Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 25 June 2016

Psikologi Anak

Korban Pola Asuh Inkonsisten
Oleh : Nalini M.A.
(Consultant Psychiatrist on Women’s Mental Health)
            SAYA seorang ibu sekaligus karyawan. Saya mempunyai keponakan perempuan yang sudah kami anggap anak sendiri. Usianya 12 tahun, kelas VII SMP. Sebelumnya, dia tinggal bersama kami sejak awal masuk SMP. Seblumnya, dia tinggal bersama neneknya.
            Ibu keponakan saya meninggal saat dia berusia 3 tahun. Dia pernah dirawat papanya di usia 3-6 tahun (kelas II SD). Lalu, dia tinggal bersama nenenknya dari usia 6 tahun sampai kelas VI SD.
Selama tinggal bersama papanya di Lampung, dia tidak dididik dengan baik. Keponakan saya diumar. Karena papanya menikah lagi, dia dititipkan ke neneknya. Saat tinggal bersama nenenknya, keponakan saya sering diomeli dan dimarahi oleh keluarga, tanpa diberi tahu apa kesalahnya. Sampai-sampai, dia merasa bahwa apa pun yang dilakukan selalu salah dan bakal dimarahi.
Melihat hal itu, saya dan suami sepakat mengasuh dan menyekolahkan dia di Surabaya. Pada awal kedatangan, keponakan saya begitu baik dam mudah diatur. Namun, setelah sekitar empay bulan, perlahan kebiasaannya muncul. Mulai malas mandi sebelum berangkat sekolah hingga berbohong. Misalnya, ketika ditanya tentang botol minumnya yang tidak pernah terlihat. Dia memberikan banyak alasan sebelum akhirnya mengatakan jatuh di musala ketika akan salat.
Dan karena masuk usia puber, dia sempat didekati kakak kelasnya. Sejak saat itu, dia mengambil SIM card ponsel ibu dan pembantu saya untuk internetan sembunyi-sembunyi. Meski telah ketahuan, eh, dia malah tidak ngaku. Akhirnya, HP miliknya kami ganti dengan HP yang hanya bisa untuk telepon dan SMS. Dengan catatan, bila sesekali butuh bermedsos, dia bisa izin meminjam HP saya atau suami. Namun, kenyataannya, dia memakai HP saya dan suami saya secara diam-diam, tanpa izin. Hal itu terbukti dengan history update status dia di Twitter dan Instagram-nya. Lagi-lagi, dia tetap tidak mau mengaku.
Keponakan kami ceria dan sok cool, namun sangat tertutup dan tidak komunikatif. Mohon saran dokter, teknik parenting apa yang bisa kami aplikasikan supaya dia tahu apa maksud kami mendidik dia. Terima kasih.
Novi, Surabaya

JAWABAN
Keponakan Anda, tampaknya, sudah menjadi “korban” pola asuh yang tidak konsisten karena keadaan piatunya. Ikut ayah yang mungkin bingung bagaimana harus mengasuh sekaligus merasa bersalah. Sehingga, akhirnya terkesan seperti ngumbar alias serbapermisif. Apalagi, lantas ayahnya juga mempunyai kebutuhan lain. Bisa dipahami.
Lantas, “dilemparlah” si anak kepada neneknya. Saya yakin tentu ayahnya juga tidak bermaksud buruk dengan keputusannya itu. Hanya, sang ayah tidak menyangka bahwa kemudian neneknya mendidik dengan cara amat berbeda. Pola asuh ayah yang permisif berpindah ke nenek, yang polanya serba jangan atau over-critical. Apa apa keliru, apa apa tidak boleh. Lengkap sudah si keponakan mendapatkan pola asuh yang tidak seragam dan inkonsisten.
Betul juga anjuran bahwa orang tua sebaiknya seragam dalam mendidik anak. Kalau bapak bilang “ya”, ibu juga mesti mendukung ayah. Atau, paling tidak bersikap diam di depan anak. Sebaliknya, bila sang ibu bilang “tidak”, ayah juga mendukung keputusan ibu. Kendati bisa jadi ayah dan ibu berbeda pendapat, tapi jangan di depan anak. Diskusinya ditahan dulu, menunggu anak sudah tidak di depan mereka. Jadi, anak akan mempunyai panduan satu pendapat. Diaharapkan, anak kelak paham mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
Sebaliknya, hasil pola asuh yang inkonsisten yang oleh Susan Forward disebut toxic paeenting akan menghasilkan anak yang mempunyai citra diri rendah (low self-esteem), merasa kurang berharga, malu, dan merasa takut salah berlebihan. Atau istilahnya mempunyai critical inner voice yang kuat sekali.
Bisa jadi, keponakan Anda demen berbohong itu lantaran citra dirinya buruk serta serbatakut disalahkan. Yang mana, itu hasil dari pola asuh sebelumnya. Sebaiknya, Anda dapat mengubah pola asuh yang lebih lembut tapi tegas, dan lebih mendekatinya secara luwes sambil menekankan bahwa jujur itu baik. Tekankan kepadanya untuk tidak takut keliru. Karena ketika kita salah, ada makna yang bisa diambil. Atau, Anda berkonsultasi bersama keponakan kepada ahli parenting.
Sumber: Jawa Pos, 22 Januari 2016

 picture: https://pixabay.com/id/anak-gadis-wajah-potret-melihat-659357/

No comments:

Post a Comment