Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 23 January 2016

Response Time Minimalkan Risiko Kecacatan Karena Stroke

Golden Period 3 Jam



Stroke merupakan kondisi darurat medis karena sifatnya mendadak dengan risiko kecacatan hingga kematian. Untuk meminimalkan risiko tersebut, response time menjadi faktor terpenting, stroke kini juga banyak menyerang usia muda karena lifestyle yang tidak baik.

DULU, stroke seolah dianggap sebagai penyakit orang tua. Orang baru aware  yang terhadap ancaman stroke ketika berusia lanjut. Namun, faktanya banyak orang masih berusia produktif yang terserang stroke. Bagaimana bisa?
Dokter Gigih Pramono SpBS menerangkan, stroke merupakan gangguan pembuluh darah otak yang sifatnya mendadak. Kondisi itu hampir selalu merupakan komplikasi dari penyakit dasar. Apa saja? Bisa hipertensi, hiperkolesterol, diabetes, dan lainnya. Dulu, orang baru aware terhadap stroke di usia tua. Sebab, seiring dengan pertumbuhan umur, elastisitas pembuluh darah semakin berkurang sehingga lebih mudah terjadi serangan pembuluh darah.

“Namun, perlu diingat bahwa stroke merupakan penyakit metabolisme yang sangat erat kaitannya dengan gaya hidup. Karena gaya hidup yang berubah, makanan, kurang berolahraga, usia muda pun rawan serangan stroke,” paparnya dalam gathering Brain & Spine Community di Jakarta (30/5).
Bahayanya lagi, karena yang diserang adalah otak yang merupakan pusat motorik dan sensorik tubuh, stroke diiringi dengan risiko sulit menggerakkan anggota tubuh, sulit berbicara, hingga kelumpuhan.
Ada dua jenis stroke, yaitu stroke iskemik akibat penyumbatan serta hemoragik karena pendarahan. Stroke karena penyumbatan mengakibatkan asupan darah ke otak terhenti. Kondisi tersebut merupakan masa kritis. Begitu terjadi sumbatan, penderita harus mendapat pertolongan cepat. “Golden period –nya tiga jam untuk melakukan intervensi yang tujuannya membuka sumbatan. Semakin cepat response time, risiko kematian atau kecacatan bisa dihindari,” ucap dr Gigih.
Hanya, orang sering tidak aware  gejala stroke sehingga tidak segera ditangani. Gejalanya selalu datang tiba-tiba. Wajah, lengan, atau kaki (biasanya di salah satu sisi tubuh) mendadak mati rasa. Penglihatan mendadak menghilang pada satu atau dua mata. Mendadak sakit kepala hebat tanpa tahu sebabnya, sulit berbicara, dan kehilangan keseimbangan. Itu semua harus diwaspadai. Secepatnya penderita menuju rumah sakit yang memiliki fasilitas perawatan stroke, yaitu CT scan dan MRI untuk diagnosis, dokter ahli saraf, serta bedah saraf.
“Lewat dari periode tiga jam, terlalu berbahaya untuk dilakukan tindakan. Bagian otak yang tidak mendapat asupan darah itu menjadi rusak. Bila dipaksakan dibobol, berisiko perdarahan,” urai anggota tim dokter Comprehensive Brain & Spine Center tersebut.
Bila masih dalam masa golden period, sebelum tiga jam, masih dimungkinkan untuk dilakukan embolitik, yaitu menghancurkan sumbatan itu mengakibatkan pembengkakan di otak hingga menekan otak, diambil tindakan dekompresi untuk memberikan ruang pada otak.
Stroke karena perdarahan dipicu pecahnya pembuluh darah otak. Secara klinis, gejalanya lebih berat daripada stoke akibat penyumbatan. Serangan tiba-tiba yang diikuti dengan penurunan kesadaran. Prinsipnya, penderita segera dibawa ke rumah sakit untuk didiagnonis dengan CT scan atau MRI. Tujuannya, mengetahui letak perdarahan.
Kapan harus diambil tindakan operasi? Dokter akan memutuskan berdasar diagnosis, diantaranya dilihat dari volume perdarahan serta letak perdarahan. Yaitu, saat volume perdarahan mencapai 25 cc. “Bila lokasinya di daerah yang sangat krusial seperti kantong cairan otak, meski volume perdarahan tidak mencapai 25 cc, dilakukan tindakan operasi karena bisa mengakibatkan saluran cairan otak buntu,” jelas ayah dua anak tersebut.
Response time dan diagnosis merupakan hal terpenting untuk menentukan tindakan yang harus diambil demi menyelamatkan pasien pada masa kritis stroke, menghindari ancaman kematian, dan risiko kecacatan. (nor/c19/dos)

Sumber: Jawa Pos

No comments:

Post a Comment