Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 19 March 2016

Batu Ginjal 1

Mencegah Gangguan Batu Ginjal

Konsumsi Air Putih
Per Hari Harus Cukup

Ginjal merupakan organ pembuangan serta pengatur kondisi tubuh. Jika kesehatan organ tersebut kurang diperhatikan, bisa muncul gangguan seperti batu ginjal. Bagaimana caranya?
SEPASANG ginjal manusia merupakan organ yang memiliki fungsi komplet sekaligus kompleks. “Ia bertugas mengeluarkan sisa pembakaran. Ginjal juga merupakan pengatur keseimbangan zat-zat dalam tubuh,” papar internis spesialis ginjal dan hipertensi dr Chandra Irwanadi Mohani SpPD-KGH FINASIM.
Organ tersebut berperan dalam pengaturan kadar keasaman (pH) tubuh, kadar elektrolit, hormon pembentukan sel darah merah, hingga tekanan darah. Lantaran fungsinya sebagai “filter” tubuh, ginjal rawan terpapar banyak zat. Salah satunya adalah kalsium.

Menurut dokter yang berpraktik di RS Siloam Surabaya itu, zat berlambang kimia Ca tersebut merupakan bahan pembentuk Kristal. “Bila konsumsi kalsium tinggi, tapi minumnya sedikit, lama-lama akan mengendap. Hasilnya, terbentuk batu,” ungkap Chandra. Lama pembentukan endapan tersebut bergantung pada tiap individu.
Chandra mengibaratkan, system saluran kemih mirip dengan sungai. “Kalau umumnya lancar, endapannya bakal sedikit. Batu pun nggak terbentuk,” lanjutnya. Demikian halnya dengan kondisi cuaca panas. Tubuh akan menambah penguapan sehingga air lebih banyak dikeluarkan lewat keringat. “Produksi urine berkurang, konsentrasinya jadi lebih pekat,” jelas alumnus Universitas Airlangga itu.
Dalam kondisi kekurangan air, zat-zat yang terlarut dalam urine bakal mengendap di ginjal. Endapan tersebut mengikat ion, lantas membentuk Kristal. Munculnya batuan itu bisa terjadi di ginjal, ureter, kandung kemih, hingga uretra. Parahnya, lanjut Chandra, batu tersebut bisa berpindah posisi mengikuti gerakan.
“Gejalanya, nyeri di tempat yang tersumbat batu. Biasanya terasa sakit di pinggang hingga bawah perut,” ungkap Chandra. Bahkan, bila sumbatan terjadi di uretra, berisiko muncul infeksi saluran kemih. Tandanya, demam dan nyeri saat berkemih. Terkadang, urine juga disertai darah.
Meski demikian, dengan konsumsi air yang cukup, batuan kecil berdiameter 5 mm bisa dikeluarkan lewat kemih. Spesialis bedah dr Peter J. Manoppo FINACS FICS menyatakan, bila diameter batu lebih besar, dokter biasanya akan menyarankan tiga opsi.
Pertama, diberikan obat pelarut yang sifatnya asam atau basa. Bergantung karakter batu. Kedua, terapi dengan gelombang kejut (ESWL). “Opsi terakhir adalah tindakan invasive,” kata Peter. Sebelum melakukan tindakan, dokter akan melakukan USG. Tujuannya, mengetahui ukuran dan posisi batu.
Menurut dia, posisi batu menentukan rasa nyeri yang dirasakan penderita. Umumnya, keluhan yang dirasakan merupakan kolik ureter. Yakni, rasa nyeri di sekitar pinggang lantaran “sumbatan” batu.

Bila tidak segera ditangani, batu yang berada di saluran kemih bakal membesar. Bahkan, ia bisa menimbulkan infeksi dan luka. “Permukaan batu ini mirip pecahan kerikil. Kasar dan tidak rata,” papar Peter. Batu tersebut juga bisa melekat sehingga menimbulkan sumbatan. Ginjal pun rawan terganggu karena kinerjanya terhambat batu.
Chandra maupun Peter menegaskan, mencegah tetap lebih baik daripada mengobati. Konsumsi air putih 2-3 liter per hari amat disarankan untuk orang dewasa. “Tidak ada pantangan makanan. Bebas makan apapun, tapi sebaiknya tidak berlebihan,” ujar Chandra. (fam/c10/jan)

Sumber: Jawa Pos, 24 Nopember 2015

No comments:

Post a Comment