Google search

Custom Search

Translate

Tuesday, 10 May 2016

Prostate Cancer Drug for Pedophilia

Obat Kanker Prostat untuk Pedofilia
                STOCKHOLM- Pedofilia menempatkan banyak anak sebagai korban. Karena diyakini kejahatan itu berantai, yakni korban pada akhirnya menjadi pelaku, Institut Karolinska di Stockholm, Swedia, ingin mencari cara untuk memutus lingkaran setan tersebut. Mereka ingin bertindak proaktif. Yakni, menemukan pengibatan untuk menekan gangguan kejiwaan yang membuat penderitanya tertarik secara seksual terhadap anak-anak.
“Tidak seorang pun meninginkan hal ini,” ujar Anders, salah seorang relawan. Selama ini, dia memiliki fantasi seksual dengan anak-anak. Walau berusaha tidak memikirkannya, fantasi itu muncul begitu saja. Meski begitu, hingga saat ini dia bisa menahan diri dan belum pernah melakukan pelecehan terhadap anak-anak. Anders tahu bahwa keinginannya tersebut tidak normal. Karena itu, dia berusaha mencari pertolongan dengan menjadi relawan dalam penelitian tersebut.
Menurut Crhristoffer Rahm, selama ini studi klinis terhadap para pedofil sangat jarang dilakukan karena sulitnya mengumpulkan data. Sebab, melakukan penelitian di mana subyek yang diteliti memiliki risiko menyakiti pihak ketiga butuh kerjasama khusus dengan para pakar hokum dan kesejahteraan anak. Selain itu, 85 persen kasus pelecehan seksual pada anak tidak pernah dilaporkan. Karena itu, mereka mencari relawan yang belum melakukan kejahatan.
Relawan-relawan tersebut datang karena mencari bantuan. Ada yang memang mendatangi fasilitas kesehatan milik perguruan tinggi. Sebagian lagi merupakan tindak lanjut dari telepon yang masuk ke hotline milik lembaga sosial yang peduli terhadap pedofilia.
Para peneliti membagi 60 relawan menjadi dua bagian. Satu kelompok diberi asupan obat kanker prostat akut bernama Degarelix. Kelompok lainnya diberi placebo alias pil kosong. Ternyata, setelah tiga hari, kadar testoteron orang yang diberi Degarelix minimal hingga tak terdeteksi. Efek itu berlangsung selama tiga bulan. Selama ini, testoteron terlibat dalam faktor risiko penting untuk melakukan pelecehan seksual terhadap anak. Testoteron membuat gairah seksual meningkat serta kurangnya kontrol diri dan empati yang rendah.
Bukan hanya itu, relawan juga akan di-scan MRI saat melihat computer yang menampilkan gambar-gambar perempuan berbagai usia. Hal tersebut dilakukan untuk melihat perbedaan reaksi di area otak masing-masing relawan. Ada tiga bagian di otak yang bereaksi. Nah, bagian-bagian itulah yang akan diintervensi dengan obat-obatan.
Anders tidak tahu apakah dirinya diberi obat yang sesungguhnya atau hanya placebo. Dia dan para relawan lainnya baru akan mengetahuinya pada 2-3 tahun mendatang ketika penelitian itu berakhir. Namun, dia mengaku hasrat seksualnya jauh menurun sejak mengikuti penelitian tersebut. (AFP/sha/c23/any)

Sumber: Jawa Pos, 9 Mei 2016 

No comments:

Post a Comment