Google search

Custom Search

Translate

Wednesday, 16 March 2016

Tetap Fit Saat Ujian

Tetap Bugar Selama Ujian Berlangsung

Stres Berlalu, Cemas Lenyap

Ujian sekolah sudah berlangsung satu hari. Masih ada empat hari ke depan untuk menuntaskan semuanya. Bukan hanya kesehatan fisik wajib dijaga, mental juga harus stabil. Keduanya saling memengaruhi dan ikut menentukan keberhasilan anak melalui ujian.

SAKIT perut, berkeringat dingin, terasa sedikit pusing, mual, bahkan muntah. Bila ada satu diantara sederet gejala itu yang diderita anak menjelang ujian, bisa jadi itu adalah salah satu tanda anak sedang cemas berlebihan. Jujur saja, seminggu kemarin ini pasien saya kebanyakan anak kelas VI SD memang. Rata-rata muntah dan diare,” ungkap dr Ari Setyawati SpA dari RS Mitra Keluarga Waru.



Dari tahun ke tahun, menurut dia, kondisi itu umum terjadi. Dokter Ari menjelaskan, dalam menghadapi ujian, anak punya risiko mengalami exam/test anxiety disorder maupun gangguan psikosomatis. “Ini terjadi ketika tekanan yang dirasakannya berlebihan. Tapi, sebenarnya bila menghadapinya wajar saja, itu tidak akan terjadi,” jelasnya. Psikosomatis, terang dia, adalah gangguan psikologis yang memengaruhi atau merugikan kondisi medis pasien.
Ketika anak merasa perutnya tidak nyaman ataupun sakit, kemudian dia merasa mual dan muntah, itu bukan pura-pura. “Kondisi sakit secara fisik yang dialami itu nyata. Saat mengeluh pusing atau jantung berdebar kencang, saat diperiksa, ya memang begitu kondisinya,” ungkap Ari. Karena itu, tanggapan orang tua sebaiknya tidak menuding anak berbohong atau mencari alas an demi “keringanan”.
Bahkan, hubungan antara kondisi mental saat ujian dan kesehatan seseorang pernah diteliti secara serius. Dirilis oleh National Library of Medicine, hasil penelitian mengungkapkan, mereka yang cemas berlebihan saat mengahadapi ujian akan memproduksi saliva (air liur) lebih banyak. Peneliti dari Ohio State University juga menemukan bahwa kondisi menjelang dan saat ujian berpengaruh terhadap perubahan sistem imun para peserta.
Hasil tes menunjukkan, bagi mereka yang sangat cemas (diukur dengan skala depresi kecemasan stres), sistem imunnya akan menurun. Menariknya, para peneliti sampai menganalisis darah para peserta ujian sebelum, selama, dan sesudah ujian.
Mereka menemukan perubahan yang terukur dari jumlah limfosit. Sel-sel yang biasanya merusak sel-sel  yang terinfeksi itu menjadi kurang aktif pada siswa yang sedang ujian. Kesimpulannya, mereka yang sedang ujian rentan terkena infeksi. Resiko tersebut bertambah besar ketika siswa begadang saat ujian. Tidur berpengaruh terhadap pelepasan hormon dan sistem imun. Bila tidur terganggu, terganggu pula sistem tersebut.
Meski begitu, orang tua sebaiknya bersikap wajar dalam menanggapinya. Anak tetap diobati secara simptomatik. “Artinya, diobati sesuai gejala kalau mual, dikasih antimual. Paling penting motivasi dan ketenangan dari orang tua juga sih,” jelas Ari. Rasa panik disembunyikan saja agar anak tidak ikut bertambah panik. Gangguan psikosomatis akan hilang dengan sendirinya saat penyebab stres sudah berlalu. “Kecuali anak masuk lebih dalam ke tingkat depresi. Nah, itu butuh bantuan professional seperti psikiater dan psikolog,” kata dokter lulusan Universitas Airlangga itu.
Untuk menjaga agar tetap fit selama ujian, dokter yang akrab dipanggil Ai tersebut menganjurkan untuk istirahat cukup dan mengonsumsi makanan bergizi. Penyakit yang umumnya diderita anak adalah radang, batuk-pilek, diare, dan panas. “Hindari es, minum-minuman berperisa, dan makanan enggak sehat lain. Jangan jajan sembarangan,” imbaunya. (puz/c6/dos)

Tekanan Itu Perlu
                MANAJEMEN stres bersifat sangat individual. Karena itu, setiap anak punya level ketegangan dan kecemasan yang berbeda dalam menghadapi tekanan (stres). Namun, tidak berarti stres serta-merta harus dihilangkan. Sebab, dalam teori psikollogi, ada dua jenis stres. “Ada eustress, yaitu stres yang bagus, dan stres berlebihan yang mengarah ke depresi,” jelas Aniva Kartika SPsi MA.


Eustress adalah stres yang cukup. Stres tersebut bermanfaat bagi anak untuk membuat tugas kognitif atau kinerja seseorang menjadi lebih baik. “Stres itu perlu dalam batas yang wajar. Dengan tekanan, otomatis dia belajar agar ujiannya berhasil. Tidak terlalu santai atau justru cuek sama sekali,” ungkap Aniva. Sebaliknya, tekanan yang ditanggapi berlebihan membuat anak justru menjadi stres yang merugikan.
Kecemasan yang tinggi, dalam teori psikologi, membuat tubuh merespons tugas secara tidak relevan seperti merasa tidak mampu, tidak berdaya, kehilangan harga diri, mengantisipasi diri untuk keburukan, hingga “upaya” menghindari situasi ujian. Orang tua bisa mendeteksi gejala itu dengan lebih peka terhadap perilaku anak.
Misalnya, anak menjadi murung, bingung, tidak fokus, atau mudah marah. “Sering kali mereka tidak bilang kalau tertekan. Tapi, sikap seperti itu saja sudah jadi ekspresi akan kecemasannya yang berlebih,” terang psikolog pendidikan dari Universitas Surabaya tersebut. Orang tua pasti lebih tahu tentang perubahan-perubahan sikap itu dan paling tahu cara menurunkan tingkat stresnya.

Jika suka dengan film, si anak biarkan saja satu jam menonton film kesukaannya. Bila kegemarannya adalah makan,  masakkan makanan kesukaannya. Ikut panik dan berkali-kali mengingatkan anak untuk belajar tidak dianjurkan. “Sebab, ini sudah finalnya. Belajar itu sudah proses panjang sebagai persiapan, tidak bisa dikebut semalam,” ujar Aniva. Kecemasan orang tua akan mudah menular ke anak dan tekanan pada anak pun malah bertambah.
Berikan kalimat-kalimat motivasi kepada anak. Ajaklah berdoa bersama. Saat pulang sekolah, tanyai dengan gembira. Bila jawabannya tidak bisa, fokuslah untuk menyemangati mata pelajaran esoknya. (puz/c10/dos)

Agar 100% Fit saat Ujian

·      Pastikan tidur cukup agar saat hari ujian tidak letih dan ngantuk. Untuk anak usia 10-12 tahun, idealnya tidur 8 jam sehari. Tidak boleh berlebihan juga.
·      Cobalah tidak belajar larut malam karena akan mengacaukan short-term memory dan membuat anak tidak fokus dan seolah kosong (feeling blank) keesokannya.
·      Berpikir optimistis dan bangun dengan senyum ceria di wajah, tidak peduli merasa siap atau belum. Ini menentukan mood sepanjang hari.


Sumber: Jawa Pos, 19 Mei 2015

No comments:

Post a Comment