Google search

Custom Search

Translate

Tuesday, 29 December 2015

Raynaud's Disease

Raynaud’s Disease yang Masih Eksis
Wapadai Gejala, Jauhi Penyebabnya
Perubahan warna kulit bertahap pada jari-jari tangan dan kaki sering terjadi di tempat-tempat dingin. Namun, dr Yan Efrata Sembiring SpB(K)TKV menyatakan bahwa sebulan sekali dirinya mendapati pasien penyakit tersebut di tempat praktiknya, RSUD dr Soetomo, Surabaya.
            NAMA penyakit itu adalah Raynaud’s disease atau penyakit Raynaud. Memang penelitiaan dan publikasi untuk Raynaud itu sering dilakukan di negara-negara empat musim. Sebab, biasanya gejalanya kerap muncul pada musim dingin.
            Menurut dr Robertus Dhany Prasetyanto SpBTKV, di Indonesia belum ada data yang menyatakan jumlah pasien Raynaud primer. “Berdasar pengalaman, untuk Raynaud sekunder, beberapa kali saya dapatkan di Surabaya,” ujarnya.
            Dalam laporan semester II dari Kementerian Kesehatan pada 2012 tentang penyakit tidak menular, dikatakan, Raynaud merupakan salah satu penyakit tidak menular cukup banyak ditemukan pada 2010.
            Penyakit Raynaud merupakan keadaan yang biasa terjadi. Yaitu, ketika jari tangan dan atau kaki tiba-tiba dingin. Biasanya disertai juga dengan rasa nyeri, bengkak, dan perubahan warna pada ujung jari dari biru menjadi hitam.
“Penyakit Raynaud adalah penyempitan pada pembuluh-pembuluh kecil pada ujung-ujung tubuh,” terang Dhany yang berpraktik di RS Katolik St Vincentius a Paulo (RKZ) tersebut. Ujung-ujung tubuh itu, antara lain, ujung jari tangan dan kaki, telinga, dan hidung yang biasa dialiri pembuluh darah kapiler. Penyempitan tersebut mengakibatkan suplai darah ke ujung-ujung tubuh menjadi terganggu. Itulah yang mengakibatkan ujung-ujung tubuh tersebut menjadi pucat dan kebiruan.
Penyakit Raynaud dibagi menjadi dua jenis, primer dan sekunder. Menurut dr Yan Efrata Sembiring, Raynaud primer disebabkan gaya hidup dan iklim dingin. Kebiasaan merokok, mengonsumsi kafein dan alkohol, serta sering mengalami stres juga dapat memicu kemunculan penyakit pembuluh darah tersebut. Begitu juga jika orang bekerja dengan mesin-mesin yang menyebabkan getaran (vibrasi).
Banyak dikatakan, perempuan lebih sering menderita penyakit tersebut. Tetapi, hingga sekarang tidak diketahui penyebabnya. Dugaan dokter Yan yang juga salah satu seorang pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, keadaan itu terjadi karena perempuan lebih rentan stres daripada laki-laki. Juga, pengaruh hormone.
Perbandingan perempuan dan laki-laki yang terkena penyakit itu adalah 4:1. “Biasanya menyerang kelompok usia lebih muda antara 15-30 tahun,” tambah dokter Dhany. Usia yang muda itu, menurut dia, sangat erat berhubungan dengan gaya hidup seperti merokok.
Gejalanya dapat bervariasi, dari menit hingga jam. Dalam hal Raynaud primer, jika penyebab dihilangkan, gejala akan mereda. Operasi amputasi dapat saja dilakukan untuk membuang ujung jari tangan atau kaki yang telah menghitam. Artinya, jaringannya sudah mati. “Pembedahan bertujuan membuat pembuluh darah yang menyempit menjadi membuka kembali dengan lebih lebar sehingga keluhan menghilang,” papar Yan. (ndi/c10/dos)

Yang Sekunder karena Penyakit Bawaan
JIKA Raynaud primer muncul akibat dari gaya hidup, lain halnya Raynaud sekunder. Menurut dr Koemalawati Widjaja SpS, Raynaud sekunder muncul karena adanya penyakit autoimun bawaan. Lupus misalnya. “Penderita lupus itu tak bisa merasakan denyut arterinya. Pembuluh darahnya kaku dan mengalami penyempitan,” jelasnya.
Selain itu, Raynaud sekunder bisa disebabkan penyakit pembuluh darah arteri seperti aterosklerosis yang menyertai penyakit kulit seperti scleroderma dan pemakaian obat-obatan yang dapat menyempitkan pembuluh darah arteri. Amfetamin, misalnya, atau beberapa obat untuk migrain.
            Dokter Koemala yang berpraktik di RS Husada Utama, Surabaya, pun menyarankan pasien agar tidak langsung minum sembarang obat saat merasakan keluhan. “Istirahat dulu, baru kemudian menghubungi dokter,” katanya.
            Raynaud sekunder dapat diobati dengan mengobati penyakit primernya. Kondisi tersebut berbeda dengan penanganan Raynaud primer yang harus menghindari pemicunya.
Ada kelompok obat-obatan untuk Raynaud yang juga bisa digunakan sebagai obat tekanan darah tinggi. Sebab, tekanan darah tinggi juga bisa dipicu stres. Pembuluh darah akan menjadi kaku dan menyempit sehingga menghambat peredaran darah ke arteri akhir di ujung-ujung jari tangan dan kaki.
Dokter berambut pendek tersebut menyebutkan, obat-obatan tadi tidak akan mengeleminasi Raynaud secara menyeluruh, namun hanya menurunkan frekuensi dan kegawatan serangan. Dia juga menekankan agar kebiasaan merokok pada Raynaud primer harus benar-benar dihentikan. Sebab, merokok bisa menyebabkan kejang urat pada pembuluh darah. (ndi/c15/dos)
Sumber Jawa pos



No comments:

Post a Comment