Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 19 December 2015

Uteri

 Kenali Prolaps Uteri,Gangguan Dasar Panggul

       Bukan Penyakit Turunan    & Menular




Banyak perempuan yang belum mengenal prolaps uteri. Padahal, keluhan tersebut rawan menghampiri kaum hawa. Gangguan tersebut tidak mengancam nyawa, tetapi mampu memengaruhi kenyamanan dan kualitas hidup perempuan.
            APAKAH Anda pernah mendengar –atau mengalami –turun berok atau kengser? Jika ya, berarti paling tidak Anda telah mengenal gangguan pada daerah intim perempuan tersebut. Dalam bahasa medis, prolaps uteri merupakan perubahan posisi rahim dari posisi normal mendekati vagina.
            “Dalam bahasa awam, disfungsi dasar panggul. Otot-otot dan penyokong rahim mengalami gangguan fungsi,” ujar dr Gatut Hardianto SpOG(K). Dalam kondisi itu, otot penyokong kehilangan kekuatan. Akibatnya, rahim “melorot”. Bukan hanya uterus, otot-otot pada kandung kemih dan rectum ikut terganggu.
            Gatut menjelaskan, gangguan tersebut sering dialami perempuan yang pernah melahirkan pasti mengalami. Bahkan, satu di antara dua perempuan yang pernah melahirkan pasti mengalami prolaps uteri. Menurut dia, risiko makin besar dialami para ibu yang melakukan persalinan normal.
            Kelahiran per vaginam ditengarai mampu mengendurkan, bahkan merobek, otot-otot panggul. “Penyebabnya, otot daerah intim dipaksa melar seukuran diameter kepala bayi,” lanjut spesialis kandungan RS Husada Utama tersebut. Kondisi itu akan makin parah jika jahitan pasca melahirkan tidak menutup sempurna. Atau, sang ibu melahirkan bayi besar (bobot lebih dari 48kg) dan proses mengejan saat kelahiran lebih dari 65 menit.
            Keadaan otot yang kehilangan kekuatan tersebut tentu mengakibatkan beragam keluhan “ikutan”. Selain rasa mengganjal di daerah vagina, turun berok sering disertai keluhan hilangnya control kandung kemih. “Makanya, ibu-ibu menjelang kelahiran atau setelah melahirkan pasti gampang beser atau ngompol,” ucap Gatut.
            Namun, para perempuan bisa berlega hati. Pasalnya, prolaps uteri bukan penyakit lantaran tidak disebabkan kuman atau virus. Melainkan, gangguan kekuatan otot vagina. Selain itu, prolaps uteri bukan keadaan yang mampu diturunkan (generative) atau menular.
            Lalu, bagaimana cara mengatasi prolaps uteri? “Pilihannya dua. Bisa pakai penahan atau operasi,” papar pria kelahiran 19 Oktober 1962 tersebut. Penggunaan pessarium atau penahan disarankan bila pasien masih dalam stadium awal. Selain itu cara tersebut direkomendasikan untuk perempuan yang jarang melakukan aktivitas seksual.
Untuk pemulihan kondisi secara total, Gatut tetap menyarankan operasi. “Pakai pessarium untuk sementara saja. Harus rutin mengganti dan membersihkan. Kalau dokter sudah sarankan operasi, sudah, jalan saja,” ucapnya. Setelah operasi, bentuk dan fungsi dasar panggul bisa kembali hingga mendekati normal.
Sementara itu, dr Eighty Mardiyan Kurniawati SpOG(K) menjelaskan bahwa kelainan turun berok stadium lanjut berisiko infeksi. Apalagi jika penderita tidak memiliki kebiasaan hygiene yang baik. “Daerah intim perempuan sebenarnya sudah diciptakan lengkap dengan flora (bakteri,Red) baik,” ucap Etty, sapaan akrab Eighty.
Dokter yang berpraktik di RSIA Kendangsari MERR itu mengungkapkan, jika uterus melorot hingga muncul keluar, risiko terkena bakteri akan makin tinggi. Bagian tersebut rentan mengalami gesekan dengan bahan celana. Jika tidak segera ditangani, kulit yang tipis bakal mudah luka.
“Lebih parah lagi kalau penderita juga mengalami inkontinensia urin. Daerah intim perempuan bakal selalu lembap,” ucap dokter kelahiran 14 Agustus 1977 tersebut. Menurut dia, kondisi itu mengakibatkan ruam, gatal, dan rasa tidak nyaman. Risiko infeksi masuk ke bagian lebih dalam juga lebih besar. (fam/c10/dos)



Mulai Bikin Malu hingga Hilang Nafsu
PUNYA gangguan di daerah intim tentu saja bisa memengaruhi hidup perempuan. Apalagi untuk mereka yang telah berkeluarga. Tidak cuma ketidaknyamanan, keretakan rumah tangga pun mungkin terjadi akibat prolaps uteri.
“Dampak gangguannya memang beragam. Mulai besar sampai luka,” ujar Gatut. Dia memaparkan, kenyamanan pasien dalam berkegiatan sehari-hari jelas terganggu.
Gatut menjelaskan, secara umum, gangguan prolaps uteri bisa menimbulkan masalah higienitas hingga gangguan keharmonisan rumah tangga.
Salah satu kasus yang pernah ditanganinya adalah kasus M,74. Menururt Gatut, pasiennya tersebut mengalami turun berok karena factor usia. Parahnya lagi, pergeseran posisi rahim tersebut berdampak pada kebiasaan buang air besar. “Diagnosisnya, uterus turun beserta dinding depan vagina dan otot rectum,” lanjutnya.
Saat itu M lebih memilih dipasang pressarium alias cincin penahan. Namun, menurut spesialis kandungan itu, opsi tersebut justru memberatkan pasien. Sebab, dia harus kontrol untuk pembersihan  dan pemasangan cincin tiga bulan sekali. Akhirnya, M memilih menjalani operasi.
Tindakan yang dilakukan kala itu adalah pengangkatan rahim lewat jalan lahir. Sebab, pasiennya yang berusia di atas 50 tahun tidak lagi disarankan untuk hamil. “Selesai operasi malah kaget. Lho, kok nggak ada bekas operasi jahitannya di perut,” kata Gatut yang menirukan ucapan si pasien. Selain tidak ada bekas operasi yang menonjol  kebiasaan buang air kecil dan besar  M kembali normal.
Lain lagi dengan prolaps uteri yang dialami LN,26. Ibu dua anak tersebut mengalami turun berok setelah kelahiran anak keduanya. “Memang nggak sampai yang serius sakitnya. Cuma mengganggu sekali,” ucapnya. Kelainan itu dirasakan LN dua bulan setelah persalinan.
Menurut dokter yang menanganinya, turun berok tersebut terjadi karena kelahiran putrid bungsunya. Anak kedua yang dia lahirkan pada November 2013 itu lahir dengan bobot di atas normal. Yakni, 3,8 kg. kelahirannya pun lewat jalan normal.
Keluhan awal LN adalah kehilangan kontrol urine dan buang angin. “Waktu masih awal-awal, saya biarkan. Kan biasanya setelah melahirkan begitu,” ucapnya. Namun, gangguan tersebut tidak kunjung reda. Bahkan, LN merasa seperti duduk di bola. Aktivitasnya terhambat karena rasa tidak nyaman di area intim. Demikian juga ketika dia melakukan hubungan intim bersama suaminya.
Untung LN tidak menunda konsultasi ke dokter. Perempuan yang bekerja di divisi humas perusahaan ekspidisi tersebut segera menjalani operasi. Benjolan – yang pada awalnya dia kira kanker- merupakan rahimnya yang melorot. Dia pun kini bisa menikmati aktivitasnya sebagai ibu dan pegawai tanpa rasa mengganjal. (fam/c7/dos)

SUMBER : JAWAPOS, Selasa 12 Mei 2015

Deteksi Dini Prolaps Uteri
            Waspadai tanda-tanda berikut ini. Jika anda mengalaminya, bisa jadi Anda mengalami turun berok.
Mudah mengompol ketika batuk, bersin, atau melompat.
Rasa mengganjal di daerah intim.
Muncul benjolan di dalam atau luar vagina.
Gangguan otot rectum (gangguan buang air besar, buang angin tak terkendali).
Rasa tidak nyaman ketika berhubungan seksual.
Keluhan nyeri punggung bawah.



No comments:

Post a Comment