Di AS, American College of Obstetrics
and Gynecology merekomendasikan calon ibu untuk melakukan skrining setidaknya
sekali dalam periode kehamilan untuk melihat potensi munculnya postpartum depression. Sementara untuk
ayah belum ada. Saltz menuturkan pentingnya mengenali gejala yang muncul pada
diri dan pasangan. “Terkadang kita lebih bisa melihat apa yang terjadi pada
pasangan kita ketika dia sendiri tidak menyadarinya,” ungkapnya.
|
SUPPORT SYSTEM
|
Pada masa-masa penting ini, menyambut
kehadiran bayi, ibu dan ayah baru memerlukan support system dari lingkungan terdekat. Jadi, ketika salah satu
atau bahkan keduanya mengalami postpartum
depression, situasi bisa segara ditangani.
Pengertian dan dukungan membantu
meminimalkan kondisi depresi. Segera hubungi dokter ahli jika gejala depresi
tidak mereda dalam dua minggu. Apalagi bila sampai berpikiran untuk menyakiti
diri sendiri maupun bayi Anda. (nor/c15/ayi)
Sumber:
Jawa Pos, 21 Pebruari 2017
