Bukan Penyakit Turunan & Menular
Banyak perempuan yang belum mengenal prolaps uteri. Padahal,
keluhan tersebut rawan menghampiri kaum hawa. Gangguan tersebut tidak mengancam
nyawa, tetapi mampu memengaruhi kenyamanan dan kualitas hidup perempuan.
APAKAH
Anda pernah mendengar –atau mengalami –turun berok atau kengser? Jika ya, berarti paling tidak
Anda telah mengenal gangguan pada daerah intim perempuan tersebut. Dalam bahasa
medis, prolaps uteri merupakan perubahan posisi rahim dari posisi normal
mendekati vagina.
“Dalam bahasa awam, disfungsi dasar
panggul. Otot-otot dan penyokong rahim mengalami gangguan fungsi,” ujar dr
Gatut Hardianto SpOG(K). Dalam kondisi itu, otot penyokong kehilangan kekuatan.
Akibatnya, rahim “melorot”. Bukan hanya uterus, otot-otot pada kandung kemih
dan rectum ikut terganggu.
Gatut menjelaskan, gangguan tersebut
sering dialami perempuan yang pernah melahirkan pasti mengalami. Bahkan, satu
di antara dua perempuan yang pernah melahirkan pasti mengalami prolaps uteri.
Menurut dia, risiko makin besar dialami para ibu yang melakukan persalinan
normal.
Kelahiran per vaginam ditengarai mampu mengendurkan, bahkan merobek,
otot-otot panggul. “Penyebabnya, otot daerah intim dipaksa melar seukuran diameter kepala bayi,” lanjut spesialis kandungan RS
Husada Utama tersebut. Kondisi itu akan makin parah jika jahitan pasca
melahirkan tidak menutup sempurna. Atau, sang ibu melahirkan bayi besar (bobot
lebih dari 48kg) dan proses mengejan saat kelahiran lebih dari 65 menit.
Keadaan otot yang kehilangan
kekuatan tersebut tentu mengakibatkan beragam keluhan “ikutan”. Selain rasa
mengganjal di daerah vagina, turun berok sering disertai keluhan hilangnya
control kandung kemih. “Makanya, ibu-ibu menjelang kelahiran atau setelah
melahirkan pasti gampang beser atau ngompol,” ucap Gatut.
Namun, para perempuan bisa berlega
hati. Pasalnya, prolaps uteri bukan penyakit lantaran tidak disebabkan kuman
atau virus. Melainkan, gangguan kekuatan otot vagina. Selain itu, prolaps uteri
bukan keadaan yang mampu diturunkan (generative) atau menular.
Lalu, bagaimana cara mengatasi
prolaps uteri? “Pilihannya dua. Bisa pakai penahan atau operasi,” papar pria
kelahiran 19 Oktober 1962 tersebut. Penggunaan pessarium atau penahan disarankan bila pasien masih dalam stadium
awal. Selain itu cara tersebut direkomendasikan untuk perempuan yang jarang
melakukan aktivitas seksual.
Untuk
pemulihan kondisi secara total, Gatut tetap menyarankan operasi. “Pakai pessarium untuk sementara saja. Harus
rutin mengganti dan membersihkan. Kalau dokter sudah sarankan operasi, sudah,
jalan saja,” ucapnya. Setelah operasi, bentuk dan fungsi dasar panggul bisa
kembali hingga mendekati normal.
Sementara
itu, dr Eighty Mardiyan Kurniawati SpOG(K) menjelaskan bahwa kelainan turun
berok stadium lanjut berisiko infeksi. Apalagi jika penderita tidak memiliki
kebiasaan hygiene yang baik. “Daerah
intim perempuan sebenarnya sudah diciptakan lengkap dengan flora (bakteri,Red)
baik,” ucap Etty, sapaan akrab Eighty.
Dokter
yang berpraktik di RSIA Kendangsari MERR itu mengungkapkan, jika uterus melorot
hingga muncul keluar, risiko terkena bakteri akan makin tinggi. Bagian tersebut
rentan mengalami gesekan dengan bahan celana. Jika tidak segera ditangani,
kulit yang tipis bakal mudah luka.
“Lebih
parah lagi kalau penderita juga mengalami inkontinensia urin. Daerah intim
perempuan bakal selalu lembap,” ucap dokter kelahiran 14 Agustus 1977 tersebut.
Menurut dia, kondisi itu mengakibatkan ruam, gatal, dan rasa tidak nyaman.
Risiko infeksi masuk ke bagian lebih dalam juga lebih besar. (fam/c10/dos)
Mulai Bikin Malu hingga Hilang Nafsu
PUNYA
gangguan
di daerah intim tentu saja bisa memengaruhi hidup perempuan. Apalagi untuk
mereka yang telah berkeluarga. Tidak cuma ketidaknyamanan, keretakan rumah
tangga pun mungkin terjadi akibat prolaps uteri.
“Dampak gangguannya memang beragam.
Mulai besar sampai luka,” ujar Gatut. Dia memaparkan, kenyamanan pasien dalam
berkegiatan sehari-hari jelas terganggu.
Gatut menjelaskan, secara umum, gangguan
prolaps uteri bisa menimbulkan masalah higienitas hingga gangguan keharmonisan
rumah tangga.
Salah satu kasus yang pernah
ditanganinya adalah kasus M,74. Menururt Gatut, pasiennya tersebut mengalami
turun berok karena factor usia. Parahnya lagi, pergeseran posisi rahim tersebut
berdampak pada kebiasaan buang air besar. “Diagnosisnya, uterus turun beserta
dinding depan vagina dan otot rectum,” lanjutnya.
Saat itu M lebih memilih dipasang pressarium alias cincin penahan. Namun,
menurut spesialis kandungan itu, opsi tersebut justru memberatkan pasien.
Sebab, dia harus kontrol untuk pembersihan dan pemasangan cincin tiga bulan sekali.
Akhirnya, M memilih menjalani operasi.
Tindakan yang dilakukan kala itu adalah
pengangkatan rahim lewat jalan lahir. Sebab, pasiennya yang berusia di atas 50
tahun tidak lagi disarankan untuk hamil. “Selesai operasi malah kaget. Lho, kok
nggak ada bekas operasi jahitannya di perut,” kata Gatut yang menirukan ucapan
si pasien. Selain tidak ada bekas operasi yang menonjol kebiasaan buang air kecil dan besar M kembali normal.
Menurut dokter yang menanganinya, turun
berok tersebut terjadi karena kelahiran putrid bungsunya. Anak kedua yang dia
lahirkan pada November 2013 itu lahir dengan bobot di atas normal. Yakni, 3,8
kg. kelahirannya pun lewat jalan normal.
Keluhan awal LN adalah kehilangan
kontrol urine dan buang angin. “Waktu masih awal-awal, saya biarkan. Kan biasanya setelah melahirkan begitu,”
ucapnya. Namun, gangguan tersebut tidak kunjung reda. Bahkan, LN merasa seperti
duduk di bola. Aktivitasnya terhambat karena rasa tidak nyaman di area intim.
Demikian juga ketika dia melakukan hubungan intim bersama suaminya.
Untung LN tidak menunda konsultasi ke
dokter. Perempuan yang bekerja di divisi humas perusahaan ekspidisi tersebut
segera menjalani operasi. Benjolan – yang pada awalnya dia kira kanker-
merupakan rahimnya yang melorot. Dia pun kini bisa menikmati aktivitasnya
sebagai ibu dan pegawai tanpa rasa mengganjal. (fam/c7/dos)
SUMBER : JAWAPOS, Selasa 12 Mei
2015
|
Deteksi Dini
Prolaps Uteri
Waspadai
tanda-tanda berikut ini. Jika anda mengalaminya, bisa jadi Anda mengalami
turun berok.
• Mudah mengompol ketika
batuk, bersin, atau melompat.
• Rasa mengganjal di
daerah intim.
• Muncul benjolan di
dalam atau luar vagina.
• Gangguan otot rectum
(gangguan buang air besar, buang angin tak terkendali).
• Rasa tidak nyaman
ketika berhubungan seksual.
• Keluhan nyeri punggung
bawah.
|
No comments:
Post a Comment