Google search

Custom Search

Translate

Monday, 4 April 2016

Asma pada Anak

Kenali Faktor Risiko Pemicu Asma Pada Anak dan Gejalanya

Hindarkan  dari Asap Rokok dan Polusi



Asma bisa juga diderita bayi. Jika ditemukan sejak dini, penyakit tersebut lebih mudah dikendalikan. Hal terpenting adalah pengetahuan orang tua untuk mengenali faktor risiko penyebab timbulnya asma. Termasuk cara mengenali tanda-tandanya.

GANGGUAN inflamasi kronis pada saluran pernapasan atau lebih dikenal dengan penyakit asma sampai sekarang belum diketahui penyebab dasarnya. Penyakit tersebut membuat penderitanya sulit bernapas karena punya saluran pernapasan yang tidak normal, lebih kecil dibandingkan dengan umumnya.
Dokter spesialis anak Siloam Hospitals Kebon Jeruk dr FX Marseno SpA menyatakan, asma tidak bisa sepenuhnya sembuh 100 persen. “Oleh karena itu, kita hanya dapat menanggulangi dan mencegahnya sejak dini,” ujarnya.
Menurut dr Marseno, sebagian anak yang mengidap asma dipicu faktor genetik. Bisa saja bakat asma anak didapat dari salah satu orang tua atau keduanya. “Meskipun kedua orang tuanya negatif tehadap asma,si kecil tetap berpotensi asma sekitar 20 persen,” tuturnya. Anak yang lahir prematur pun ditengarai akan asma.
Selain faktor genetik, faktor risiko berikutnya yang menyebabkan asma adalah alergi makanan atau minuman tertentu. Antara lain, susu sapi, telor, kacang, atau cokelat. Alergi itu biasanya dialami bayi hingga anak usia tiga tahun.
Sementara itu, anak di atas tiga hingga 12 tahun bisa menderita asma karena buruknya kualitas udara yang dihirup melalui saluran pernapasan. Penyebabnya bisa jadi polusi dan asap rokok dan polusi saat bayi dalam kandungan dan di lingkungan tempat si kecil tumbuh merupakan faktor risiko penyebab asma dan mengakibatkan asma semakin parah. “Balita lebih rentan terinfeksi virus dan polusi di dalam dan di luar rumah,” jelas dr Marseno.
Ada bebrapa tanda yang bisa diketahui untuk mengidentifikasi anak menderita asma. Misalnya, batuk setiap malam atau menjelang pagi, sulit bernapas, mengi atau muncul bunyi saat bernapas, sesak napas, dan dada terasa tertekan. Saat anak beraktivitas tampak kurang bertenaga, mudah lemas, dan sering batuk juga merupakan salah satu tandanya. Termasuk adanya retraksi atau dada bergerak naik turun saat bernapas serta tarikan napas yang pendek dan cepat.
Pediatrician itu menyebutkan, sebelum memberikan obat, perlu melakukan identifikasi medis lebih dulu pada si kecil. Sebab, penanganan asma pada bayi dan anak-anak tidak selalu sama. Semua bergantung kondisi masing-masing. “Perlu dilihat dulu bakatnya termasuk ringan, sedang, atau berat. Kemudian, diklasifikasikan lagi, termasuk asma berat atau tidak. Baru diberikan obat yang tepat,” paparnya.
Penangan tidak terhenti pada pemberian obat saja. Langakh selanjutnya adalah mencari faktor pencetus. Jika faktor tersebut ditemukan, orang tua selanjutnya mendapatkan edukasi agar anak dijauhkan dari faktor pencetus  asma. “Edukasi diberikan secara terus-menerus kepada orang tua. Karena itu, orang tua dan orang di sekeliling anak dapat mencegah faktor pencetus itu,” ungkap dr Marseno.


Proses monitoring penyakit pun harus terus dilakukan. Dr Marseno menegaskan, monitoring merupakan proses panjang yang harus dilalui pasien asma. Sebab, sejak anak tersebut baru lahir hingga dewasa akan terus membawa penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
Jika pemicu asma berasal dari alergi, langkah pengendalian sedini-dininya membuat pasien asma lebih mudah menjalani masa dewasa. Nantinya, alergi yang dirasakan sejak kecil berubah menjadi flu. Bukan flu karena virus, melainkan akibat alregi yang dipicu faktor pencetus asma. “Mengontrol bakat alergi bisa dilakukan dengan obat pengendali radang,” ungkapnya. (nuq/c15/aan)

Sumber: Jawa Pos, 15 Desember 2015l

No comments:

Post a Comment