Mencegah
Gangguan Batu Ginjal
Konsumsi Air
Putih
Per Hari Harus
Cukup
Ginjal
merupakan organ pembuangan serta pengatur kondisi tubuh. Jika kesehatan organ
tersebut kurang diperhatikan, bisa muncul gangguan seperti batu ginjal.
Bagaimana caranya?
SEPASANG ginjal manusia merupakan organ
yang memiliki fungsi komplet sekaligus kompleks. “Ia bertugas mengeluarkan sisa
pembakaran. Ginjal juga merupakan pengatur keseimbangan zat-zat dalam tubuh,”
papar internis spesialis ginjal dan hipertensi dr Chandra Irwanadi Mohani
SpPD-KGH FINASIM.
Organ
tersebut berperan dalam pengaturan kadar keasaman (pH) tubuh, kadar elektrolit,
hormon pembentukan sel darah merah, hingga tekanan darah. Lantaran fungsinya
sebagai “filter” tubuh, ginjal rawan terpapar banyak zat. Salah satunya adalah
kalsium.Menurut dokter yang berpraktik di RS Siloam Surabaya itu, zat berlambang kimia Ca tersebut merupakan bahan pembentuk Kristal. “Bila konsumsi kalsium tinggi, tapi minumnya sedikit, lama-lama akan mengendap. Hasilnya, terbentuk batu,” ungkap Chandra. Lama pembentukan endapan tersebut bergantung pada tiap individu.
Chandra
mengibaratkan, system saluran kemih mirip dengan sungai. “Kalau umumnya lancar,
endapannya bakal sedikit. Batu pun nggak terbentuk,”
lanjutnya. Demikian halnya dengan kondisi cuaca panas. Tubuh akan menambah
penguapan sehingga air lebih banyak dikeluarkan lewat keringat. “Produksi urine
berkurang, konsentrasinya jadi lebih pekat,” jelas alumnus Universitas
Airlangga itu.
Dalam kondisi
kekurangan air, zat-zat yang terlarut dalam urine bakal mengendap di ginjal.
Endapan tersebut mengikat ion, lantas membentuk Kristal. Munculnya batuan itu
bisa terjadi di ginjal, ureter, kandung kemih, hingga uretra. Parahnya, lanjut
Chandra, batu tersebut bisa berpindah posisi mengikuti gerakan.
“Gejalanya,
nyeri di tempat yang tersumbat batu. Biasanya terasa sakit di pinggang hingga
bawah perut,” ungkap Chandra. Bahkan, bila sumbatan terjadi di uretra, berisiko
muncul infeksi saluran kemih. Tandanya, demam dan nyeri saat berkemih. Terkadang,
urine juga disertai darah.
Meski
demikian, dengan konsumsi air yang cukup, batuan kecil berdiameter 5 mm bisa
dikeluarkan lewat kemih. Spesialis bedah dr Peter J. Manoppo FINACS FICS
menyatakan, bila diameter batu lebih besar, dokter biasanya akan menyarankan
tiga opsi.
Pertama,
diberikan obat pelarut yang sifatnya asam atau basa. Bergantung karakter batu.
Kedua, terapi dengan gelombang kejut (ESWL). “Opsi terakhir adalah tindakan invasive,” kata Peter. Sebelum melakukan
tindakan, dokter akan melakukan USG. Tujuannya, mengetahui ukuran dan posisi
batu.
Menurut dia,
posisi batu menentukan rasa nyeri yang dirasakan penderita. Umumnya, keluhan
yang dirasakan merupakan kolik ureter. Yakni, rasa nyeri di sekitar pinggang
lantaran “sumbatan” batu.
Bila tidak segera ditangani, batu yang berada di saluran kemih bakal membesar. Bahkan, ia bisa menimbulkan infeksi dan luka. “Permukaan batu ini mirip pecahan kerikil. Kasar dan tidak rata,” papar Peter. Batu tersebut juga bisa melekat sehingga menimbulkan sumbatan. Ginjal pun rawan terganggu karena kinerjanya terhambat batu.
Chandra
maupun Peter menegaskan, mencegah tetap lebih baik daripada mengobati. Konsumsi
air putih 2-3 liter per hari amat disarankan untuk orang dewasa. “Tidak ada
pantangan makanan. Bebas makan apapun, tapi sebaiknya tidak berlebihan,” ujar
Chandra. (fam/c10/jan)
Sumber:
Jawa Pos, 24 Nopember 2015
No comments:
Post a Comment