Kenali Faktor Risiko Pemicu Asma Pada Anak dan Gejalanya
Asma bisa juga diderita bayi. Jika ditemukan sejak dini, penyakit tersebut lebih mudah dikendalikan. Hal terpenting adalah pengetahuan orang tua untuk mengenali faktor risiko penyebab timbulnya asma. Termasuk cara mengenali tanda-tandanya.
GANGGUAN
inflamasi kronis
pada saluran pernapasan atau lebih dikenal dengan penyakit asma sampai sekarang
belum diketahui penyebab dasarnya. Penyakit tersebut membuat penderitanya sulit
bernapas karena punya saluran pernapasan yang tidak normal, lebih kecil
dibandingkan dengan umumnya.
Dokter spesialis anak Siloam
Hospitals Kebon Jeruk dr FX Marseno SpA menyatakan, asma tidak bisa sepenuhnya sembuh
100 persen. “Oleh karena itu, kita hanya dapat menanggulangi dan mencegahnya
sejak dini,” ujarnya.
Menurut dr Marseno, sebagian anak
yang mengidap asma dipicu faktor genetik. Bisa saja bakat asma anak didapat
dari salah satu orang tua atau keduanya. “Meskipun kedua orang tuanya negatif
tehadap asma,si kecil tetap berpotensi asma sekitar 20 persen,” tuturnya. Anak
yang lahir prematur pun ditengarai akan asma.
Selain faktor genetik, faktor
risiko berikutnya yang menyebabkan asma adalah alergi makanan atau minuman
tertentu. Antara lain, susu sapi, telor, kacang, atau cokelat. Alergi itu
biasanya dialami bayi hingga anak usia tiga tahun.
Sementara itu, anak di atas tiga
hingga 12 tahun bisa menderita asma karena buruknya kualitas udara yang dihirup
melalui saluran pernapasan. Penyebabnya bisa jadi polusi dan asap rokok dan
polusi saat bayi dalam kandungan dan di lingkungan tempat si kecil tumbuh
merupakan faktor risiko penyebab asma dan mengakibatkan asma semakin parah.
“Balita lebih rentan terinfeksi virus dan polusi di dalam dan di luar rumah,”
jelas dr Marseno.
Ada bebrapa tanda yang bisa
diketahui untuk mengidentifikasi anak menderita asma. Misalnya, batuk setiap
malam atau menjelang pagi, sulit bernapas, mengi atau muncul bunyi saat
bernapas, sesak napas, dan dada terasa tertekan. Saat anak beraktivitas tampak
kurang bertenaga, mudah lemas, dan sering batuk juga merupakan salah satu
tandanya. Termasuk adanya retraksi atau dada bergerak naik turun saat bernapas
serta tarikan napas yang pendek dan cepat.
Pediatrician
itu menyebutkan,
sebelum memberikan obat, perlu melakukan identifikasi medis lebih dulu pada si
kecil. Sebab, penanganan asma pada bayi dan anak-anak tidak selalu sama. Semua
bergantung kondisi masing-masing. “Perlu dilihat dulu bakatnya termasuk ringan,
sedang, atau berat. Kemudian, diklasifikasikan lagi, termasuk asma berat atau
tidak. Baru diberikan obat yang tepat,” paparnya.
Penangan tidak terhenti pada
pemberian obat saja. Langakh selanjutnya adalah mencari faktor pencetus. Jika
faktor tersebut ditemukan, orang tua selanjutnya mendapatkan edukasi agar anak
dijauhkan dari faktor pencetus asma.
“Edukasi diberikan secara terus-menerus kepada orang tua. Karena itu, orang tua
dan orang di sekeliling anak dapat mencegah faktor pencetus itu,” ungkap dr
Marseno.
Proses monitoring penyakit pun
harus terus dilakukan. Dr Marseno menegaskan, monitoring merupakan proses
panjang yang harus dilalui pasien asma. Sebab, sejak anak tersebut baru lahir
hingga dewasa akan terus membawa penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
Jika pemicu asma berasal dari
alergi, langkah pengendalian sedini-dininya membuat pasien asma lebih mudah
menjalani masa dewasa. Nantinya, alergi yang dirasakan sejak kecil berubah
menjadi flu. Bukan flu karena virus, melainkan akibat alregi yang dipicu faktor
pencetus asma. “Mengontrol bakat alergi bisa dilakukan dengan obat pengendali
radang,” ungkapnya. (nuq/c15/aan)
Sumber: Jawa Pos, 15 Desember 2015l
No comments:
Post a Comment