Google search

Custom Search

Translate

Friday, 8 April 2016

Bartholinistis

Mengenal Gangguan Kelenjar Bartholin

Saluran Tersumbat Munculkan Kista

Menjaga kebersihan daerah intim merupakan keharusan. Banyak penyakit yang rentan timbul pada area tersebut. Salah satunya, gangguan pada kelenjar bartholin. Munculnya peradangan bisa mengakibatkan ketidaknyamanan. Bila tidak segera ditangani, risiko operasi menanti.

             

                DAERAH intim perempuan merupakan organ yang kompleks. Selain letaknya tersembunyi, organ itu terdiri atas susunan syaraf yang banyak dan rumit. Di antaranya, ada kelenjar bartholin. Kelenjar tersebut terletak di lipatan kulit antara vagina dan uretra. “Jumlahnya satu pasang, di kiri dan kanan. Dalam satu kelenjar, ada banyak duct atau saluran-saluran kecil,” ungkap dr Gatut Hardiyanto SpOG(K).
                Dokter Klinik Urogyn RS Husada Utama Surabaya itu menjelaskan, kelenjar bartholin berfungsi mempertahankan suasana vagina agar tetap lembap. “Cairan yang diproduksi punya fungsi imun dan membantu saatberhubungan intim,” kata Gatut.
                Berada di “pintu depan”, ia pun rentan infeksi. Infeksi pada kelenjar bartholin bisa menjangkiti siapa saja, baik perempuan yang sudah maupun belum menikah. Menurut spesilais ob-gyn dengan subspesialis rekonstruksi dasar panggul itu, ada dua faktor pendorong munculnya radang  tersebut. Yakni, perawatan daerah intim yang kurang baik atau hubungan intim yang kurang higienis.
“Infeksi mendorong peradangan kelenjar bartholin. Cirri-cirinya hampir mirip dangan gejala inflamasi lainnya,” papar Gatut. Radang kelenjar bartholin atau bartholinitis ditandai dengan munculnya bengkak kemereham di sisi kanan, kiri, atau kedua bibir luar vagina. Selain bengkak, penderita bartholinitis biasanya mengeluhkan panas dan nyeri.
Bengkak tersebut disebabkan tersumbatnya duct dalam kelenjar bartholin. Ukuran duct beragam. Mulai berdiameter millimeter hingga sebesar kelereng. “Kalau nggak ada infeksi, Cuma cairan saja, itu kista. Tapi kalau terinfeksi bakteri tertentu, ia jadi abses,” lanjut Gatut.
D.A.Marzano dan H.K. Haefner dalam jurnalnya, The Bartholin Gland Cysts; Past, Present, and Future, mengungkapkan, ada dua solusi untuk mengatasi pembengkakan pada kelenjar bartholin. Pertama, operasi sederhana. “Dokter akan membuat lubang baru agar kelenjar berfungsi normal lagi,” papar mereka. Cara kedua, lewat operasi invasif.
“Setelah analisis, kelenjar yang mengalami pembengkakan akan diangkat,” lanjut ahli ob-gyn yang melakukan penelitian tersebut pada 2014 itu. Usai tindakan, kelenjar Bartholin bakal berfungsi kembali seperti normal. Sayangnya, tidak banyak orang yang memilih jalur medis.

Mereka memilih membiarkan radang tersebut. Gatut menegaskan, pilihan itu tergolong berisiko tinggi. Ukuran kista akan makin membesar dan mengganggu. “Memang nggak bahaya dan mengancam nyawa. Namun, ia bisa mengganggu saat beraktivitas dan melakukan hubungan intim,” jelas alumnus Universitas Airlangga tersebut.
Kista yang dibiarkan tanpa penanganan bakal makin membesar. Penderita bakal mengalami nyeri saat berjalan atau beraktivitas. Penyebabnya, benjolan itu mengalami gesekan dengan kulit atau bahan kain. Benjolan pun rawan lecet sehingga muncul rasa nyeri.
Meski demikian, kista bartholin berbeda dengan kanker. Secara medis, kista atau cysts merupakan kumpulan cairan. Karena itu, menurut Marzano, ia berisiko kecil menyebar hingga ke organ lain. Berbeda dengan kista yang hanya berisi cairan, peradangan yang disertai infeksi bakteri lantaran tersumbatnya duct itu bisa menimbulkan abses bartholin. Isinya bukan lagi cairan, melainkan nanah.
Dirunut dari penyebabnya, peradangan bartholin bukan merupakan penyakit menular seksual (PMS). “Kecuali bila pasien bartholinitis melakukan hubungan dengan pengidap PMS. Pasien sangat mungkin terdampak PMS,” ungkap Marzano.
Secara medis, penyakit tersebut juga bukan penyakit keturunan. Meski demikian, peneliti dari Departemen Obstetri dan Ginekologi University of Michigan itu menuliskan, peradangan pada bagian tersebut butuh penanganan agar tidak mengganggu kenyamanan. (fam/c23/ayi)
Sumber : Jawa Pos, 6 Nopember 2015

                

No comments:

Post a Comment