Pemerintah Imbau Tunda Kunjungan ke Amerika Selatan
JAKARTA – Punya rencana mengunjungi Negara-negara di Amerika
Selatan? Jika itu akan dilakukan dalam waktu dekat, sebaiknya di tunda dulu.
Sebab, di kawasan tersebut saat ini berkembang wabah virus Zika yang
mengakibatkan sakit mirip demam berdarah.
Virus yang
menular lewat gigitan nyamuk Aedes
aegypti itu bukanlah virus berbahaya yang
bisa berakibat kematian.
Namun, virus
tersebut sangat berbahaya bagi janin. Sebab, jika di dalam rahim akan mengalami
kelainan otak.
Wabah Zika
itu juga direaksi serius Badan Kesehatan Dunia (WHO). Kemarin (2/2) organisasi
PBB tersebut membentuk tim khusus untuk menanggulangi wabah itu. Meski saat ini
sebagian besar kasus muncul di Amerika Selatan, Zika juga berpotensi mewabah di
Asia dan Afrika.
“Kami telah
membentuk unit reaksi cepat global yang akan melibatkan seluruh staf WHO di
markas utama maupun di kantor-kantor cabang untuk memerangi Zika,” ungkap
Anthony Costello, salah seorang pakar di WHO. Bersamaan dengan itu, PBB juga
mendeklarasikan wabah virus Zika Sebagai situasi darurat internasional.
Khususnya di bidang kesehatan masyarakat.
Pada orang
dewasa, Zika hanya akan menimbulkan gejala seperti demam sebagaimana umumnya.
Selain itu, penderita akan mengalami nyeri pada persendian. Kedua mata mereka
juga bakal berubah menjadi kemerahan karena dampak infeksi virus tersebut.
Namun, virus
itu bisa menimbulkan cacat bawaan pada bayi jika seorang ibu terinfeksi Zika
ketika mengandung. Virus tersebut akan menular kepada janin di dalam rahim dan
mengakibatkan kelainan otak. Dampak buruknya, bayi akan mengalami mikrosefalus
(microcephaly). Yakni, ukuran kepanya
akan lebih kecil daripada bayi normal karena volume otaknya pun menyusut.
Cacat pada
bayi itulah yang membuat masyarakat tempat berjangkitnya virus Zika panic. Di
Brasil, pemerintah setempat sampai mengimbau para ibu menunda kehamilan.
Tujuannya satu, jika terinfeksi virus Zika, mereka tidak menularkannya kepada
bayinya. Itu juga yang memaksa Amerika Serikat (AS) menerbitkan larangan
bepergian ke sejumlah Negara di kawasan Amerika Selatan seperti Brasil,
Kolombia, Barbados, El savador, dan 18 negara lainnya di Amerika Latin bagi
ibu-ibu hamil.
WHO yang
sempat menuai kritik dan kecaman karena terlalu lamban mereaksi wabah ebola di
Afrika tahun lalu tidak mau reputasinya kembali tercoreng. Maka, sebelum Zika
ke belahan dunia lainnya, WHO membentuk tim khusus di seluruh dunia. “Kami
sudah banyak belajar dari krisis ebola dan akan berusaha secepatnya mengatasi
wabah (Zika) ini,” janji Costello yang juga pakar microcephaly.
Kemarin
Castello menyatakan bahwa virus tersebut berpotensi mewabah di luar Benua
Amerika. Saat ini ada sekitar 25 negara
yang terjangkit virus Zika. Semuanya terletak di kawasan Amerika
Selatan. Tapi, Negara-negara di Afrika dan Asia juga harus waspada. Sebab,
virus tersebut bisa bermigrasi kesana. “Nyamuk penyebar virus ini juga hidup di
banyak Negara Asia, khususnya Asia Selatan,” ujar Castello.
Antisipasi Indonesia
Pernyataan WHO
langsung menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Menyusul status
tersebut, Kemenkes berencana mengeluarkan travel
advisory agar masyarakat tidak berkunjung ke Negara-negara terjangkit untuk
sementara. “Kami akan mengeluarkan himbauan tersebut,” ujar Sekjen Kemenkes
Untung Suseno.
Meski begitu,
untung meminta masyarakat tidak panic. Sebab, persebaran virus itu sejatinya
bisa dikendalikan. Caranya, mengontrol kembang biak vektor virus tersebut.
“Sama seperti
demam berdarah. Kita sukses menurunkan angka kematiannya dengan melakukan
pencegahan. Lewat gerakan 3M (menguras, menenutup, dan menimbun). Kalau
dijalankan dengan baik, pasti tidak akan ada nyamuk. Jadi, vektor
terkontrol,” jelasnya.
Langkah WHO
menetapkan darurat Internasional terkait persebaran virus Zika juga direspons
Presiden Joko Widodo (Jokowi). Juru Bicara Presiden Johan Budi S. P. mengatakan,
presiden sudah menginstruksi Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengambil
langkahsigap guna menanggulangi persebaran virus Zika. “Presiden minta agar
diwaspadai ,” ujarnya di Kantor Presiden kemarin.
Menurut
Johan, presiden memberikan perhatian serius terhadap ancaman virus yang memicu
penyakit pengecilan kepala janin. Apalagi, penetapan oleh WHO menunjukkan bahwa
semua Negara tak lepas dari ancaman Zika. “Karena itu, harus diantisipasi
sedini mungkin,” tuturnya.
Sebelumnya,
melalui akun Twitter resmi @jokowi,
presiden meminta seluruh masyarakat mewaspadai virus Zika. Jokowi juga menyebut
langkah mencegah persebarannya. “Kita perlu mewaspadai virus Zika. Hindari
nyamuk bersarang di dalam atau di sekitar rumah kita – Jkw,” ucapnya.
Wakil ketua
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) 2015-2018 Daeng Mohammad Faqih
mengatakan, peringatan dari WHO itu bisa jadi dilandasi telah terjadinya pandemi
persebaran virus Zika. “Atau bisa juga karena tingkat persebaran virus Zika ini
cepat,” katanya kemarin.
Faqih
menuturkan, pemerintah tidak boleh lambat mengantisipasi sehingga kemudian
kasus infeksi virus tersebut terlanjur meluas. Menurut dia, misalnya ditemukan
satu kasus infeksi virus Zika,itu bisa menjadi fenomena gunung es. Maksudnya,
kasus yang belum teungkap atau belum muncul sejatinya lebih besar.
Dari sisi
medis, FAqih mengatakan bahwa kegawatan penyakit akibat virus Zika masih lebih
ringan daripada demam berdarah dengue (DBD). “Kalau DBD itu bisa menimbulkan shock syndrome dan berujung fatal,”
katanya. Meski begitu, infeksi virus Zika tidak bisa diremehkan karena dapat
membuat orang jatuh sakit dan produktivitasnya menurun selama perawatan.
Terkait
kesiapan dokter, Faqih menjelaskan bahwa dokter-dokter Indonesia tentu sudah
mampu dan siap. Pasien yang menderita virus Zika bisa ditangani dokter umum.
Namun, pasien dewasa juga bisa dokter spesialis penyakit dalam. Sedangkan
pasien anak-anak dirawat spesialis anak.
Virus Zika
sebenarnya sudah ditemukan di Indonesia pada 2015. Penemunya adalah Lembaga
Biologi Molekuler Eijkman. “Awalnya ada wabah dengue (demam berdarah) di Jambi pada
Desember 2014-April 2015. Kami diminta memeriksa 103 sampel darah pasien yang
diduga dengue itu,” ungkap Deputi Direktur Eijkman Herawati Sudoyo di Jakarta,
Jum’at (29/1). “Ada satu sampel tang setelah diteliti tak ada indikasi dengue.
Setelah dikaji lebih jauh, ditemukan virus Zika dalam sampel pasien itu,” tambahnya.
Penemuan
virus Zika Indonesia, khususnya di Jambi itu, ibarat fenomena puncak gunung es
karena kemungkinan menyebar luas, tetapi warga yang terinfeksi dianggap kena
DBD. Menurut Herawati, gejala penyakit akibat virus Zika ialah panas, sakit
persendian, sedikit ruam-ruam, dan radang di selaput mata. “Penyakit ini
langsung hilang, tak perlu diobati,” katanya. (AFP/Reuters/hep/mia/owi/wan/c9/kim)
Sumber:
Jawa Pos, Rabu 3 Februari 2016
No comments:
Post a Comment