Google search

Custom Search

Translate

Thursday, 31 March 2016

Bleeding Stroke

Akibat Fatal Stroke Perdarahan

Bisa Koma dan Hilang Nyawa

Stroke perdarahan bisa menjadi menakutkan karena tidak punya gejala khas. Serangannya datang tiba-tiba hingga membuat koma dan kehilangan nyawa.

ANGKA kejadian stoke perdarahan di Indonesia semakin meningkat. Spesialis bedah saraf Surabaya Neuroscience Institute dr Asra Al Fauzi SpBS mengatakan, berdasar data epidemiologi, di negara Barat stroke perdarahan hanya 10-15 persen dari semua kasus stroke. “Di Indonesia tahun ini kasus stroke perdarahan sekitar 30 persen dari seluruh stroke,” paparnya.
Asra menjelaskan, stroke perdarahan adalah pecahnya pembuluh darah dalam otak. Kondisi itu jelas berbeda dengan jenis stroke iskemik atau penyumbatan – yang banyak dijumpai dengan gejala kelumpuhan bagian tubuh. “Stroke perdarahan lebih fatal. Pembuluh darah pecah, bisa masuk jaringan otak dan merusak sel-sel otak,” papar Asra yang juga dokter Brain and Spine Center RS Nitra Keluarga tersebut.
Karena itu, hampir semua orang yang terserang stroke perdarahan datang ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadar atau koma. Pola tersebut terjadi pada pasien dari segala usia. Baik tua maupun muda, efeknya bisa lumpuh total, kesedaran menurun, hingga koma. “Kalau keadaannya sudah parah, ada yang nyawanya tidak tertolong,” ucapnya.
Stroke perdarahan memang tidak memandang usia. Tapi, penyebab penyakit tersebut berdasar  usia berbeda. Pada orang yang berusia matang (45 tahun ke atas), biasanya kasus terjadi karena hipertensi. Pembuluh darah terkikis sehingga menjadi tipis seiring dengan tekanan darah tinggi yang tak terkontrol. Akhirnya, pembuluh darah bocor dan pecah. Pada usia muda, biasanya kasus terjadi karena kelainan pembuluh darah.
Dua kelainan yang paling sering adalah aneurisme dan arteriovenous malformation (AVM). Aneurisme adalah timbulnya bentukan seperti balon di dinding pembuluh darah. Ibarat mata ikan pada balon yang ditiup besar, kalau dinding lemah, mudah pecah. Sedangkan AVM sering dikenal orang awam sebagai varises otak. “Dari dua kelainan itu, yang sering terjadi adalah aneurisme,” ucap pria yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut.
Sayang, kelainan pembuluh darah tersebut tidak punya gejala yang pas. Karena itu, penderita sering tidak menyadarinya. Gejala yang sering dikeluhkan memang sakit kepala. Namun, sakit kepala yang timbul juga tidak spesifik. Banyak penderita yang datang dalam keadaan terlambat. Pembuluh darah sudah pecah dan pasien koma.
Jadi, Asra sangat menyarankan deteksi dini. Khusunya untuk mereka yang punya faktor risiko. Misalnya, mereka yang orang tuanya pernah mengalami stroke atau ada keluarga yang punya kelainan pembuluh darah. Usia 18 tahun ke atas  sudah bisa melakukan deteksi dini dengan magnetic resonance imaging (MRI) tanpa kontras.
Sejauh ini, yang bisa dilakukan untuk pencegahan stroke perdarahan adalah meminimalkan faktor  risiko, salah satunya hipertensi. Pasien hipertensi harus menyadari pentingnya konsistensinya minum obat. “Dosis obat yang tepat penting juga unutk efektivitas penyembuhan,” ucapnya. (ina/c11/jan)

Sumber: Jawa pos, 9 Oktober 2015

Tuesday, 22 March 2016

Inovation

Inovasi Obat TB untuk Anak

TUBERKULOSIS (TB) merupakan pembunuh anak-anak nomor wahid dunia. Berdasar data Badan Kesehatan Dunia (WHO), sepanjang  2014, 10 juta orang terinfeksi TB. Sebanyak 1,5 juta di antaranya meninggal dunia menyaingi kematian karena AIDS yang mencapai 1,2 juta. Sebanyak 400 ribunya merupakan anak-anak.
Meski demikian, ada harapan baru buat mereka yang tinggal di area pandemi TB. Badan penelitian dan pemerhati TB, TB Alliance, mengklaim, pihaknya telah menemukan formulasi obat khusus anak-anak. Tentu saja, penemuan tersebut melegakan banyak pihak. Sebab, TB mengakibatkan buta tuli, lumpuh, serta keterbelakangan mental pada penderita anak-anak.

Menurut CEO TB Alliance Mell Spigelman, obat tersebut berbentuk cair dan memiliki rasarasberi dan stroberi. Dosisnya pun telah disesuaikan dengan kebutuhan si kecil. “Orang tua atau pengasuh bakal lebih mudah memberikan obat tersebut secara teratur. Anak-anak pun tidak sulit saat diminta minum obat,” paparnya pada Reuters.
Bakteri penyebab TB amat mudah tersebar di daerah padat penduduk yang memiliki sanitasi dan nutrisi buruk. “Jika diperhatikan, persebarannya paling banyak terjadi di daerah berpenduduk miskin,” lanjut Spigelman. Mengingat hal tersebut, obat yang dikembangkan TB Alliance diproduksi masal dengan bantuan WHO sehingga harganya pun bakal amat terjangkau. (foxnews/fam/c23/jan)

Sumber: Jawa Pos, 4 Desember 2015

Saturday, 19 March 2016

Batu Ginjal 1

Mencegah Gangguan Batu Ginjal

Konsumsi Air Putih
Per Hari Harus Cukup

Ginjal merupakan organ pembuangan serta pengatur kondisi tubuh. Jika kesehatan organ tersebut kurang diperhatikan, bisa muncul gangguan seperti batu ginjal. Bagaimana caranya?
SEPASANG ginjal manusia merupakan organ yang memiliki fungsi komplet sekaligus kompleks. “Ia bertugas mengeluarkan sisa pembakaran. Ginjal juga merupakan pengatur keseimbangan zat-zat dalam tubuh,” papar internis spesialis ginjal dan hipertensi dr Chandra Irwanadi Mohani SpPD-KGH FINASIM.
Organ tersebut berperan dalam pengaturan kadar keasaman (pH) tubuh, kadar elektrolit, hormon pembentukan sel darah merah, hingga tekanan darah. Lantaran fungsinya sebagai “filter” tubuh, ginjal rawan terpapar banyak zat. Salah satunya adalah kalsium.

Menurut dokter yang berpraktik di RS Siloam Surabaya itu, zat berlambang kimia Ca tersebut merupakan bahan pembentuk Kristal. “Bila konsumsi kalsium tinggi, tapi minumnya sedikit, lama-lama akan mengendap. Hasilnya, terbentuk batu,” ungkap Chandra. Lama pembentukan endapan tersebut bergantung pada tiap individu.
Chandra mengibaratkan, system saluran kemih mirip dengan sungai. “Kalau umumnya lancar, endapannya bakal sedikit. Batu pun nggak terbentuk,” lanjutnya. Demikian halnya dengan kondisi cuaca panas. Tubuh akan menambah penguapan sehingga air lebih banyak dikeluarkan lewat keringat. “Produksi urine berkurang, konsentrasinya jadi lebih pekat,” jelas alumnus Universitas Airlangga itu.
Dalam kondisi kekurangan air, zat-zat yang terlarut dalam urine bakal mengendap di ginjal. Endapan tersebut mengikat ion, lantas membentuk Kristal. Munculnya batuan itu bisa terjadi di ginjal, ureter, kandung kemih, hingga uretra. Parahnya, lanjut Chandra, batu tersebut bisa berpindah posisi mengikuti gerakan.
“Gejalanya, nyeri di tempat yang tersumbat batu. Biasanya terasa sakit di pinggang hingga bawah perut,” ungkap Chandra. Bahkan, bila sumbatan terjadi di uretra, berisiko muncul infeksi saluran kemih. Tandanya, demam dan nyeri saat berkemih. Terkadang, urine juga disertai darah.
Meski demikian, dengan konsumsi air yang cukup, batuan kecil berdiameter 5 mm bisa dikeluarkan lewat kemih. Spesialis bedah dr Peter J. Manoppo FINACS FICS menyatakan, bila diameter batu lebih besar, dokter biasanya akan menyarankan tiga opsi.
Pertama, diberikan obat pelarut yang sifatnya asam atau basa. Bergantung karakter batu. Kedua, terapi dengan gelombang kejut (ESWL). “Opsi terakhir adalah tindakan invasive,” kata Peter. Sebelum melakukan tindakan, dokter akan melakukan USG. Tujuannya, mengetahui ukuran dan posisi batu.
Menurut dia, posisi batu menentukan rasa nyeri yang dirasakan penderita. Umumnya, keluhan yang dirasakan merupakan kolik ureter. Yakni, rasa nyeri di sekitar pinggang lantaran “sumbatan” batu.

Bila tidak segera ditangani, batu yang berada di saluran kemih bakal membesar. Bahkan, ia bisa menimbulkan infeksi dan luka. “Permukaan batu ini mirip pecahan kerikil. Kasar dan tidak rata,” papar Peter. Batu tersebut juga bisa melekat sehingga menimbulkan sumbatan. Ginjal pun rawan terganggu karena kinerjanya terhambat batu.
Chandra maupun Peter menegaskan, mencegah tetap lebih baik daripada mengobati. Konsumsi air putih 2-3 liter per hari amat disarankan untuk orang dewasa. “Tidak ada pantangan makanan. Bebas makan apapun, tapi sebaiknya tidak berlebihan,” ujar Chandra. (fam/c10/jan)

Sumber: Jawa Pos, 24 Nopember 2015

Wednesday, 16 March 2016

Tetap Fit Saat Ujian

Tetap Bugar Selama Ujian Berlangsung

Stres Berlalu, Cemas Lenyap

Ujian sekolah sudah berlangsung satu hari. Masih ada empat hari ke depan untuk menuntaskan semuanya. Bukan hanya kesehatan fisik wajib dijaga, mental juga harus stabil. Keduanya saling memengaruhi dan ikut menentukan keberhasilan anak melalui ujian.

SAKIT perut, berkeringat dingin, terasa sedikit pusing, mual, bahkan muntah. Bila ada satu diantara sederet gejala itu yang diderita anak menjelang ujian, bisa jadi itu adalah salah satu tanda anak sedang cemas berlebihan. Jujur saja, seminggu kemarin ini pasien saya kebanyakan anak kelas VI SD memang. Rata-rata muntah dan diare,” ungkap dr Ari Setyawati SpA dari RS Mitra Keluarga Waru.



Dari tahun ke tahun, menurut dia, kondisi itu umum terjadi. Dokter Ari menjelaskan, dalam menghadapi ujian, anak punya risiko mengalami exam/test anxiety disorder maupun gangguan psikosomatis. “Ini terjadi ketika tekanan yang dirasakannya berlebihan. Tapi, sebenarnya bila menghadapinya wajar saja, itu tidak akan terjadi,” jelasnya. Psikosomatis, terang dia, adalah gangguan psikologis yang memengaruhi atau merugikan kondisi medis pasien.
Ketika anak merasa perutnya tidak nyaman ataupun sakit, kemudian dia merasa mual dan muntah, itu bukan pura-pura. “Kondisi sakit secara fisik yang dialami itu nyata. Saat mengeluh pusing atau jantung berdebar kencang, saat diperiksa, ya memang begitu kondisinya,” ungkap Ari. Karena itu, tanggapan orang tua sebaiknya tidak menuding anak berbohong atau mencari alas an demi “keringanan”.
Bahkan, hubungan antara kondisi mental saat ujian dan kesehatan seseorang pernah diteliti secara serius. Dirilis oleh National Library of Medicine, hasil penelitian mengungkapkan, mereka yang cemas berlebihan saat mengahadapi ujian akan memproduksi saliva (air liur) lebih banyak. Peneliti dari Ohio State University juga menemukan bahwa kondisi menjelang dan saat ujian berpengaruh terhadap perubahan sistem imun para peserta.
Hasil tes menunjukkan, bagi mereka yang sangat cemas (diukur dengan skala depresi kecemasan stres), sistem imunnya akan menurun. Menariknya, para peneliti sampai menganalisis darah para peserta ujian sebelum, selama, dan sesudah ujian.
Mereka menemukan perubahan yang terukur dari jumlah limfosit. Sel-sel yang biasanya merusak sel-sel  yang terinfeksi itu menjadi kurang aktif pada siswa yang sedang ujian. Kesimpulannya, mereka yang sedang ujian rentan terkena infeksi. Resiko tersebut bertambah besar ketika siswa begadang saat ujian. Tidur berpengaruh terhadap pelepasan hormon dan sistem imun. Bila tidur terganggu, terganggu pula sistem tersebut.
Meski begitu, orang tua sebaiknya bersikap wajar dalam menanggapinya. Anak tetap diobati secara simptomatik. “Artinya, diobati sesuai gejala kalau mual, dikasih antimual. Paling penting motivasi dan ketenangan dari orang tua juga sih,” jelas Ari. Rasa panik disembunyikan saja agar anak tidak ikut bertambah panik. Gangguan psikosomatis akan hilang dengan sendirinya saat penyebab stres sudah berlalu. “Kecuali anak masuk lebih dalam ke tingkat depresi. Nah, itu butuh bantuan professional seperti psikiater dan psikolog,” kata dokter lulusan Universitas Airlangga itu.
Untuk menjaga agar tetap fit selama ujian, dokter yang akrab dipanggil Ai tersebut menganjurkan untuk istirahat cukup dan mengonsumsi makanan bergizi. Penyakit yang umumnya diderita anak adalah radang, batuk-pilek, diare, dan panas. “Hindari es, minum-minuman berperisa, dan makanan enggak sehat lain. Jangan jajan sembarangan,” imbaunya. (puz/c6/dos)

Tekanan Itu Perlu
                MANAJEMEN stres bersifat sangat individual. Karena itu, setiap anak punya level ketegangan dan kecemasan yang berbeda dalam menghadapi tekanan (stres). Namun, tidak berarti stres serta-merta harus dihilangkan. Sebab, dalam teori psikollogi, ada dua jenis stres. “Ada eustress, yaitu stres yang bagus, dan stres berlebihan yang mengarah ke depresi,” jelas Aniva Kartika SPsi MA.


Eustress adalah stres yang cukup. Stres tersebut bermanfaat bagi anak untuk membuat tugas kognitif atau kinerja seseorang menjadi lebih baik. “Stres itu perlu dalam batas yang wajar. Dengan tekanan, otomatis dia belajar agar ujiannya berhasil. Tidak terlalu santai atau justru cuek sama sekali,” ungkap Aniva. Sebaliknya, tekanan yang ditanggapi berlebihan membuat anak justru menjadi stres yang merugikan.
Kecemasan yang tinggi, dalam teori psikologi, membuat tubuh merespons tugas secara tidak relevan seperti merasa tidak mampu, tidak berdaya, kehilangan harga diri, mengantisipasi diri untuk keburukan, hingga “upaya” menghindari situasi ujian. Orang tua bisa mendeteksi gejala itu dengan lebih peka terhadap perilaku anak.
Misalnya, anak menjadi murung, bingung, tidak fokus, atau mudah marah. “Sering kali mereka tidak bilang kalau tertekan. Tapi, sikap seperti itu saja sudah jadi ekspresi akan kecemasannya yang berlebih,” terang psikolog pendidikan dari Universitas Surabaya tersebut. Orang tua pasti lebih tahu tentang perubahan-perubahan sikap itu dan paling tahu cara menurunkan tingkat stresnya.

Jika suka dengan film, si anak biarkan saja satu jam menonton film kesukaannya. Bila kegemarannya adalah makan,  masakkan makanan kesukaannya. Ikut panik dan berkali-kali mengingatkan anak untuk belajar tidak dianjurkan. “Sebab, ini sudah finalnya. Belajar itu sudah proses panjang sebagai persiapan, tidak bisa dikebut semalam,” ujar Aniva. Kecemasan orang tua akan mudah menular ke anak dan tekanan pada anak pun malah bertambah.
Berikan kalimat-kalimat motivasi kepada anak. Ajaklah berdoa bersama. Saat pulang sekolah, tanyai dengan gembira. Bila jawabannya tidak bisa, fokuslah untuk menyemangati mata pelajaran esoknya. (puz/c10/dos)

Agar 100% Fit saat Ujian

·      Pastikan tidur cukup agar saat hari ujian tidak letih dan ngantuk. Untuk anak usia 10-12 tahun, idealnya tidur 8 jam sehari. Tidak boleh berlebihan juga.
·      Cobalah tidak belajar larut malam karena akan mengacaukan short-term memory dan membuat anak tidak fokus dan seolah kosong (feeling blank) keesokannya.
·      Berpikir optimistis dan bangun dengan senyum ceria di wajah, tidak peduli merasa siap atau belum. Ini menentukan mood sepanjang hari.


Sumber: Jawa Pos, 19 Mei 2015

Tuesday, 8 March 2016

Polusi

Polusi Lebih Mematikan ketimbang HIV
            KONDISI  udara yang kita hirup sehari-hari menentukan kualitas hidup. Berdasar studi terbaru WHO, setiap tahun lebih dari tiga juta orang meninggal akibat terpapar polusi udara terlalu lama. Badan Kesehatan Dunia tersebut mencatat, angka itu bakal meningkat menjadi 6,6 juta kematian per tahun pada 2050.
Kematian akibat polusi udara lebih berbahaya ketimbang infeksi HIV dan malaria. “Angka kematian akibat keduanya mencapai 2,8 juta per tahun. Angka itu lebih kecil dari kasus kematian karena polusi,” ucap Prof Jos Lelieveld, ahli kimia Max Planck Institute, Jerman.
Selain itu, menurut penelitian Langone Medical Center, New York University, polusi meningkatkan jumlah partikel kimiawi di udara. “Saat terhirup, partikel tersebut bisa mengendap di aliran darah dan paru-paru,”  jelas Prof George Thurston, pakar epidemiologi serta kesehatan masyarakat dan lingkungan, sebagaimana dikutip CNN.
Bahaya menghirup polutan tersebut dinilai setara denga risiko merokok. Partikel pencemar itu mampu memicu penyakit kardiovaskular dan pernapasan. Termasuk risiko kanker paru-paru. Lelieveld menjelaskan, polutan udara bisa berasal dari mana saja. Mulai asap kegiatan dapur hingga polusi lalu lintas dan industri.
Kepala tim penelitian WHO tersebut menjelaskan, hasil pembakaran rumah tangga jadi penyebab kematian tertinggi di area India, Tiongkok, Bangladesh, Nepal, dan Indonesia. “Bahan bakar kualitas buruk menghasilkan polutan yang berbahaya. Efek tersebut makin buruk bila ruangan tidak didukung sistem ventilasi yang baik,” jelasnya. (fam/c15/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 22 September 2015