Masa-Masa Bayi Alami Growth Spurts
Bukan karena ASI Tak Cukup
Kecemasan pasti terjadi saat buah hati rewel tiada henti.
Pada usianya yang masih beberapa bulan, tiba-tiba ada masa ketika si baby tidak
mau ditinggal dan minta bunda terus-menerus menyusuinya. Normalkah?
BUNDA Lila
merasa sangat cemas waktu itu. Si baby yang
baru berusia 3 bulan sangat rewel, padahal tidak sakit. Suhu badannya normal
dan tidak lesu. Si buah hati menangis minta minum susu terus, seolah tidak
kenyang-kenyang. “Apa ASI-ku tidak cukup ya?” tutur bunda Lila kalut.
Tekad bunda
Lila untuk memberikan ASI eksklusif jadi agak goyah. Pendapat kanan kiri
berkesimpulan bahwa ASI-nya kosong alias dianggap berisi air saja. Jadi,
sebanyak apa pun bayi menyusu, dia tetap lapar. Tangisan bayi membuat banyak
yang mendesak untuk member bayi tambahan susu formula. Perasaan Lila
serbasalah.
Apakah Anda
pernah atau sedang mengalami keresahan yang sama? Sebenarnya Anda tidak perlu
khawatir ketika masa-masa itu terjadi. Bunda justru bisa merasa bahagia.
“Artinya, bayi sedang mengalami growth
spurts atau percepatan pertumbuhan. Saat itu sel-sel bayi tumbuh dan
bertambah begitu cepat. Untuk proses ini, butuh asupan nutrisi yang tinggi.
Karena itulah, anak seolah lapar terus,” jelas dr Maretha Sukmawardani SpA.
Spesialis
kesehatan anak di Rumah Sakit Royal Surabaya tersebut menjelaskan, setiap
manusia pasti mengalami growth spurts dalam
tumbuh kembang. Yakni, saat bayi dan menginjak masa remaja (pubertas).
Pada bayi,
waktunya berbeda-beda, sangat bergantung terhadap individu bayi. “Tapi
rata-rata terjadi saat bayi berusia 3-6 minggu, 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan,”
ungkapnya. Percepatan pertumbuhan pada bayi rata-rata berlamgsung 2-4 hari.
Setelah masa
itu selesai, bisa dilihat anak akan mengalami pertambahan tinggi badan dan
berat badan yang signifikan. Kemampuan motorik dan kecerdasan lainnya pun bakal
meningkat pesat. “Karena itu, ini adalah masa yang penting bagi anak. Diikuti
saja masanya dengan sabar. Harus dipenuhi dan dicukupi. Sebab, jika tidak, tentu
akan ketinggalan,” tutur spesialis anak yang juga konselor laktasi tersebut.
Growth spurts terjadi kepada seluruh
bayi, baik yang menerima ASI maupun susu formula. Pada masa-masa itu, buah hati
akan sangat rewel meski kita lihat cirri-ciri fisiknya sehat. Tangisannya
berhenti ketika disodorkan ASI.
Tidak heran,
ketika growth spurts, bayi akan
menempel terus pada ibu karena minta menyusu. “Bayinya tampak lapar terus.
Kalau biasanya bayi menyusu 3 jam sekali, saat GS (growth spurts ,Red), frekuensinya bisa dua kali lipat. Begitu
dilepas dari payudara ibu, rewel,” tambah dr Meta Hanindita.
Perempuan yang
sedang menunggu ujian spesialis anak itu telah menerbitkan buku Don’t Worry to Be A Mommy. Dia banyak
berbagi mengenai masa menyusui agar ibu tidak panik menghadapi growth spurts .
Pada masa
tersebut, bayi juga akan lebih sering terbangun, teutama pada malam hari, bila
dibandingkan dengan biasanya untuk menyusu. Ibu akan merasa lelah karena
ditempel terus dan harus bergadang malam. “Ditambah, ibu khawatir apa ada yang
salah dengan ASI. Bagaimana kalau tidak cukup?” ujar dia.
Meta
menyarankan untuk menyingkirkan kegalauan tersebut agar produksi ASI lancar. “Postive thinking dapat membantu
pengeluaran hormone oksitosin yang menyuplai ASI. Ingat pula prinsip supply and demand pemberian ASI. Makin
sering disusukan, makin banyak pula ASI yang diproduksi. Jadi, don’t worry, be happy,” jelasnya.
Berikan ASI
menuruti kemauan bayi dan tidak perlu menjadwal bayi menyusu saat growth spurts. Pantau juga tanda
kecukupan ASI dari kenaikan berat badan atau frekuensi BAK (buang air kecil)
yang minimal 6 kali.
Bagi Ibu yang
memberikan ASI secara eksklusif, dr Maretha mengingatkan untuk tidak buru-buru
menambahkan susu formula sebagai tambahan asupan. “Jangan sampai berpikiran
seperti itu. Ketika diberi, susu formula akan bertahan di lambung bayi dan
membuatnya kenyang terus. Padahal, bayi sedang butuh banyak asupan dan putting
ibu butuh distimulus,” terangnya.
Dengan bayi tidak menyusu pada ibu karena
digantikan sementara oleh susu formula, otomatis rangsangan pada putting untuk
mengaktifkan hormone prolaktin berkurang. Akhirnya, ASI yang keluar tidak
sebanyak kebutuhan bayi. Ingat sekali lagi prinsip supply and demand dalam menyusui. “Diikuti saja, harus berpikiran
positif dan senang sehingga ASI akan lancar. Kalau ibunya stres, produksi ASI
malah turun,” tandas dr Maretha. (puz/c14/dos)
Sumber: Jawa Pos
No comments:
Post a Comment