Google search

Custom Search

Translate

Tuesday, 19 January 2016

Tangkal Lemak Jahat 2



Deteksi dengan Rutin Check-Up


JENIS LEMAK JAHAT :
Visceral fat. Yakni, sel lemak yang menumpuk di dalam perut. Sering juga disebut lemak perut. Lemak itu bisa memicu diabetes, fatty liver,hipertensi, stroke, dan serangan jantung.
Kolesterol dalam darah. Yang disebut jahat adalah low-density lipoprotein (LDL) karena mudah melekat di dinding pembuluh darah.
Nilai Optimal
LDL                              = di bawah 100
Trigliserida                  =kurang dari 150
HDL                             = minimal 40
Kolesterol Total           = kurang dari 200

SERING kali tidak ada gejala yang dirasakan meski jumlah kolesterol jahat dalam tubuh tergolong tinggi. Alhasil, kondisi tersebut kerap diabaikan. Padahal, itulah alarm sebelum penyakit-penyakit berbahaya muncul. Bagaimana mendeteksinya? “Early warning-nya, medical check-up,” ujar dr Samuel Oetoro.
Lakukan cek medis minimal sekali setahun. Termasuk cek kolesterol dalam darah. Ada empat komponen di dalamnya. Kolesterol HDL, LDL, trigliserida, dan kolesterol total.


            Kadar high-density lipoprotein (HDL) menunjukkan seberapa besar kolesterol baik dalam darah. HDL berperan membawa kolesterol dalam darah menuju hati untuk diproses sehingga menghindari terjadinya penumpukan kolesterol pada saluran darah. Sebaliknya, low-density lipoprotein (LDL) merupakan kolesterol jahat dalam darah. Bila jumlahnya berlebih,kolesterol akan menumpuk pada dinding pembuluh darah.
            Trigliserida adalah lemak darah yang jumlahnya harus dijaga agar tidak berlebih. Ketika jumlahnya berlebih, risiko penyakit jantung dan diabetes akan meningkat. Total kolesterol menunjukkan jumlah HDL, LDL, dan trigliserida.
            Jika berdasar hasil tes kesehatan tersebut LDL tinggi, begitu pula trigliserida dan kolesterol total, lakukan terapi dengan menekan 5S seperti yang dipaparkan dr Samuel Oetoro. “Satu bulan taati benar-benar. Atau, bila perlu dua bulan, lalu lakukan pemeriksaan lab kembali,” tuturnya.
            Bila hasilnya turun, berarti faktor pola hidup menjadi penyebab tingginya kadar lemak jahat dalam tubuh. Namun, kalau hasilnya belum turun juga, bisa jadi penyebabnya adalah faktor genetis. Atau juga bisa disebabkan fungsi hati dalam mensintesis kolesterol cepat. Sebaliknya, degadrasinya lambat. Pada kondisi seperti itu, dokter akan memberikan obat. “Kolesterol juga diperlukan tubuh dalam dalam membentuk hormon. Tapi, jumlahnya harus dijaga agar tidak berlebih,” tandas dr Samuel. (nor/c14/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 22 September 2015

No comments:

Post a Comment