Google search

Custom Search

Translate

Monday, 27 June 2016

Psikologi Anak 2

Anak Yatim - Piatu Psikologis
Oleh: Muhammad Amrullah
( Kepala MIN Jeli, Karangrejo, Tulungagung)

Zaman sekarang bisa disebut zaman materialisme dan feminisme. Sebab pada zaman kini materi telah menguasai jiwa setiap manusia, sehingga semua orang merasa hidupnya tidak sukses apabila tidak menguasai dan memiliki harta benda yang banyak.
                OLEH karenanya, setiap orang rela melakukan apa saja demi meraih harta benda yang banyak. Membegal, merampok, korupsi, manipulasi, kerja ke luar negeri sebagai TKI/W dijalaninya dengan “semangat empatlima” tanpa memikirkan risiko bagaimana jadinya nanti di sana.
            Begitu pula kaum wanita sekarang. Mereka tidak mau kalau hanya sebagai ibu rumah tangga. Apalagi gerakan feminisme alias kesetaraan gender telah merata di seantero dunia. Mereka juga ingin menduduki jabatan penting dalam masyarakat. Mereka menganggap hidupnya tidak ada guna jika tidak berkarir. Akibatnya, anak-anak diurus pihak lain; entah kakek-nenek, baby sitter, atau tempat penitipan anak. Inilah fenomena umum yang terjadi di masyarakat zaman modern ini.
Anak-anak sering tidak berjumpa dengan orang tuanya, karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing di luar rumah. Di sinilah akhirnya timbul apa yang disebut “anak-anak yatim-piatu psikologis”. Memang secara de fakto dan de jure mereka memiliki orangtua, tetapi secara psikologis mereka tidak merasakan kehadiran orangtua di sisi mereka.
Karena merasa hidup  tidak sukses tanpa memiliki harta benda yang banyak, sehingga rela menjadi TKI/W di luar negeri. Atau juga karena terpengaruh pola piker feminisme, sehingga orangtua kurang menyadari akibat anak-anak merasa sebagai yatim-piatu psikologis tersebut.
Untuk menutupi kekurangan ini, umumnya orangtua beertindak memanjakan si anak dengan uang yang banyak. Kebutuhan anak dalam bidang materi diusahakan untuk dicukupi sebaik mungkin – bahkan berlebihan. Menurut pikiran orangtua, dengan berbuat demikian si anak akan normal-normal saja. Padahal tindakan semacam itu, justru menjadikan mereka sebagai anak yang cenderung nakal.
Ambil missal seorang murid perempuan. Dia rentan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Sedangkan murid lelaki sering pula terperosok ke tindakan seperti mabuk-mabukan, begadang ke kafe, warkop malam hari, dan tindakan negatif lainnya. Pernah terjadi, ada murid laki-laki sering tidak masuk sekolah. Setelah walinya dipanggil, ternyata ketahuan bahwa sebetulnya murid itu setiap hari berangkat dari rumah menggunakan seragam sekolah.
Usut punya usut, tenyata si anak itu berangkat ke sekolah, tapi pergi kongkow-kongkow dengan teman-temannya di kafe atau belanja di supermarket lantaran mempunyai uang yang banyak. Setiap bulan anak ini dikirimi orangtuanya yang bekerja sebagai TKI/W jutaan rupiah. Dia menggunakan uang itu untuk bersenang-senang dengan teman-temannya.
Itulah yang membuat anak-anak tergolong delinkuen atau terjerumus ke tindakan negatif. Bahkan ada yang masuk bui seperti yang sering ditayangkan di TV, umumnya adalah mereka anka-anak yang tergolong “yatim-piatu Psikologis”. Entah karena orangtuanya bekerja di luar negeri, wanita karir, atau bercerai. Sehingga, si anak tidak terkontrol secara baik, serta tidak ada tempat untuk curhat sewaktu mengalami problem hidup.

Sumber: MIMBAR, no. 354 Maret 2016/ TH. XXXI
picture:https://pixabay.com/id/anak-yatim-anak-anak-makanan-411949/ 

No comments:

Post a Comment