Mengidap asma bukanlah kejadian yang menyenangkan. Apalagi, hal tersebut terjadi pada anak-anak. Bukan hanya aktivitas yang terganggu, tumbuh kembang si kecil juga ikut terhambat. Jika tidak segera ditangani, perkembangan otak pun bias ikut terganggu.
MASA kecil memang tidak terlepas dari dunia bermain dan kegiatan yang menguras energy. Namun, coba perhatikan kala si kecil tengah beraktivitas. Apakah napasnya berbunyi ngik-ngik? Apakah si kecil sering terbatuk hingga sulit bernapas? Jika dua tanda tersebut sering terlihat pada anak, Anda patut curiga. Bisa jadi, anak Anda berisiko asma.
Secara medis, asma merupakan inflamasi (pembengkaan) pada sluran pernapasan kronik dan berulang. Sesuai akar katanya, asthma dalam bahasa Yunani berarti terengah-engah, para penderita asma umumnya mengalami kesulitan napas. Mulai sekedar tersedak hingga yang paling mengerikan gagal napas.
“Gejala asma pada anak dan dewasa sebenarnya tidak ada bedanya,” tegas dr. Kusdwijono, SpA, spesialis anak Rumah Sakit Husada Utama. Menurut dia, penderita asma dari beragam usia biasanya menunjukkan gejala seperti sesak napas, sering bersin, dan mudah lelah saat beraktivitas.
Kus memaparkan, asma pada anak-anak lebih sulit dideteksi. Sebab, mereka sulit diarahkan untuk melakukan tes fungsi paru-paru. Pada pengetesan ini, dokter akan mengintruksi pasien meniup alat. Kekuatan tiup akan menunjukkan kapasitas paru-paru pasien. “Biasanya, anak-anak susah kalau diminta tes ini. Mereka selalu menangis,” lanjut dokter alumnus Universitas Hang Tuah tersebut.
Cara paling efisien untuk mengetahui adanya asma pada anak adalah lewat pengamatan. Orang tua dianjurkan mengamati frekuensi dan kondisi saat si kecil sesak (lihat grafis). Jika anak berada di asma kelas menengah, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter spesialis.
Dokter Dian Pramastuti, SpA menjelaskan, penderita wajib menghindarkan diri dari allergen dan kondisi lingkungan yang bisa memicu kambuh. Tujuannya, frekuensi serangan asma berkurang. Selain itu, pasien harus melakukan pengobatan. Obat-obatan asma anak dan dewasa hamper sama. Yang membedakan hanya dosis dan bentuknya.
Obat yang umum diresepkan adalah inhaler (obat yang dihirup/ diisap) dan oral. “Untuk penderita balita, biasanya resep berupa nebulasi atau penguapan,” ucap Dian. Nebulasi atau nebulizer diberikan untuk anak-anak yang belum memiliki respons menyedot. Tujuannya, obat bisa langsung dihirup oleh si kecil.
Terkait penggunaan oksigen, konsultan Mom n Jo, Mom Baby and Kids Center itu menjelaskan, tidak semua penderita membutuhkan oksigen medis. Tabung oksigen dengan kadar di atas 95 persen itu baru diberikan jika serangan asma tidak mereda dengan reliever yang biasa dipakai.
Dian menambahkan, penderita asma bebas mengikuti beragam olahraga. Asal, aktivitas fisik tersebut dilakukan secara rutin, malsimal satu jam. “Olahraga itu bagus karena bisa menguatkan otot-otot pernapasan,” ucapnya. Supaya tidak muncul serangan “mendadak”, sebaiknya si kecil diajak latihan secara bertahap. (fam/c17/dos)
TERATUR BEROBAT, SERANGAN JARANG
HIDUP dengan asma memang bukan hal mudah. Penderita, terutama anak-anak, wajib menjalani control. Terlebih, asma yang dideritanya merupakan jenis kambuhan. Efek jangka panjangnya, serangan jadi lebih jarang muncul.
Hal tersebut dirasakan Surya Ayomi, 23. Dia menderita asma sejak bayi. Bahkan, perempuan yang akrab disapa Ayomi tersebut sering keluar masuk rumah sakit karena serangan asma. “Sekarang sudah jarang. Bahkan, nggak pernah,” ucapnya. Dia terakhir opname karena asma saat kelas V SD.
Keluarganya mencurigai bungsu di antara tiga bersaudara itu menderita asma karena muncul wheezing. Saat bernapas, terdengar bunyi ngik-ngik yang lumayan keras. Apalagi, Ayomi kecil sering mengalami sesak dan batuk-batuk kala cuaca terlalu panas atau dingin.
Untuk mengurangi serangan asma, Ayomi mengonsumsi obat secara rutin. Selain obat minum, dia menyimpan inhaler. Dia menjelaskan, dosis obat yang dikonsumsinya berubah-ubah. Namun, takaran tersebut makin berkurang seiring memasuki usia remaja. Kini perempuan asal Malang tersebut tidak lagi perlu minum obat harian.
“Kebiasaan yang terbawa sampai sekarang, ya tidur dengan bantal tinggi,” ucap Ayomi. Perempuan kelahiran 7 Agustus 1991 itu menjelaskan, jika tidak disangga bantal, dirinya sering mengalami tersedak saat tidur. Selain itu, napas menjadi susah.
Lain lagi dengan Hanifa Kamila, 5. Putrid pasangan Nur Burhanuddin dan Kirana tersebut mengalami asma karena alergi laktosa. “Dulu, tiap habis minum susu, pasti batuk-batuk,” ucap Kirana. Namun, Mila-sapaan Hanifa Kamila- justru tidak diduga asma. Dokter yang pertama menanganinya mendiagnosis si kecil hanya batuk biasa.
Selang beberapa bulan, batuk Mila tidak kunjung membaik. Bahkan, menurut Kirana, batuk Mila disertai megap-megap. Sang ibu pun beralih ke dokter lain. “Saat itu dokter menyarankan Mila ganti minum susu soya,” lanjut ibu dua anak tersebut. Setelah berganti merek susu, batuk-batuk Mila pun reda.
Dokter Dian Pramastuti SpA menjelaskan, pada dasarnya asma merupakan aksi hiperaktif tubuh terhadap allergen. “Makanya, ada orang yang tahan sama parfum. Tapi, ada juga yang sesak begitu mencium aroma parfum,” paparnya. Untuk mengurangi serangan sesak, Dian menyarankan penderita asma menghindar dari “pemicu” asmanya. (fam/c10/dos).
SUMBER: #JAWAPOS, Selasa 5 Mei 2015
Seberapa
parah gejala asma pada anak Anda?
Ringan
Rasa berat di dada
Batuk berdahak
Sering mengeluh
sesak di malam hari
Serangan muncul amat
jarang
Sedang
Sesak disertai bunyi
ngik-ngik (wheezing)
Batuk kering
Aktivitas terganggu
Serangan mencapai
2-3 kali sebulan
Berat
Sesak hingga sulit
berbicara
Harus dalam posisi
setengah duduk agar dapat bernapas
Serangan sering muncul, hampir tiap minggu (jika
muncul tiap hari, masuk tingkat persisten)
Faktor
penyebab asma pada anak
1. Allergen (makanan,
debu, serbuk sari)
2. Kondisi lingkungan
(cuaca terlalu dingin atau panas)
3. Infeksi, terutama
pada saluran napas
4. Riwayat asma pada
keluarga
GRAFIS:IMAS/JAWAPOS
No comments:
Post a Comment