Tetap Bugar Selama Ujian Berlangsung
Stres Berlalu, Cemas Lenyap
Ujian sekolah sudah berlangsung satu hari. Masih ada
empat hari ke depan untuk menuntaskan semuanya. Bukan hanya kesehatan fisik
wajib dijaga, mental juga harus stabil. Keduanya saling memengaruhi dan ikut
menentukan keberhasilan anak melalui ujian.
SAKIT perut, berkeringat dingin, terasa
sedikit pusing, mual, bahkan muntah. Bila ada satu diantara sederet gejala itu
yang diderita anak menjelang ujian, bisa jadi itu adalah salah satu tanda anak
sedang cemas berlebihan. Jujur saja, seminggu kemarin ini pasien saya
kebanyakan anak kelas VI SD memang. Rata-rata muntah dan diare,” ungkap dr Ari
Setyawati SpA dari RS Mitra Keluarga Waru.
Dari tahun ke
tahun, menurut dia, kondisi itu umum terjadi. Dokter Ari menjelaskan, dalam
menghadapi ujian, anak punya risiko mengalami exam/test anxiety disorder maupun gangguan psikosomatis. “Ini
terjadi ketika tekanan yang dirasakannya berlebihan. Tapi, sebenarnya bila
menghadapinya wajar saja, itu tidak akan terjadi,” jelasnya. Psikosomatis,
terang dia, adalah gangguan psikologis yang memengaruhi atau merugikan kondisi
medis pasien.
Ketika anak
merasa perutnya tidak nyaman ataupun sakit, kemudian dia merasa mual dan
muntah, itu bukan pura-pura. “Kondisi sakit secara fisik yang dialami itu
nyata. Saat mengeluh pusing atau jantung berdebar kencang, saat diperiksa, ya
memang begitu kondisinya,” ungkap Ari. Karena itu, tanggapan orang tua
sebaiknya tidak menuding anak berbohong atau mencari alas an demi “keringanan”.
Bahkan,
hubungan antara kondisi mental saat ujian dan kesehatan seseorang pernah
diteliti secara serius. Dirilis oleh National
Library of Medicine, hasil penelitian mengungkapkan, mereka yang cemas
berlebihan saat mengahadapi ujian akan memproduksi saliva (air liur) lebih
banyak. Peneliti dari Ohio State University juga menemukan bahwa kondisi
menjelang dan saat ujian berpengaruh terhadap perubahan sistem imun para
peserta.
Hasil tes
menunjukkan, bagi mereka yang sangat cemas (diukur dengan skala depresi
kecemasan stres), sistem imunnya akan menurun. Menariknya, para peneliti sampai
menganalisis darah para peserta ujian sebelum, selama, dan sesudah ujian.
Mereka
menemukan perubahan yang terukur dari jumlah limfosit. Sel-sel yang biasanya
merusak sel-sel yang terinfeksi itu
menjadi kurang aktif pada siswa yang sedang ujian. Kesimpulannya, mereka yang
sedang ujian rentan terkena infeksi. Resiko tersebut bertambah besar ketika
siswa begadang saat ujian. Tidur berpengaruh terhadap pelepasan hormon dan sistem
imun. Bila tidur terganggu, terganggu pula sistem tersebut.
Meski begitu,
orang tua sebaiknya bersikap wajar dalam menanggapinya. Anak tetap diobati
secara simptomatik. “Artinya, diobati sesuai gejala kalau mual, dikasih
antimual. Paling penting motivasi dan ketenangan dari orang tua juga sih,”
jelas Ari. Rasa panik disembunyikan saja agar anak tidak ikut bertambah panik.
Gangguan psikosomatis akan hilang dengan sendirinya saat penyebab stres sudah
berlalu. “Kecuali anak masuk lebih dalam ke tingkat depresi. Nah, itu butuh
bantuan professional seperti psikiater dan psikolog,” kata dokter lulusan
Universitas Airlangga itu.
Untuk menjaga
agar tetap fit selama ujian, dokter yang akrab dipanggil Ai tersebut
menganjurkan untuk istirahat cukup dan mengonsumsi makanan bergizi. Penyakit
yang umumnya diderita anak adalah radang, batuk-pilek, diare, dan panas.
“Hindari es, minum-minuman berperisa, dan makanan enggak sehat lain. Jangan
jajan sembarangan,” imbaunya. (puz/c6/dos)
Tekanan Itu Perlu
MANAJEMEN stres bersifat sangat individual. Karena itu, setiap anak
punya level ketegangan dan kecemasan yang berbeda dalam menghadapi tekanan
(stres). Namun, tidak berarti stres serta-merta harus dihilangkan. Sebab, dalam
teori psikollogi, ada dua jenis stres. “Ada eustress,
yaitu stres yang bagus, dan stres berlebihan yang mengarah ke depresi,”
jelas Aniva Kartika SPsi MA.
Eustress adalah stres yang cukup. Stres
tersebut bermanfaat bagi anak untuk membuat tugas kognitif atau kinerja
seseorang menjadi lebih baik. “Stres itu perlu dalam batas yang wajar. Dengan
tekanan, otomatis dia belajar agar ujiannya berhasil. Tidak terlalu santai atau
justru cuek sama sekali,” ungkap Aniva. Sebaliknya, tekanan yang ditanggapi
berlebihan membuat anak justru menjadi stres yang merugikan.
Kecemasan
yang tinggi, dalam teori psikologi, membuat tubuh merespons tugas secara tidak
relevan seperti merasa tidak mampu, tidak berdaya, kehilangan harga diri,
mengantisipasi diri untuk keburukan, hingga “upaya” menghindari situasi ujian.
Orang tua bisa mendeteksi gejala itu dengan lebih peka terhadap perilaku anak.
Misalnya,
anak menjadi murung, bingung, tidak fokus, atau mudah marah. “Sering kali
mereka tidak bilang kalau tertekan. Tapi, sikap seperti itu saja sudah jadi
ekspresi akan kecemasannya yang berlebih,” terang psikolog pendidikan dari
Universitas Surabaya tersebut. Orang tua pasti lebih tahu tentang
perubahan-perubahan sikap itu dan paling tahu cara menurunkan tingkat stresnya.
Jika suka dengan film, si anak biarkan saja satu jam menonton film kesukaannya. Bila kegemarannya adalah makan, masakkan makanan kesukaannya. Ikut panik dan berkali-kali mengingatkan anak untuk belajar tidak dianjurkan. “Sebab, ini sudah finalnya. Belajar itu sudah proses panjang sebagai persiapan, tidak bisa dikebut semalam,” ujar Aniva. Kecemasan orang tua akan mudah menular ke anak dan tekanan pada anak pun malah bertambah.
Berikan
kalimat-kalimat motivasi kepada anak. Ajaklah berdoa bersama. Saat pulang
sekolah, tanyai dengan gembira. Bila jawabannya tidak bisa, fokuslah untuk
menyemangati mata pelajaran esoknya. (puz/c10/dos)
Agar 100% Fit saat Ujian
·
Pastikan tidur cukup agar saat hari
ujian tidak letih dan ngantuk. Untuk anak usia 10-12 tahun, idealnya tidur 8
jam sehari. Tidak boleh berlebihan juga.
·
Cobalah tidak belajar larut malam
karena akan mengacaukan short-term memory
dan membuat anak tidak fokus dan seolah kosong (feeling blank) keesokannya.
·
Berpikir optimistis dan bangun
dengan senyum ceria di wajah, tidak peduli merasa siap atau belum. Ini
menentukan mood sepanjang hari.
Sumber: Jawa Pos, 19 Mei 2015
No comments:
Post a Comment