Google search

Custom Search

Translate

Monday, 4 January 2016

Growth Spurts



Masa-Masa Bayi Alami Growth Spurts
Bukan karena ASI Tak Cukup
Kecemasan pasti terjadi saat buah hati rewel tiada henti. Pada usianya yang masih beberapa bulan, tiba-tiba ada masa ketika si baby tidak mau ditinggal dan minta bunda terus-menerus menyusuinya. Normalkah?

                BUNDA Lila merasa sangat cemas waktu itu. Si baby yang baru berusia 3 bulan sangat rewel, padahal tidak sakit. Suhu badannya normal dan tidak lesu. Si buah hati menangis minta minum susu terus, seolah tidak kenyang-kenyang. “Apa ASI-ku tidak cukup ya?” tutur bunda Lila kalut.
Tekad bunda Lila untuk memberikan ASI eksklusif jadi agak goyah. Pendapat kanan kiri berkesimpulan bahwa ASI-nya kosong alias dianggap berisi air saja. Jadi, sebanyak apa pun bayi menyusu, dia tetap lapar. Tangisan bayi membuat banyak yang mendesak untuk member bayi tambahan susu formula. Perasaan Lila serbasalah.
Apakah Anda pernah atau sedang mengalami keresahan yang sama? Sebenarnya Anda tidak perlu khawatir ketika masa-masa itu terjadi. Bunda justru bisa merasa bahagia. “Artinya, bayi sedang mengalami growth spurts atau percepatan pertumbuhan. Saat itu sel-sel bayi tumbuh dan bertambah begitu cepat. Untuk proses ini, butuh asupan nutrisi yang tinggi. Karena itulah, anak seolah lapar terus,” jelas dr Maretha Sukmawardani SpA.
Spesialis kesehatan anak di Rumah Sakit Royal Surabaya tersebut menjelaskan, setiap manusia pasti mengalami growth spurts dalam tumbuh kembang. Yakni, saat bayi dan menginjak masa remaja (pubertas).
Pada bayi, waktunya berbeda-beda, sangat bergantung terhadap individu bayi. “Tapi rata-rata terjadi saat bayi berusia 3-6 minggu, 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan,” ungkapnya. Percepatan pertumbuhan pada bayi rata-rata berlamgsung 2-4 hari.
Setelah masa itu selesai, bisa dilihat anak akan mengalami pertambahan tinggi badan dan berat badan yang signifikan. Kemampuan motorik dan kecerdasan lainnya pun bakal meningkat pesat. “Karena itu, ini adalah masa yang penting bagi anak. Diikuti saja masanya dengan sabar. Harus dipenuhi dan dicukupi. Sebab, jika tidak, tentu akan ketinggalan,” tutur spesialis anak yang juga konselor laktasi tersebut.
Growth spurts terjadi kepada seluruh bayi, baik yang menerima ASI maupun susu formula. Pada masa-masa itu, buah hati akan sangat rewel meski kita lihat cirri-ciri fisiknya sehat. Tangisannya berhenti ketika disodorkan ASI.
Tidak heran, ketika growth spurts, bayi akan menempel terus pada ibu karena minta menyusu. “Bayinya tampak lapar terus. Kalau biasanya bayi menyusu 3 jam sekali, saat GS (growth spurts ,Red), frekuensinya bisa dua kali lipat. Begitu dilepas dari payudara ibu, rewel,” tambah dr Meta Hanindita.
Perempuan yang sedang menunggu ujian spesialis anak itu telah menerbitkan buku Don’t Worry to Be A Mommy. Dia banyak berbagi mengenai masa menyusui agar ibu tidak panik menghadapi growth spurts .
Pada masa tersebut, bayi juga akan lebih sering terbangun, teutama pada malam hari, bila dibandingkan dengan biasanya untuk menyusu. Ibu akan merasa lelah karena ditempel terus dan harus bergadang malam. “Ditambah, ibu khawatir apa ada yang salah dengan ASI. Bagaimana kalau tidak cukup?” ujar dia.
Meta menyarankan untuk menyingkirkan kegalauan tersebut agar produksi ASI lancar. “Postive thinking dapat membantu pengeluaran hormone oksitosin yang menyuplai ASI. Ingat pula prinsip supply and demand pemberian ASI. Makin sering disusukan, makin banyak pula ASI yang diproduksi. Jadi, don’t worry, be happy,” jelasnya.
Berikan ASI menuruti kemauan bayi dan tidak perlu menjadwal bayi menyusu saat growth spurts. Pantau juga tanda kecukupan ASI dari kenaikan berat badan atau frekuensi BAK (buang air kecil) yang minimal 6 kali.
Bagi Ibu yang memberikan ASI secara eksklusif, dr Maretha mengingatkan untuk tidak buru-buru menambahkan susu formula sebagai tambahan asupan. “Jangan sampai berpikiran seperti itu. Ketika diberi, susu formula akan bertahan di lambung bayi dan membuatnya kenyang terus. Padahal, bayi sedang butuh banyak asupan dan putting ibu butuh distimulus,” terangnya.
Dengan bayi tidak menyusu pada ibu karena digantikan sementara oleh susu formula, otomatis rangsangan pada putting untuk mengaktifkan hormone prolaktin berkurang. Akhirnya, ASI yang keluar tidak sebanyak kebutuhan bayi. Ingat sekali lagi prinsip supply and demand dalam menyusui. “Diikuti saja, harus berpikiran positif dan senang sehingga ASI akan lancar. Kalau ibunya stres, produksi ASI malah turun,” tandas dr Maretha. (puz/c14/dos) 
Sumber: Jawa Pos

No comments:

Post a Comment