Ketahui Gejala Khas Parkinson
Ditandai
Kondisi TRAP
Selama ini, parkinson selalu dikaitkan dengan usia lanjut.
Namun, tidak berarti yang usia produktif tak perlu waspada. Ada empat gejala
khas dari penyakit yang menyerang sistem gerak itu. Yuk cek diri sendiri juga.
PADA pasien Parkinson, yang diserang adalah sel saraf di bagian
otak yang bernama basal ganglia, yang
berfungsi mengontrol gerakan tubuh. Dokter Frandy Susita SpS menerangkan, sel
saraf membutuhkan neurotransmitter yang bernama dopamine dan acetylcholine dalam
jumlah seimbang agar dapat memberikan sinyal terhadap sel untuk mengontrol
gerakan tubuh.
Penderita
Parkinson kekurangan dopamine dalam
tubuh. Faktor penyebabnya, selain usia, adalah faktor genetis, infeksi virus,
dan paparan bahan kimia berbahaya seperti mangan, karbon disulfide,
insektisida, trichloroethylene (TCE),
serta perchloroethylene (PERC) yang
merupakan bahan pelarut cat dan lem.
Kebanyakan
penyakit itu menyerang usia di atas 60 tahun. Angka kejadian pada pasien di
bawah usia 60 tahun hanya sekitar 4 persen. Namun, ada pasien yang baru berusia
28 tahun didiagnosis Parkinson. “Kalau sudah menyerang di usia muda, biasanya
faktor keturunan yang paling berperan,” ujar dr Frandy.
Parkinson
ditandai dengan empat gejala khas yang biasa disingkat TRAP. T yaitu tremor
atau gemetar yang menyerang dalam kondisi istirahat (diam). “Bukan gemetar
ketika mengambil atau melakukan sesuatu. Justru ketika diam,” ujar spesialis
saraf dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jakarta, tersebut.
Biasanya, tremor
diawali pada satu sisi tubuh. Misalnya tangan, kaki, ataupun kepala sisi kiri.
Pada tahapan lanjut, tremor dirasakan pada kedua sisi tubuh. Berikutnya rigidity (kekakuan) sehingga berjalan
seperti robot. Kekakuan juga sering terjadi pada wajah. Lalu, akenesia, yaitu jalan melambat. Yang
keempat adalah postural instability.
Keseimbangan terganggu sehingga si penderita mudah goyang dan terjatuh ketika
berjalan.
Selain gejala
khas yang merupakan gejala motorik tersebut, ada gejala nonmotorik. Antara
lain, mudah lupa (tapi tidak parah), kecemasan yang berlebih, depresi, dan
gangguan pola tidur. “Juga gangguan berkemih dan BAB, daya penciuman berkurang,
bicara menjadi pelan, tulisan menjadi kecil-kecil, raut muka tampak datar,”
urai dr Frandy. Gejala nonmotorik itu bisa berbeda-beda pada tiap pasien.
Apa yang bisa
dilakukan untuk mencegah terserang penyakit itu? “Yang bisa dilakukan adalah
memperlambat progresivitasnya. Jika masih stadium awal, dengan obat,
fisioterapi, dan olahraga,” paparnya.
Latihan fisik
tersebut dimaksudkan untuk memperkuat tulang, memperbaiki keseimbangan tubuh,
dan mencegah kekauan. Di antaranya, melatih otot wajah, rahang. Dan suara
dengan memaksimalkan gerakan bibir serta mengunyah makanan sekuat-kuatnya. Oleh
tubuh yang disarankan adalah berenang serta tai
chi. (nor/c11/ayi)
Serba-serbi Parkinson
·
Menyerang
1:1.000 orang di atas usia 65 tahun.
·
Perjalanan
penyakit Parkinson selalu sama, berurutan dari stadium I hingga V
·
Pada
stadium I dan II, Parkinson diatasi dengan obat. Ketika pasien sudah masuk stadium
III atau IV, dokter memberikan rekomendasi untuk operasi.
·
Namun,
operasi bisa tidak direkomendasikan ketika ada kontraindikasi seperti kanker
stadium lanjut, gangguan jantung berat, atau penyakit dalam lain. Juga tidak
dianjurkan untuk pasien di atas usia 75 tahun.
Stadium Penyakit
Stadium I
Tremor di
satu sisi membuat penderita mulai sulit melakukan kegiatan karena gemetar tidak
terkendali. Postur tubuh tidak stabil, keseimbangan berkurang, dan ekspresi wajah
abnormal.
↓
Stadium II
Gejala
mulai menyebar ke anggota tubuh sisi lain, seperti tremor pada kedua kaki dan
kedua sisi tubuh. Penderita sulit berjalan dan menjaga keseimbangan.
↓
Stadium III
Penderita
tidak mampu berjalan lurus dan berdiri serta pergerakan tubuh melamban.
↓
Stadium IV
Gejala makin
serius, timbul kekakuan atau bradykinesia
(perlambatan serta hilangnya gerakan
spontan dan rutin). Penderita tidak mampu mengurus diri sendiri, misalnya
mengancingkan baju atau menulis.
↓
Stadium V
Pada
stadium akhir ini, Parkinson telah mengambil alih kendali tubuh sehingga pasien
hanya bisa berbaring di tempat tidur dan segala sesuatunya perlu bantuan.
Sumber : Jawa
Pos, 12 April 2016
Picture:https://pixabay.com/id/tangan-tangan-gemetar-perjanjian-375260/

No comments:
Post a Comment