Daun
Katuk Tingkatkan Kecerdasan
SURABAYA-
Daun
katuk (Sauropus androgynus) selama ini dipercaya bermanfaat untuk melancarkan
produksi air susu ibu. Ternyata daun katuk juga terbukti mampu meningkatkan
pertumbuhan sel-sel otak. Hasil penelitian Nurul Kamariyah membuktikan hal itu.
Memang, penelitian tersebut baru diujicobakan pada tikus
laboraturium. Tahap penelitian belum sampai pada pengujian ke manusia. Meski
demikian, tikus memiliki kelengkapan organ dan kebutuhan nutrisi serta biokimia
yang cukup dekat atau hampir sama dengan manusia.
Dalam penelitian, Nurul membagi tiga kelompok perlakuan.
Di setiap kelompok, ada enam tikus. Kelompok pertama, tikus-tikus diberi
ekstrak daun katuk dengan dosis 24 mg per hari. Kelompok kedua diberi dosis 48
mg dan kelompok ketiga diberi dosis 78 mg per hari. “Satu tikus kontrol yang
tidak diberi ekstrak,” tuturnya.
Perkembangan tikus dipantau sejak kehamilan, melahirkan,
hingga hari ke-11 pasca melahirkan. Kondisi darah dan hormon induk tikus pun
dipantau. Pada hari ke-12, sel saraf neuroglia anak tikus diperiksa. Hasilnya,
setiap kelompok perlakuan menunjukkan pertumbuhan sel otak yang berbeda. Pada
tikus kontrol yang tidak mendapat asupan daun katuk, jaringan sel otaknya
berjumlah 29 sel.
Jumlah sel meningkat seiring dengan dosis ekstrak daun
katuk yang diberikan. Pada kelompok pertama, diberikan dosis 24 mg, kata Nurul,
jumlah sel otak meningkat menjadi 31
sel. Sedangkan pada kelompok kedua dengan dosis 48 mg, jumlah sel otaknya
menjadi 38 sel. “Yang kelompok ketiga dengan dosis 78 mg meningkat jadi 50
sel,” jelasnya.
Berdasar hasil penelitian itu, ekstrak daun katuk bagus
dikonsumsi bayi. Terutama pada masa golden
period pertumbuhan otak di usia 0-5 tahun. Untuk menjadi sebuah produk
konsumsi, imbuh dia, harus dilakukan penelitian lanjutan dan uji laboraturium.
“Sudah ada yang memproduksi ekstrak daun katuk. Tapi, penelitian ini dilakukan
untuk melihat daun katuk tidak hanya
memperlancar produksi ASI, tapi juga bagus untuk sel-sel otak,” jelasnya.
Saat ini hasil penelitian S-2 itu diproses untuk
mendapatkan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Jika tidak ada aral
melintang, pihaknya juga akan mengembangkan penelitian tersebut. “Ke depan,
dilihat pengaruhnya ke kecerdasan apa,” tutur alumnus magister kesehatan
Universitas Airlangga tersebut. (puj/c7/noe)
Sumber: Jawa Pos, 8
Januari 2016
No comments:
Post a Comment