Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 6 February 2016

Dunia Darurat Virus Zika


Pemerintah Imbau Tunda Kunjungan ke Amerika Selatan

                JAKARTA – Punya rencana mengunjungi Negara-negara di Amerika Selatan? Jika itu akan dilakukan dalam waktu dekat, sebaiknya di tunda dulu. Sebab, di kawasan tersebut saat ini berkembang wabah virus Zika yang mengakibatkan sakit mirip demam berdarah.
Virus yang menular lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti itu bukanlah virus berbahaya yang  bisa berakibat kematian.
Namun, virus tersebut sangat berbahaya bagi janin. Sebab, jika di dalam rahim akan mengalami kelainan otak.


Wabah Zika itu juga direaksi serius Badan Kesehatan Dunia (WHO). Kemarin (2/2) organisasi PBB tersebut membentuk tim khusus untuk menanggulangi wabah itu. Meski saat ini sebagian besar kasus muncul di Amerika Selatan, Zika juga berpotensi mewabah di Asia dan Afrika.
“Kami telah membentuk unit reaksi cepat global yang akan melibatkan seluruh staf WHO di markas utama maupun di kantor-kantor cabang untuk memerangi Zika,” ungkap Anthony Costello, salah seorang pakar di WHO. Bersamaan dengan itu, PBB juga mendeklarasikan wabah virus Zika Sebagai situasi darurat internasional. Khususnya di bidang kesehatan masyarakat.
Pada orang dewasa, Zika hanya akan menimbulkan gejala seperti demam sebagaimana umumnya. Selain itu, penderita akan mengalami nyeri pada persendian. Kedua mata mereka juga bakal berubah menjadi kemerahan karena dampak infeksi virus tersebut.
Namun, virus itu bisa menimbulkan cacat bawaan pada bayi jika seorang ibu terinfeksi Zika ketika mengandung. Virus tersebut akan menular kepada janin di dalam rahim dan mengakibatkan kelainan otak. Dampak buruknya, bayi akan mengalami mikrosefalus (microcephaly). Yakni, ukuran kepanya akan lebih kecil daripada bayi normal karena volume otaknya pun menyusut.
Cacat pada bayi itulah yang membuat masyarakat tempat berjangkitnya virus Zika panic. Di Brasil, pemerintah setempat sampai mengimbau para ibu menunda kehamilan. Tujuannya satu, jika terinfeksi virus Zika, mereka tidak menularkannya kepada bayinya. Itu juga yang memaksa Amerika Serikat (AS) menerbitkan larangan bepergian ke sejumlah Negara di kawasan Amerika Selatan seperti Brasil, Kolombia, Barbados, El savador, dan 18 negara lainnya di Amerika Latin bagi ibu-ibu hamil.


WHO yang sempat menuai kritik dan kecaman karena terlalu lamban mereaksi wabah ebola di Afrika tahun lalu tidak mau reputasinya kembali tercoreng. Maka, sebelum Zika ke belahan dunia lainnya, WHO membentuk tim khusus di seluruh dunia. “Kami sudah banyak belajar dari krisis ebola dan akan berusaha secepatnya mengatasi wabah (Zika) ini,” janji Costello yang juga pakar microcephaly.
Kemarin Castello menyatakan bahwa virus tersebut berpotensi mewabah di luar Benua Amerika. Saat ini ada sekitar 25 negara  yang terjangkit virus Zika. Semuanya terletak di kawasan Amerika Selatan. Tapi, Negara-negara di Afrika dan Asia juga harus waspada. Sebab, virus tersebut bisa bermigrasi kesana. “Nyamuk penyebar virus ini juga hidup di banyak Negara Asia, khususnya Asia Selatan,” ujar Castello.
Antisipasi Indonesia
Pernyataan WHO langsung menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Menyusul status tersebut, Kemenkes berencana mengeluarkan travel advisory agar masyarakat tidak berkunjung ke Negara-negara terjangkit untuk sementara. “Kami akan mengeluarkan himbauan tersebut,” ujar Sekjen Kemenkes Untung Suseno.
Meski begitu, untung meminta masyarakat tidak panic. Sebab, persebaran virus itu sejatinya bisa dikendalikan. Caranya, mengontrol kembang biak vektor  virus tersebut.
“Sama seperti demam berdarah. Kita sukses menurunkan angka kematiannya dengan melakukan pencegahan. Lewat gerakan 3M (menguras, menenutup, dan menimbun). Kalau dijalankan dengan baik, pasti tidak akan ada nyamuk.  Jadi, vektor  terkontrol,”  jelasnya.
Langkah WHO menetapkan darurat Internasional terkait persebaran virus Zika juga direspons Presiden Joko Widodo (Jokowi). Juru Bicara Presiden Johan Budi S. P. mengatakan, presiden sudah menginstruksi Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengambil langkahsigap guna menanggulangi persebaran virus Zika. “Presiden minta agar diwaspadai ,” ujarnya di Kantor Presiden kemarin.
Menurut Johan, presiden memberikan perhatian serius terhadap ancaman virus yang memicu penyakit pengecilan kepala janin. Apalagi, penetapan oleh WHO menunjukkan bahwa semua Negara tak lepas dari ancaman Zika. “Karena itu, harus diantisipasi sedini mungkin,” tuturnya.
Sebelumnya, melalui akun Twitter resmi @jokowi, presiden meminta seluruh masyarakat mewaspadai virus Zika. Jokowi juga menyebut langkah mencegah persebarannya. “Kita perlu mewaspadai virus Zika. Hindari nyamuk bersarang di dalam atau di sekitar rumah kita – Jkw,” ucapnya.


Wakil ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) 2015-2018 Daeng Mohammad Faqih mengatakan, peringatan dari WHO itu bisa jadi dilandasi telah terjadinya pandemi persebaran virus Zika. “Atau bisa juga karena tingkat persebaran virus Zika ini cepat,” katanya kemarin.
Faqih menuturkan, pemerintah tidak boleh lambat mengantisipasi sehingga kemudian kasus infeksi virus tersebut terlanjur meluas. Menurut dia, misalnya ditemukan satu kasus infeksi virus Zika,itu bisa menjadi fenomena gunung es. Maksudnya, kasus yang belum teungkap atau belum muncul sejatinya lebih besar.
Dari sisi medis, FAqih mengatakan bahwa kegawatan penyakit akibat virus Zika masih lebih ringan daripada demam berdarah dengue (DBD). “Kalau DBD itu bisa menimbulkan shock syndrome dan berujung fatal,” katanya. Meski begitu, infeksi virus Zika tidak bisa diremehkan karena dapat membuat orang jatuh sakit dan produktivitasnya menurun selama perawatan.
Terkait kesiapan dokter, Faqih menjelaskan bahwa dokter-dokter Indonesia tentu sudah mampu dan siap. Pasien yang menderita virus Zika bisa ditangani dokter umum. Namun, pasien dewasa juga bisa dokter spesialis penyakit dalam. Sedangkan pasien anak-anak dirawat  spesialis anak.
Virus Zika sebenarnya sudah ditemukan di Indonesia pada 2015. Penemunya adalah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. “Awalnya ada wabah dengue (demam berdarah) di Jambi pada Desember 2014-April 2015. Kami diminta memeriksa 103 sampel darah pasien yang diduga dengue itu,” ungkap Deputi Direktur Eijkman Herawati Sudoyo di Jakarta, Jum’at (29/1). “Ada satu sampel tang setelah diteliti tak ada indikasi dengue. Setelah dikaji lebih jauh, ditemukan virus Zika dalam sampel pasien itu,” tambahnya.
Penemuan virus Zika Indonesia, khususnya di Jambi itu, ibarat fenomena puncak gunung es karena kemungkinan menyebar luas, tetapi warga yang terinfeksi dianggap kena DBD. Menurut Herawati, gejala penyakit akibat virus Zika ialah panas, sakit persendian, sedikit ruam-ruam, dan radang di selaput mata. “Penyakit ini langsung hilang, tak perlu diobati,” katanya. (AFP/Reuters/hep/mia/owi/wan/c9/kim)

Sumber: Jawa Pos, Rabu 3 Februari 2016

No comments:

Post a Comment