Mengenal Gangguan
Kelenjar Bartholin
Saluran Tersumbat Munculkan Kista
Menjaga kebersihan daerah intim merupakan keharusan. Banyak penyakit yang rentan timbul pada area tersebut. Salah satunya, gangguan pada kelenjar bartholin. Munculnya peradangan bisa mengakibatkan ketidaknyamanan. Bila tidak segera ditangani, risiko operasi menanti.
DAERAH intim perempuan merupakan organ yang kompleks. Selain letaknya tersembunyi, organ itu terdiri atas susunan syaraf yang banyak dan rumit. Di antaranya, ada kelenjar bartholin. Kelenjar tersebut terletak di lipatan kulit antara vagina dan uretra. “Jumlahnya satu pasang, di kiri dan kanan. Dalam satu kelenjar, ada banyak duct atau saluran-saluran kecil,” ungkap dr Gatut Hardiyanto SpOG(K).
Dokter
Klinik Urogyn RS Husada Utama Surabaya itu menjelaskan, kelenjar bartholin
berfungsi mempertahankan suasana vagina agar tetap lembap. “Cairan yang
diproduksi punya fungsi imun dan membantu saatberhubungan intim,” kata Gatut.
Berada
di “pintu depan”, ia pun rentan infeksi. Infeksi pada kelenjar bartholin bisa
menjangkiti siapa saja, baik perempuan yang sudah maupun belum menikah. Menurut
spesilais ob-gyn dengan subspesialis
rekonstruksi dasar panggul itu, ada dua faktor pendorong munculnya radang tersebut. Yakni, perawatan daerah intim yang
kurang baik atau hubungan intim yang kurang higienis.
“Infeksi mendorong peradangan
kelenjar bartholin. Cirri-cirinya hampir mirip dangan gejala inflamasi
lainnya,” papar Gatut. Radang kelenjar bartholin atau bartholinitis ditandai
dengan munculnya bengkak kemereham di sisi kanan, kiri, atau kedua bibir luar
vagina. Selain bengkak, penderita bartholinitis biasanya mengeluhkan panas dan
nyeri.
Bengkak tersebut disebabkan
tersumbatnya duct dalam kelenjar
bartholin. Ukuran duct beragam. Mulai
berdiameter millimeter hingga sebesar kelereng. “Kalau nggak ada infeksi, Cuma cairan saja, itu kista. Tapi kalau
terinfeksi bakteri tertentu, ia jadi abses,” lanjut Gatut.
D.A.Marzano dan H.K. Haefner
dalam jurnalnya, The Bartholin Gland
Cysts; Past, Present, and Future, mengungkapkan, ada dua solusi untuk
mengatasi pembengkakan pada kelenjar bartholin. Pertama, operasi sederhana.
“Dokter akan membuat lubang baru agar kelenjar berfungsi normal lagi,” papar
mereka. Cara kedua, lewat operasi invasif.
“Setelah analisis, kelenjar yang
mengalami pembengkakan akan diangkat,” lanjut ahli ob-gyn yang melakukan penelitian tersebut pada 2014 itu. Usai
tindakan, kelenjar Bartholin bakal berfungsi kembali seperti normal. Sayangnya,
tidak banyak orang yang memilih jalur medis.
Mereka memilih membiarkan radang tersebut. Gatut menegaskan, pilihan itu tergolong berisiko tinggi. Ukuran kista akan makin membesar dan mengganggu. “Memang nggak bahaya dan mengancam nyawa. Namun, ia bisa mengganggu saat beraktivitas dan melakukan hubungan intim,” jelas alumnus Universitas Airlangga tersebut.
Kista yang dibiarkan tanpa
penanganan bakal makin membesar. Penderita bakal mengalami nyeri saat berjalan
atau beraktivitas. Penyebabnya, benjolan itu mengalami gesekan dengan kulit
atau bahan kain. Benjolan pun rawan lecet sehingga muncul rasa nyeri.
Meski demikian, kista bartholin
berbeda dengan kanker. Secara medis, kista atau cysts merupakan kumpulan cairan. Karena itu, menurut Marzano, ia
berisiko kecil menyebar hingga ke organ lain. Berbeda dengan kista yang hanya
berisi cairan, peradangan yang disertai infeksi bakteri lantaran tersumbatnya duct itu bisa menimbulkan abses
bartholin. Isinya bukan lagi cairan, melainkan nanah.
Dirunut dari penyebabnya,
peradangan bartholin bukan merupakan penyakit menular seksual (PMS). “Kecuali
bila pasien bartholinitis melakukan hubungan dengan pengidap PMS. Pasien sangat
mungkin terdampak PMS,” ungkap Marzano.
Secara medis, penyakit tersebut
juga bukan penyakit keturunan. Meski demikian, peneliti dari Departemen
Obstetri dan Ginekologi University of Michigan itu menuliskan, peradangan pada
bagian tersebut butuh penanganan agar tidak mengganggu kenyamanan. (fam/c23/ayi)
Sumber
: Jawa Pos, 6 Nopember 2015
No comments:
Post a Comment