Ketika Anak Terkena DBD
Asupan
Cairan
Naikkan
Trombosit
Demam berdarah dengue terjadi di lebih dari 100 negara di dunia.
Terutama daerah tropis atau subtropis. Angka kejadian di Indonesia sangat
tinggi. Kenali gejala khas penyakit tersebut serta cara penanganannya.
KETIKA anak mengalami demam tinggi
(>38 derajat Celcius) disertai dua saja di antara gejala berikut, orang tua
harus waspada akan demam berdarah dengue (DBD). Gejala-gejala tersebut adalah
sakit kepala, termasuk rasa sakit di belakang mata; nyeri otot dan sendi; mual
dan muntah; diare; hidung dan gusi berdarah; hingga munculnya ruam bintik
kemerahan. Semua kelompok umur bisa terkena. Namun, anak-anak umumnya lebih
rentan.
Gejala DBD biasanya muncul pada
hari ketiga hingga empat belas hari setelah masa inkubasi dan diawali demam
tinggi hingga mencapai 41 derajat Celcius. Masa inkubasi adalah jarak waktu
saat virus masuk ke tubuh sampai gejala pertama muncul.
Persebaran DBD dibawa virus yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti betina. Artinya, DBD tidak bisa menular langsung dari seseorang ke
orang lain tanpa perantara nyamuk.
Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di daerah padat penduduk seperti
kota-kota besar yang memiliki iklim lembap dan hangat. “Masa aktif nyamuk Aedes aegypti menggigit pada pukul 09.00-11.00 dan sore
pukul 15.00-17.00,” jelas dr Mulya Rahma Karyanti SpA dari RSPUN Dr Cipto
Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dalam acara Train the Trainers dari GSK Consumer
Healthcare.
Karyanti mengungkapkan, pada
prinsipnya obat untuk menangkal demam berdarah adalah asupan cairan yang cukup.
“Selama asupan minum bagus, buang air kecil lancar, trombosit akan naik,”
jelasnya.
Namun, yang kerap terjadi, demam
membuat si kecil tidak mau minum, makan, lemas, apalagi disertai muntah. Bila
tidak segera ditangani, dikhawatirkan dehidrasi. Juga, ketika mengalami kejang
atau pendarahan seperti mimisan, gusi berdarah, anak harus segera dibawa ke
rumah sakit. “Terkadang gejalanya tidak disertai pendarahan. Ketika anak lemas
dan dehidrasi, jangan ditunda untuk membawanya ke RS,” lanjut Karyanti.
Asupan cairan yang diberikan
bisa berupa minuman yang disukai anak.
Sebaiknya bukan hanya air putih. Pilih susu yang kaya nutrisi atau jus
yang disukai anak. Mengenai jenis minuman tertentu seperti jus jambu, angkak
(produk fermentasi), atau kurma yang kerap diyakini sebagai minuman ampuh untuk
penderita DBD, lanjut Karyanti, belum ada bukti ilmiah.
“Yang terpenting, anak mau minum
banyak. Kalau dia sukanya jus apel, jangan dipaksa minum jus jeruk, malah muntah
nanti. Susu bagus karena nutrisinya lengkap, juga cairan elektrolit,” katanya.
Yang juga diingatkan Karyanti,
orang tua sering kecolongan ketika suhu tubuh anak menurun. Mereka mengiranya
sudah aman. Padahal, kondisi itu justru masuk fase kritis. Yaitu, terjadinya
kebocoran pada plasma darah. Itu pula yang membedakan demam dengue dengan demam
berdarah dengue. (nor/c15/ayi)
PERTOLONGAN PERTAMA DEMAM
·
Usahakan anak mau banyak minum.
·
Kompres air hangat bila suhu penderita lebih
dari 38 derajat Celsius.
·
Jangan membungkus anak dengan baju berlapis atau
selimut. Sebab, panasnya akan sulit keluar dari tubuh anak.
·
Segera
bawa ke RS jika :
Badan dingin.
Anak muntah terus-menerus.
Anak mengalami kejang.
Muncul pendarahan (mimisan, gusi berdarah,
dll).
REKOMENDASI WHO UNTUK PASIEN DBD
·
Pemberian cairan yang cukup.
·
Penanganan demam secara tepat. Parasetamol
adalah obat yang tepat untuk mengurangi nyeri dan demam.
·
Hindari pemberian asam asetilsalisilat
(aspirin), ibuprofen, asam mefenamat,
antibiotic, dan anti-inflamasi nonsteroid (AINS) lainnya karena bisa
meningkatkan risiko gangguan lambung dan pendarahan.
Sumber : Jawa Pos, 31 Mei 2016
picture : https://pixabay.com/id/teddy-anjing-boneka-sakit-terluka-242885/

No comments:
Post a Comment