Pola Makan Pelaku Diet saat Puasa
Nasi No, Sayur Yes
Untuk mereka
yang tidak berdiet, berbuka dan sahur dimanfaatkan untuk mengonsumsi makanan
yang diinginkan. Nasi, sayur, ikan, daging, ataupun buah dikonsumsi tanpa
aturan ketat. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang berdiet? Apakah mereka
tetap menahan keinginan makan macam-macam?
BAGI Ike Novitasari, 33, puasa tahun
ini adalah kali ketiga sebagai pelaku diet. Sudah lebih dari dua tahun Ike
tidak mengonsumsi nasi. “Tidak ada patokan tertentu untuk nama diet saya,
mungkin lebih tepatnya disebut sebagai healthy
living ,” ujarnya.
Ike menyadari ada keturunan
diabetes dalam keluarganya. Bila pola makan tidak dijaga, kadar gula darahnya
bisa jadi ikut tidak terkontrol. “Zaman sekarang usia berapa pun bisa terkena
diabetes,” ungkapnya.
Karena itu, sejak awal 2014, Ike
memutuskan mengubah pola makannya. Tidak makan nasi, santan, dan mengurangi
gula. Kebutuhan karbohidrat dipenuhi dengan jenis karbohidrat lain. Misalnya,
kentang, jagung, chia seeds, quinoa (tanaman
biji-bijian), hingga couscous (bola
kecil gandum atau tepung semolina).
“Saya juga suka semua jenis buah dan sayur,” kata peeempuan yang berprofesi
guru bahasa Inggris di salah satu sekolah internasional di Surabaya tersebut.
Pada momen Ramadhan seperti ini,
Ike tetap berpegang pada pola makannya. Saat berbuka, dia tetap tidak makan
nasi. Dia memilih sayuran. Menu yang sama juga untuk sahur. Karena Ike sudah
terbiasa, makan satu mangkok saja membuatnya kenyang. Namun, 2-3 jam
selanjutnya Ike biasanya sudah lapar. Setelah tarawih, dia biasa mencari
camilan. Pilihannya jatuh pada buah, termasuk kurma yang menurut Ike rasa
manisnya cepat memberikan energi.
Jika sedang tidak malas, sesekali
memasak quinoa atau couscoussebagai pengganti karbohidrat.
Biasanya quinoa dengan potongan
avokad dan tomat. “Kalau weekend dan
ketemu teman-teman, saya cheating juga,”
ucapnya, lalu tertawa.
Namun, meski cheating, Ike tetap tidak makan nasi. Dia memilih daging, seafood, atau minuman yang mengandung
kadar gula tinggi. Berkat kebiasaan tersesbut, saat ini Ike tidak bisa makan
nasi lagi. Tubuhnya seolah menolak. Kalau nekat makan nasi, biasanya dia akan
mengalami diare. “Kuncinya itu the power
of mind. Kalau kita yakin bisa, otak akan mengirimkan sinyal pada tubuh,” terangnya.
Saat bulan puasa, Ike
mengilhaminya sebagai kesempatan untuk membuang racun dalam tubuh. Dengan
asupan minim karbohidrat setiap buka dan sahur, Ike tidak merasa lemas. Rasanya
sama dengan puasa pada tahun-tahun ketika dia belum menjalani diet. Bahkan, Ike
yang aktif dalam berbagai komunitas olahraga tetap rajin berolahraga. “Saya
tetap lsri, tapi setelah salat tarawih,” jelas dia.
Bagi Ike, hanya ada satu tujuan
dalam menjalankan semua pola makan tersebut, yaitu menjadi sehat dan jauh dari
penyakit. Bila bobotnya turun, hal itu hanyalah bonus. Kenyataanya, makan tanpa
nasi menjadikan beratnya turun lima kilogram dalam kurun hampir setahun
setengah. (ina/c14/ayi)
Sahur-Buka dengan Buah
KONDISI
perut setiap
orang berbeda. Ada yang nyaman jika diisi makanan sarat karbohidrat saat
berbuka dan sahur. Ada pula yang merasa sebah alias
tidak nyaman harus menyantap menu lengkap. Penyanyi Astrid termasuk golongan
golongan kedua. “Saya sejak tahun lalu sahur pakai buah,” ujar istri Arlan
Djoewarsa tersebut.
Awalnya, pelantun Demi Kita itu mengonsumsi menu lengkap
dan nasi untuk sahur. Tetapi, beberapa jam setelahnya, perut tidak nyaman. “Jam
10 atau 11 siang perut saya bunyi-bunyi gitu.
Kayak orang kelaparan, tapi nggak terasa
lapar,” katanya.
Menurut Astrid, kondisi perut
yang demikian disebabkan shock.
Pencernaan makanan bisa dibilang merupakan aktivitas yang cukup berat dan lama
bagi perut. Akhirnya, Astrid memutuskan untuk memilih menu sahur yang simpel dan
ringan. “Yaitu, buah-buahan,” ucap Astrid.
Keluarga meragukan dan
mempertanyakan pilihan Astrid. Menurut mereka, sahur berupa buah tidak mampu
memberikan energi untuk berpuasa seharian. Namun, Astrid tetap berpegang pada
pada pilihannya. Ibu satu anak itu mengonsumsi beberapa jenis buah sebagai menu
sahur. Empat buah yang sering dikonsumsinya adalah pisang, apel, pir, dan
kurma. “Sejak dulu, saya suka buah-buah itu. Selain rasanya enak, menyiapkannya
cukup mudah,” jelas Astrid yang biasa sahur buah pada pukul 03.00 atau pukul
03.30.
Buah-buahan yang dipilih Astrid
memang tepat. Kandungan serat dan antioksidan pada apel dan pir memberikan manfaat
kesehatan bagi metabolisme. Pisang pun memiliki efek mengenyangkan. Lantas,
kurma menjadi sumber rasa manis atau fruktosa yang bisa memberikan tenaga untuk
berpuasa sehari penuh.
Anggapan buah tidak cukup untuk
bekal tubuh berpuasa tidak berlaku bagi Astrid. “Setahun ini saya selalu merasa
lebih segar dan fit pascasahur dengan buah-buahan. Badan nggak pernah lemas, perut juga nggak
bermasalah,” tuturnya.
Untuk berbuka, Astrid kembali
mengonsumsi buah dengan segelas teh manis atau air putih. Buah untuk berbuka
lebih beragam. Kadang ditambah melon dan papaya. Saat malam ketika masih lapar,
barulah Astrid mengonsumsi makanan lain seperti roti, lauk, atau sayur-sayuran.
“Tapi, tetap tidak makan nasi” tandasnya. (len/c14/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 11 Juni 2016
Nasi Hitam Persiapan Lari Half-Marathon
MENJAGA pola makan ketika puasa juga
dilakukan Adienda Pajar, 26. Perempuan yang aktif dalan komunitas olahraga freeletics itu sedang mempersiapkan diri
mengikuti ajang Bali Marathon pada Agustus mendatang. Untuk bisa mencapai finis
half-marathon (sekitar 21 kilometer)
dalam waktu yang ditentukan, Dienda mesti konsisten berlatih. “Saya harus putar
otak bagaimana caranya selama puasa ini bisa tetap latihan lari, tapi tidak
lemas,” papar dokter gigi tersebut.
Nasi putih tidak memberikan
kandungan yang memadai bagi Dienda yang ingin giat olahraga selama puasa.
Karena itu, dia menggantinya dengan nasi hitam. Menurut Dienda, nasi hitam
mempunyai kandungan serat, vitamin, dan mineral yang jauh lebih tinggi daripada
nasi putih. “Saya menyebut nasi hitam sebagai substitute atau pengganti nasi putih,” jelas perempuan kelahiran
Banjarmasin, 29 Desember 1989, tersebut.
Tidak ada batasan jenis sayur
dan lauk untuk menemani nasi hitam. Namun, Dienda lebih sering memasak sasyur
untuk menemani sahur. Dia tidak perlu beradaptasi lama dengan rasa nasi hitam. Enam bulan
sebelum puasa tahun ini, dia mengganti konsumsi nasi putih dengan nasi merah.
Menurut Dienda, rasa nasi hitam lebih enak daripada nasi merah. Tekstur nasi
hitam lebih halus ketimbang nasi merah yang cenderung keras.
Sejauh ini halangan Dienda
hanyalah manajemen keterbatasan waktu. Sebab, dia baru pulang berpraktik pada
pukul 15.00 dan biasanya sampai rumah pada
pukul 16.30. Jadi, Dienda harus memasak
nasi hitam dan sayur secepatnya karena
pukul 19.00 harus menjalani latihan lari.
Meski tergolong disiplin, dia
tidak memungkiri adanya waktu untuk cheating
day. Salah satunya, Dienda sudah menyisihkan waktu dua hari dalam seminggu untuk tidak makan
nasi hitam. “Biar nggak jenuh, perlu
variasi juga,” kata Dienda.
Sejak mengganti nasi putih
dengan nasi merah atau nasi hitam, Dienda merasa tubuhnya makin fit. “Berat
badan turun lima kilogram, tapi bukan itu yang utama,” tegasnya. (ina/c14/ayi)
Maksimalkan Frekuensi Minum Air
Punya pola makan khusus saat bulan puasa harus
diimbangi dengan asupan yang cukup. Bila tidak, kita bisa kekurangan energi
selama beraktivitas. Ahli Gizi RS Husada Utama Titik Jayanti memberikan tip
asupan yang ideal untuk mereka yang menerapkan pola makan khusus.
·
Saat berbuka, apa jenis makanan
yang sebaiknya dikonsumsi?
Yang pasti adalah
karbohidrat murni. Bisa ditemukan pada gula, madu, atau sirup. Karbohidrat
murni bisa menaikkan energi dengan cepat juga. Setelah ibadah Maghrib, baru
makan berat. Tapi, porsinya jangan terlalu banyak. Sebab, bila ingin Tarawih,
bisa mengurangi konsentrasi.
·
Bagaimana dengan mereka yang
tidak makan nasi saat berbuka?
Setelah berbuka,
yang penting adalah karbohidrat murni seperti gula, bukan karbohidrat kompleks
(nasi). Tapi, nasi juga penting untuk menambah energi. Bila tidak ingin makan
nasi, usahakan mengganti karbohidrat dengan jenis lain seperti kentang atau jagung.
·
Bila ingin makan setelah
Tarawih?
Makan nasi juga
tidak apa-apa asal tidak dalam porsi yang banyak. Namun, untuk yang berdiet,
lebih baik makan buah saja, buah apa pun.
·
Bagaimana menu sahur yang baik?
Waktu sahur
adalah saat yang paling penting untuk mempersiapkan bekal energi seharian.
Harus mengonsumsi karbohidrat kompleks dan protein yang banyak. Bila
menghindari karbohidrat seperti nasi, harus menambah asupan protein hewani
untuk menamabah tenaga. Sayur yang banyak juga penting. Serat pada sayur dan
buah membuat rasa kenyang lebih awet. Jadi, untuk yang tidak makan nasi, lauk
dan sayur harus ekstra banyak.
·
Yang harus dihindari saat sahur?
Karbohidrat murni
seperti gula dan madu. Sebab, energi yang disimpan tidak awet.
·
Apa asupan yang tidak boleh
dilupakan?
Buah dan cairan.
Seseorang kerap mengonsumsi menu minim serat dan minuman manis saja. Tanda
kekurangan cairan adalah saat berkemih warnanya kekuningan. Selama berbuka
hingga sahur datang, minum air putih sebanyak-banyaknya. (ina/c23/ayi)
Sumber:
Jawa Pos, 11 Juni 2016


No comments:
Post a Comment