Korban
Pola Asuh Inkonsisten
Oleh : Nalini
M.A.
(Consultant Psychiatrist on Women’s Mental Health)
SAYA seorang ibu sekaligus karyawan. Saya mempunyai keponakan perempuan yang
sudah kami anggap anak sendiri. Usianya 12 tahun, kelas VII SMP. Sebelumnya, dia
tinggal bersama kami sejak awal masuk SMP. Seblumnya, dia tinggal bersama
neneknya.
Ibu keponakan saya meninggal saat dia berusia 3 tahun.
Dia pernah dirawat papanya di usia 3-6 tahun (kelas II SD). Lalu, dia tinggal
bersama nenenknya dari usia 6 tahun sampai kelas VI SD.
Selama
tinggal bersama papanya di Lampung, dia tidak dididik dengan baik. Keponakan
saya diumar. Karena papanya menikah lagi, dia dititipkan ke neneknya. Saat
tinggal bersama nenenknya, keponakan saya sering diomeli dan dimarahi oleh keluarga,
tanpa diberi tahu apa kesalahnya. Sampai-sampai, dia merasa bahwa apa pun yang
dilakukan selalu salah dan bakal dimarahi.
Melihat
hal itu, saya dan suami sepakat mengasuh dan menyekolahkan dia di Surabaya.
Pada awal kedatangan, keponakan saya begitu baik dam mudah diatur. Namun,
setelah sekitar empay bulan, perlahan kebiasaannya muncul. Mulai malas mandi
sebelum berangkat sekolah hingga berbohong. Misalnya, ketika ditanya tentang
botol minumnya yang tidak pernah terlihat. Dia memberikan banyak alasan sebelum
akhirnya mengatakan jatuh di musala ketika akan salat.
Dan
karena masuk usia puber, dia sempat didekati kakak kelasnya. Sejak saat itu,
dia mengambil SIM card ponsel ibu dan pembantu saya untuk internetan
sembunyi-sembunyi. Meski telah ketahuan, eh, dia malah tidak ngaku. Akhirnya,
HP miliknya kami ganti dengan HP yang hanya bisa untuk telepon dan SMS. Dengan
catatan, bila sesekali butuh bermedsos, dia bisa izin meminjam HP saya atau
suami. Namun, kenyataannya, dia memakai HP saya dan suami saya secara
diam-diam, tanpa izin. Hal itu terbukti dengan history update status dia di
Twitter dan Instagram-nya. Lagi-lagi, dia tetap tidak mau mengaku.
Keponakan
kami ceria dan sok cool, namun sangat tertutup dan tidak komunikatif. Mohon
saran dokter, teknik parenting apa yang bisa kami aplikasikan supaya dia tahu
apa maksud kami mendidik dia. Terima kasih.
Novi,
Surabaya
JAWABAN
Keponakan Anda, tampaknya, sudah menjadi
“korban” pola asuh yang tidak konsisten karena keadaan piatunya. Ikut ayah yang
mungkin bingung bagaimana harus mengasuh sekaligus merasa bersalah. Sehingga,
akhirnya terkesan seperti ngumbar alias
serbapermisif. Apalagi, lantas ayahnya juga mempunyai kebutuhan lain. Bisa
dipahami.
Lantas, “dilemparlah” si anak kepada
neneknya. Saya yakin tentu ayahnya juga tidak bermaksud buruk dengan
keputusannya itu. Hanya, sang ayah tidak menyangka bahwa kemudian neneknya
mendidik dengan cara amat berbeda. Pola asuh ayah yang permisif berpindah ke
nenek, yang polanya serba jangan atau over-critical.
Apa apa keliru, apa apa tidak boleh. Lengkap sudah si keponakan mendapatkan
pola asuh yang tidak seragam dan inkonsisten.
Betul juga anjuran bahwa orang tua
sebaiknya seragam dalam mendidik anak. Kalau bapak bilang “ya”, ibu juga mesti
mendukung ayah. Atau, paling tidak bersikap diam di depan anak. Sebaliknya,
bila sang ibu bilang “tidak”, ayah juga mendukung keputusan ibu. Kendati bisa
jadi ayah dan ibu berbeda pendapat, tapi jangan di depan anak. Diskusinya
ditahan dulu, menunggu anak sudah tidak di depan mereka. Jadi, anak akan
mempunyai panduan satu pendapat. Diaharapkan, anak kelak paham mana yang boleh
dan mana yang tidak boleh.
Sebaliknya, hasil pola asuh yang
inkonsisten yang oleh Susan Forward disebut toxic
paeenting akan menghasilkan anak yang mempunyai citra diri rendah (low self-esteem), merasa kurang
berharga, malu, dan merasa takut salah berlebihan. Atau istilahnya mempunyai critical inner voice yang kuat sekali.
Bisa jadi, keponakan Anda demen
berbohong itu lantaran citra dirinya buruk serta serbatakut disalahkan. Yang
mana, itu hasil dari pola asuh sebelumnya. Sebaiknya, Anda dapat mengubah pola
asuh yang lebih lembut tapi tegas, dan lebih mendekatinya secara luwes sambil
menekankan bahwa jujur itu baik. Tekankan kepadanya untuk tidak takut keliru.
Karena ketika kita salah, ada makna yang bisa diambil. Atau, Anda berkonsultasi
bersama keponakan kepada ahli parenting.
Sumber: Jawa Pos, 22 Januari 2016
picture: https://pixabay.com/id/anak-gadis-wajah-potret-melihat-659357/
No comments:
Post a Comment