Response Time Minimalkan Risiko Kecacatan Karena Stroke
Golden Period 3 Jam
Stroke merupakan kondisi darurat medis karena sifatnya mendadak dengan risiko kecacatan hingga kematian. Untuk meminimalkan risiko tersebut, response time menjadi faktor terpenting, stroke kini juga banyak menyerang usia muda karena lifestyle yang tidak baik.
DULU, stroke seolah dianggap sebagai
penyakit orang tua. Orang baru aware
yang terhadap ancaman stroke ketika berusia lanjut. Namun, faktanya
banyak orang masih berusia produktif yang terserang stroke. Bagaimana bisa?
Dokter Gigih
Pramono SpBS menerangkan, stroke merupakan gangguan pembuluh darah otak yang
sifatnya mendadak. Kondisi itu hampir selalu merupakan komplikasi dari penyakit
dasar. Apa saja? Bisa hipertensi, hiperkolesterol, diabetes, dan lainnya. Dulu,
orang baru aware terhadap stroke di
usia tua. Sebab, seiring dengan pertumbuhan umur, elastisitas pembuluh darah
semakin berkurang sehingga lebih mudah terjadi serangan pembuluh darah.
“Namun, perlu diingat bahwa stroke merupakan penyakit metabolisme yang sangat erat kaitannya dengan gaya hidup. Karena gaya hidup yang berubah, makanan, kurang berolahraga, usia muda pun rawan serangan stroke,” paparnya dalam gathering Brain & Spine Community di Jakarta (30/5).
Bahayanya
lagi, karena yang diserang adalah otak yang merupakan pusat motorik dan
sensorik tubuh, stroke diiringi dengan risiko sulit menggerakkan anggota tubuh,
sulit berbicara, hingga kelumpuhan.
Ada dua jenis
stroke, yaitu stroke iskemik akibat penyumbatan serta hemoragik karena
pendarahan. Stroke karena penyumbatan mengakibatkan asupan darah ke otak
terhenti. Kondisi tersebut merupakan masa kritis. Begitu terjadi sumbatan,
penderita harus mendapat pertolongan cepat. “Golden period –nya tiga jam untuk melakukan intervensi yang
tujuannya membuka sumbatan. Semakin cepat response
time, risiko kematian atau kecacatan bisa dihindari,” ucap dr Gigih.
Hanya, orang
sering tidak aware gejala stroke sehingga tidak segera ditangani.
Gejalanya selalu datang tiba-tiba. Wajah, lengan, atau kaki (biasanya di salah
satu sisi tubuh) mendadak mati rasa. Penglihatan mendadak menghilang pada satu
atau dua mata. Mendadak sakit kepala hebat tanpa tahu sebabnya, sulit
berbicara, dan kehilangan keseimbangan. Itu semua harus diwaspadai. Secepatnya
penderita menuju rumah sakit yang memiliki fasilitas perawatan stroke, yaitu CT
scan dan MRI untuk diagnosis, dokter
ahli saraf, serta bedah saraf.
“Lewat dari
periode tiga jam, terlalu berbahaya untuk dilakukan tindakan. Bagian otak yang
tidak mendapat asupan darah itu menjadi rusak. Bila dipaksakan dibobol,
berisiko perdarahan,” urai anggota tim dokter Comprehensive Brain & Spine
Center tersebut.
Bila masih
dalam masa golden period, sebelum
tiga jam, masih dimungkinkan untuk dilakukan embolitik, yaitu menghancurkan
sumbatan itu mengakibatkan pembengkakan di otak hingga menekan otak, diambil
tindakan dekompresi untuk memberikan ruang pada otak.
Stroke karena
perdarahan dipicu pecahnya pembuluh darah otak. Secara klinis, gejalanya lebih
berat daripada stoke akibat penyumbatan. Serangan tiba-tiba yang diikuti dengan
penurunan kesadaran. Prinsipnya, penderita segera dibawa ke rumah sakit untuk
didiagnonis dengan CT scan atau MRI.
Tujuannya, mengetahui letak perdarahan.
Kapan harus diambil
tindakan operasi? Dokter akan memutuskan berdasar diagnosis, diantaranya
dilihat dari volume perdarahan serta letak perdarahan. Yaitu, saat volume
perdarahan mencapai 25 cc. “Bila lokasinya di daerah yang sangat krusial
seperti kantong cairan otak, meski volume perdarahan tidak mencapai 25 cc,
dilakukan tindakan operasi karena bisa mengakibatkan saluran cairan otak buntu,”
jelas ayah dua anak tersebut.
Response time dan diagnosis merupakan
hal terpenting untuk menentukan tindakan yang harus diambil demi menyelamatkan
pasien pada masa kritis stroke, menghindari ancaman kematian, dan risiko
kecacatan. (nor/c19/dos)
Sumber: Jawa Pos
No comments:
Post a Comment