Obat
Kanker Prostat untuk Pedofilia
STOCKHOLM- Pedofilia
menempatkan banyak anak sebagai korban. Karena diyakini kejahatan itu berantai,
yakni korban pada akhirnya menjadi pelaku, Institut Karolinska di Stockholm,
Swedia, ingin mencari cara untuk memutus lingkaran setan tersebut. Mereka ingin
bertindak proaktif. Yakni, menemukan pengibatan untuk menekan gangguan kejiwaan
yang membuat penderitanya tertarik secara seksual terhadap anak-anak.
“Tidak seorang
pun meninginkan hal ini,” ujar Anders, salah seorang relawan. Selama ini, dia
memiliki fantasi seksual dengan anak-anak. Walau berusaha tidak memikirkannya,
fantasi itu muncul begitu saja. Meski begitu, hingga saat ini dia bisa menahan
diri dan belum pernah melakukan pelecehan terhadap anak-anak. Anders tahu bahwa
keinginannya tersebut tidak normal. Karena itu, dia berusaha mencari
pertolongan dengan menjadi relawan dalam penelitian tersebut.
Menurut
Crhristoffer Rahm, selama ini studi klinis terhadap para pedofil sangat jarang
dilakukan karena sulitnya mengumpulkan data. Sebab, melakukan penelitian di
mana subyek yang diteliti memiliki risiko menyakiti pihak ketiga butuh
kerjasama khusus dengan para pakar hokum dan kesejahteraan anak. Selain itu, 85
persen kasus pelecehan seksual pada anak tidak pernah dilaporkan. Karena itu,
mereka mencari relawan yang belum melakukan kejahatan.
Relawan-relawan
tersebut datang karena mencari bantuan. Ada yang memang mendatangi fasilitas
kesehatan milik perguruan tinggi. Sebagian lagi merupakan tindak lanjut dari
telepon yang masuk ke hotline milik
lembaga sosial yang peduli terhadap pedofilia.
Para peneliti
membagi 60 relawan menjadi dua bagian. Satu kelompok diberi asupan obat kanker
prostat akut bernama Degarelix. Kelompok
lainnya diberi placebo alias pil
kosong. Ternyata, setelah tiga hari, kadar testoteron orang yang diberi
Degarelix minimal hingga tak terdeteksi. Efek itu berlangsung selama tiga
bulan. Selama ini, testoteron terlibat dalam faktor risiko penting untuk
melakukan pelecehan seksual terhadap anak. Testoteron membuat gairah seksual
meningkat serta kurangnya kontrol diri dan empati yang rendah.
Bukan hanya
itu, relawan juga akan di-scan MRI
saat melihat computer yang menampilkan gambar-gambar perempuan berbagai usia.
Hal tersebut dilakukan untuk melihat perbedaan reaksi di area otak
masing-masing relawan. Ada tiga bagian di otak yang bereaksi. Nah,
bagian-bagian itulah yang akan diintervensi dengan obat-obatan.
Anders tidak
tahu apakah dirinya diberi obat yang sesungguhnya atau hanya placebo. Dia dan para relawan lainnya
baru akan mengetahuinya pada 2-3 tahun mendatang ketika penelitian itu
berakhir. Namun, dia mengaku hasrat seksualnya jauh menurun sejak mengikuti
penelitian tersebut. (AFP/sha/c23/any)
Sumber:
Jawa Pos, 9 Mei 2016
No comments:
Post a Comment