Mengenal Bius, Prosedur
“Melawan Nyeri” saat Operasi
Lemahkan
Pernapasan hingga Denyut Jantung
Mengurangi nyeri, membuat mati rasa, hingga membuat pasien
“terlelap” adalah tugas dokter spesialis anestesi. Tekniknya cukup rumit,
risikonya pun cukup besar. Sebanding dengan peran sertanya untuk kesuksesan
tindakan medis.
ANESTESI atau
yang lebih kita kenal dengan istilah pembiusan memang punya peran yang cukup
krusial. Dr Elizeus Hanindito dr SpAnKIC KAP menjelaskan, secara general,
definisi anestesi adalah tindakan kedokteran yang bertujuan menghilangkan rasa
nyeri dan cemas selama tindakan medis lain dilakukan.
“Baik untuk tujuan pengobatan maupun diagnosis, keduanya
butuh anestesi,” tegas dokter RSUD dr Soetomo itu. Pembiusan sewaktu dioperasi
adalah contoh anestesi untuk pengobatan.
Tujuan diagnosis, misalnya pemeriksaan MRI atau CT scan,
juga membutuhkan anestesi ketika pasien tidak stabil. “Anak-anak akan meronta
dan takut masuk ke mesin ini sehingga butuh ditidurkan. Begitu juga untuk
pasien cedera otak yang tidak terkontrol,” ungkap dokter spesialis anestesi pediatric itu. Untuk tujuan
pengobatan, anestesi dilakukan pada operasi kecil hingga operasi besar.
Anestesi memang cukup rumit. Sebab, tindakannya sangat
berbeda dengan tindakan kedokteran lainnya. “Dokter anestesi itu melawan
kaidah-kaidah fisiologis yang normal,” ungkapnya.
Ketika bidang kedokteran lain berusaha membuat kerja
tubuh membaik, spesialis anestesi malah “menurunkannya”. Pasien yang sadar
dibuat tidak sadar dengan derajat yang diatur. Yang bisa bernapas dengan baik
malah dibuat tidak bernapas. Denyut jantung pun “dihentikan” oleh dokter
anestesi.
Hanindito mencontohkan, pada operasi paru-paru, tentu
dokter bedah paru butuh otot-otot di sekitar area operasi rileks dan tidak ada
perlawanan. Otot tersebut dilemahkan sehingga pasien tidak bernapas. “Contoh
lain, perbaikan katup jantung. Dokter bedah jantung tidak bisa bekerja maksimal
bila jantung berdenyut. Karena itu, dokter anestesilah yang membuatnya
berhenti”, ujar dr Hanin, sapaannya.
Bagaimana caranya? “Ada tekhnik standar yang detail dan
terperinci, disesuaikan dengan kondisi pasien serta kebutuhan tindakan,”
jawabnya.
Ada tiga jenis tindakan anestesi, yakni anestesi umum,
anestesi regional, dan anestesi local. Ketiganya dapat dikombinasi sesuai
dengan kebutuhan. Tekniknya pun berbeda-beda, yakni bisa melalui suntik
(injeksi), infus, maupun penghirupan gas anestesi (inhalasi).
Yang menarik adalah bius untuk anak-anak yang kebanyakan
takut disuntik dan memilih menghirup gas. Supaya tidak menyeramkan, gas itu pun
memiliki bau khas. “Ada lho, mereka
disuruh pilih yang aroma stoberi, melon, atau yang lain. Pendekatan kepada
mereka kan berbeda. Jangan sampai
menimbulkan trauma psikis,” kata dokter yang juga mengajar di FK Unair tersebut.
Selain di kamar operasi, dr Agus Setiyana SpAn yang
bertugas di RS Mitra keluarga Waru menambahkan, lahan kerja anestesi ada pada
situasi gawat darurat, intensive care
unit (ICU), dan pelayanan nyeri kronis. “Pada kondisi life threatening (mengancam jiwa,Red), dokter anestesi harus bisa
mengamankan jalan napas kurang dari tiga menit,” tegas dokter yang pernah
bertugas di Timor Timur itu.
Anestesi tidak punya istilah anestesi kecil maupun besar
seperti halnya operasi. Apa pun bentuk dan jenisnya, anestesi membawa risiko
yang sama besar. Komplikasi anestesi bisa pada pasien kasus mana pun. Pasien
yang ditidurkan terlalu dalam derajatnya bisa tidak bangun, pasien sadar
sebelum operasi selesai, jantung yang dihentikan tidak mau berdetak kembali,
atau otot yang dilemahkan sementara jadi kebablasan selamanya. Faktornya bisa
berbagai macam dan jarang bisa diprediksi karena bergantung kondisi pasien.
“Saya percaya, dokter anestesi pasti melakukan
serangkaian proses pra-anestesi dan perencanaan yang rumit dan terperinci.
Karena itu, penjelasan semasa pra-anestesi wajib diberikan tanpa ada yang
ditutup-tutupi kepada pasien dan keluarga,” kata dokter spesialis anestesi
bedah jantung tersebut. Begitu besarnya risiko kerja anestesi, jauh sebelum patient safety digaungkan, dokter
anestesi sudah menjadikannya sebagai prinsip kerja. (puz/c5/dos)
Dampingi
sebelum & Pascaoperasi
TINDAKAN anestesi
pasti berisiko. Dokter pun pasti memilih risiko paling kecil yang bisa
ditempuh. Karena itu, sebelum dilakukan anestesi, selalu ada pre-operative visite.Dokter Anna Surgean
Veterini SpAn menjelaskan prosedurnya. Yakni, pasien seharusnya memang bertemu
dengan dokter anestesinya.
“Kami memperkenalkan diri dulu, lalu menjelaskan apa saja
yang dibutuhkan pasien dan mengapa harus seperti itu. Harus jujur. Ini soft skill sekali. Kami harus menengkan
dengan jelas dengan tujuan menenangkannya,” ujar dokter yang bertugas di RS
Bedah Surabaya itu.
Mereka
yang takut dibantu didoakan. Selain berbicara dengan tim dokter mengenai
potensi masalah pasiean hingga penyakit bawaannya, dokter anestesi menggali
informasi soal cara hidupnya. “Misalnya, pada orang yang banyak minum alkohol
atau menggunakan narkoba,tubuhnya sudah
terbiasa dengan obat sehingga dosisnya disesuaikan,” jelasnya.
Menurut
dr Hanindito, seorang atlet yang tubuhnya kuat dengan kekebalan tubuh yang
sangat baik pun ditangani secara berbeda dari orang kebanyakan. Pasien yang
akan melakukan anestesi harus dalam keadaan rileks. Pada malam sebelumnya,
ketika dirawat inap, biasanya diberi penenang dosis rendah agar tidak gelisah
dan tidurnya nyenyak.
Mereka
juga diwajibkan berpuasa supaya tubuh tidak ada “pekerjaan”. “Minum air putih
pun sudah stop sejak tiga jam sebelumnya,” jelas dokter yang menjadi dosen
tersebut. Puasa pun dilakukan untuk memblokade semua kemungkinan alergi dan
komplikasi.
Pascaoperasi,
sebagaimana yang disebutkan dr Agus Setiyana SpAn, dokter anestesi juga
bertugas di ruang intensife care unit (ICU). Ketika efek obat bius habis, beberapa
saat setelah sadar, biasanya akan merasa kesakitan.
Penjelasan
di awal juga meliputi pemberitahuan mengenai kondisi tersebut. “Pascaoperasi
memang ada nyeri akut. Kita informasikan sebelumnya sampai derajat mana rasa
sakitnya, harus bisa tahan berapa lama. Dengan penjelasan, rasa pasien akan
tenang dan hormon bekerja untuk menaikkan ambang nyeri sehingga sakit yang
dirasakan berkurang,” papar dokter yang akrab dipanggil Asa tersebut.
Selanjutnya
pasti ada obat-obatan yang diberikan untuk mengatasinya. Selain merawat mereka
yang menjalani pemulihan pascaoperasi, dokter anestesi membantu pasien kanker
stadium lanjutan. (puz/c15/dos)
Bertemu, lalu Bertanya
BILA Anda atau keluarga Anda menghadapi kondisi
harus dianestesi. Anda seharusnya diberi fasilitas untuk bertemu dengannya.
Jika tidak, mintalah sekurang-kurangnya satu jam menjelang operasi. Hal itu
berpengaruh terhadap psikologis. Lalu, apa saja yang harus Anda ketahui?
Bertanyalah hal-hal berikut.
1.
Operasi apa yang akan dilakukan
dan itu membutuhkan ansetesi jenis apa?
2.
Anestesi yang dilakuakan bekerja
di bagian apa saja dan bagaimana itu terjadi?
3.
Apa saja risikonya?
4.
Seberapa nyeri ketika tidak
dianestesi atau efek setelah anestesi habis?
5.
Keluhan apa saja yang biasanya
terjadi pascaanestesi?
6.
Gejala apa saja yang menunjukkkan
kondisi saya baik. Kapan boleh makan, minum, dan bergerak?
Sumber : JAWA POS, Kamis,12 Maret
2015
No comments:
Post a Comment